Wait For Me, Professor!

Wait For Me, Professor!
Cemburu



Jogja, Juli 2008


Waktu tidak terasa semakin bergulir semakin cepat. Kalenderpun sudah berganti halaman. Tanpa terasa hampir satu bulan lamanya Gina bekerja di toko souvenir di jalan Malioboro yang ternyata adalah milik keluarga kakak tingkatnya, Raka Rahardian. Selama Gina bekerja di toko tersebut, begitu banyak hal yang di pelajari Gina tentang souvenir-souvenir yang digemari oleh wisatawan. Baik wisatawan asing maupun wisatawan domestik.


Barang kecil yang dianggap sepele pun bisa dijadikan souvenir asal bahan baku dan kemasannya menarik. Sebagai contohnya saja yaitu sendok, tempat bumbu, tempat sambal, tatakan gelas. Terdengar sepele, tapi apabila dibuat dari bahan kayu ataupun dari bambu maka barang-barang tersebut akan di buru dan di cari oleh wisatawan. Untungnya, di Jogja sendiri banyak pengrajin-pengrajin barang-barang tersebut sehingga tidak kehabisan stok dan tidak pula kehabisan ide berkreasi.


Gina melangkah gontai melewati trotoar di teras too-toko di barat jalan yang penuh sesak oleh pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya untuk menarik wisatawan yang berekreasi ke kawasan Jalan Malioboro. Gina sengaja datang lebih awal dari pada jam kerjanya. Karena masih lebih dari satu jam jadwal masuknya, Gina berjalan pelan-pelan dari ujung utara jalan setelah dia menitipkan sepedanya di parkiran Stasiun Tugu, Jogja.


Dengan santai di susuri nya trotoar tersebut sambil melihat-lihat apapun yang bisa Gina sentuh dan kagumi. Dengan rambut dikuncir kuda, celana hitam yang memeluk kaki jenjangnya, dengan kaos putih berkerah yang ujung bajunya tidak rapi di masukkan dalan pinggang celana panjangnya, tas ransel hitam yang berada dalam pelukannya, jam tangan berkulit coklat tua belel yang masih di sayanginya, sehingga dipakainya sampai usang. Kali ini Gina memakai sepatu tanpa hak warna marun kesukaannya. Wangi sabun mandi yang segar dan bedak yang dipakai Gina menguar saat Gina berjalan siang itu.


Saat ada yang menarik perhatiannya, Gina reflek membungkukkan badannya, tertarik dengan gantungan kunci yang bentuknya lumayan seram, jari manusia. Dengan mata terbeliak lebar Gina mengulurkan tangannya untuk melihat lebih jelas gantungan kunci tadi. Ombyokan gantungan kunci yang di bendel jadi satu, mau tak mau Gina hanya bisa mengangkat semua bendel tersebut untuk melihat lebih jelas.


Ooh ternyata gantungan kunci tadi hanyalah cetakan dengan bentuk jari-jari tangan manusia yang diwarna persis dengan aslinya. Dan diberi sedikit pewarna merah di pangkalnya. Seakan-akan jari tersebut nyata dan benar jari manusia asli.


"Dibeli Mbak gantungan kuncinya. Hanya sepuluh ribu satu nya," kata mas-mas yang menunggui lapaknya.


"Bentar Mas, lihat-lihat dulu ya. Ini loh Mas, aku kaget gantungan kunci bentuknya semacam ini," jawab Gina masih melihat bentuk ombyokan bendel gantungan kunci tadi.


"Iya Mbak, itu cetakan. Buatan gitu. Bahannya aja karet ini. Warnanya aja yang mirip," lanjut mas-mas tadi.


"Hahaha, iya Mas. Tadi kaget aja ini bentuknya aneh dan serem. Tapi jangan sepuluh ribu satu dong, Mas. Beri dua biji ya. nanti dibeli kalau di kasih sepuluh ribu buat dua gantungan kunci. Buat pelaris awal buka," tawar Gina dengan senyuman yang menyiratkan persengkongkolan.


"Haiiis Mbak, iya deh, iya, bisa sepuluh ribu dapat dua biji. Pilih aja mau ambil gantungan kunci yang mana?" sahut mas penjual tadi mengambil ombyokan gantungan kunci dari tangan Gina. Diambilkannya gantungan kunci yang sudah dipilih oleh Gina.


"Terima kasih, Mas. Ini uangnya. Moga laris ya," kata Gina mengangsurkan lembaran uang sepuluh ribu rupiah saat menerima dua gantungan kunci tersebut dari tangan mas penjual.


"Iya Mbak. Aamiin. Suwun Mba dilarisi," sahut mas penjualnya menerima uang dari Gina. Dan segera dikibas-kibaskannya uang tersebut di atas dagangannya sambil berkata, "laris. laris. laris."


Gina berlalu dari lapak tadi sembari tertawa melihat ritual laris dari penjual yang sudah tidak asing tersebut. Diteruskannya melangkahkan kaki ke


toko tempatnya bekerja. Tak disangka disaat Gina melewati restoran ayam yang sangat terkenal, Gina melihat seseorang yang dikenalinya. Dihentikannya segera langkah kakinya yang gontai, untuk memastikan lagi apa yang dilihatnya.


Ternyata pandangan matanya tidak salah. Di dalam ruang restoran tadi ada satu orang lelaki yang di kenalnya. Lelaki itu sekarang memakai kaos oblong hitam khas Jogja, jam tangan yang selalu dipakai di tangan kirinya, celana jins yang terlihat belel tapi sangat nyaman dikenakan olehnya dan sandal gunung sebagai alas kakinya. Matanya tidak salah lihat, karena itu adalah Indra, dosen muda calon dosen yang dia asisteni untuk semester depan. Meskipun sekarang model rambutnya lebih santai dan acak-acakan, namun hal itu membuatnya semakin terlihat tampan.


Di depannya ada seorang wanita yang sepertinya sudah Gina lihat saat bertemu dengan Indra pertama kali di tempat kerjanya yang sekarang. Wanita itu terlihat sangat elegan. Dengan kaos hijau lengan pendeknya, celana jins selutut, sandal kulit tanpa hak. Tas slempang tersampir dari pundak kanannya. Di meja antara mereka terdapat dua porsi makanan yang kelihatannya belum tersentuh karena mereka kelihatannya sedang berbicara dengan serius.


Dengan mengerutkan dahi, Gina berlalu dari tempatnya mematung tadi. Gina sedari tadi sudah di lewati banyak orang karena mamatung ditengah-tengah jalan di depan restoran ayam itu. Pikirannya menebak-nebak, apa yang dilakukan dosen muda tersebut di sini, di sela-sela semester pendek yang selalu diadakan oleh kampus bagi mahasiswa yang mengulang mata kuliah untuk meningkatkan nilai. Bukankah seharusnya hari ini jadwal Profesor Baraka dan Indra yang menggantikan Profesor Baraka mengajar kelasnya?


Banyak pertanyaan yang berkecamuk di hati Gina. Banyak hal juga yang harus Gina pahami. Tetapi saat Gina melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangannya, Gina tercengang. Hampir saja Gina menghabiskan waktu untuk memikirkan hal-hal yang bukan menjadi urusannya. Gina segera berlari kencang ke toko souvenir, tempat kerjanya. Jam kerjanya akan di mulai setengah jam lagi. Dan Gina bahkan belum bersiap-siap. Disingkirkannya pikiran tentang Indra dan wanita tadi jauh-jauh dari benaknya. Saat ini yang terpenting adalah Gina samlai ke tempat kerja tanoa terlambat.


..............


Desir pasir di padang tandus


Segersang pemikiran hati


Terkisah 'ku di antara


Cinta yang rumit


Bila keyakinanku datang


Kasih bukan sekedar cinta


Pengorbanan cinta yang agung


Kupertaruhkan


Maafkan bila 'ku tak sempurna


Ayat-ayat cinta bercerita


Cintaku padamu


Bila bahagia mulai menyentuh


Seakan 'ku bisa hidup lebih lama


Namun harus kutinggalkan cinta


Ketika kubersujud


Bila keyakinanku datang


Kasih bukan sekedar cinta


Pengorbanan cinta yang agung


Kupertaruhkan


Maafkan bila 'ku tak sempurna


Ayat-ayat cinta bercerita


Cintaku padamu


Bila bahagia mulai menyentuh


Seakan 'ku bisa hidup lebih lama


Namun harus kutinggalkan cinta


Ketika kubersujud


Ketika kubersujud


...........


Akhirnya Gina sampai juga ke toko dan segera ke ruang loker karyawan untuk bersiap-siap. Diletakkannya tas yang dibawanya diloker yang bertuliskan nama Gina Wilde. Dipakainya tapian batik di sekeliling pinggang. Di sisir ulang rambutnya dan dikumpulkan menjadi satu membentuk ekor kuda. Dibasuh wajahnya kembali dan dioleskannnya lipgloss bening dan bedak bayi yang selalu dipakainya untuk bedak wajah. Setalah lima belas menit bersiap di ruang loker dengan diiringi hits Rossa tahun itu yang berjudul Ayat-ayat Cinta, Gina pun siap dan penuh semangat melayani calon pelanggan-pelanggannyanya.


Di waktu yang sama, Indra sedang mengajak Stevani makan diang berdua. Tadi pagi setelah di telepon Profesor Baraka, bahwa beliau bisa mengajar kelas siang ini, Indra langsung mengontak Stevani untuk mengajaknya bertemu dan sekedar bersantai di Jogja. Tentu saja Stevani bersedia, karena di Solo selain di rumah, Stevani hanya keluar untuk ke perpustakaan kampus di Solo dan ke perpustakaan daerah. Banyak buku yang dibutuhkannya, selain untuk menenangkan dirinya, juga untuk menunjang studinya.


Tadi siang, dijemputnya Stevani di Stasiun Tugu di pusat Kota Jogja. Mereka berjalan santai menyusuri trotoar yang oenuh sesak dengan lapak penjual asongan souvenir-souvenir khas Jogja.


"Kamu sudah tidak suka belanja Stev? Tidak biasanya raut mukamu tida seantusias dulu saat diajak Pakde ke Pasar Malam. Semua wahana dicoba satu-satu dan semua pedagang di datangi," kenang Indra akan masa kecil mereka.


"Kali ini aku benar-benar sedang tidak ingin belanja, Ndra," jawab Stevani tanpa tenaga dan dengan wajah sendu.


"Sebenarnya aku tahu kamu pulang itu karena ada masalah di sana. Karena aku tidak bisa ke Solo dan menemanimu untuk bercerita, dan karena sekarang aku melihatmu masih seperti ini. Om dan Tante pasti belum tahu kau ada masalah apa" tebak Indra langsung mengutarakan niatnya mengundang Stevani ke Jogja.


"Terima kasih, Ndra. Dari dulu kamu memang pengertian. Ayo kita cari tempat untuk makan, nanti aku ceritakan semuanya kepadamu. Dan minta saranmu, aku harus bagaimana menyelesaikannya," ujar Stevani menggamit lengan Indra dan menyeretnya masuk ke restoran ayam yang sudah sangat terkenal itu.


"Duduk di sini saja, tidak begitu ramai kali ini," ajak Stevani segera duduk membawa baki makannya ke salah sati tempat duduk yang dekat dinding kaca yang bisa langsung terlihat dari luar restoran.


"Oke, terserah kamu. Senyaman kamu bicara saja, tidak masalah bagiku," persetujuan Indra mengikuti Stevani duduk di kursi mepet dinding kaca.


Huuuff..


Stevani menghela napas dengan berat. Seakan masalah yang dipikulnya tidak bisa ditanggungnya sendirian.


"Ceritalah kalau kamu mau, aku bisa mendengarkanmu," bujuk Indra pada Stevani dan belum menyentuh makanannya.


"Sebenarnya saat pulang ke Solo waktu itu adalah hari keduaku tahu kalau aku sedang hamil, Ndra," kata Stevani dengan lirih sambil menundukkan kepalanya.


"Haah, dengan siapa Stev? Apa kamu sudah punya pacar di sana?" selidik Indra dengan tampang kaget dan mata terbeliak tidak percaya.


"Tidak Ndra, aku selama ini memang tidak pernah mau pacaran. Studi S2 yang aku ambil sudah mau selesai, tesispun sudah aku susun. Tetapi aku sengaja memundurkan kuliah satu tahun lagi karena ada seseorang yang selalu membantuku membuat laporan-laporan, tugas-tugas untuk lulus bersamaku," cerita Stevani mulai mengungkap masalah yang di hadapinya.


"Lalu apa yang terjadi diantara kalian? Apa dia sudah tahu? Apa tanggapannya? Dimana dia sekarang?" dengan tidak sabar Indra memberondong Stevani dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


"Saat ini dia konsentrasi untuk ujian tesisnya. Di saat aku ingin bilang kepadanya, aku keduluan diberi kabar olehnya, bahwa dia dapat beasiswa kuliah S3 di Inggris," jawab Stevani dengan tercenung, "Aku tahu itu impiannya dia untuk menuntut ilmu ke sana. Sehingga aku tidak mengatakan padanya bahwa aku hamil."


"Jadi dia belum tahu Stev? Kenapa kamu tidak bilang padanya langsung?" desak Indra kepada Stevani, "Bagaimanapun, itu anak kalian berdua."


"Aku tahu Ndra, aku tahu. Amat sangat tahu. Oleh karena itu bibirku kelu mengetahui dia bersiap kesana setelah wisuda besok September," ucap Stevani menahan jatuhnya air mata. Stevani tahu kalau dia tidak bisa menahan air matanya, maka tangisannya tidak akan pernah berhenti untuk waktu yang lama.


Indra menepuk-nepuk tangan Stevani untuk menenangkannya. Indra sendiri masih terkejut mendapat berita dari Stevani dan belum bisa memilah dan memilih untuk memberikan solusi kepada Stevani.


"Ayo. kita makan dulu. Nanti kita lanjutkan lagi ceritanya," ajakan Indra kepada Stevani yang masih tercenung, menatap nanar pada keramaian di jalan.


Indra sekelebat melihat sosok yang sangat dikenalnya. Sosok ramping dan mungil milik Gina berlari menjauhi restoran tempat makan siang Indra dan Stevani. Diliriknya jam tangan dipergelangan tangan kirinya, tidak heran dilihatnya jam tersebut menunjukkan jam setengah satu tepat.


"Terima kasih, Ndra. Sudah mau mendengarkan dan mau mengajakku jalan-jalan," ucap Stevani sesampainya di depan gerbang Stasiun Tugu Jogja.


"Iya, sama-sama. Gunanya teman itu ya saling tolong menolong," jawab Indra menenangkan temannya tersebut. Indra melanjutkan perkataannya, "Aku akan berusaha ikut memikirkan solusi juga untukmu."


"Aku tahu, Ndra. Kamu bisa diandalkan. Tolong jangan sampai orang lain tahu ya. Aku masih butuh waktu untuk terbiasa dengannya," pinta Stevani dengan wajah murung.


"Beres. Aku bukan orang yang suka bergosip," Indra menyakinkan Stevani kembali.


Masih belum mau pulang ke kontrakannya, Indra kembali melangkahkan kaki ke toko souvenir tempat Gina bekerja. Indra masuk ke dalam toko, melihat-lihat barang yang di pajang di rak-rak dan di display toko itu. Dicari-carinya Gina di bagian souvenir rempah-rempah. Alangkah kecewanya Indra, pada saat itu Indra melihat Gina sedang menata barangnya di rak. Dibelakangnya ada Raka yang membantu membawakan kotak barang-barang tadi.


Hatinya sakit sekali melihat Gina bisa tersenyum ramah kepada lelaki lain, tetapi dengannya hanya ada kewaspadaan yang terlihat di mata dan tingkah laku Gina. Di dekatinya mereka berdua dengan langkah santai menahan cemburu dalam hati.


"Hai, Gina. Ada yang barang pesananku sudah ada?" basa-basi Indra mengagetkan kedua orang tadi yang sedang bersama-sama konsentrasi untuk mempercepat menambah display stok di rak.