Wait For Me, Professor!

Wait For Me, Professor!
Menjalani Kehidupannya Sendiri



Jogja, Juni 2008


kriiing...kriing...kriiiing..


Suara dering ponsel di kejauhan membuat Gina terbangun dari pesona yang menyelubunginya. Segera Gina memalingkan wajahnya ke depan. Menarik kembali rambut yang tadi diamin-mainkan oleh Indra. Entah apa yang merasuki benak Gina sehingga terpaku pada apa yang dilakukan Indra kepadanya. Tadi Gina hanya sekedar memanggil Indra untuk menunjukkan apa yang menbuat Gina tertawa. Mengetahui jawaban mahasiswa yang begiitu lucu, polos dan tidak seperti jawaban mahasiswa yang seharusnya sudah mempelajari mata kuliahnya dengan benar.


"Aneh sekali. Apa yang terjadi denganku? Mengapa aku harus malu mendengar Indra mengatakan hal itu. Mengapa juga Indra bilang begitu padaku? Apa dia mengejekku?" batin Gina setelah tersadar dari lamunannya tadi.


Segera dilanjutkannya mengoreksi tugas yang diberikan oleh Profesor Baraka tadi. Gina ingin sekali segera menyelesaikan pekerjaannya, melaporkan pada Profesor Baraka dan segera ingin pulang untuk bersiap-siap melakukan kerja paruh waktunya untuk musim liburan semesteran. Hari ini Gina juga akan wawancara untuk pekerjaan paro waktunya di toko oleh-oleh khas Jogja yang berada di daerah Malioboro. Tanpa pikir panjang lagi, dikeraskannya suara musik lewat handphone yang dari tadi Gina dengarkan untuk menemani mengerjakan tugas dari Profeaor Baraka.


--------------


Do you hear me,


I'm talking to you


Across the water across the deep blue ocean


Under the open sky, oh my, baby I'm trying


Boy I hear you in my dreams


I feel your whisper across the sea


I keep you with me in my heart


You make it easier when life gets hard


I'm lucky I'm in love with my best friend


Lucky to have been where I have been


Lucky to be coming home again


Oh oh oh oh oh oh oh oh


They don't know how long it takes


Waiting for a love like this


Every time we say goodbye


I wish we had one more kiss


I'll wait for you I promise you, I will


I'm lucky I'm in love with my best friend


Lucky to have been where I have been


Lucky to be coming home again


Lucky we're in love in every way


Lucky to have stayed where we have stayed


Lucky to be coming home someday


And so I'm sailing through the sea


To an island where we'll meet


You'll hear the music fill the air


I'll put a flower in your hair


Though the breezes through the trees


Move so pretty you're all I see


As the world keeps spinning round


You hold me right here right now


I'm lucky I'm in love with my best friend


Lucky to have been where I have been


Lucky to be coming home again


I'm lucky we're in love in every way


Lucky to have stayed where we have stayed


Lucky to be coming home someday


Oh oh oh oh oh oh oh oh


Oh oh oh oh oh oh oh oh


------------


Tanpa sadar Gina bergumam mengikuti lirik lagu Lucky dari Jason Mraz dan Colbie Calliat yang di dengarkan telinganya. Entah mengapa lagu ini menghadirkan kerinduan dan nostalgia. Tanpa sadar Gina pun tersenyum lembut mendengarkan lagu ini sembari melanjutkan mengoreksi ujian-ujian mahasiswanya Profesor Baraka. Ditepiskannya rasa malu dan getar-getar aneh yang sempat merambati relung-relung hatinya beberapa saat yang lalu karena kedekatan dan kata-kata yang keluar dari mulut Indra barusan. Gina memantapkan hatinya dan meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilakukan oleh Indra kepadanya itu tadi hanyalah iseng semata dan Indra hanya ingin menggodanya.


Akhirnya tumpukan kertas-kertas ujiannya sudah mendekati akhir. Gina dengan senang hati dan menggunakan segenap kemampuannya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Gina sudah bisa memfokuskan kembali perhatiannya. Tak dihiraukannya sosok Indra yang ternyata sudah kembali masuk ke dalam kantor dan duduk di kursi belakang meja di seberangnya.


"Akhirnya selesai juga. Yes!! Aku bebaaaas.. Yuhuuui...!!" sorak Gina riang sembari mengangkat kedua tangannya ke udara, menengadahkan kepalanya seakan-akan dia sudah terbebas dari kungkungan tugas yang sangat berat.


"Aaargh.. Sedang apa kamu disini?" Gina terperanjat kaget melihat ada orang lain dalam ruangan itu bersama dengannya. Dengan bergegas diturunkannya kedua tangannya yang masih terangkat keatas tadi untuk melepaskan penat dan rasa lega karena tugasnya sudah selesai.


"Kalau tidak salah ingat, ini juga kantorku. Kamu yang disini membantu mentorku menyelesaikan pekerjaannya," sahut Indra mengernyitkan keningnya dan mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat lebih jelas mimik wajah Guna yang menggelikan.


"Ah iya. Saya baru ingat. Maafkan saya," gelagapan Gina menjawab pernyataan retoris dari Indra tadi. Dibereskannya kertas-kertas ujian tadi, di tumpuknya kembali dan diurutkannya sesuai dengan nama absensi supaya Profesor Baraka lebih mudah memberikan nilai pada lembar ujian tersebut. Dimasukkannya pena ke dalam tas kemudian bergegas Gina berdiri merapikan baju dan melangkah keluar dari belakang mejanya Profesor Baraka.


"Pak Indra, saya sudah selesai mengerjakan tugas untuk Profesor Baraka. Jadi saya pamit dulu ya. Tolong sampaikan ke Profesor Baraka, kertas-kertasnya sudah sesuai dengan nomer urut absensi, jadi lebih mudah untuk memberi penilaiannya. Terima kasih ya. Selamat siang," kata Gina dengan riang dan langsung melesat keluar dari ruangan tersebut, berlari kecil mengusuri koridor menuju tangga turun.


"Eh tunggu. Profesor sedang......," kalimat Indra tak terdengar di telinganya Gina. Gina sudah berlari keluar gedung.


Gina ingin memberi kesan yang baik sebelum wawancara kerja, karena Gina akan bekerja di toko cendera mata di Jogja. Yang artinya Gina harus dengan siap menjelaskan bahan, barang dan membujuk customer untuk membeli produk tersebut. Sudah terbayang apabila nanti diterima di sana, pasti Gina akan lebih banyak belajar dan bertemu dengan banyak orang.


Gina dengan santai mengayuh sepedanya dengan tenang di jalanan Kota Jogja yang sudah mulai padat dengan berbagai kendaraan bermotor. Mahasiswa sudah banyak yang berlalu lalang di kampus menggunakan sepeda motor. Bus-bus kota dengan asap knalpot yang menghitam, meninggalkan jejak di belakangnya. Pun begitu dengan banyaknya mobil yang melintas di jalanan Kota Jogja ini. Dicarinya tempat parkir sepeda untuk menitipkan sepedanya di parkiran trotoar jalan Malioboro.


Disusurinya emperan toko-toko yang dipenuhi oleh penjual oleh-oleh kaki lima. Ada banyak barang yang dijual di sana, mulai dari kaos khas Jogja, sandal couple, daster-daster, gantungan kunci, pernak-pernik hiasan rumah juga dijual di sana. Melihat hal itu Gina teringat akan usaha keluarganya yang setelah bangkrut jadi berjualan di emperan Pasar Klewer. Karena toko-toko milik keluarganya di rusak dan dihancurkan oleh warga. Kenangan itu menghadirkan rasa rindu yang teramat sangat pada orang tua tercintanya.


"Haaah, Aku tidak boleh menyerah! Hidupku masih panjang. Semangat Gina!" semangatnya pada diri sendiri. Diusapnya air mata yang sudah mengambang di matanya.


Sesampainya di toko souvenir, Gina bergegas menemui satpam di bagiam depan dan bertanya, "Maaf Mas, saya kesini untuk wawancara pekerjaan paruh waktu. Saya sebaiknya ke arah mana ya?" tanya Gina ke satpam tersebut.


"Peserta wawancara langsung naik ke lantai 3, Mba. Naik tangga dan belok kanan di lantai tiganya. Silakan untuk segera menunggu dan antri di sana," kata satpam muda tersebut sambil menunjuk tangga untuk naik ke atas.


"Terima kasih ya, Mas," ucap Gina, setelah itu Gina langsung naik ke lantai 3 dan berbelok ke kanan. Dilihatnya ada beberapa wanita muda lain yang juga sedang menunggu wawancara sedang duduk di depan sebuah ruangan. Gina pun Ikut duduk bersama dengan mereka.


Setelah menunggu beberapa menit, datanglah seorang laki-laki dan perempuan yang masuk ke ruangan tersebut. Pegawai wanita tadi tak lama kemudian keluar kembali dan membagikan nomer urut untuk peserta wawancara sesuai dengan kedatangannya. Dan memanggil peserta nomer urut satu untuk memasuki ruangan. Gina yang datang akhirpun dapat urutan nomer bontot.


Satu per satu peserta wawancara keluar ruangan dan turun tangga ke lantai bawah. Entah sudah di terima atau tidak, Gina tidak berani untuk bertanya. Pikirannya terus mengulang mantra-mantra positif untuk menyemangati dirinya sendiri dan untuk membuatnya tenang.


"Peserta wawancara terakhir, silakan masuk," kata mbak pegawai tadi sambil melihat kepadanya.


"Saya Mbak. Baik, terima kasih," balas Gina buru-buru berdiri dan menghampiri pemanggil di depan pintu ruangan.


"Silakan. Kamu adalah peserta wawancara terakhir, jadi saya tinggal ya. Nanti langsung urusan dengan Pak manajer saja," kata Mbak pegawai tadi membukakan pintu ruangan.


"Pak, peserta terakhir. Dan saya pamit kembali ke bawah untuk membantu mengawasi toko," sampainya kepada Pak Manager di dalam ruangan.


"Oke, persilakan masuk," sahut suara di dalam ruangan tadi.


Gina heran, dimana dia pernah mendengar suara tersebut. Kelihatannya tidak asing di telinganya. Apakah dia kenal? Tapi tidak mungkin, Gina tidak pernah bergaul dengan orang penting sebelumnya. Gina melangkah masuk dan duduk di kursi di depan meja yang sidah di sediakan. Menunggu Pak Manajer tadi melihat kepadanya, mata Gina melirik dekorasi kantor yang cozy ditata artistik dan fungsional.


"Loh, Gina. Kamu melamar pekerjaan disini?" suara laki-laki itu terdengar kaget karena mengenali Gina.


Spontan Gina memalingkan wajahnya kembali memandang Pak Manager dengan terkejut karena memanggil namanya bahkan sebelum Gina menyerahkan dta dirinya. Dan betapa terkejutnya dia ternyata Pak Manager itu adalah kakak tingkatnya, Raka Rahardian.


"Mas Raka, apa yang Mas lakukan disini?!" seru Gina terkejut.


"Hahahaha, bagaimana kamu ini. Aku disini ya untuk mewawancaraimu. Kebetulan toko ini milik orang tuaku. Jadi aku bekerja di sini sejak masih SMA, sekarang aku sudah diangkat jadi Manager, hitung-hitung untuk belajar mengelola toko saat besok toko ini diserahkan padaku," jawab Raka menjelaskan kepada Gina yang masih terkejut.


"Jadi, kamu mau bekerja disini, Gina?" tanya Raka kepadanya.


"Tentu saja aku mau, Mas. Kebetulan sebentar lagi libur semester, jadi aku punya waktu luang. Lebih baik bekerja saja daripada keluyuran kemana-mana," jawab Gina dengan mantap.


"Bagus, kamu bisa bekerja mulai hari ini?" tanya Raka lebih lanjut.


"Tentu saja bisa. Apakah aku diterima?" Gina menjawab dan balik bertanya.


"Tentu saja, karena memasuki musim liburan, toko kami pasti semakin ramai. Dan kami butuh banyak orang untuk berada di toko mengawasi dan melayani customer," jawab Indra lebih lanjut.


"Terima kasih. Untuk gajiku bagaimana Mas?" tanya Gina untuk memastikan bayaran atas tenanganya.


"Disini sistemnya gaji pokok ditambah dengan komisi dari barang-barang yang berhasil kamu jual. Jadi semakin banyak kamu melayani customer yang membeli barang yang kamu tawarkan, semakin banyak pula kamu dapat komisi dari itu," terang Raka kepada Gina dan menyodorkan kertas berisi perjanjian kerja kepada Gina.


"Ini, silakan di baca dan di isi dulu Gina. Sebagai anak hukum, kamu pasti paham apa gunanya kontrak ini" kata Raka kepada Gina.


"Baik, aku akan melakukannya, Mas," jawab Gina sambil mengeluarkan pena dari dalam tasnya. Dengan tekun di bacanya kalimat per kaliamt yang ada di lembar perjanjian tersebut.


"Tanyakan saja kalau belum jelas. Biar sama-sama terangnya," kata Raka setelah melihat Gina membaca beberapa saat.


"Ini sudah jelas semua, Mas. Aku akan di gaji di tanggal 25 setiap bulannya. Dan apa yang bisa aku jual langsung bisa terekap di dalam komputer saat cuatomer membayar di kasir dengan nota yang aku berikan. Seragam nya baju putih berkerah dan celana hitam, nanti diberi tapian dari sini sebagai penanda bahwa kami adalah pegawai disini. Dibawakan tanggung jawab nota untuk menuliskan pesanan cuatomer sebelum dibawa ke kasir. Begitukan secara singkatnya?" tanya Gina dengam bibir tersenyum.


"Benar sekali. Kamu cerdas, tidak salah Profesor Baraka mau menerimamu sebagai asisten dosen," puji Raka kepada Gina. "Sudah kamu tanda tangani?" tanyanya lebih lanjut.


"Sudah, Mas. Ini Gina kembalikan," Gina mengulurkan kertas tadi kepada Raka.


"Bagus. Sekarang kamu bisa bekerja langsung. Silakan ke lantai satu, temui Mbak Beti yang tadi memanggilmu masuk ruangan. Nanti akan di pandu Mbak Beti dari sana," kata Raka menerima kertas yang disodorkan oleh Gina.


"Siap, terima kasih," jawab Gina sambil bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.


Brugh.. Karena tidak memperhatikan sekitar dan tergesa-gesa karena senangnya, Gina menabrak seseorang, dan dia terjatuh ke lantai.


"Aduh, sakit sekali," kata Gina berdiri lagi sambil mengusap pantatnya yang jadi tumpuan jatuhnya tadi.


"Kamu tidak apa-apa, Nak?" kata orang yang di tabrak olehnya tadi. "Hati-hati kalau berjalan, perhatikan jalanmu," lanjut suara tadi kepada Gina.


"Maaf, Pak. Saya tidak memperhatikan jalan," Gina berkata sambil memandang siapa yang di tabraknya tadi.


Tak disangka Gina menemui pandangan mata bapak-bapak tadi terbeliak lebar karena terkejut melihatnya. Merasa tidak enak, Gina meminta maaf kembali dan bergegas lari turun ke lantai satu.


"Pak Hadijoyo, ada apa?" suara Raka terdengar menyapa bapak-bapak tadi.


"Oh, ternyata nama balak-bapak tadi Pak Hadijoyo. Duh, semoga tidak berimbas pada pekerjaanku disini," gumam Gina oada dirinya sendiri.


Disingkirkannya peristiwa tadi dari pikirannya, segera ditemuinya Mbak Beti sesuai dengan instruksi Pak Manager. Dengan penuh semangat Gina mendengarkan arahan Mbak Beti dan menerima tapian dan nota-nota tanggung jawabnya dan diantarkan ke titik dimana Gina bertanggung jawab atas barang-barang yang dijaganya.