
Indra yang merasakan keanehan dalam diri pakdenya yang dari tadi menjadi pendiam setelah bertemu dengan Gina, tidak berani bertanya langsung kepada beliau. Apa sebenarnya yang menyebabkan Pakde Hadijoyo begitu kaget dan sekarang raut mukanya yang murung serta sedih sangat nampak dalam sorot mata beliau. Berulang kali beliau menghembuskan napas dengan berat kemudian menggeleng-gelengkan kepala dengan sedih.
"Pakde, Indra antarkan sampai rumah ya. Indra khawatir Pakde di jalan kenapa-kenapa," kata Indra dengan lembut kepada pakdenya. Selain mengkhawatirkan kondisi pakdenya, Indra juga penasaran apa yang menyebabkan pakdenya menjadi seperti itu setelah tadi siang bertemu dengan Gina. Setidaknya selama hampir dua jam mengemudi ke Solo, Indra bisa sedikit banyak mengulik pertanyaan yang menggayut di benaknya sejak tadi.
Mobil yang Indra kendarai meluncur dengan mulus ke arah timur mengikuti jalan raya menuju kota tempat keluarganya tinggal. Tidak ada satupun tawaran Indra yang bisa membuat pakdenya berhenti dan makan siang. Sebenarnya Indra sangat khawatir dengan kesehatan pakdenya. Tetapi, sekali lagi Indra paham dengan apa yang barusan dialami oleh beliau.
Memasuki kawasan Klaten kota, Indra membelokkan mobilnya ke kiri untuk memutari jalan searah di depan Kantor Kabupaten Klaten. Setelah melewati stadion Kalten, Indra membelokkan mobilnya dan parkir di depan sebuah warung sop ayam legendaris di sana.
"Pakde, meskipun Pakde tidak mau makan, tapi Indra lapar. Pakde tidak maukan disopiri oleh orang yang kelaparan dan tidak konsentrasi?" goda Indra melihat pakdenya masih diam membisu. Mau tidak mau Pakde Hadijoyo ikut keluar dari mobil dan memesan makanan. Sama seperti Indra, sebenarnya Pakde Hadijoyo juga lapar, tetapi pikiran dan rasa bersalahnya mengambil alih fokus dan keinginannya untuk makan.
"Gadis muda yang tadi namanya siapa, Ndra?" tanya Pakde Hadijoyo membuka percakapan di tengah-tengah makan.
"Dia bernama Gina Rahayu Wilde, Pakde. Cantikkan pilihan untuk calon menantu Ibu?" tanya Indra sembari tersenyum dan menyuapkan sop ayam dan nasi putih hangat ke mulutnya.
"Ternyata memang Wilde ya. Pantas saja cantik. Sama seperti mamanya," kata Pakde Hadijoyo dengan lirih.
Meskipun lirih, ucapkan Pakde Hadijoyo tadi terdengar dengan jelas di telinga Indra. Dia menunggu kelanjutan kalimat yang akan disampaikan oleh Pakdenya tersebut. Indra dengan tenang melanjutkan makan dan menanti apapun yang akan diceritakan Pakde Hadijoyo.
Dilihatnya pakdenya itu masih saja merenung dan memikirkan apa yang baru saja terjadi. Perasaan terkejut dan reaksi yang memalukan tadi, sepertinya masih mengusik pikiran pakdenya itu. Setelah menghabiskan makanan yang dipesannya, Indra mengajak pakdenya untuk segera melanjutkan perjalanan kembali menuju Solo. Tidak ada paksaan terhadap sikap pakdenya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.
Setelah mengeluarkan mobilnya dari parkiran warung tersebut, Indra melajukan kendaraannya itu dengan mulus. Didengarnya samar-samar pakdenya bergumam, "Apa harus aku ceritakan semua yang terjadi di masa lalu? Sehingga membuatku menebus kesalahan dan bisa membuatnya lega mengetahui apa yang terjadi pada kehidupan keluarganya sendiri."
Indra tidak menanggapi gumaman tersebut. Baginya, itu adalah masalah yang harus diselesaikan sendiri oleh pakdenya dengan akal dan hati yang jernih. Karena Indra yakin pasti ada banyak keterkaitan pakdenya dengan sejarah keluarga Wilde merunut dari percakapan-percakapan Indra dan Professor Baraka belakangan ini.
"Antarkan Pakde langsung pulang ke rumah saja, Ndra. Ada banyak yang harus Pakde pikirkan," pinta Pakde Hadijoyo dengan lirih dan tanpa melihat ke arah Indra, keponakan tercintanya.
Indra paham, di hati Pakdenya itu pasti banyak sekali ganjalan dan penyesalan. Maka, tanpa banyak bicara dan tanpa banyak pertanyaan, Indra hanya menganggukkan kepala dan menekan gas lebih dalam demi melajukan kereta besinya segera sampai ke rumah keluarganya.
Melewati aspal jalanan yang akan mengantarkannya menuju Kota Solo tercinta, Indra sesekali memikirkan semua percakapan dengan Professor Baraka tentang semua hal yang berkaitan dengan Gina. Terasa sekali kasih sayang Professor Baraka kepada Gina, tetapi anehnya kedekatan Professor Baraka dengannya terasa lebih dalam. Apa yang dipikirkan Professor Baraka akan sampai kepada Indra bahkan sebelum Professor Baraka mengucapkan penjelasannya. Komunikasi lancar antara Professor Baraka dengannya sangatlah mencengangkan. Senyum sayang terukir di bibir Indra mengingat Professor setengah baya tersebut yang sampai sekarang masih setia dengan kesendiriannya. Entah mengapa ingin rasanya Indra pertemukan beliau dengan Ibunda yang juga selama ini tidak pernah memikirkan untuk menikah bahkan untuk memberikan seorang ayah kepadanya.
"Pakde, apakah Pakde tidak mau untuk melepaskan beban yang menggayuti hati Pakde selama ini? Indra dulu sering melihat Pakde di pabrik belakang rumah, sedang merokok, merenung dan sesekali meneteskan air mata. Indra dulu tidak paham mengapa Pakde melakukan hal itu," kata Indra memulai membuka percakapan dengan Pakdenya. "Dulu Indra haya mengira Pakde sedih memikirkan kondisi keluarga kita yang terpuruk karena krisis ekonomi yang dulu melanda. Tapi, sekarang Indra yakin, bahwa apa yang Pakde lakukan dulu itu, berkaitan dengan apa yang terjadi dengan keluarga Wilde."
Pakde Hadijoyo hanya menengokkan kepalanya ke arah Indra. Dan memberikan tatapan bertanya kepadanya. Tatapan mata yang jelas sekali meminta penjelasan atas perkataan keponakan tersayangnya tersebut.
"Sebelum Indra memutuskan mengambil pekerjaan dosen di Jogja, Indra sempat meihat sebuah foto tua seorang wanita bule yang sangat cantik dalam busana Jawa. Kelihatannya beliau sedang dalam sebuah acara pagelaran wayang," terang Indra dengan ucapan yang tenang dan sikap kalem yang diperlihatkan kepada pakdenya itu.
Didengarnya Pakde Hadijoyo tercekat dan menghembuskan napas kembali dengan keras. Pertanda apa yang dikatakan oleh keponakannya itu adalah hal yang jika tidak sepenuhnya benar, tetapi paling tidak hal tersebut mendekati kebenaran. Indra awalnya tidak berniat mendesak pakdenya tersebut lebih jauh lagi. Tetapi saat melihat pakdenya tersebut sangat merana setelah pertemuan tak snegaja dengan Gina tadi, Indra harus segera meluruskan dan menuntaskan segala hal yang mengganjal yang dapat menghalangi semua rencana-rencananya.
Semakin memasuki Kota Solo, Indra bertekad untuk mencari tahu lebih dalam lagi dan bertanya tentang masalah ini kepada Ibunya selagi di rumah. Pikirannya tidak akan tenang sebelum rangkaian puzzle terselesaikan dan tertata rapi pada tempatnya. Masih ada bagian yang hilang dari cerita yang disampaikan oleh Professor Baraka dan kejadian-kejadian masa lalu yang diketahuinya secara tidak sengaja. Mobil Indra berbelok ke depan pagar sebuah rumah yang bisa dibilang cukup tua yang berada di pusat industri batik di Kota Solo. Meskipun sekarang keluarga Hadijoyo bisa pindah ke rumah yang lebih luas demi membesarkan store yang ada di rumah tersebut, tetapi Ibu dan pakdenya tersebut tidak mau meninggalkan rumah warisan keluarga turun temurun tersebut.
Setelah mobil terparkir sempurna di garasi di samping store, Pakde Hadijoyo dan Indra bergegas keluar dari mobil. Dilihatnya di store ada beberapa pelanggan yang sedang memilah dan memilih batik yang ingin di belinya. Pakde Hadijoyo, tidak biasanya langsung masuk ke rumah lewat pintu samping. Biasanya beliau menyempatkan diri menyapa karyawan-karyawan yang ada di store kapanpun Pakde Hadijoyo kembali dari bepergian. Indra segera membuntuti Pakdenya untuk masuk ke rumah dan ingin segera menyapa Ibunya.
.......
Sorry
Is all that you can't say
Years gone by and still
Words don't come easily
Like sorry like sorry
Forgive me
Is all that you can't say
Years gone by and still
Words don't come easily
Like forgive me forgive me
But you can say baby
Baby can I hold you tonight
Maybe if I told you the right words
I love you
Is all that you can't say
Years gone by and still
Words don't come easily
Like I love you I love you
........
Sayup-sayup lirih lagu yang mengalun dari speaker store yang memang sering diputarkan lagu-lagu untuk membuat pelanggan nyaman, membuat Indra menyunggingkan senyumannya. Ingatannya melayang kembali ke Kota Gudeg, di mana tambatan hatinya berada. Suara Boyzone memang membuat hati selalu teringat kepada orang yang sangat di sayanginya tersebut. Lagu Baby Can I Hold You Tonight juga membekaskan ingatan Indra kepada Gina.
Pakde Hadijoyo sudah masuk ke dalam kamarnya dan mengunci diri di kamar tersebut, pertanda tidak mau diganggu oleh siapapun. Indra juga tidak membuntuti pakdenya menuju tempat rehatnya itu. Segera dicarinya sang Ibu untuk sekedar menyapa. Indra menuju dapur dan hanya menemukan Mbok Sum yang sedang mendengarkan sandiwara radio di RRI.
"Siang Mbok," sapa Indra memasuki dapur dan mengambil air putih dari dalam lemari pendingin.
"Gusti, Den Bagus sudah datang ta ternyata. Kalih sinten*, Den?" tanya Mbok Sum bergegas berdiri dan menghampiri Indra yang dulu semasa kecil diasuhnya itu.
"Mbok Sum, tolong jangan panggil Indra dengan sebutan Den Bagus lagi ya. Indra malu kalau Mbok Sum memanggil Indra dengan sebutan itu," kata Indra belum menjawab pertanyaan yang diajukan Mbok Sum tadi. Dia berjalan ke arah meja makan dan duduk di salah satu kursi di sana. Meletakkan gelasnya di meja dan melanjutkan jawaban yang diinginkan Mbok Sum, "Sama Pakde Hadijoyo tadi Mbok. Pakde langsung masuk kamar begitu sampai rumah."
"Wah ya ndag bisa to Den Bagus. Lha wong lidahnya Simbok ini ya sudah paten seperti ini, manggilnya Den Bagus. Simbok lho yang momong Den Bagus sedari kecil. Simbok yang dulu ikut panik saat Den Bagus demam malam-malam. Simbok juga yang ikut Sibu untuk memberikan imunisasi Den Bagus ke bidan pada jaman dulu," kata Mbok Sum dengan penuh semangat.
Indra tertawa melihat ibu asuhnya tersebut penuh dengan semangat menjelaskan hal yang sama tatkala dia meminta hal yang serupa. Hal itu membuat hatinya lebih ringan menyaksikan orang-orang di sekitarnya yang masih menyayanginya.
"Mbok, Ibu ada di mana? Apakah beliau sudah pulang?' tanya Indra kepada Mbok Sum.
"Sibu masih ada di butiknya, Den. Butiknya Sibu sangat ramai. Mbok ndag tau apa alasannya Sibu buka butik jauh-jauh dari rumah," kata Mbok Sum selalu menyayangkan majikan yang disayanginya itu selalu pergi keluar rumah.
"Mbok Sum ini ada-ada saja to. Ya Ibu kan ingin memiliki waktu sendiri dan ingin berkarya. Setelah sekian lama mengurus Indra dan mengurus rumah ini, Ibu juga butuh hiburan to Mbok," sahut Indra kemudian. "Yasudah, Indra mau ke kamar dulu ya Mbok. Mau istirahat dulu. Tadi Indra sudah makan kok sebelum pulang ke rumah."
"Nggih Den Bagus. Bersih-bersih dan istirahat di kamar dulu saja. nanti kalau Sibu pulang, Mbok kabari," jawab Mbok Sum.
Di kamarnya, Indra segera membersihkan badan dan berbaring di tempat tidur. Hanya dengan mengenakan kaos dalam dan celana pendek, Indra memejamkan mata. Membiarkan tidur siangnya membawanya sejenak dalam ketenangan batin dan mempersiapkan diri untuk mengorek keterangan lebih lanjut kepada Ibu dan pakdenya nanti saat berkumpul untuk makan malam.
"Cah Bagus, bangun Nak." suara lembut yang sangat dikenal Indra memasuki gendang telinga Indra dan membuatnya bergegas membuka matanya.
"Ibu sampun kondur? Jam berapa ini, Bu?" tanya Indra yang kaget Ibunya sudah berada di samping tempat tidurnya. Sama persis saat beliau dulu membangunkan saat pagi hari di waktu Indra masih sekolah.
"Sudah dari tadi Ibu pulangnya. Tapi tadi Ibu lihat Indra sedang tidur nyenyak. Ibu ndag tega membangunkan Indra," jawab Ibunya dengan lembut dan tersenyum manis.
Indra meraih jam tangan yang berada di meja di samping kasur, dilihatnya sudah hampir jam lima sore.
"Indra tidurnya lama ternyata Bu. Tadi siang Indra mengantarkan Pakde pulang setelah mengecek stok di Jogja," kata Indra ke Ibunya.
"Ibu tahu dan sudah paham. Tadi Pakdemu juga sudah menceritakan pada Ibu apa yang terjadi di Jogja. Mandi dulu sana, pakde ingin bertemu denganmu nanti saat makan malam," perintah Ibunya dengan sangat halus.
"Nggih Ibu," jawab Indra segera menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri dan mempersiapkan mentalnya untuk mendengarkan hal yang terburuk dari semua hal yang terjadi akhir-akhir ini. Sebelum Indra melangkah terlalu jauh dengan Gina, Indra harus meluruskan semua hal yang selama ini masih mengganjal dalam hati dan pikirannya.
Setelah mandi dan rapi, Indra turun menemui keluarganya di ruang makan. Di sana sudah ada Pakde Hadijoyo dan Ibunya tercinta. Di kursi sebelah Pakde Hadijoyo ada sebuah map bercorak batik berwarna coklat. Indra segera duduk di samping Ibunya dan menyapa pakdenya, "Pakde sudah baikan?"
"Duduklah, Ndra. Makan dulu. Nanti Pakde ceritakan apa yang kamu ingin tahu," ujar Pakde Hadijoyo memberikan perintahnya dengan pelan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Halo Pembaca Budiman,
terima kasih sudah menantikan kelanjutan cerita ini. Cerita ke depan merupakan detik-detik akhir menuju flag End.
Silakan menikmati perjalanan Gina dan Indra beserta seluruh keluarga yang saling terkait ini ya. Salam sayang dari saya.
Oia, jangan lupa ya Like-nya 👍🏽👍🏽👍🏽, komentarnya serta bintang lima-nya ⭐⭐⭐⭐⭐
Warm Regard,
-Arindra-