Wait For Me, Professor!

Wait For Me, Professor!
Kenangan Profesor Baraka



Solo, Juni 2008


Langkah-langkah kaki tenang menyusuri salah satu komplek pemakaman besar di Kota Solo. Dengan mengenakan sepatu sandal yang di bagian depannya terbuka, khas sandal bepergiannya orang-orang tua, mengenakan celana santai berwarna hitam dan sweater membungkus tubuh tambun nya. Jam tangan khas laki-laki tersemat dipergelangan tangannya, topi berwarna abu-abu bertengger di atas rambut-rambut kepalanya yang sudah banyak beruban. Diarahkannya kaki melangkah ke perempatan yang berada di komplek makam tersebut. Langkah-langkah itu terus dibawa nya ke tempat kedua makam suami istri sahabat tercintanya. Rasya Wilde dan Elizabeth Jean Wilde.


Tadi selepas rapat dengan anggota dekan di fakultasnya, dengan yakin dan penuh semangat, Profesor Baraka mengarahkan mobilnya ke Solo. Tempat kedua orang yang di sayanginya berada. Siapa lagi kalau bukan sahabat-sabahat tercintanya. Rasa rindu yang teramat sangat di rasakan olehnya, setelah beberapa bulan dirinya tidak mengunjungi makan sahabat-sahabatnya tersebut.


Langkah kakinya terhenti, di depan dua makam bersisihan. Profesor Baraka pun segera mencari posisi duduk di samping makam-makam tersebut. Dipanjatkannya doa-doa teruntuk sahabat-sahabatnya tercinta itu. Yang satu sahabat kepalanya, selalu bertukar pikiran dan bertukar pandangan tentang apapun. Satu lagi adalah sahabat hatinya. Pujaan hati yang ia relakan demi kebahagiaan sang berlian hati. Demi melihatnya tersenyum bahagia, Profesor Baraka tidak pernah sekalipun mengungkapkan rasa hati yang selama ini bersemayam.


Ya, Elizabeth Jane, sejak dahulu adalah kekasih hatinya. Meski Profesor Baraka terlambat bertemu dengan Elisabeth muda. Saat mereka bertemu, ternyata Elizabeth juga mengikat janji dengan sahabatnya sendiri. Orang yang sangat amat dipercayainya. Meskipun demikian, tidak ada yang bisa menggantikan kedudukan Elizabeth di hatinya dan Profesor Baraka tidak pernah sekalipun berniat untuk mengisi hati nya lagi dengan orang lain.


"Kalian memang jodoh dunia akhirat. Hidup bersama, meninggalpun bersama. Aku kalian tinggalkan di sini untuk menjaga buah hati kalian," gumam Profesor Baraka sambil mencabuti rumput-rumput yang ada di makam-makam tersebut.


"Gina sekarang sudah besar. Dia tumbuh jadi gadis yang cantik, cerdas dan tangguh. Dia cerdas sepertimu, Rasya. Tapi cantik seperti Ibu nya. Jangan khawatir disana. Berbahagialah kalian menunggu Gina," bisik Profesor Baraka pada dirinya sendiri dengan sendu.


"Jangan khawatirkan Gina bisa hidup dengan enak atau tidak. Aku berusaha mendidiknya seperti ibumu dulu mendidikmu, Rasya. Meskipun aku sangat bersedia menanggung hidupnya, tapi Gina berkeras berusaha dan bekerja dengan tangannya sendiri. Hebatkan?" kata Profesor Baraka lebih lanjut.


Ingatannya pun melayang saat pertama kali dia diperkenalkan Rasya pada Elizabeth. Pertama kalinya juga Profesor Baraka merasakan hatinya bergetar untuk seorang wanita. Wanita yang juga sudah ada yang memilikinya. Melihat mereka sangat serasi dan saling mencintai, Profesor Baraka hanya menyimpan perasaannya rapat-rapat. Masih teringat jelas saat mereka berkumpul bersama di vila di daerah Tawangmangu saat melewati tahun baru, Rasya dan Elizabeth menyanyikan lagu Endless Love dari Diana Ross dan Lionel Richie dengan iringan gitar darinya.


.............


My love, there's only you in my life


The only thing that's bright


My first love,


You're every breath that I take


You're every step I make


And I, I want to share


All my love with you


No one else will do


And your eyes, your eyes, your eyes


They tell me how much you care


Ooh yes,


You will always be


My endless love


Two hearts,


Two hearts that beat as one


Our lives have just begun


Forever (Oh)


I'll hold you close in my arms


I can't resist your charms


And love, oh love


I'll be a fool, for you I'm sure


You know I don't mind (Oh)


You know I don't mind


'Cause you,


You mean the world to me (Oh)


I know I know


I've found, I've found in you


My endless love


Ohh


Boom, boom,


Boom, boom, boom boom, boom,


Boom, boom, boom boom


Oh, and love oh, love


I'll be that fool for you I'm sure,


You know I don't mind


Oh you know I don't mind


And, yes


You'll be the only one


'Cause no one can deny


And I'll give it all to you


My love, my love, my love


My endless love


..................


Perlahan-lahan Profesor Baraka kembali pada kenyataan di sekelilingnya. Sekejap tadi memorinya berjalan kembali ke masa-masa pertemuan awal dengan Elizabeth. Memang, kenyataan tidaklah seindah hasrat yang ada di dalam hati. Sudah diputuskan dalam hatinya sejak dahulu kala, bahwa dia akan mendampingi sahabat-sahabatnya.


"Nuwun sewu, Pak. Ini sudah sore. Sebaiknya segera pulang dari sini," suara bapak-bapak yang sedang membersihkan makam keluarga yang berada di dekat sana mengingatkan.


"Oh, nggih Pak. ini nengok teman-teman saya. Kepikiran masa lalu, kok tau-tau lama disini," sahut Profesor Baraka seraya berdiri dari duduknya di pinggir makam-makam tadi.


"Pak, minta tolong makam-makam ini, seminggu sekali tolong dibersihkan nggih. Ini ada sedikit rejeki untuk sekedar beli rokok dan beras," kata Profesor Baraka setelah berjalan menghampiri pembersih makam dan menyalaminya untuk menyelipkan bantuan uang sepantasnya.


"Nggih Pak, akan saya rawat dua makam rersebut," kata bapak pembersih makam tadi dengan muka berseri-seri melihat ditangannya di selipkan lembaran-lembaran uang berwarna biru.


"Matur nuwun, Pak. Tolong yang bersih nggih," ucap Profesor Baraka seraya menepuk pundak bapak tadi.


Dipaksakan langkah-langkahnya menjauhi makam Rasya dan Elizabeth. Masih panjang jalan yang harus di laluinya. Masih sedikit lagi menyelesaikan tugas yang diembannya untuk mendampingi Gina. Mengingat tentang Gina yang cantik dan cerdas, rencana sudah tersusun di benak dan pikirannya, senyum Profesor Baraka pun mengembang.


Sesampainya di pinggir pemakaman, segera dihampirinya keran air yang di sediakan pengelola di pojok kantor jaga makam. Setelah bebersih dan mencuci kaki, tangan serta muka, Profesor Baraka segera menuju mobil dan melaju keluar dari area pemakaman. Dengan iseng dikeluarkannya Blackberry dari dalam sakunya, mencari nama yang disimpan di sana.


kriiiing... kriiiing...kriiing


Terdengar deringan telepon nun jauh di seberang sana. Dinantinya orang yang di telepon Profesor Baraka mengangkat teleponnya.


"Halo, ini kediaman mendiang Pak Rasya dan Bu Elizabeth, siapa yang menelpon nggih?" suara dari sambungan seberang sana menjawab teleponnya.


"Halo Yu Narti, ini Baraka," jawab Profesor Baraka dengan nada suara tenang dan berwibawa.


"Oh iya, Tuan Baraka. Bagaimana kabarnya? Sehat-sehat saja? Apakah Non Gina sehat-sehat di Jogja? Kapan Non Gina akan pulang?" Yu Narti memberondong Profesor Baraka dengan banyak pertanyaan karena senangnya.


"Hahahaha, satu-satu pertanyaannya Yu. Ini saya sedang ada di Solo. Boleh saya mampir rumah Yu?" pertanyaan Profesor Baraka tentu saja hanya sekedar basa-basi, karena setiap mengantar Gina ke Solo dulu, selalu pulang ke rumah mendiang sahabat-sahabatnya itu untuk mengurus segala pembayaran pemeliharaan rumah mendiang sahabat-sahabatnya itu. Dan juga untuk mengantarkan Gina pulang ke rumahnya melepas rindu dengan rumah yang akrab dengannya sejak kecil.


"Tentu saja Tuan. Silakan datang kemari. Apakah Non Gina ikut? Kebetulan saya masak rawon dan semur kecap kesukaan Tuan Baraka dan Non Gina," dengan senang Yu Narti menyebutkan masakannya siang tadi.


"Baik, terima kasih Yu. Sebentar lagi sudah sampai ini. Saya tutup ya teleponnya," jawab Profesor Baraka.


Lima belas menit kemudian, mobil Profesor Baraka sudah memasuki pekarangan rumah yang sederhana dipinggir kawasan perumahan elit kota Solo tersebut. Meskipun sederhana dan tidak begitu besar, tetapi karena di pelihara dengan apik, jadi terlihat asri dan bersih. Profesor Baraka melihat Yu Narti sudah membukakan pintu untuknya bahkan sebelum Profesor Baraka sendiri turun dari mobilnya yang di parkir.


"Sore Yu, bagaimana kabarnya? Sehat-sehat?" tanya Profesor Baraka sesampainya di depan pintu rumah.


"Sehat Tuan. Syukur saya dan Sumi disini baik-baik saja dan sehat-sehat," jawab Yu Narti dengan senyum terkembang di bibirnya dan melongok ke belakang Profesor Baraka untuk mencari seseorang.


"Gina tidak ikut Yu " jawab Profesor Baraka atas pertanyaan tersirat dari Yu Narti.


"Gina sudah ziarah kemarin, setelah selesai ujiannya," jelas Profeaor Baraka lagi


"Tapi kok Non Gina tidak pulang ke rumah kalau gitu Tuan? Biasanya setelah ziarah Non Gina pulang ke rumah malamnya untuk beristirahat," tanya Yu Narti dengan heran.


"Karena kemarin Gina di temani orang lain. Jadi mungkin Gina tidak enak membawanya pulang ke rumah," dengan geli Profesor Baraka menjawabnya.


"Lho sampai lupa to, monggo masuk Tuan. dari tadi ngobrol di depan pintu," Yu Narti menepuk kepalanya sendiri karena lupa dan terlalu penasaran dengan absen nya Gina pulang ke rumah.


"Tapi Tuan, kan temannya Non Gina diajak pulang untuk istirahat. lha wong disini juga bisa tidur di kamar Non Gina to," tanya Yu Narti lagi masih penasaran kenapa Gina tidak pulang setelah ziarah seperti biasanya


"Hahahaha, ya malahan tidak bisa Yu. Dia kemarin bareng temannya laki-laki. Masak mau di ajak pulang dan tidur di kamar Gina," Profesor Baraka menjawab geli pertanyaan Yu Narti tadi.


"Non Gina ke makam bareng pacarnya, Tuan? Apa mau dikenalkan ke Pak Rasya dan Bu Elizabeth?" binar mata Yu Narti semakin berkilau mendengar anak yang dulu di jaganya setelah orang tuanya meninggal itu sudah punya pacar.


"Bukan pacar Yu. Tapi doakan saja mereka berjodoh ya. Saya yang mencomblangi mereka berdua. Semoga perjalanan mereka lancar sampai bersatu," senyum Profesor Baraka mengembang lagi mengingat rencananya yang sudah berjalan.


"Oh ya Yu, apakah tagihan-tagihan rumah bulan ini sudah di bayarkan? Mana saya lihat tagihannya," pinta Profesor Baraka pada Yu Narti.


Dengan bergegas Yu Narti mengambil tumpukan resi-resi pembayaran rumah tersebut. Dan mengulurkannya kepada Profesor Baraka. "Ini Tuan, untuk listrik, air dan telepon sudah saya bayarkan dengan uang dari Profesor dulu," kata Yu Narti.


"Apa ada yang kurang Yu? Listriknya tidak naik? Airnya?" tanya Profesor Baraka melihat resi-resi tadi.


"Tidak Tuan, kan di rumah ini hanya saya dan Sumi. Sumi pun sekarang kalau di rumah juga sudah malam. Dia sekarang sedang jadi wartawan magang di kantor berita di Solo ini, Tuan," jawab Yu Narti dengan bangga dengan anaknya yang sekarang sudah mulai mandiri.


"Wah iyakah? Sumi anak yang cerdas ya. sama seperti Gina, meskipun Gina masuk kuliahnya setahun lebih lambat, tapi sekarang dia sudah mengerjakan skripsinya sembari menjadi asisten dosen untuk menambah ilmunya," jelas Profesor Baraka tak kalah bangganya.


"Iya Tuan, Sumi dulu yang selalu membujuk Non Gina untuk terus bersemangat meneruskan sekolahnya. Bahkan menemani Non Gina untuk mencari kampus yang cocok dengan Non Gina," ingatan Yu Narti melayang pada masa-masa selepas Gina menyelesaikan pendidikan SMA nya dulu kala.


"Hahaha, benar sekali. Gina memang keras kepala, sampai sekarangpun dia tidak mau menerima uangku untuk pembayaran kuliahnya. Katanya mau mencari sendiri dengan tangannya. Yaa, saya biarkan saja dia berkarya dengan kemampuannya," Profesor Baraka ikut menyampaikan kenangannya akan anak asuhnya itu.


"Ini Yu, untuk pemeliharaan rumah ke depannya, listrik, air, telepon, dan untuk pembayaran pajak PBB di akhir tahun. Dan juga jatahnya Yu Narti setiap bulan sampai akhir tahun," kata Profesor Baraka menyerahkan amplp coklat panjang berisi tumpukan uang kepada Yu Narti.


"Terima kasih Tuan. Saya bahagia bisa membantu keluarga Non Gina disini " kata Yu Narti menerima amplop tersebut dengan penuh syukur.


"Iya, sama-sama Yu. Saya juga terima kasih Yu Narti mau mengurus rumah ini untuk Gina. Sudah, sekarang mana rawonnya. Saya sudah lapar ini," kelakar Profesor Baraka untuk mencairkan suasana.


"Ada Tuan, sudah disiapkan di meja makan. Monggo silakan di nikmati, saya ke belakang dulu menyimpan uangnya," sahut Yu Narti mempersilakan Profesor Baraka ke meja makan.


Meja makan yang sama dengan kenangan terakhir makan rawon bersama dengan keluarga Rasya sebelum keberangkatan mereka ke London. Ahh, alangkah sedihnya nasib mereka. Niat hati ingin menjenguk Profesor Baraka ke rumah sakit saking cemasnya, sampai-sampai tidak mau menunggu hujan reda dan akhirnya mobil sewaannya selip dan mengalami kecelakaan.


Profesor Baraka tidak bisa hadir di hari pemakamanan sahabat-sahabatnya itu karena masih terbaring di rumah sakit. Baru setelah sepuluh hari, Profesor Baraka bisa mengunjungi makan sahabatnya itu dan menemukan Gina masih sedih dan tidak bersemangat untuk menjalani hidupnya. Saat bertemu dengannya, Gina langsung memeluknya erat dan menangis dipelukannya.


Senyum sedih, haru dan bahagia Profesor Baraka mengingat Gina saat remaja. Bersyukur dulu sahabatnya menitipkan Gina kepadanya dan sudah meminta Gina untuk datang kepadanya saat ada kesulitan. Mungkin, inilah jalan yang harus di lalui Profesor Baraka. Membesarkan buah hati orang-orang yang di cintainya. Bahkan lebih lama dari ayah ibunya sendiri.


Disantapnya hidangan hangat di depannya, makanan favorit sepanjang Profesor Barakan bisa merasakan rawon untuk pertama kalinya. Ada nasi yang masih hangat mengepul dari tempat nasi, ada rawon di mangkok sayur, ada kecambah dan kemangi sebagai lalapannya, ada sambal terasi untuk pelengkapnya. Tidak ketinggalan juga ada perkedel kentang, tempe garit, telur asin dan kerupuk udang untuk menemani rawon tadi di atas meja.