
Jogja, akhir Mei 20
Minggu ini adalah minggu ujian untuk mahasiswa. Semua civitas akademika kampus sibuk dengan tugasnya masing-masing. Dosen sibuk membuat soal-soal ujian dan mahasiswa-mahasiswa sibuk belajar untuk menghadapi ujian demi mendapatkan nilai yang baik. Hari itu adalah hari Senin. Hari pertama ujian. Jadwal ujian hari ini bagi Gina adalah Hukum Perjanjian Internasional. Yah, selama ini Gina selalu membantu mengoreksi jawaban latihan ujian dari kelasnya Profesor Baraka. Jadi Gina merasa mudah saja untuk ujian ini.
sebelum habis waktunya ujian jam pertama, Gina telah selesai mengerjakan soal-soal ujiannya. Materi yang dia pelajari tadi malam sambil menahan ngantuk, akhirnya membuahkan hasil. Banyak pertanyaan yang keluar dalam ujian tadi. Setelah itu Gina menyerahkan lembar ujiannya kepada pengawas dan dengan melangkah santai ke depan kelas mengambil tas yang dikumpulkan menjadi satu. Langkah kakinya menuntun keluar ruang ujian dan menuruni tangga gedung jurusan tersebut.
Gina hanya perlu turun satu lantai untuk masuk ke perpustakaan jurusannya. Dan karena saat itu sedang musim ujian, maka perpustakaanpun penuh dengan mahasiswa yang sedang membuka kembali buku-buku atau sekedar membaca ulang buku pendamping perkuliahan.
"Siang Bang Jack, gak biasanya nih banyak diapeli mahasiswa jam segini," goda Gina kepada Bang Joko, pustakawan di fakultas hukum.
"Yoi Gina, keren kan? Kalau lagi ujian gini, Abang gak bakal kesepian Gina. Kalau gak lagi ujian, ya cuma segelintir yang datang. Kamu pun kalau datang pagi paling juga molor." canda Bang Joko menanggapi godaan Gina, mahasiswi yang sejak tahun pertama rajin datang ke perpustakaan itu. Meskipun sekedar untuk beristirahat sejenak di sana.
"Bang, buku yang Gina minta kemarin udah disimpenin belum ya?" tanya Gina sembari menaruh tasnya di loker dekat dengan meja pustakawan tersebut.
"Buku yang mana? Emang kemarin Gina nitip pesen ke Abang untuk nyimpenin?" Bang Jack bertanya balik kepada Gina dengan mengerutkan keningnya mengingat-ingat kembali apakah dia benar-benar lupa dititipi oleh Gina.
Gina tertawa melihat mimik wajah Bang Jack, sapaan akrabnya kepada penjaga perpustakaan, yang sangat serius mengingat-ingat kembali permintaannya. "Bang Jack, Gina kok yang salah. Maaf ya, jangan marah. Sabtu kemarin Gina datang kesini, cuma Bang Jack nya gak ada. Yang ada anak-anak SMA yang kemarin magang itu."
"Woh, saat itu Abang lagi ke ruang dosen, dipanggil sama Profesor Baraka, Gina. Kita besok ada dosen baru kata Prof. Baraka. Yang akan mulai mengajar semester ganjil depan," dengan wajah penuh kemenangan seakan-akan sudah mengalahkan Gina karena lebih dulu mengetahui informasi tersebut daripada Gina, mahasiswi yang juga dekat dengan dosen dan karyawan di fakultas tersebut.
"Gina sudah tau, Bang. Makanya Gina ke perpustakaan saja mencari Abang." jawab Gina sekenanya.
"Dih, kenapa malah kesini? Dosen nya masih muda loh. Ganteng lagi. Pinter pula. Lulus S2 dari luar negeri dan sedang mengambil S3 di kampus kita. tahun besok sudah desertasi. Hebatkan? Fakultas kita akan jadi fakultas terbaik kalau dipenuhi dosen-dosen muda dan pintar seperti itu. Dan kamu pun bisa cuci mata Gina, jangan tidur aja kalau lagi di perpustakaan." goda Bang Jack, sembari tangannya menerima buku pinjaman dari mahasiswi semester kedua yang juga tertarik mendengar percakapan antara dua orang tersebut.
"Mas Joko, yang bener. Kita punya dosen muda yang tampan? Seberapa tampan dia? Dan ngajar mata kuliah apa?" cerocos Winda, mahasiswi cantik yang mengulurkan buku pinjaman itu.
"Dengar-dengar sih, ngajar mata kuliah Hukum Perjanjian Internasional. Memang kalian sudah bisa ambil mata kuliah itu?" tanya Bang Joko kepada Winda.
"Yaah, belom dong Mas. Kan itu mata kuliah pilihan. Aku masih harus ngambil mata kuliah paket satu semester lagi," jawab Winda dengan kecewa.
Dibelakang Winda, segerombolan mahasiswi ikut nimbrung mendengar akan ada dosen baru yang akan mengajar. Risih dengan kerumunan mahasiswi tadi, Gina segera berjalan ke rak-rak buku yang ada di dalam perpustakaan tersebut. Dengan jalan perlahan-lahan, Gina menyusuri rak demi rak yang ada. Melihat informasi di bagian atas rak buku-buku tentang buku-buku yang berada di dalam rak tersebut.
Karena tidak menemukan kategori buku yang sedang di carinya di bagian rak depan, Gina masuk semakin dalam menyusuri lorong di antara rak buku dan membaca kategori-kategori rak buku. Maklum saja. meskipun Gina adalah mahasiswi yang hampir setiap hari absen di perpustakaan, tetapi Gina ke perpustakaan biasanya numpang istirahat dan memejamkan mata sejenak. Sesampainya di bagian paling belakang perpustakaan, Gina menemukan kategori rak buku yang di carinya. Dengan teliti Gina mencari-cari buku yang bisa dibaca untuk referensi ujian besok. Judul demi judul buku dilihatnya dengan teliti. Tidak ingin melewatkan sebuah bukupun tanpa dia cek judulnya.
"Selamat pagi, nona judes," sapaan suara seorang laki-laki ditelinganya.
Reflek Gina memutar kepala untuk melihat siapa yang ada di belakang nya. Tanpa sadar, putaran kepala Gina tersebut membuat bibirnya menempel pada kulit lembut yang terasa sedikit kasar, karena bekas cambang yang baru saja dicukur. Mata Gina terbelalak lebar, orang dibelakangnya tersebut adalah seorang laki-laki yang di kenalkan padanya saat berada di kafe kala itu. Dialah Indra, sosok laki-laki yang mengganggu kesendiriannya dahulu. Dan sekarang apa lagi, dia juga menganggu ketenangannya di sini?
Selagi otaknya berputar, tubuh Gina masih sekaku saat dia menoleh, membuat Indra, orang yang tadi menyapanya dari belakang dan tanpa sengaja pipinya tercium oleh bibir lembut Gina, perlahan memiringkan kepala menyambut bibir Gina yang tadi ada di pipinya itu, lalu dikecupnya lembut bibir yang terbuka tersebut. Dengan jahil Indra kemudian meniup bibir Gina untuk membuat Gina sadar kembali dan akhirnya tersenyum simpul karena sudah berhasil membuat Gina, gadis yang sudah dikaguminya itu terkejut setengah mati.
Dilain pihak, Gina yang baru sadar bibirnya telah dikecup seorang laki-laki untuk pertama kalinya, membelalakkan matanya semakin lebar. Dan tersentak mundur untuk membuat jarak dari laki-laki tersebut dengan tangan menutup bibirnya. Tetapi reflek Gina ternyata salah tempat. Mundurpun bukan pilihan yang bagus untuk menghindari Indra. Tubuh Gina menabrak tubuh kokoh laki-laki itu. Membuat Gina merasakan hangatnya dada seorang laki-laki dipunggungnya.
Deg deg. Deg deg. Deg deg. Deg deg.
Gina bisa merasakan detak jantung laki-laki itu di punggungnya. Kencang sekali, sekencang detakan jantungnya sendiri. Seolah-olah detakan jantung mereka berlomba, jantung siapa yang detakannya paling kencang dan paling cepat. Gina merasakan kedua tangan laki-laki itu mulai memeluk tubuhnya dengan ringan. Kedua tangan tersebut tertaut di depan perutnya. Harum aroma tubuh laki-laki itu menerpa indera penciumannya. Wangi parfum khas laki-laki yang terkesan maskulin dan segar bercampur dengan aroma tubuh laki-laki itu. Semakin menambah kehangatan yang tiba-tiba di rasakan hati dan dadanya. Kepala laki-laki itu bersandar di pundaknya, hangat napas laki-laki itu menerpa leher dan pundak Gina, Indra bergumam pelan "Oh, Gina. Apa yang selanjutnya akan terjadi pada kita?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Gina kembali ke kesadarannya. Dengan segera Gina membalik badan dan mendorong Indra agar Gina bisa terbebas dari kedekatannya dengan Indra. Gina bergegas keluar perpustakaan tanpa mengambil tas di lokernya dan tidak mendengar pertanyaan dari Bang Jack yang khawatir melihatnya keluar dengan tergesa-gesa dari perpustakaan. Dengan tanpa berpikir, Gina berlari menuruni anak tangga gedung perkuliahan, tidak menyadari suasana disekitarnya sudah sepi. Gina terus berlari sampai ke lantai dasar, memutar di akhir anak tangga menuju ke pintu keluar gedung, keluar menuju taman fakultas dan terus berlari ke tengah-tengah taman yang ada bangku tamannya. Sampai sana, Gina berhenti berlari dan duduk dengan napas memburu dan mata masih nyalang kebingunan.
Diulangnya lagi apa yang baru saja di alaminya. Gina sadar wajahnya panas dan jari jemarinya masih bergetar karena shock setelah menyadari apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Baru saja dia dicium laki-laki. Baru saja ciuman pertamanya hilang karena keisengan dan kejahilan Indra, laki-laki yang sejak pertama kali bertemu dengannya sudah membuatnya jengkel setengah mati. Reflek tangannya menyentuh bibirnya. Bibir yang telah hilang kesuciannya tersebut. Gina semakin kesal dan marah serta malu, apa yang baru saja terjadi di perpustakaan tadi bisa saja di saksikan oleh mahasiswa lain yang ada di perpustakaan itu.
..........
Ada cinta yang kurasakan
Saat bertatap dalam canda
Saat ku resah dalam harap
Oo indahnya...
Pernah kuragu akan sikapmu
Tapi mengapa kini semuanya indah
Oo resahnya...
Pernah ku malu pada hatiku
Tapi mengapa kini seolah cinta
T'lah kugenggam
Tuhan ku inginkan semoga semua ini
Bukan hanya rasa, rasaku saja
Rasaku sendiri...
........
Dari kejauhan terdengar lagunya Bening yang berjudul Ada Cinta mengalun pelan dan merdu, memasuki telinganya. Membuat Gina yang tadinya terpana dan bingung atas reaksinya tadi, berubah menjadi semakin marah dan kesal. Apa yang terjadi barusan adalah sebuah kesalahan. Indra lah yang mau mengejek dia, membalas apa yang Gina lakukan di kafe dulu kepadanya sekarang. "Beraninya dia mengejekku di kampus. Beraninya dia melakukan hal itu kepadaku!" teriak Gina di taman.
"Hoi, non. Tidak usah teriak-teriak. Di sini ada orang juga," sergah sebuah suara berat seseorang yang mematikan mp3 laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Eh, maaf maaf. Aku tidak sadar di sini ada orang." jawab Gina gelagapan karena tingkahnya ketahuan orang lain.
"Yaa, simpan saja penjelasanmu. Aku hanya penasaran apa yang terjadi sampai-sampai wajahmu iti semerah kepiting rebus." ungkap orang itu yang merapikan kertas-kertas di depannya setelah tadi laptopnya sudah masuk ke dalam tas. Dia ternyata kakak tingkatnya, Raka Rahardian.
"Hehehe, gak papa Mas. Tadi aku baru berlari dari perpustakaan. Dan teringat sesuatu saat di sini. Yasudah, aku ambil tas dulu di perpustakaan. Tadi kelupaan," kata Gina terburu-buru karena malu. Gina berkata dalam hati saat berlari ke perpustakaan lagi sambil menjentik jidatnya sendiri. "Mampus aku, itu Mas Raga. Duh kenapa juga dia ada di sana saat aku keceplosan berteriak tadi. Bodoh banget sih aku tidak memperhatikan ada orang di sana. Semoga Mas Raka tidak menganggap aku aneh."
Sampai di depan pintu perpustakaan, Gina langsung membuka pintu dan di sambut pertanyaan cemas dari Bang Jack "Kamu baik-baik saja Gina? Kamu sedang ya? Kok tadi keluar terburu-buru dengan wajah merah."
"Ah, nggak Bang. Aman. Gina gak boleh sakit! kudu kuat supaya bisa lanjut ngecengin cowok." jawab Gina tak kalah ngawurnya.
"Syukurlah kalau begitu. Abang kira kamu tadi berlari kebelakang karena mules, makanya terburu-buru keluar." sambung Bang Jack masih mencoba mencari tahu apa yang terjadi padanya.
"Tenang aja Bang. Kalau Gina sakit, nanti Gina ke rumah Abang deh. Mau minta Mbak Ratna membikinkan Gina sup ayam. Sup ayam buatan istri Abang yang paling enak pokoknya," rayu Gina sambil mengambil tas di loker penitipan.
"Eh Gina, Abang lupa. Tadi Pak Indra mencarimu, katanya kamu dicari Prof Baraka di kantornya." info Bang Jack segera melihat Gina berjalan ke pintu perpustakaan
"Oh makasih Bang, nanti Gina ke kantornya Prof. Baraka setelah ujian. Gina ujian dulu ya Bang. Sebentar lagi bel pergantian jam kuliah, lebih baik Gina bergegas, takut terlambat masuk ruang ujian," kata Gina tidak ingin melanjutkan percakapan lagi setelah nama Indra muncul.
Tatkala Gina berjalan dengan gontai menuju kelas tempat ujiannya berlangsung, hatinya sudah memutuskan dengan bulat. Bahwa dia harus menghindari Indra. "Benar! Aku harus menghindarinya! Dan apabila terpaksa berdekatan dengannya, anggap saja Indra tidak ada!" putus Gina bulat-bulat di dalam hatinya.
..........
Oh Gina, benarkah dirimu bisa menghindari benih-benih asmara yang sudah tersemai? Mari kita lihat perjalanan hidupmu selanjutnya.