
Jogja, Juli 2008
"Selamat istirahat Gina. Paman langsung saja ya. Titip salam buat Bu Suryo." Profesor Baraka segera kembali masuk dalam mobil yang tadi dipakai untuk mengantarkan Gina ke rumah kos-kosannya.
"Ya, Paman. Nanti saat Gina bertemu dengan Bu Suryo, akan Gina sampaikan salam dari Paman," kata Gina menjawab ucapan dari Professor Baraka.
Setelah menganggukkan kepalanya, Professor Baraka melajukan mobilnya pergi dari rumah kos-kosan milik Bu Suryo itu. Meninggalkan Gina yang berdiri mematung masih memeluk tas yang berisi berkas-berkas yang di bawa dari rumah Pamannya tadi.
Gina membalikkan badan untuk masuk ke dalam rumah kos-kosan yang di tempatinya sejak awal Gina masuk kuliah itu. Tapi di dengarnya suara langkah kaki seseorang di belakangnya, reflek Gina menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang lewat.
"Halo, nona judes. Apa yang baru pulang tadi Professor Baraka?" tanya suara bass laki-laki yang mendekat ke pintu gerbang rumah kos Gina.
"Ya, memang tadi itu Professor Baraka. Kenapa memangnya?" tanya ketus Gina menanggapi pertanyaan dari Indra yang tiba-tiba datang.
Indra hanya tersenyum mendekat ke Gina tanpa mengacuhkan pertanyaan dari si empunya suara. Berhenti tepat di seberang gerbang rumah kos bagian luar dan menatap Gina sambil berkata, "Boleh aku masuk?"
"Tidak boleh. Buat apa? Lagipula aku sudah sangat ingin istirahat. Sebaiknya kau pulang saja sana!" hardik Gina kepada Indra, karena merasa Indra menggangu waktunya yang ingin sendirian memeriksa berkas-berkas yang di bawa dari rumah Professor Baraka.
"Anu.. Aku lagi butuh pertimbangan suatu masalah dari sudut pandang seorang wanita," kata Indra terbata dengan malu-malu.
Raut muka berkerut penuh dengan pertanyaan, masalah apa gerangan, sehingga Indra sampai bertandang ke kos-kosan untuk meminta pendapatnya sebagai seorang wanita. Pikiran Gina berpacu memilah dan memilih antara menerima atau langsung menolak permintaan Indra tersebut.
"Baik, mari masuk dulu. Tunggulah di ruang tamu. Aku akan mandi dulu sebelum menemuimu lagi," ajak Gina sembari membukakan pintu pagar buat Indra.
"Terima kasih. Aku sangat menghargainya, Gina," sahut Indra dengan suara lega dan bergegas masuk serta perlahan mengikuti langkah Gina memasuki rumah kos-kosan itu.
"Silakan duduk disini dulu. Tunggu aku sebentar ya," pinta Gina pada Indra yang hanya mengangguk dan langsung duduk di salah satu kursi di kamar tamu itu.
Tanpa banyak kata, Gina bergegas masuk ke dalam kamar, menyimpan rapi berkas-berkas yang dibawanya tadi ke dalam rak buku dan bergegas membersihkan diri di kamar mandi. Tidak perlu waktu lama, Gina sudah siap mengenakan kaos oblong hitam yang bertuliskan "DAGADU" di bagian depan dan celana jeans belel pendek selutut. Di kuncirnya rambut menjadi ikatan ekor kuda longgar dan dimasukkan kembali rambutnya membentuk cepol dikepalanya. Bergegas Gina keluar kamar untuk menemui tamunya tadi.
"Maaf, lama menunggu ya," kata Gina sembari mengenyakkan dirinya ke kursi di seberang Indra duduk.
"Ah tidak. Hanya lewat sepuluh menit saja sejak aku duduk di sini," sahut Indra menyahuti pertanyaan Gina tadi. "Tidak banyak gadis yang mandinya secepat kilat sepertimu," celetuk Indra kembali menegaskan ucapannya tadi.
"Tidak perlu mandi terlalu lama. Hanya akan membuang banyak waktu yang tidak berguna di kamar mandi. Aku tak terlalu suka berlama-lama di kamar mandi," ucap Gina kembali. "Jadi, apa yang bisa aku bantu, Pak Indra?" tanya Gina diselingi godaan dengan memanggil Indra dengan sebutan Pak di depan namanya.
"Tak perlu terlalu resmi begitu. Ini tidak ada hubungannya dengan materi perkuliahan. Aku hanya ingin meminta pendapatmu sebagai seorang wanita saja," kata Indra memulai percakapan.
"Tapi maaf nih ya. Apa tidak ada sekedar air putih gitu untuk dihidangkan pada tamu?" kelakar Indra sambil mengelus tenggorokannya yang kering.
"Hahahahaha, maafkan aku. Tidak sempat menyajikan suguhan air minum, sudah keburu mandi," jawab Gina sambil tertawa melihat tingkah Indra tadi.
"Kalau begitu, ayo kita keluar saja. Tadi sudah makan sih di rumah Paman, tapi minum kopi juga masih bisa. Tunggu sebentar, aku ambil dulu tas di kamar." tanpa menunggu jawaban Indra, Gina melesat ke kamarnya. Cepat-cepat dikenakannya jam tangan, disapukannya bedak bayi di wajahnya, dioleskannya lipgloss untuk menambah lembab bibirnya dan di sambarnya tas ransel hitam kesukaannya. Secepat kilat Gina keluar kamar dan memakai sandal jepit nyamannya.
"Ayo, aku sudah siap," ajak Gina pada tamu yang sudah menunggunya dari tadi.
"Tunggu dulu, aku tadi belum bilang setuju lho. Kamu sudah pergi begitu aja," sungut Indra setelah mendengar ajakan Gina.
"Lho lha kalau tidak mau keluar juga tidak apa-apa. Tapi sebentar lagi teman-teman sekos sudah mulai pulang kerja. Tidak apa-apa nih bicara di sini saja?" tanya Gina kepada Indra dengan sedikit menakuti Indra dengan kedatangan teman-teman sekos Gina akan segera pulang.
"Ayo keluar kalau begitu," sahut Indra dengan cepat dan segera berdiri, bergegas jalan keluar pintu depan ruang tamu.
"Hahahaha, memangnya kenapa Pak Indra? Ada apa dengan wanita-wanita itu?" tanya Gina geli sambil tertawa melihat tingkah dan mimik wajah Indra yang seakan tidak mau bertemu dengan banyak wanita saat ini.
"Tidak, saat ini aku tidak berminat untuk meladeni wanita yang bergenit-genit kepadaku. Apa mereka tidak punya malu, bergenit-genit pada laki-laki?" gidik Indra mendengar pertanyaan Gina.
"Ya ya ya. Terserah Bapak Indra saja. Mau ke angkringan mana kita?" jawab Gina sekenanya.
"Jalan sedikit dulu ke kontrakanku, temani aku ambil mobil untuk kita jalan nanti," ajak Indra memimpin jalan ke arah kontrakannya.
"Baik, aku temani ambil mobilnya. Tapi sebenernya, masalah apa sampai butuh pertimbanganku segala?" selidik Gina karena masih belum menemukan petunjuk tentang apa yang mau diceritakan oleh Indra.
"Nanti dulu, aku ambil kunci mobil dulu di dalam rumah," jawab Indra sambil membuka lebar pagar kontrakannya untuk jalan mobilnya nanti. "Ayo, masuk dulu. Tunggu sebentar ya," celetuk Indra meninggalkan Gina sendirian di luar rumah.
Di luar rumah, Gina sungguh tidak menyangka ternyata kontrakan yang di tempati Indra itu adalah rumah lama Bu Suryo sebelum Bu Suryo pindah ke rumah yang di koskan dengan alasan biar tidak kesepian di rumah sendirian. Astaga, sedemikian dekat kontrakan Indra dengan kos-kosan Gina. Hanya terpisahkan oleh perempatan jalan dari kos-kosan Gina.
Indra menepati ucapannya, tidak lama kemudian Indra keluar rumah membawa dompet dan kunci mobil di masing-masing tangannya. Diajaknya Gina masuk ke dalam mobil untuk kemudian berangkat mencari tempat nongkrong untuk sekedar bercerita.
"Oke, sekarang kita mau kemana?" tanya Gina memecah keheningan setelah melaju di dalam mobil dengan Indra.
"Kita ke angkringan Lek Man saja ya. Kangen kopi joss nya," jawab Indra tanpa menolehkan pandangan dari jalanan.
"Terserah Pak Indra saja. Aku hanya mengikuti. Resiko penumpang ya gini, mengikuti kemanapun sopir membawa kendaraannya," seloroh Gina sembari mengulum senyum.
............
Heey yee iyee iyee ye ye ye ye
Heey iyee iyee iyee
Berawal dari mata, indahnya senyuman
Mengapa harus resah
Berawal tatap mata, hangatnya sapamu
Mengapa jadi gundah
Tak kusangka kita sama
Tlah menyimpan getar cinta
Cinta
Iyee
Biar cinta gelora di dada
Biar cinta memadukan kita oh
Cerita cinta yang pertama kurasa
Jangan pernah akhir cerita cinta kita
Kini rindu yang kupunya hanya untukmu
Hanya padamu
Mengapa harus ragu
Tak kusangka kita sama
Tlah menyimpan getar cinta
Cintai
iyee iyee iyeee
Biar cinta gelora di dada
Biar cinta memadukan kita
huwoo uwoo uwoo
Cerita cinta yang pertama kurasa
Jangan pernah akhir cerita cinta kita
Dunia seakan bercanda oh
Melihat cerita kita
Cinta oh
Biar cinta (biar cinta)
Bergelora di dada
Biar cinta (biar cinta)
Memadukan kita (oh)
Cerita cinta yang pertama kurasa
Jangan pernah akhir cerita cinta kita
Biar cinta
Gelora di dada
Biar cinta
Memadukan kita oh
Cerita cinta yang pertama kurasa
Jangan pernah akhir cerita cinta kita
Hey yeiyeiyeiye (cerita cinta)
Hey (cerita cinta) yeiyeiyeiye (memadukan cinta kita)
Hey jangan pernah berakhir cerita cinta kita
.......
"Suka juga dengan lagu-lagunya Kahitna ya?" tanya Gina setelah mendengarkan lagu Cerita Cinta di kaset yang di nyalakan oleh Indra untuk memecah keheningan dalam mobil.
"Suka sekali. Lagu-lagu lama lirik-liriknya indah, tidak lekang oleh waktu. Dan nyaman di dengarkan di telinga," jawab Indra mendengar pertanyaan Gina yang seakan heran mendengar lagu lama diputar mobilnya.
Gina tersenyum mendengar jawaban Indra tadi. Kembali disenderkan kepalanya di bantalan kursi mobil Indra. Sambil berusaha mengistirahatkan pikirannya yang juga baru saja penuh dengan hal lainnya. Tak terasa, mata Gina terpejam, terlarut dan terbuai oleh alunan-alunan lagu-lagu yang masih diputar oleh Indra. Tanpa sadar, dinaikkannya kedua kakinya ke atas kursi dan mengubah posisi tidurnya menghadap ke arah Indra. Kepala Gina terangguk-angguk mengikuti gerakan mobil.
Saat Indra mengarahkan mobilnya ke Jalan Mangkubumi untuk mencari parkir, dirasakannya sebuah kepala jatuh ke pundaknya. Ditengoknya ke arah Gina yang ternyata tertidur lelap. Saat mobil sudah terparkir dengan mulus di pinggir Jalan Mangkubumi, dielus-elusnya kepala Gina yang bersender di lengannya. Halus sekali rambut Gina terasa di tangannya. Aromanya tubuh Gina juga lembut dan menyegarkan. Bau khas sabun mandi bercampur dengan bedak bayi yang dipakai untuk sekedar memoles wajahnya tadi.
deg deg.. deg deg... deg deg...
Detak jantung Indra menjadi tidak berirama. Dilihatnya bulu mata Gina yang ternyata lebih panjang saat matanya terpejam, melihat hidung Gina yang mungil dan bibir Gina yang sedikit terbuka. Tak kuasa tangan Indra untuk tidak mengelus bibir lembut itu. Si empunya sendiri seolah-olah menyerahkan kepadanya dengan tanpa sadar dengan tertidur pulas di lengannya.
Indra, sebagai seorang laki-laki yang normal tentu saja tertarik untuk mengecup dan ingin mencicipi sekali lagi bibir lembut milik wanita di sampingnya itu. Daya tarik bibir Gina sangat kuat sehingga Indra tanpa sadar sudah memajukan tubuhnya ke arah Gina. Ditatapnya dengan lembut bibir Gina yang tengah dielus oleh jemari tangannya itu. Ingin sekali bibirnya menggantikan jemarinya berada di sana.
Tiba-tiba saja Indra menghentikan semua gerakannya, masuk kembali di ingatannya adegan serupa beberapa waktu lampau. Tergelaklah Indra saat mengingat Gina terlelap tidur kadang keluar suara ngoroknya. Tidak mau lebih lama lagi dalam posisi canggung, segera di goncang-goncangkan tangan Gina untuk membangunkannya.
"Gina, Gina.. bangunlah, kita sudah sampai. Niatmu menemani aku bercerita apa mau pindah tidur sih," kata Indra saat Gina membuka matanya.
"Astaga, aku tertidur nyenyak ya. Maafkan aku, harusnya kamu dorong saja kepalaku untuk membangunkanku." Gina membuka mata dan terkejut, mengetahui kepalanya sudah menyender di lengan kuat milik Indra. Langsung ditegakkan duduknya dan melihat ke luar jendela mobil, penasaran sudah sampai mana perjalanannya.
"Waah, ternyata sudah sampai daerah sini," kata Gina untuk menutupi rasa malu yang menghampirinya. Direnggangkan tubuhnya untuk mengolet, supaya tubuh Gina kembali segar dan tersadar sepenuhnya. Kemudian diikutinya contoh dari Indra untuk keluar dari mobil.
"Kita jalan sedikit tidak mengapa kan?" tanya Indra setelah Gina mengikutinya keluar dari mobil.
"Tentu saja. Kebetulan sekali aku juga perlu mengumpulkan nyawa dulu sebelum nanti makan lagi," sahut Gina menjawab pertanyaan yang Indra lontarkan.
Mendekati kawasan utara Stasiun Tugu, berderet angkringan yang menawarkan suasana angkringan khas Kota Jogjakarta. Dilangkahkannya kaki ke arah angkringannya Lek Man, angkringan yang terkenal di daerah sana. Suasananya memang lain, selain tempat duduk, disediakan juga tikar yang digelar di luar untuk pengunjung yang memilih menikmati malam hari di udara terbuka.
Indra masuk ke dalam angkringannya dan memesan dua kopi joss buat dirinya sendiri dan Gina. Diambilnya empat bungkus nasi yang tersedia di meja, nasi bandeng dua, nasi sambel teri satu dan nasi oseng tempe satu, sate kerang, sate telur puyuh, sate hati ayam satu, tempe mendoan hangat empat dan tahu bacam dua biji. Membawa semua yang diambilnya tadi ke tempat duduk yang sudah dipilihkan Gina di luar.
"Astaga, banyak sekali yang kamu ambil, Pak Indra." Gina terkejut mendapati banyaknya makanan yang diambilkan Indra untuk mereka berdua.
"Ini sih tidak banyak. Cukup lah untuk menemani obrolan kita nanti. Tinggal kita tunggu kopi joss nya datang," sanggah Indra mendengar Gina yang menyerukan keterkejutannya.
"Baiklah.. Baiklah.. Duduklah disini," kata Gina menggeser posisi duduknya demi memberikan Indra tempat yang lebih luas. Dan menerima makanan-makanan yang di bawakan oleh Indra dari dalam.
Tak lama kemudian, ada karyawan angkringan yang membawakan dua gelas kopi hitam yang di dalamnya masih mengapung arang yang masih merah membara. Dan aroma harum kopi bercampur dengan bara panas yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata nikmatnya.
"Suwun, Mas," kata Gina menerima kopi yang diberikan kepada mereka.
Melihat Indra yang sudah mulai makan dan menikmatinya, Gina tidak tega mendesak Indra untuk memulai cerita permasalahan yang membuatnya frustasi.
"Kenapa memilih tempat ramai untuk bercerita?" tanya Gina karena heran mengapa Indra memilih tempat yang sangat ramai oleh pengunjung daripada di tempat yang lebih sepi pengunjungnya.
"Oh, kalau itu hanya agar ceritanya gak bisa di dengar dan diperhatikan orang lain. Kan lebih ramai suasananya, semakin orang susah untuk mengupingnya," sahut Indra yang masih asyik makan.
"Jadi begitu alasannya. Aku mengerti sekarang," kata Gina mengangguk-anggukkan kepalanya karena mulai mengerti alasan Indra memilih tempat ini untuk berbicara.