Wait For Me, Professor!

Wait For Me, Professor!
Semakin Dalam Menelusup Dalam Kalbu



Jogja, Juni 2008


Pagi ini suasana di kantor dosen Hukum Internasional sangat lengang, dari 6 meja dan kursi yang tersedia, hanya ada tiga dosen yang berada di sana untuk mengurus nilai maupun untuk mengoreksi jawaban ujian mahasiswa-mahasiswa di kelas masing-masing. Selain Profesor Baraka, mentornya dan dia sendiri, hanya ada Bu Djuwita, salah satu dosen tertua selain Profesor Baraka. Hari masih lumayan pagi, Indra melihat jam tangannya masih menunjukkan pukul 08.30 pagi.


"Bu Djuwi, kelihatannya terburu-buru sekali. Mau kemana Bu?" tanya Indra kepada Bu Djuwita yang sudah berdiri dari kursi tempat duduknya.


"Mau ketemu Pak Dekan, kemarin ada surat untuk rapat. Profesor Baraka, mau ke kantor Dekan kapan?" jawab Bu Djuwita sembari bertanya kepada Profesor Baraka.


"Sebentar lagi Bu. Ini nunggu asisten untuk mengoreksi ujian anak-anak," jawaban Profesor Baraka itu membuat Bu Djuwita menimpali lagi.


"Enak sekali Profesor Baraka ini. Sudah dapat rekan yang cerdas, asisten nya pun pintar. Mau jadi comblang Prof?" kelakar Bu Djuwita sebelum membuka pintu kantor.


"Hahahahaha, Bu Djuwi bisa aja. Kerja keras juga ini Bu," tawa Profesor Baraka mengiringi tawa kecil Bu Djuwita yang keluar kantor.


Sesaat kemudian, pintu kantor dosen Hukum Internasional diketuk dan terbuka. Kepala Gina muncul terlebih dahulu di pintu yang terbuka. Kemudian tubuhnya menyelinap masuk ke dalam kantor.


"Maaf Profesor. Saya sedikit terlambat. Tadi menyempatkan untuk sarapan dahulu di warung depan," kata Gina menundukkan kepalanya meminta maaf kepada Profesor Baraka sambil terengah-engah mengambil napas. Akibat dia berlari naik ke lantai dua tempat kantor Profesor Baraka berada.


"Oh. kamu sudah datang, Gina. Tidak apa-apa. Kemarilah segera. Ini yang harus kamu koreksi ya. Seperti biasa, nanti diberi catatan saja di samping jawabannya," perintah Profesor Baraka yang melambaikan tangannya memanggil Gina untuk mendekat.


Indra tidak melepaskan pandangannya dari Gina sejak Gina tadi melongokkan kepalanya ke dalam kantor. Rambut Gina yang biasa di kuncir kuda sekarang tergerai bebas, rambut panjang dan lurus itu jatuh menutupi wajahnya saat menundukkan kepala meminta maaf kepada Prof Baraka, wajah yang bersih dari riasan, blus hitam polos dengan kerah baju yang membundar cantik yang ujungnya dimasukkan ke celana jeans biru tua yang kelihatan sudah sering dipakai dan dicuci sehingga terkesan nyaman dikenakan. Tas ransel hitam yang biasa dibawa Gina kemanapun. Pergelangan tangan kirinya melingkar jam tangan bundar kecil warna coklat tua. Sepatu hak datar warna hitam. Padu padan pakaian yang pas dan segar untuk seorang mahasiswi. Cantik sekali Gina pagi ini.


"..... Gina, ya Indra," tepuk Profesor Baraka di pundak Indra sesaat setelah beliau berdiri dari kursinya.


"Ap.. apa Prifesor? Maaf, saya tadi melamun," jawab Indra tergagap karena kaget terbangun dari lamunannya.


"Tadi aku bilang, biarkan Gina di sini membantu mengoreksi lembar ujian kelasku. Jangan ganggu dia, ya Indra," terang Profesor Baraka menyeringai lebar mengetahui bahwa Indra sejak tadi tidak bisa mengalihkan tatapannya dari Gina.


"Iya Prof. Siap," sahut Indra dengan menyunggingkan senyum lebarnya.


Setelah Profesor Baraka keluar dari ruangan kantor itu, dilihatnya Gina sudah duduk di kursi Profesor Baraka dan menghadap kertas kertas mahasiswa-mahasiswanya. Setelah duduk di kursi, Gina mengeluarkan pena dari tasnya. Setelah iti asyik mengoreksi jawaban-jawaban tersebut. Indra pun kembali menekuri leptopnya sendiri untuk menyelesaikan pekerjaannya untuk semester baru besok.


.........


*Hamparan langit maha sempurna


Bertahta bintang bintang angkasa


Namun satu bintang yang berpijar


Teruntai turun menyapaku


Ada tutur kata terucap


Ada damai yang kurasakan


Bila sinarnya sentuh wajahku


Kepedihanku pun terhapuslah


Alam raya pun semua tersenyum


Menunduk dan memuja hadirnya


Terpukau aku menatap wajahnya


Aku merasa mengenal dia


Tapi ada entah di mana


Hanya hatiku mampu menjawabnya


Mahadewi resapkan nilainya


Pencarianku pun usai sudah


Ho


Ada tutur kata terucap


Ada damai yang kurasakan


Bila sinarnya sentuh wajahku


Kepedihanku pun terhapuslah ada tutur kata terucap


Ada damai yang kurasakan


Bila sinarnya sentuh wajahku


Mahadewi resapkan nilainya


Mahadewi tercipta untukku


Mahadewi resapkan nilainya (na na na )


Mahadewi tercipta untukku (na na na)


Mahadewi resapkan nilainya


Mahadewi tercipta untukku


Mahadewi resapkan nilainya


Mahadewi tercipta untukku*


......


Indra sepenuhnya sadar saat memutar lagu dari Padi ini. Lagu Mahadewi ini menggambarkan apa yang ada di hatinya. Dengan seseorang yang cantik di seberang mejanya, yang sedang serius mengerjakan tugas-tugas yang diembannya. Mahadewi nya memang sempurna. Begitulah kira-kira penggambaran Gina dalam benak Indra.


Tapi orang yang ditujukan lagu itu masih menekuni dengan serius lembar-lembar jawaban yang ada di meja depannya. Masih dengan tekun dan teliti memeriksa satu demi satu jawaban-jawaban ujian itu. Indra mulai tidak sabar karena di acuhkan oleh gadis ayu itu. Dan diapun mulai bersiul-siul untuk memecah suasana kaku dan menarik perhatiannya. Sesekali di liriknya gadis yang duduk di depannya tersebut. Tak bergeming juga, malah semakin asyik tenggelam dalam koreksi demi koreksi yang dikerjakannya.


Tak hilang akal, Indra bernyanyi mengikuti lagu yang sedang di putar di laptopnya, kembali diliriknya kembali gadis yang ada di depannya. Dengan heran dan kesal karena Gina tidak bergeming dan sadar bahwa ada orang di depannya, Indra mengetik dengan keras dan kecepatan tinggi di laptopnya, berharap Gina akan mendengar ataupun sadar bahwa ada seseorang di sana.


Detik demi detik berlalu, menit demi menit terlewati. Masih dengan lagu-lagu lirih yang mengalun dari laptopnya, Indra sekarang terlihat tidak sabar dan jengkel bukan kepalang. Dihentikan kegiatannya mengetik dengan penuh semangat itu, ditutupnya tugas yang tadi sedang dikerjakan olehnya.


Dibiarkannya winamp masih memainkan lagu-lagu favorit pilihannya tadi. Indra sendiri melipat kedua tangannya ke depan, mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengamati dengan serius gadis yang sedang terbuai oleh pekerjaan yang diberikan kepadanya.


Baru di sadari oleh Indra, dalam diam dan tekun nya Gina mengoreksi lembar-lembar jawaban di meja, dilihatnya sesekali Gina tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah mengikuti irama lagu yang di dengarnya. Tapi aneh, anggukan kepala Guna tidak selaras dengan lagu dari winamp yang saat ini terdengar dari laptopnya. Anggukan Gina seakan mengikuti irama tersendiri.


Indra mengamat-amati lebih awas diri Gina, apa gerangan yang menyebabkan Gina asyik sendiri seakan-akan punya dunia sendiri tanpa orang lain di dalamnya. Setelah sekian waktu berlalu, Indra akhirnya menyadari sesuatu yang luput dari pandangan matanya. Ada sesuatu yang menggantung di samping wajah Gina.


Hahahahaha, Indra tertawa dalam hati. Ditepuk jidatnya sendiri karena kebodohan yang dilakukannya. Sia-sia saja tadi dia menghidupkan winamp di laptopnya. Sia-sia saja dia mengetik dengan keras serta bersiul untuk menarik perhatian Gina. Ternyata Gina selama ini menggunakan headset di telinganya. Cerdas sekali dia menyembunyikan untaian kabel di dalam bajunya. Hanya kabel headset yang muncul dari kerahnya ke arah telinganya. Dan itupun tertutup oleh rambutnya yang hari ini diuraikan. Indra melihat kembali kabel headset yang menghilang di balik kerah blus hitam gadis itu. Pikiran nya segera berimajinasi melewati juluran kabel headet tadi sebelum ujungnya menancap pada sesuatu yang jadi sumber bunyi yang diikuti iramanya oleh Gina.


Indra gelisah dan semakin tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Di tegakkannya tubuhnya tersebut untuk melonggarkan panas yang mulai merambat di dalam pikiran dan benaknya. Indra berdiri dari duduknya, ingin menghampiri gadis yang sedari tadi dicoba untuk ditarik perhatiannya. Tiba-tiba di dengarnya suara Gina yang sedang tertawa.


"Hahahahahaha....." tawa Gina keluar spontan setelah membaca jawaban di salah satu lembar jawaban itu.


"Ada apa? Apa yang membuatmu tertawa terbahak-bahak begitu?" tanya Indra penasaran dan segera melangkahkan kaki memutar mejanya untuk mencapai meja yang ditempati oleh Gina.


"Hah? Ooh, hahaha, kemarilah. Lihat jawaban mahasiswa ini dari pertanyaan yang sederhana," panggil Gina setelah menyadari ada yang bertanya atas tawanya tadi. "Pertanyaan Profesor Baraka sangat sederhana, yaitu, jelaskan apa itu money laundry."


"Terus, apa jawaban yang diberikannya," Indra tidak membuang-buang kesempatan untuk bisa dekat dengan Gina. Setelah sampai di samping Gina, segara dibungkukkannya tubuh Indra, tangan kirinya berada di belakang sandaran kursi yang di duduki Gina dan tangan kanannya diletakkan di meja di samping kertas-kertas ujian itu. Pura-pura di carinya jawaban yang membuat Gina tertawa tadi, tetapi itu hanyalah alasan Indra untuk bisa mencium wangi tubuh Gina. Indra menahan tangan kirinya untuk membelai rambut halus nan lurus gadis itu.


"Ini lihatlah jawabannya. Bacalah," perintah Gina kepada Indra, yang masih belum menyadari kedekatan mereka.


"Kau saja yang membacakannya," sahut Indra membiarkan suara Gina terus mengalun membuai imajinasinya.


"Dengar, dengarkan ya, ini jawaban yang ditulis oleh mahasiswanya Profesor Baraka. Money laundry adalah tindakan yang di lakukan seseorang untuk mencuci uang-uang nya. Dengan cara mengumpulkan uang-uang tersebut di dalam mesin cuci kemudian biarkan dicuci sampai bersih. Kemudian keluarkan dan jemur di bawah matahari. Dengan demikian uang dia sudah dilaundry... Hahahahahahahahaha, jawaban macam apa ini keluar dari pikiran seorang mahasiswa," ucap Gina sambil terus tertawa. Heran karena Indra tidak tertawa, Gina menengok ke kiri, ke arah Indra untuk melihat reaksi Indra mendengar jawaban tadi. Penasaran apakah Indra juga sependapat dengannya atau punya pikiran sendiri.


Pada saat Gina menengok ke kiri, betapa kagetnya Gina, karena wajah Indra tepat berada di depannya. Mata Indra menatap ke dalam matanya, pandangan mata Indra menatapnya lembut dan hangat.


deg deg deg deg deg deg


Jantung Gina berdetak semakin cepat. Bibirnya yang terngangah setelah tertawa tadi, terkatup tiba-tiba. Dirapatkan erat-erat kedua bibirnya, kemudian digigitnya bibir bawahnya untuk menekan degub jantungnya yang liar. Indra masih melihat Gina dengan tatapan yang intensif yang membuat pipinya semakin panas.


Indra tersenyum melihat pipi Gina memerah. Dibelainya rambut Gina, diambilnya sejumput rambut Gina dan diciumnya rambut itu.


"Harum. Masih seharum saat kita berdekatan di bus waktu lalu," kata Indra dengan suara serak yang keluar dari mulutnya. Gina terbelalak melihat perlakuan Indra kepadanya. Tidak berani Gina menjawab, takut suaranya bergetar.


"Gina, ijinkan aku untuk menjagamu. Ijinkan aku untuk memilikimu," pinta Indra kepada Gina. Terpaku atas pernyataan Indra tersebut, Gina hanya bisa terbelalak ngeri. Dan seakan tersadar dari keterkejutannya.


"Apa maksudmu? Apa yang kau inginkan?" sentak Gina sembari mengibaskan rambutnya untuk terlepas dari tangan Indra. Segera di dorongnya Indra supaya mundur ke belakang. Tetapi tangan Gina seakan mendorong tembok yang kokoh. Tangan itu berada di dada kokoh Indra dan bisa merasakan detak jantung Indra yang berpacu cepat, secepat detak jantungnya sendiri.


deg deg deg deg deg deg


Mata Gina terpaku menatap tangannya yang bisa merasakan detakan liar jantung Indra yang bertalu-talu.


kriiiiing.. kriiiiing.... kriiiing....