
Jogja, Juni 2008
Siang hari waktu itu sangat terik. Meski sudah menjelang sore, tetapi mentari masih gagah bertengger di singgasananya yang agung. Mencurahkan sinar dan panasnya ke seluruh sudut di Kota Jogja. Dalam mobil yang di kendarainya, Indra patuh mengikuti kemana keinginan Pakde nya untuk bersantap siang. Pakde Hadijoyo ingin sekali makan siang gudeg Yu Djum Wijilan yang menjadi favoritnya selalu ketika berkunjung ke Kota Gudeg itu.
Di arahkannya mobil ke yang dikendarainya ke arah selatan memasuki kawasan alun-alun. Dibelokkannya mobil ke kiri memutari alun-alun Jogja. Setelah melewati sebuah tikungan pojok alun-alun, Indra membelokkan mobilnya keluar dari alun-alun. Berkendara sedikit menjauh dari alun-alun kemudian diarahkan mobilnya memasuki Plengkung Wijilan yang di kiri jalan terdapat papan bertuliskan "Selamat Datang. Di sentra makanan khas. Gudeg" untuk memasuki daerah Wijilan yang khas dengan warung-warung gudeg di sepanjang jalanannya.
Dicarinya spanduk bertuliskan waring gudeg favorit Pakde Hadijoyo. Dilihatnya spanduk itu diantara spanduk-spanduk warung gudeg yang berjajar-jajar di sepanjang jalan Wijilan. Diparkirkannya dengan mulus mobil di depan warung tujuannya.
Kemudian di dengarnya, pintu belakang mobil di kedua sisi dibuka oleh dua orang yang sedari tadi berbicara tanpa melibatkan dirinya seolah-olah Indra hanya seorang sopir belaka.
Memasuki warung gudeg itu, mereka disambut oleh pramusaji di warung tersebut. Ditanyakan kepada ketiga orang calon pembeli potensial tersebut dengan senyum ramah.
"Gudeg kering satu porsi, Bu," kata Pakde Hadijoyo sambil masuk ke belakang meja makan dan duduk di kursi yang menghadap ke jalan.
"Kalau saya, gudeg komplit setengah porsi saja, Bu. Takut tidak habis nanti, sayang makanannya," timpal Stevani melanjutkan pesanan makanan setelah Pakde Hadijoyo memesan.
"Baik, minumnya apa saja ya?" tanya pramusaji tadi melanjutkan mencatat pesanan.
"Teh panas tawar ya Bu," jawab Pakde Hadijoyo memesan minumannya. "Kamu mau pesan apa, Nduk?" tanya Pakde Hadijoyo kepada Stevani yang berada di sampingnya.
"Sama Pakde, teh hangat tawar saja," ujar Stevani menjawab pertanyaan Pakde Hadijoyo dengan cepat.
"Saya es jeruk manis saja Bu," kata Indra kepada pramusaji yang masih mencatat pesanan mereka.
"Baik, ditunggu nggih pesanannya," sahut Ibu pramusaji tadi dengan tersenyum sopan. Bergegas disampaikannya pesanan minuman tadi ke area pembuatan minum di belakang dan bergegas kembali ke depan untuk menyiapkan pesanan makanan tamu-tamunya yang baru datang itu.
"Ini gudeg kering dan gudeg komplitnya," ucap Ibu pramusaji tersebut membawa piring berisikan gudeg pesanan.
"Terima kasih. Minta gudeg komplit untuk di bawa pulang ya, Bu," pinta Pakde Hadijoyo pada Ibu pramusaji tadi.
"Nggih Pak. Mau pakai kendil atau besek?" ucapnya lebih lanjut.
"Yang pakai kendil saja. Minta dua ya," tutur Pakde Hadijoyo meminta untuk dibungkuskan gudeg dari Yu Djum yang sangat terkenal itu.
"Tolong dibungkuskan juga satu nasi gudeg komplit yang pakai karton aja ya Bu," sahut Indra meminta juga untuk dibungkuskan nasi gudeg komplit untuk di bawa ke kontrakannya di Jogja ini.
Setelah ibu pramusaji berlalu dari tempat duduk mereka, mulailah Pakde Hadijoyo dan Stevani menyantap gudeg yang dipesannya awal waktu tadi. Gudeg komplit pesanan Stevani berisi nasi putih porsi separuh dengan gudeg dan sambel goreng krecek yang juga setengah porsi, ayam jawa yang dimasak lama dan dengan api pelan yang bisa melembutkan tekstur ayam jawa yang alot serta dimasak sampai bumbunya meresap sampai ke dalam sumsum tulangnya, satu butir telur ayam coklat dibelah dua dan tak lupa pula cabe rawit yang di taruh di atas hidangan tersebut sebagai penambah rasa.
Berbeda dengan gudeg pesanan Stevani, gudeg pesanan Pakde Hadijoyo sering disebut orang-orang dengan sebutan gudeg kering. Hanya ada nasi putih, gudeg yang ditumpangkan di atas nasi panas yang masih mengepulkan uap panasnya, telor coklat satu butir dibelah menjadi dua dan ayam kampungnya. Siasatnya untuk menambah selera makan, Pakde selalu makan di setiap makanannya dengan kerupuk.
Disaat keduanya asyik bersantap makanannya, Indra mengeluarkan Blackberry dari saku celananya. Digulirkannya trackpad di handphone nya untuk mencari nomer handphone nya Profesor Baraka. Dikirimkannya pesan kepada Profesor melaporkan kegiatan dan tugas Gina saat di kantor tadi.
Dilaporkannya apa yang diminta Gina kepadanya tadi, Indra memberitahu Profesor Baraka bahwa kertas-kertas ujian sudah selesai di koreksi dan sudah diurutkan sesuai dengan urutan absensi sehingga besok Profesor Baraka tidak kesulitan untuk memasukkan namanya ke dalam buku nilai mahasiswa.
Sekali lalu mengetik pesan kepada Profesor Baraka, ingatan Indra melayang kembali kepada gadis yang sejak dulu jadi tanggung jawab mentornya tersebut. Indra sadar bahwa Indra tidak mengetahui apapun tentang Gina yang benar-benar menjadi kesukaan dan bagaimana cara Gina berpikir. Selama ini yang Indra ketahui adalah cerita Gina dari sisi mentor, Profesor Baraka. Meskipun Profesor Baraka tidak secara gamblang mengungkapkan beliau menjodohkan Indra dan Gina, otak encer Indra bekerja dengan kecepatan yang mengagumkan mampu menangkap maksud dari cerita Profesor Baraka dahulu kala.
Sayup-sayup telinga Indra mendengar percakapan dua orang yang tadi sedang menyantap makanan di hadapannya ini.
"Kapan sekolahmu selesai, Nduk?" tanya Pakde Hadijoyo memulai percakapan dengan Stevani yang masih asik menikmati makan siangnya yang sedikit terlambat.
"Masih lumayan lama Pakde. Stevani masih ingin mengambil profesi lagi," tutur Stevani di sela-sela suapannya.
"Keluarga kita ini kan sudah dekat. Pakde ingin sekali kamu dan Indra bersama. Ya mungkin butuh waktu untuk menyesuaikan jadwal kalian, tapi karena kalian sudah dekat sedari kecil, Pakde kita tidak masalah toh," sambung Pakde Hadijoyo mengemukakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Uhuk.. Uhuk," terkejut Stevani mendengar ungkapan Pakde Hadijoyo barusan. Diambilnya gelas minum dan segera diteguk teh tawar miliknya untuk mengurangi rasa kagetnya barusan.
"Apa?? Stevani sama Indra, Pakde?? Aduh, sudah sejak lama Stevani menganggap Indra hanya sebagai kakak Pakde. Stevani tidak bisa suka sama cowok tukang perintah dan tukang atur itu," ucap Stevani segera setelah meminum air yang ada dihadapannya.
"Pakde jangan berpikiran aneh-aneh ah. Urusan percintaan anak muda, biar kami sendiri yang mengurusnya," timpal Indra membela Stevani yang terlihat sangat kaget mendengar usulan dari Pakde nya tadi.
"Yaah, Pakde kan hanya kepengen keluarga kita jadi semakin dekat gitu," ujar Pakde Hadijoyo tanpa rasa bersalah sambil terus menghabiskan gudeg di piringnya.
"Kalau Pakde masih punya waktu mencomblangi kami, berarti Pakde punya waktu dong bertamu ke rumahnya Budhe Sendari, yang ada di Kauman itu," goda Indra kepada Pakde nya untuk mencairkan suasana canggung yang sempat terjadi tadi.
Diliriknya Stevani yang sudah kembali berwarna wajahnya setelah suasana canggung yang tidak menyenangkan tadi berlalu.
"Bukannya Pakde punya banyak waktu, sehingga masih bisa datang bermain-main ke rumah butik Sendari. Pakde hanya menyampaikan lintasan pikiran dan keinginan hati Pakde saja. Kamu itu loh malah menggoda Pakde untuk kencan lagi," ucap Pakde Hadijoyo setelah menghabiskan makanannya.
"Habis, Pakde sih, suka ikut turun tangan urusan anak muda. Kita juga bisa kok menggoda Pakde, ihhiiiir. Tuh, lihat Stev, Pakde kumisnya gerak-gerak," kekeh Indra mengajak Stevani berkolusi untuk menyingkirkan pikiran Pakde Hadijoyo jauh-jauh dari mencombangi mereka.
"Loh, Pakde belum berani ke rumah butiknya Budhe Sendari toh selama ini? Waah, kenapa Pakde? kalau Budhe Sendari diambil duda keren, Pakde kelimpungan nanti," goda Stevani mengikuti contoh dari Indra.
Tatapan Stevani yang lega dan berterima kasih kepada Indra, membenarkan firasat Indra. Bahwa, Stevani pulang ke rumahnya karena hatinya sedang butuh ketenangan dan memilah masalah untuk bisa menyelesaikannya. Begitulah Stevani yang dikenal Indra sejak kecil. Dia akan pulang ke rumah dan mendekatkan diri pada keluarga bila ada masalah dengan teman-temannya sebelum keesokan harinya di sekolah Stevani berani menyelesaikan masalah-masalahnya.
Senyum Indra terkembang penuh pengertian. Sahabatnya itu sejak dulu tidak berubah. Hanya tampilan raganya saja yang bertumbuh. Tetapi sifat dasarnya tidak berubah. Stevani ibarat kepiting, yang akan kembali bersembunyi di rumahnya apabila mendapati ancaman bahaya. Tinggal masalah waktu saja Stevani mau bercerita kepada Indra.
Indra memutar balik mobilnya ke arah barat kota untuk kembali kontrakannya dengan membawa kardus nasi gudeg yang diniatkan untuk diberikan kepada Gina yang hari ini mulai bekerja paruh waktu di toko souvenir Jogja di kawasan Jalan Malioboro.
............
*masih tertinggal bayanganmu
yang telah membekas di relung hatiku
hujan tanpa henti seolah bertanda
cinta tak disini lagi kau telah berpaling
biarkan aku menjaga perasaan ini
menjaga segenap cinta yang telah kau beri
engkau pergi aku takkan pergi
kau menjauh aku takkan jauh
sebenarnya diriku masih mengharapkanmu
ooh oooh
masih adakah cahaya rindumu
yang dulu selalu cerminkan hatimu
aku takkan bisa menghapus dirimu
meskipun kulihat kau kini diseberang sana
biarkan aku menjaga perasaan ini
menjaga segenap cinta yang telah kau beri
engkau pergi aku takkan pergi
kau menjauh aku takkan jauh
sebenarnya diriku masih mengharapkanmu
andai akhirnya kau tak juga kembali
aku tetap sendiri menjaga hati
biarkan aku menjaga perasaan ini
menjaga segenap cinta yang telah kau beri
engkau pergi aku takkan pergi
kau menjauh aku takkan jauh
sebenarnya diriku masih mengharapkanmu
biarkan aku menjaga perasaan ini
menjaga segenap cinta yang telah kau beri
engkau pergi aku takkan pergi
kau menjauh aku takkan jauh
sebenarnya diriku masih mengharapkanmu
sejujurnya diriku masih mengharapkanmu
oooh ooohh
oooh ooohh*
..............
Indra bersenandung mengikuti lagu dari Yovie Nuno yang di putar di dalam mobilnya. Lirik-lirik lagu berjudul Menjaga Hati tadi dirasakannya sangat pas dan cocok untuk situasinya saat ini. Sudut bibirnya pun terangkat sedikit dengan sendirinya, tanpa sengaja membuat kagum wanita-wanita di mobil sampingnya yang juga sedang berhenti di lampu merah Jalan Joga-Solo itu. Begitulah, tanpa di sadari Indra, sore itu aura ketampanannya dilumuri pandangan penuh pesona wanita-wanita penikmat senja.