
Jogja, Juli 2008
Kerumunan orang sudah mengelilingi penjual makanan yang dituju oleh Indra dan Gina. Indra bergegas mencari tempat untuk parkir mobilnya. Dipandu tukang parkir yang ahli mencarikan tempat untuk parkir, akhirnya Indra dengan mulus bisa menempatkan mobilnya di antara jajaran mobil-mobil yang terparkir.
Gina dengan antusias melihat ke arah kerumunan orang tersebut. Dengan mulut yang lipat ke dalam, dilongokkan lehernya demi melihat lebih jelas. Dari dalam mobil, Gina sudah begitu antusias dan penasaran, apa istimewanya makanan yang dijajakan oleh penjual tersebut.
Indra yang melihat tingkah Gina yang menjulurkan lehernya tinggi-tinggi, tak kuasa untuk tidak tertawa. Dan dengan reflek bertanya, "Apa kau pernah datang ke sini Gina?"
"Hm, belum pernah. Hanya pernah mendengar kalau di wilayah sini ada gudeg mercon yang terkenal. Saking berbedanya dengan gudeg yang biasanya ada di Jogja," jawab Gina menoleh ke arah Indra.
"Memang betul. Gudeg di sini terkenal karena rasanya yang pedas dan gurih. Karena sambal gorengnya ditambahi dengan cabe rawit yang dihidangkan utuh-utuh di piring kita." Indra melanjutkan penjelasannya ke Gina sambil berkutat melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobilnya.
Gerakan itu ditiru oleh teman seperjalanannya. Gina bergegas melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil juga untuk menyusul Indra yang sudah terlebih dahulu keluar dari mobil. Disusulnya Indra yang sudah berjalan menuju pusat kerumunan itu. Aneh sekali, sesaat sebelum sampai di depan penjualnya, Indra menghentikannya untuk berdiri di belakang jejeran orang-orang yang sudah ada di sana.
"Kenapa?" tanya Gina yang berhenti karena tangannya ditarik oleh Indra.
"Ikut antri dulu, Nona cantik. Lihatlah, semua orang yang akan memesan makanannya, tapi berjejer untuk antri," kata Indra memajukan dagunya bermaksud menunjukkan etika dalam warung makan kaki lima tersebut.
Gina tertegun, baru kali ini mendapati ada warung makan kaki lima yang memesan saja harus antri. Dengan senyum malu, Gina menempatkan dirinya mengikuti Indra. Dilongokkan kepalanya untuk melihat antrian di depannya. Banyak sekali, di depan Gina sudah ada sepuluh orang yang berdiri berjajar rapi. Iseng di tengoknya ke belakang Indra, Gina kaget sudah ada orang yang mengantri juga di belakang mereka.
Indra terkekeh dengan gemas karena melihat Gina tengak-tengok layaknya anak kecil yang baru pertama kali melihat sesuatu yang menarik hatinya, maka kepala Gina pun ditolehkan Indra ke depan. Dan di dorongnya dengan lembut untuk maju ke depan mengisi antrian yang sudah kosong di depannya. Tentu saja menerima perlakukan Indra seperti itu, membuat Gina malu dan tidak lagi tolah-toleh dan fokus mengantri.
Sedikit demi sedikit, antrian Gina dan Indra sudah sampai giliran untuk memesan makanan. Dengan cepat Indra memesan dua piring gudeg mercon dengan telur dan ceker ayam serta dua gelas jeruk hangat. Diambilnya beberapa gorengan dan sate untuk lauk makan mereka.
Selesai memesan dan membawa makanannya, mereka bergegas menuju lesehan yang sudah disediakan. Gina tidak sabar membongkar makanannya. Dilihatnya nasi putih, sayur nangka muda yang dimasak dengan daun jati sehingga menghasilkan warna dan rasa yang pas, sambel goreng krecek berwarna merah sambal dan beberapa biji cabai rawit merah utuh yang dimasak bersama dengan sambel gorengnya. Ditambah dengan telur rebus dan ceker ayam di masak bumbu kecap, dihidangkan di piring anyaman rotan dan di lapisi oleh daun pisang. Saat disuapkan ke dalam mulut, cabe rawitnya meletus dan menghasilkan rasa pedas yang seperti mercon. Perpaduan rasa manis, gurih dan pedas itulah yang banyak dicari orang.
"Enakkan?" tanya Indra disela-sela suapannya.
"Iya, enak. Jujur saja, aku baru sekali ini makan gudeg mercon," jawab Gina dengan senangnya. Gina melanjutkan perkataannya, "Kalau orang Jawa bilang, ini enaknya kapok lombok. Pedes yang masih dicari-cari."
"Memang. Lihatlah, tidak hanya warga Jogja saja yang datang kesini. Banyak plat luar kota yang mampir kesini sekedar untuk makan menikmati gudeg mercon ini," kata Indra sambil melihat ke parkiran motor dan mobil yang tidak jauh dari tempat mereka makan.
Gina mengedarkan pandangannya ke parkiran motor dan mobil. Benar sekali, apa yang dikatakan oleh Indra. Banyak plat kendaraan dari luar kota. Baru Gina sadari, kalau mobil Indra juga tidak berplat kendaraan Jogja melainkan berplat kendaraan Solo.
"Plat mobilmu dari Solo, Mas," sahut Gina setelah melihat jejeran kendaraan berplat luar Jogja.
"Tentu saja. Rumahku ada di Solo. Di sini aku hanya menyewa rumah karena mendapatkan pekerjaan di sini," kata Indra mengedikkan pundaknya sekilas melirik ke arah mobilnya.
Uhuk.. uhuk.. uhuk..
Detail kecil yang diberitahukan Indra kepadanya membuat Gina kaget. Merasa bersalah karena selama ini, Gina benar-benar tidak perhatian dan tidak tahu sedikitpun tentang Indra kecuali Indra lulusan S2 luar negeri dan menjadi dosen muda di kampusnya mulai semester depan.
"Mas Indra dari Solo juga? Daerah mana?" tanya Gina penasaran. Diletakkannya piring yang sudah habis makanannya itu di sampingnya.
"Rumah orang tuaku di kawasan Laweyan. Sedang aku sendiri baru membangun rumah di daerah pinggiran kota Solo," jawab Indra atas pertanyaan yang Gina lontarkan. Indra bertanya balik, "Rumahmu di Solo bagian mana? Aku hanya tahu makam orang tuamu di daerah Makamhaji. Apa rumahmu juga di dekat sana?"
"Tidak." Gina menggelengkan kepalanya. Lanjutnya lagi, "Dulu rumahku ada di kawasan Kauman Solo. Setelah ada tragedi besar tahun 1998, kami sekeluarga pindah ke rumah sederhana di Solo daerah barat."
"Maukah kau berbagi ceritamu padaku, Gina?" tanya Indra dengan suara lembut. Dan meletakkan piringnya yang makanannya juga sudah tandas itu.
"Apa yang mau diceritakan? Setelah orang tuaku meninggal, aku tidak punya siapa-siapa lagi. Ada tetanggaku yang selalu menemaniku saat itu." Gina mulai ceritanya. Setelah beberapa helaan napas dalam, Gina melanjutkan kembali, "Paman datang setelah aku selesai ujian akhir SMP. Karena saat mendiang papa dan mama meninggal, paman sedang dirawat di rumah sakit. Dan baru beberapa saat diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit."
Gina berhenti bercerita dan meraih gelas minumnya. Dengan santai Gina meminumnya sedikit tanpa tergesa-gesa. Indra yang tahu bahwa Gina membutuhkan waktu untuk menyambung ceritanya, tidak sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Indra dengan sabar menanti lanjutan dari Gina dengan terus menatap wajah Gina. Karena merasa masih diperhatikan oleh Indra, Gina menarik napas panjang. Dilihatnya Indra yang masih penuh perhatian menatapnya. Gina melanjutkan ceritanya sambil memalingkan wajahnya dan melihat ke arah gelas minum yang masih dipegangnya.
"Setelah itu, paman menawari aku untuk ikut ke rumahnya agar bisa berganti suasana dan tidak bisa memulihkan kesedihan hati karena ditinggal mendadak oleh kedua orang tuaku," lanjut Gina.
"Apakah itu berhasil?" tanya Indra kembali.
"Tidak begitu berhasil. Rasa sedih dan kehilangan masih sangat berasa bahkan sampai sekarang. Tetapi setidaknya, selama tiga tahun itu aku bisa melanjutkan sekolahku dengan normal. Aku bisa merasakan bersekolah di sekolah biasa. Namun, karena rasa kehilanganku yang masih mendalam, setelah lulus ujian Sekolah Menengah Atas, aku pulang ke Solo. Selama satu tahun penuh aku tidak berniat untuk melanjutkan sekolah maupun hidupku. Saat aku pulang ke rumah orang tuaku, yang aku rasakan hanya kesepian dan kesedihan yang amat sangat dalam. Kedua hal tersebut melumpuhkan semangat untuk melanjutkan hidupku," tutur Gina.
"Selama satu tahun itu, aku hanya bersedih di kamar orang tuaku, selalu mengurung diri di rumah. Sampai anaknya tetanggaku yang terus menghibur dan menyemangatiku untuk terus bahagia. Dia juga yang mengajarkan aku untuk berjuang dan bekerja. Selain untuk membiayai hidupku sendiri, juga untuk membuat diriku merasa berguna untuk orang lain," cerita Gina mengingat sahabat kecilnya yang dari dulu selalu dekat dan sayang kepadanya.
"Setelah itu aku menghubungi paman untuk minta tolong mendaftarkan kuliah di kampus yang sama dengan paman. Karena aku hanya tahu paman menjadi dosen fakultas hukum, jadi aku bilang ke paman ingin masuk ke fakultas hukum. Dengan harapan aku bisa bertanya apabila aku mengalami kesulitan dalam studiku," lanjut Gina meneruskan ceritanya.
Indra mendengarkan cerita Gina dengan penuh perhatian. Tanpa satu kata pun yang keluar dari mulutnya, Indra bersimpati kepada Gina melalui tatapan mata dan senyumnya. Indra menepuk-nepukkan tangannya dengan lembut ke paha Gina. Mengisyaratkan bahwa Indra memahami kesedihan dan kerasnya perjuangan Gina selama ini.
"Tidak usah merasa kasihan padaku, Mas. Ternyata selama ini sikapku itu juga salah. Sikapku yang hanya memikirkan diri sendiri ini malah semakin menambah beban paman," kata Gina salah menanggapi simpati Indra sebagai rasa kasihan.
"Aku tidak merasa kasihan kepadamu, Gina. Karena jalan hidup setiap hidup manusia itu sudah digariskan. Aku hanya simpati kepadamu, papa mamamu pasti orang-orang baik. Karena anaknya diurus oleh orang-orang yang dekat dan baik dengan papa mamamu." Indra tersenyum meluruskan kesalahpahaman yang Gina pikirkan.
"Aku yakin papa dan mama orang baik. Karena sampai sekarang, aku bertemu diurus oleh dengan orang-orang yang sangat baik juga kepadaku. Tapi hal itu tidak mengurangi rasa bersalahku kepada paman," desah Gina kembali teringat akan banyak sekali tanggungan yang diemban oleh Profesor Baraka karena dia abai dan hanya memikirkan dirinya sendiri.
"Aku yakin, Profesor Baraka paham. Beliau bukan orang yang picik. Beliau pasti juga menyiapkan semuanya saat kau sudah mulai bisa mengambil alih tanggung jawabmu sendiri," hibur Indra lebih lanjut.
Tak mau Gina terlarut dalam rasa bersalahnya lebih lama, Indra melirik jam tangan yang berada di pergelangan tangan kirinya. Ternyata jarum jam tangannya sudah menunjukkan jam duabelas malam. Segera saja diajaknya Gina untuk pulang ke rumah. Indra paham beberapa hari ini pasti berat bagi Gina. Karena kalau tidak, bagaimana mungkin Gina dengan sukarela mengeluarkan isi hatinya kepada Indra.
Dibantunya Gina berdiri dari tempat duduk lesehan tadi dan segera digandengnya untuk menuju ke parkiran.
"Eh, tunggu Mas. Mau kemana?" tanya Gina menghentikan langkahnya.
"Pulang," jawab Indra dengan polosnya sambil mengangkat alisnya tanda bertanya.
"Tidak bayar dulu?" tanya Gina lebih lanjut.
"Tadi sebelum makan sudah sekalian dibayar, Neng. Udah, ayo segera pulang. Malu tuh, dilihatin orang," ajak Indra menarik tangan Gina yang sedari tadi di genggamnya.
"Oh, ayo kalau begitu. Cepat pergi dari sini," kata Gina sembari mendorong Indra untuk berjalan lebih cepat dengan muka merah padam.
Sesampainya di parkiran, Gina dan Indra segera masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan mengantarkan Gina pulang ke rumah kos-kosannya.
"Boleh aku hidupkan radionya?" tanya Gina sesaat setelah masuk ke dalam mobil.
"Iya, silakan saja," jawab Indra yang masih fokus menuruti instruksi tukang parkir untuk keluar dari parkiran kendaraan tersebut.
Karena perut yang sudah kenyang dan suasana mobil yang dingin serta suasana malam Jogja yang menyejukkan, mata Gina terlalu berat untuk tetap terbuka. Sayup-sayup suara radio yang lirih, seakan membuai Gina untuk semakin terlelap di dalam tidurnya.
Percuma saja Indra mengatakan hal itu kepada Gina. Karena orang yang diajaknya bicara tersebut sudah tidur dengan lelapnya. Indra menggelengkan kepala dan tersenyum dengan lembut. Dilajukan mobilnya ke arah pom bensin terdekat dengan daerah kontrakan mereka. Teringat kembali cerita hidup yang Gina sampaikan tadi. Betapa beragamnya hidup manusia. Gina yang ditinggal kedua orang tuanya di usia yang masih muda, sangat berbeda dengan cerita hidupnya yang sampai sekarang bahkan tidak mengetahui siapa ayahnya yang sebenarnya. Setiap kali ibunya ditanya tentang ayahnya, selalu mengelak dan meneteskan air matanya. Indra enggan menanyakan hal itu kembali jika hanya menghadirkan rasa sedih kepada ibunya.
..............
I would die for you
Lay down my life for you
The only thing, that means everything to me
Cause when you're in my arms
You make me prouder than
Anything I ever could achieve
And you make everything
That used to seem so big
Seem to be so small since you arrived
On angel's wings
An angelical formation
Angel's wings
Like letters in the sky
Now I know
No matter what the question
Love is the answer
It's written on angel's wings
And I often wondered why
Someone as flawed as I
Deserves to be as happy as you make me
So as the years go by
I'll be there by your side
I'll follow you, wherever your heart takes me
.........
Indra membelokkan laju mobilnya ke arah pom bensin dan turun untuk membuka penutup tangki bensinnya. Lagu Angel's Wing nya Westlife masih berkumandang dari dalam mobilnya. Menemani Gina yang masih lelap tertidur.
Setelah mengisi bensin, Indra kembali melakukan mobilnya ke arah rumah Bu Suryo, kos-kosan yang ditempati Gina. Sesampainya di depan rumah Bu Suryo, Indra berhenti dan melihat ke arah rumah. Suasana rumah tersebut sudah gelap semuanya. Hanya ada lampu depan yang menyala. Indra segera turun untuk memastikan lagi suasana rumah tersebut. Di tekannya bel yang ada di pagar tersebut, masih bisa didengar suara bel berkumandang dari dalam rumah. Tetapi tidak ada yang keluar untuk membukakan pintunya. Indra berinisiatif untuk masuk dan mengetuk pintu depan langsung. Akan tetapi, pagar depan sudah di kunci gembok dan mustahil untuk dibuka dari luar.
Pantas saja sudah sepi, sudah lebih dari jam satu malam, batin Indra setelah melihat jam tangannya.
Indra segera masuk kembali ke dalam mobil. Dipandanginya Gina yang tertidur lelap tanpa tahu bahwa rumah kontrakannya tidak ada yang bisa membukakan pintunya.
Apakah lebih baik aku antarkan ke rumah Profesor ya? tanya batin Indra.
Akan tetapi ke rumah Profesor juga membutuhkan waktu dan lagi ini sudah lepas malam. Indra takut mengganggu dan membangunkan orang di rumah Profesor. Dengan tersenyum simpul, Indra mengambil keputusan yang paling mudah dan paling praktis menurut perhitungannya. Segera saja dibawa mobilnya ke arah rumah kontrakan yang di tempatinya.
Setelah memarkirkan mobil di tempat biasanya, Indra mengunci pintu pagar rumah kontrakannya dan membuka pintu depan rumahnya. Indra berjalan ke arah mobil dan membuka pintu penumpang di mobilnya. Dilepaskannya sabuk pengaman Gina, dan dibopongnya Gina masuk ke dalam rumah. Setelah masuk ke rumah, ditutupnya pintu rumah menggunakan kaki. Terus dibawanya Gina ke arah kamar tidur yang biasa dipakai oleh Indra.
Segera dibaringkan Gina di atas kasur tempat tidurnya itu. Gina yang masih terlelap tidur seakan menemukan tempat nyaman untuk tidur dan tersenyum dalam tidurnya. Indra duduk di sisi kasur dan membantu melepaskan sepatu yang dikenakan oleh Gina serta meyelimuti tubuh Gina dengan selimutnya. Diamatinya Gina yang tidur dengan muka polos, tangan Indra terulur untuk menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya. Diusapnya alis Gina dengan lembut, punggung jemarinya bergeser ke bawah dan mengusap pipi halusnya. Tak ketinggalan ibu jari Indra menyusuri bibir Gina yang sedikit terbuka.
deg... deg... deg...
Perlahan-lahan ditundukkannya kepala Indra. Bibirnya menggantikan ibu jarinya di bibir Gina. Dikecupnya lembut bibir gadis ayu itu. Manis, bibir Gina terasa manis di bibir Indra. Tak rela Indra hanya mengecupnya sekali. Maka diulanginya kecupan tadi, rasanya memabukkan. Bibir Gina bagaikan candu buat Indra.
Dilepaskannya bibir Gina dari impitan bibir Indra sendiri. Di usapnya bibir Gina dengan ibu jarinya kembali. Gina tanpa sadar mengambil napas dalam di tidurnya dan tanpa direncanakan lolos suara dari sela-sela bibir Gina yang terbuka.
groook...
Indra tertegun mendengar suara ngorok yang Gina buat. Indra tertawa terbahak-bahak mengetahui karena gadisnya tidur dengan sangat nyenyak dan nyaman sehingga mengeluarkan suara tersebut. Indra berdiri dan mengambil bantal lain dan selimut di samping Gina. Kemudian bergegas keluar kamar meninggalkan Gina sendiri untuk tidur di kasurnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Halo Reader Budiman,
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novelku yang tidak seberapa ini. Semoga berkenan dan terhibur.
Mohon bantu Favoritkan ❤️ novel ini, Like 👍 disetiap episodenya dan jangan lupa rate ⭐⭐⭐⭐⭐ nya ya.
Terima kasih.
Regard,
-Arindra-
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=