
Jogja, Februari 1999
Hamparan sawah di kanan dan kiri jalan menemani perjalanan Tuan Rasya dalam perjalanan ke rumah sahabatnya, Professor Baraka. Senyum di bibirnya selalu menghiasi wajahnya kala itu. Tuan Rasya bersyukur, kehidupan keluarganya masih bisa diupayakan kembali. Semenjak peristiwa Mei 1998 tahun lalu, usaha Tuan Rasya bangkrut, pabrik-pabrik batik terpaksa di hentikan, karyawan-karyawan tokonya dengan berat hati di rumahkan semuanya. Jika mengingat peristiwa tahun lalu, hati Tuan Rasya bagai teriris sembiku. Bagaimana tidak, menyaksikan dengan mata kepala sendiri toko yang di bangun dari kios kecil sampai bisa membeli toko dua lantai di salah satu kawasan ramai di Solo di bakar massa hanya karena istrinya adalah ekspatriat, yang mana bukan orang pribumi. Karyawan-karyawannya terlalu takut untuk kembali kerja seminggu setelahnya. Tapi sekarang, kabar yang di bawa sahabatnya setelah pulang dari luar negeri membuat tunas-tunas harapannya bersemi kembali. Bayangan untuk kembali ke kehidupan yang sebelumnya menari-nari di pelupuk mata.
"Aaah, semoga kabar dari Baraka bisa lebih jelas lagi setelah kami bertemu," pikir Tuan Rasya saat ingatannya kembali ke masa kini.
"Kasihan Gina, tahun besok dia sudah kelas 3 SMP. EBTANAS pasti membuatnya harus belajar keras, dan semoga Gina tidak perlu lagi takut lagi untuk biaya masuk SMA nya kelak." ingatannya kembali melayang kepada Gina. Anak gadis semata wayangnya yang tadi pagi Tuan Rasya antarkan kembali ke asrama.
Din din din diiiiin..
Sebelum memasuki kota Klaten, terdengar suara klakson bus-bus besar jurusan Solo - Jogja menyalak keras. Mengagetkan Tuan Rasya yang saat itu berkendara dengan santai di sisi kiri jalan. Reflek Tuan Rasya menengok untuk melihat bus yang mengklakson nya dengan keras tadi. Dua bus besar "Bahaya Maut" dan "Sukses Bencana" sedang berkejar-kejaran demi mendapatkan penumpang lebih banyak. Tuan Rasya melihat para sopir saling ejek dan saling memaki tidak ada yang mau mengalah. Para penumpang kedua bus yang saat itu penuh pun terlihat pucat pasi takut bus yang mereka naiki, sopir nya semakin ugal-ugalan dan mengalami kecelakaan. Melihat hal tersebut mau tidak mau Tuan Rasya menghentikan laju kendaraannya sejenak.
Memasuki kawasan Jogja, Candi Prambanan sudah terlihat di Utara jalan. Berdiri kokoh dan megah menandai kecerdasan pembuatnya pada jaman dahulu. Tuan Rasya melaju mengikuti jalan Raya Solo, jalan yang menghubungkan Jogja-Klaten-Solo. Sebelum melewati bandara Jogja, Tuan Rasya membelokkan kendaraannya ke arah Utara, memasuki kawasan Kalasan, tempat tinggal Baraka, sahabat setianya.
"Sejuk sekali udara Jogja. Menjelang siang seperti ini masih adem dan terasa nyamannya," batin Tuan Rasya bahagia.
Melewati pohon beringin besar di tengah perempatan jalan, Tuan Rasya membelok ke arah barat. Tidak jauh dari sana, Tuan Rasya membelokkan motornya untuk masuk ke halaman rumah Profesor Baraka yang masih luas, asri dan rindang karena masih banyak di tumbuhi pohon-pohon yang memiliki daun lebat.
Cuit..cuit...ciiit...ciiiiit.. criciiit...criciiiit.. kuuuuuk geruuuuukkk.
Burung-burung seakan-akan menyambut Tuan Rasya memasuki halaman rumah tersebut. Suasana asli Jogja langsung dapat dirasakan siapapun saat memasuki rumah masa kecil Profesor Baraka itu. Dipaling depan, ada pintu gerbang masuk yang tidak di pagar tinggi, halaman luas yang kanan kiri masih ditumbuhi pepohonan, halaman depan rumah sengaja di kosongkan untuk menyambut kendaraan dan delman-delman tetamu yang berkunjung ke rumah ini. Bagian depan rumah terdapat bangunan berbentuk Joglo dengan kayu-kayu jati besar sebagai penyangga-penyangga nya. Joglo tersebut juga berfungsi sebagai ruang tamu. Dibelakang Joglo tersebut, barulah rumah induk, yang terdapat ruang keluarga serta diapit oleh kamar tidur di kanan dan kiri ruangan. Masuk lebih dalam lagi terdapat dapur dan kamar mandi. Di sebelah luar ada kamar-kamar kecil untuk tidur pembantu yang bekerja di sana.
.......
Di saat kita bersama
Di waktu kita tertawa menangis merenung oleh cinta
Ku coba hapuskan rasa
Rasa dimana kau melayang jauh dari jiwaku juga mimpiku
Biarlah-biarlah hariku dan harimu
Terbelenggu satu oleh ucapan manismu
Dan kau bisikkan kata cinta
Kau t'lah percikan rasa sayang
Pastikan kita seirama
Meski terikat rasa hina
Sekilas kau tampak layu
Jika kau rindukan gelak tawa yang warnai lembar jalan
Kita teguk dan teguklah mimpiku dan mimpimu
Terbelenggu satu oleh ucapan manismu
........
"Kula nuwun. Selamat siang," salam Tuan Rasya dari depan pintu. Terdengar suara Duta, sedang bernyanyi. Memang, lagu-lagu Sheila On 7 mulai naik daun di tahun 1999. lagu tadi berjud KITA, salah satu judul dalam album perdana mereka.
"Baraka memang berjiwa muda." batin Tuan Rasya mendengar lagu milik Duta dan kawan-kawan nya.
"Nggih. Selamat Pagi. Oooh Rasya. mari mari masuk." sambut Profesor Baraka riang.
"Ayo, duduk sini." ajaknya lebih lanjut.
"Mbok, tolong buatkan teh hangat dan keluarkan singkong rebus nya yo." pinta Profesor Baraka kepada Mbok Nah, pembantu yang juga pengasuh masa kecil Profesor Baraka yang sudah sejak dulu ikut dengan keluarga Profesor Baraka.
"Njih, Denmas." balas Mbok Nah. Segera berlalu ke dapur untuk menyiapkan jamuan untuk tamu tuan muda kesayangannya.
"Bagaimana kabarmu Rasya?" tanya Professor Baraka.
"Kabarku baik-baik saja, seperti yang kau lihat sendiri. Bagaimana denganmu? Kulihat belum ada nyonya rumah di sini." jawab Tuan Rasya.
"Hahaha, bisa saja kau ini. Aku ini masih ingin bebas Rasya, masih ingin kesana kemari tanpa ditanyain macam-macam ini itu oleh orang lain. Biarlah, setelah Sibu berpulang menyusul Bapak, rumah ini di rawat oleh Mbok Nah dan Pak Parjo, suaminya. Lagi pula salah anak mereka, Marni, juga bersedia untuk membantu mengurus rumah ini juga. Jadi aku lebih tenang to." jelasnya panjang lebar.
"Ya ya yaa. Terserah bagaimana keputusanmu lah Baraka. Yang penting jangan lupa untuk punya pewaris tanah dan rumah ini yo." kelakar Tuan Rasya.
"Tenang saja Rasya, kalaupun aku tidak punya pewaris, aku tenang. Ada kau yang pasti mau untuk merawat rumah ini." canda Professor Baraka kembali.
"Enak aja kau kalau ngomong. Jangan ngomong kayak gitu. Ndag Ilok." Tuan Rasya mengingatkan.
"Ngomong-ngomong, selera musikmu sekarang lebih modern ya. Tuh, tadi aku dengar Sheila on 7 sebelum kau muncul tadi." lanjut Tuan Rasya.
"Wah, harus dong. Mendukung anak-anak asli Jogja berkarya tidak ada salahnya. Bangga juga ada musisi Jogja yang lagu-lagu nya dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat Indonesia." sahut Profesor Baraka.
"Betul juga pemikiranmu. Memang cerdas pemikiran seorang profesor." kata Tuan Rasya.
"Monggo Nak, silakan diminum tehnya. Ini ada singkong rebus, tempe bacem dan jadah bakar." Mbok Nah menyilakan.
"Suwun Mbok." sahut Tuan Rasya. Segera di nikmati teh hangat dan jadah bakar serta tempe bacem nya.
"Enakkan makanan khas sini?" tanya Professor Baraka sambil mengambil singkong rebus nya.
"Sangat. Nikmat sekali jadah bakar dan tempe bacem ini. Rasanya tidak bisa ditemui di daerah lain." puji Tuan Rasya.
"Ngomong-ngomong tentang yang kemarin Baraka, apa kau serius saat bilang ada yang tertarik dengan kain-kain batik ku?" tanya Rasya penasaran.
"Untuk hal itu, tentu saja aku serius. Tidak mungkin aku bercanda dengan hal yang begitu serius." jawab Professor Baraka.
"Terus bagaimana kelanjutannya? Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?" Tuan Rasya masih belum percaya.
"Jadi gini, Mrs. Katherine itu istri kolegaku di sana. Kemarin, saat aku seminar menggunakan baju batikmu, banyak yang penasaran dengan bajuku. Sedikit aku jelaskan bahwa ini kain khas dari negara kita, lebih tepatnya dari Solo. Kota penghasil batik. Nah, diundangnya aku ke rumahnya. Rupanya, istri Mr. Thomas memiliki sebuah butik dan setelah melihat batik ini, mereka tertarik untuk mencoba kain khas ini di sana. Selain itu juga, Mrs. Kate mengatakan ingin mengajakmu serta pada saat ada gelaran fashion show tahunan di sana." terang Professor Baraka.
"Bagaimana Rasya, apakah kau tertarik untuk menindak lanjuti niatan kerja sama mereka? Kalau kau bersedia, mereka akan dengan senang hati mengirimkan tiket pesawat pulang pergi untukmu dan bila kau mau mengajak istrimu serta, mereka tidak keberatan." tanyanya lebih lanjut.
"Bagaimana menurutmu, Baraka. Kabar ini terlalu baik. Dan terlalu mendadak bagi keluarga kami." sahut Tuan Rasya ragu-ragu.
"Oh kalau menurutku, kau datang saja ke sana bersama dengan Elisabeth. Pasti dia juga merindukan negaranya. Ajak dia serta, biarkan dia juga bisa menikmati liburan setelah musibah yang menimpa keluarga kalian tahun lalu. Hilangkan trauma nya, ajak dia ikut serta bersamamu." saran Profesor Baraka.
"Apa kau yakin Mr. Thomas dan istrinya bisa dipercaya?" Tuan Rasya masih belum percaya dengan hal tersebut.
"Tentu saja. Mrs. Katherine sangat antusias dengan motif yang tidak biasa ini. Dia terus menyela bertanya-tanya tentang batik saat aku dan suaminya sedang berbicara. Aku bilang, aku tidak tahu apa-apa tenteng batik. Aku bilang, sahabatku yang memiliki batik ini dan ahli dalam bidang batik. Mrs. Katherine segera bilang padaku untuk mengundangmu datang. Dan dia tidak keberatan untuk mengundangmu dan istrimu datang setelah aku bercerita apa yang terjadi pada kalian setahun yang lalu." tutur Professor Baraka lebih lanjut.
"Baiklah, Baraka. Aku ambil kesempatan itu. Aku ingin kehidupan Gina ke depannya lebih baik lagi setelah kami bangkrut tahun lalu." putus Tuan Rasya.
"Oke, kalau kau setuju. Besok aku telponkan Mrs. Katherine dari kantor." ucap Professor Baraka dengan riang.
"Ayo, dihabiskan jadah bakarnya. Keburu dingin nanti" lanjutnya kemudian.
"Ngomong-ngomong tentang peristiwa setahun yang lalu Rasya. Aku tidak habis pikir. Tokomu memang benar di daerah yang ramai di Solo. Tapi bukankah Ibumu orang Solo asli. Jadi kau masih separo Jawa. Tapi mengapa tokomu yang itu dan pabrik-pabrikmu ikut hancur ?" selidik Profesor Baraka.
"Apanya yang kurang pribumi dari Ibumu coba!? Beliau anak tunggal dari almarhum nenek kakekmu yang asli orang Jawa." heran Professor Baraka.
"Apa... Apakah mungkin ada saingan bisnismu yang diuntungkan dengan hancurnya pabrik dan tokomu itu?" selidiknya lebih lanjut.
"Hahaha, pikiranmu terlalu jauh, Kawan. Semua pengusaha batik juga melesu tahun-tahun kemarin. Saat itu harga kain melambung tinggi, harga obat batik tak terjangkau, harga malam pun sudah melebihi apa yang sanggup kami bayarkan. Dua tahun lalu, aku terpaksa menghentikan produksi batik tulis yang memerlukan bahan baku malam banyak. Aku simpan batik-batik tulis di rumah. Tidak aku keluarkan di tokoku. Tahun setelahnya, pabrik yang di Kalioso sudah mulai tidak stabil produksinya. Meskipun aku sudah melakukan semua hal untuk menekan ongkos produksinya." jawab Tuan Rasya sambil mengingat-ingat.
"Aku hanya kepikiran satu hal. Orang-orang di pabrikku yang di daerah Kalioso, sebelum tutup itu jauh-jauh hari mereka mengundurkan diri secara bergiliran." renung Tuan Rasya.
"Menurutmu, apa yang terjadi dalam rentang waktu itu?" Professor Baraka menanyainya lebih lanjut.
"Entahlah, aku tidak terlalu memikirkannya lebih dalam. Tidak ada dari karyawanku yang bertahan sampai akhir, bercerita kepadaku. Atau aku yang tidak serius bertanya kepada mereka. Entahlah, yang pasti setelah banyak yang keluar, tidak sampai enam bulan kemudian, pabrikku yang di Kalioso tidak beroperasi lagi. Aku berikan karyawan-karyawanku uang terima kasih yang cukup yang bisa aku usahakan untuk mereka menyambung hidup setelah pabrikku di tutup." kata Tuan Rasya.
"Apakah menurutmu, ada yang aneh dari ditutupnya pabrikku yang di Kalioso ya Baraka?" tanya Tuan Rasya penasaran. "Apa yang membuatmu tiba-tiba bertanya hal itu padaku? Dulu kau sama sekali tidak bertanya saat hal itu terjadi." lanjut Tuan Rasya.
"Dulu aku tidak terlalu tahu apa yang sebetulnya terjadi padamu. Kau baru mau bercerita setelah kau pindah ke rumahmu yang sekarang dan setelah semuanya kelewat terlalu lama. Dan aku baru ingat, karena saat di Inggris, rasa-rasanya aku mendengar namamu tiba-tiba saja di sebut saat ada yang bertanya tentang baju yang aku pakai. Hal yang aku dengar sangat aneh. Ada seseorang yang berkata menyangkut tentang pabrik batik dan namamu di sandingkan dengan kata bodoh. Aku menoleh mencari sumber suara tersebut. Tapi saat itu di Hall sangat ramai oleh pembicaraan tentang materi seminar yang baru saja aku hadiri itu. Sehingga aku tidak tahu siapa yang mengucapkan kata-kata tadi " jelas Profesor Baraka.
"Ah, begitu rupanya. Hmm.. Baiklah, nanti sampai rumah, aku bicarakan kepada istriku tentang hal ini, Baraka. Mungkin istriku bisa mengingatkanku tentang apa-apa yang luput dari perhatianku." putus Tuan Rasya mantap.
.........
Dan
Dan bila esok, datang kembali
Seperti sedia kala dimana kau bisa bercanda
Dan
Perlahan kaupun, lupakan aku
Mimpi burukmu
Dimana t'lah kutancapkan duri tajam
Kaupun menangis, menangis sedih
Maafkan aku
Dan
Bukan maksudku, bukan inginku
Melukaimu sadarkah kau di sini 'kupun terluka
Melupakanmu, menepikanmu
Maafkan aku
Lupakanlah saja diriku
Bila itu bisa membuatmu kembali bersinar
Dan berpijar seperti dulu kala
Caci maki saja diriku
Bila itu bisa membuatmu kembali bersinar
Dan berpijar seperti dulu kala
.........
Radio kembali mengumandangkan lagu Sheila on 7, DAN. Rupa-rupanya lagu sebagai lagu jeda diantara dua acara yang disiarkan.
"Baiklah kalau begitu Baraka. Terima kasih sekali atas semua bantuanmu. Dan terima kasih sekali kau bersedia menghubungkan kami kepada kolegamu di sana. Aku pamit dulu ya. Banyak hal yang ingin aku diskusikan dengan istriku. Dia pastinya bahagia bisa kembali ke negaranya setelah belasan tahun menetap di Indonesia," pamit Tuan Rasya.
"Langsung pulang ya. Jangan mampir-mampir dulu." kelakar Professor Baraka kepada Tuan Rasya.
"Hahaha. Tenang saja. Kau tahu aku. Dari dulu tidak suka mampir-mampir saat sudah waktunya pulang." jawab Tuan Rasya sambil tersenyum sambil menaiki kendaraannya untuk pulang ke Solo kembali.
"Selamat tinggal ya. Aku tunggu kabarmu besok sore di rumah." pamit Tuan Rasya dari atas motornya.
"Baiklah. Kau tenang saja. Bilang sama Elisabeth untuk menyiapkan apa yang musti dibawa ke sana." Professor Baraka meyakinkan sahabatnya tersebut.
brrrrmmmm.... brrrmmm.... brrrrmmmm....
Kendaraan Tuan Rasya melaju keluar halaman rumah sahabatnya tersebut. Kembali pulang ke rumah dan kepada istri yang sangat dicintainya itu.
Perjalanan pulang selalu lebih cepat dari pada perjalanan berangkat. Rasanya baru sekejap saja Tuan Rasya pulang dari kediaman Profesor Baraka, sekarang sudah sampai rumah kembali.
"Capek Pa?" tanya Nyonya Elisabeth kepada suaminya menerima jaket dan tas Tuan Rasya.
"Ya pastilah capek Ma. Tapi Papa bahagia. Berita yang di sampaikan Baraka kemarin ternyata benar-benar valid. Bahkan kita berdua bisa pergi ke London dan dibiayai tiket pulang perginya." Tuan Rasya menyampaikan kabar gembira tersebut kepada istrinya.
"Yang bener Pa? Ya ampun, Mama bahagia sekali. Kita musti bersyukurlah Pa, ini bisa jadi jalan keluar dari masalah kita." sahut istrinya bersyukur.
"Tapi Ma, tunggu sebentar, ada hal yang mengganggu pikiran Papa setelah pulang dari rumah Baraka tadi." Tuan Rasya memulai percakapan dengan istrinya.
"Pikiran tentang apa Pa?" tanya Nyonya Elisabeth penuh rasa penasaran.
"Apa Mama ingat saat karyawan pabrik kita yang di daerah Kalioso itu mengundurkan diri besar-besaran? Waktu itu lho, yang mereka bergantian pamit keluar kerja." lanjut Tuan Rasya.
"Ooh yang itu, tentu saja Mama ingat Pa. Dulu Mama juga pernah bilang ke Papa, kenapa tiba-tiba saja banyak yang pamit keluar dan bergantian. Hanya tinggal 4 orang saja yang masih bertahan bersama kita sampai akhir pabrik terpaksa kita tutup," Nyonya Elisabeth menggali ingatannya.
"Kata Papa dulu, mungkin mereka ingin berusaha sendiri setelah ikut kita sekian lama. Papa berikan juga sedikit uang mereka bisa memulai kehidupan mereka setelah tidak bersama kita lagi." kata istri Tuan Rasya tersebut mengingatkan suaminya.
"Yasudah Ma, lebih baik Mama mempersiapkan apa yang akan kita bawa nantinya ke Inggris. Kita tunggu kabar Baraka besok sore. Jadi kapanpun diinginkan, kita bisa segera berangkat." pinta Tuan Rasya kepada istrinya.
"Iya, Baiklah Pa. nanti Mama siapkan apa yang akan kita bawa. Sebelum itu, ayo kita makan siang dulu. Mama sudah buatkan sup kentang dan sandwich tuna." ajak Nyonya Elisabeth kepada suaminya.
"Waah, istriku tercinta, kau pasti sudah sangat senang mau berkunjung ke Inggris lagi. Sampai-sampai membuatkan suamimu sup kentang dan roti tangkupnya segala." goda Tuan Rasya kepada istrinya yang tersenyum malu-malu.
"Oh iya Ma, besok pagi sambil menunggu Baraka telpon sore hari, Papa ajak ke rumah Pak Sumedi ya. Papa jadi penasaran dan kepikiran dengan yang kita obrolkan tadi." tambahnya kemudian.
"Pak Sumedi yang bertahan dengan kita sampai akhir itu kan Pa. Pak Sumedi bersama kedua putranya dan adiknya telah bersama kita sampai kita menutup pabrik. Baik Pa, tapi besok kita mampir ke pasar dulu ya, mau bawakan mereka oleh-oleh." sahut Nyonya Elisabeth.
Tuan Rasya mengangguk sambil menggigit sandwich tuna dan kembali memikirkan percakapan dengan sahabatnya tadi pagi. Pertanyaan dan kabar dari Baraka akhirnya mau tidak mau membuka kembali kecurigaan yang dulu sempat muncul tapi dipendamnya dalam-dalam.
Dahulu kecurigaan Tuan Rasya sempat tertuju pada rival bisnisnya, Hadijoyo. Pemilik Batik Kusumoningrat, brand batik yang sangat terkenal dari Solo. Tapi kecurigaannya tersebut tidak dilanjutkannya, mengingat tanpa menjatuhkan saingannya pun, Batik Kusumoningrat jadi batik unggulan. Jadi selain krisis moneter yang melanda Indonesia tahun kemarin, ada rahasia apa lagi menyangkut ditutupnya pabrik tersebut?
........
Orang-orang yang bertahan sampai akhir bersama dengan kita, adalah harta tak ternilai buat kita.