Wait For Me, Professor!

Wait For Me, Professor!
I'm Yours



Jogja, Juni 2008


"Maaf, kamu sengaja mengikuti aku?" tanya Gina penasaran dengan apa yang sebenarnya dilakukan Indra mengukutinya sejak dari gerbang kampus tadi.


"Benar sekali nona judes. Aku diperintahkan mentorku untuk menjadi pengawalmu hari ini," jawab Indra dengan sikap membungkuk ala-ala orang-orang barat menghormat kepada seorang yang berkedudukan lebih tinggi.


"Apa maksudnya? Kamu diperintah Prof Baraka untuk mengawalku? Memangnya aku anak kecil?" Gina menjadi sangat kesal. Hari ini adalah hari istimewanya, hari terakhir ujian semester ini dan hari bahagianya mendapatkan beasiswa. Tapi hari sempurna ini di rusak oleh kehadiran Indra yang mengikutinya. "Apa yang harus aku lakukan agar terpisah dari laki-laki ini?" tanya Gina kepada dirinya sendiri.


"Klaten.. Klaten.. Solo.. Solo... Solo.." teriak kondektur bus antar kota yang melaju dari arah barat. "Poin.. Poin.. Poin.." kondektur tersebut kembali berteriak, entah ini ditujukan kepada siapa.


Tanpa banyak kata, Gina langsung naik ke atas bus tersebut bersama beberapa orang yang juga sedang menanti bus itu. Tentu saja dengan Indra yang masih terus merendengi langkahnya. Ternyata bus tersebut penuh tempat duduknya. Membuat Gina dan semua yang baru saja naik tersebut terpaksa berdiri sejenak demi mendapatkan kursi kosong nantinya. Berdiri di belakang Gina, Indra mengaja mendorong Gina ke belakang, di kursi depan pintu belakang bus itu.


Tangan kiri Indra terulur memegang sandaran kursi bus sekaligus melindungi Gina dari tertabrak orang-orang yang berlalu lalang. Sedangkan tangan kanannya, menggapai ke pegangan tangan yang berada di atas. Setidaknya posisi seperti itu akan membuat Gina terhindar dari kontak fisik dorongan-dorongan dari penumpang lain, namun Indra tidak menyadari, bahwa posisinya tersebut adalah posisi terdekatnya setelah dia memeluk Gina tempo hari di perpustakaan.


deg deg.. deg deg.. deg deg...


Jantung Gina tak karuan rasanya. Gina merasakan sekali perlindungan yang diterimanya dari seorang laki-laki. Gina terpana, bingung merasakan jantungnya yang berdentam liar memukul-mukul di dalam rongga dadanya. "Apa yang harus aku lakukan? Jika berpindah tempat, sama saja nampak aku terganggu olehnya. Kalau tidak pindah, sampai kapan ada dalam posisi seperti ini?" gelisah hati Gina memilah milih semua kemungkinan yang ada.


Di belakang Gina, Indra tersenyum bahagia melihat Gina salah tingkah dengan perlakuan jantan nya. Indra memang sengaja memposisikan dirinya sebagai penjaga Gina dengan melingkarkan tangan kirinya memeluk melewati tubuh Gina dan memegang sandaran kursi belakang bus itu.


"Yak poin lagi!!" kondektur berteriak kembali dan buspun melambat dikerumunan penumpang yang berdiri dipinggir jalan. Kemudian, seperti biasanya bus menyentak maju sesaat setelah kaki penumpang terakhir naik ke atas bus. Sentakan tadi menyebabkan Gina kehilangan keseimbangannya dan langsung menabrak dada kokoh Indra. Indra sendiri reflek mengencangkan pegangan tangan kirinya dan tangan kanannya memeluk Gina supaya tidak terjatuh. Bus sudah melaju dengan tenang, tapi kedua insan tersebut masih dalam posisinya masing-masing.


Gina diam, terpana oleh kokohnya pelukan laki-laki ditubuhnya, meskipun Gina tahu pelukan itu hanyalah cara Indra melindunginya supaya tidak jatuh. Tapi hatinya mengalahkan logikanya dengan sangat telak. Seluruh wajah Gina memerah karena malu, sedangkan napasnya masih memburu. Dirasakan hangatnya tangan dan dada kokoh tersebut di punggung dan pinggangnya. Hangat, kehangatan yang membuat hatinya nyaman.


Begitupun Indra, refleknya tadi menyebabkan seorang wanita berada dalam pelukannya. Tak pelak lagi, dirasakannya juga debaran jantung Gina yang liar berdentam di dadanya sendiri.


deg deg... deg deg... deg deg...


Jantung Indra sama kencangnya dengan jantung Gina. Indra tersenyum di atas kepala Gina, pelukannya ke gadis itu semakin kencang. Bukan lagi hanya bermaksud untuk melindungi dari benturan penumpang lain, tetapi juga karena posisi itu adalah posisi paling nyaman berdekatan dengan Gina. Untuk saat ini, hanya pelukan inilah yang paling penting bagi Indra. Pelukan yang terasa sangat nyata bahwa dia bisa melindungi Gina. Setidaknya saat ini, sekarang juga, dalam bus yang sarat penumpang dan melaju konstan ke arah Kota Solo.


Sampai daerah Kalasan, di dekat Candi Prambanan, akhirnya kursi di deket Gina kosong ditinggal oleh penghuninya yang turun di lampu merah perempatan Candi Prambanan. Gina bergerak memutuskan momen momen canggung diantara mereka berdua. Tak disangka, Indra juga mengikuti duduk di sebelah kursinya tersebut.


"Tidak kah kamu tahu ada wanita tua yang sedang berdiri di belakangmu?" tanya Gina kepada Indra, karena Indra ikut duduk di samping tempat duduk kosong di sebelah Gina.


Indra menjawab dengan mencondongkan tubuhnya di deket telinga Gina, "Tenang saja, Ibu itu akan turun setelah perempatan lampu merah ini."


Indra menegakkan kembali duduknya, dikeluarkan nya sebentar Blackberry dari tas yang sedari tadi di panggulnya. Sebentar kemudian, Indra sudah tenggelam dalam dunianya, membalas semua BBM (Blacberry Massager) yang sedari tadi masuk ke Blackberry nya.


cring...cring..cring..


Bunyi uang koin bergesekan di tangan kondektur bus. Berjalan dari depan menyisir penumpang untuk meminta uang ongkos bus. Diliriknya Gina yang masih asyik menikmati pemandangan diluar bus. Sawah masih terbentang luas di sepanjang jalan. Beberapa ada yang sudah dipanen, beberapa ada yang sudah dibajak, dan beberapa juga ada yang ditimbun, siap untuk didirikan bangunan. Disenggolnya Gina dengan lengan atasnya dan bertanya, "Kita turun di mana?" sembari memasukkan Blackberry ke dalam tas dan di dekap nya tas tersebut di depan dadanya.


"Pasar Kartasura," jawab Gina cuek, terusik lamunannya karena pertanyaan Indra barusan.


"Ongkos Mas," pinta kondektur bus tersebut telah sampai di tempat duduk mereka.


"Kartasura, Pak." jawab Indra sambil mengulurkan uang kertas biru lima puluh ribuan ke kondektur. Setelah kondektur memberi uang kembalian kepada Indra, "Terima kasih," ucapnya kepada kondektur yang dengan cuek kembali berjalan ke belakang mengumpulkan uang ongkos bus penumpang deretan belakang.


Indra menoleh kepada Gina lagi yang masih memandang keluar jendela bus. Tangan kirinya ditekuk ke jendela untuk menopang dagunya. Dilihatnya tatapan mata Gina nanar tidak fokus memandang obyek yang berada di luar jendela. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis ayu itu, sehingga termenung terdiam sendiri jauh masuk dalam alam pikirannya. Rambut panjang Gina yang dikucir kuda, berantakan tertiup angin dari jendela atas yang terbuka.


Ada sekelebat perasaan yang menelusup semakin dalam ke hati Indra. Perasaan yang membuat dadanya sesak dengan keinginan untuk merengkuh Gina dalam pelukannya, aman di sana selamanya. Perasaan yang juga meletup letup riang saat melihat Gina tersenyum dan bahagia. Serta perasaan yang sakit tatkala melihat Gina sedang sedih. Perasaan macam apa ini, batin Indra dalam hatinya. Kuat sekali emosi ini menguasai dirinya. Membuat dirinya gelagapan mencari pegangan karena dirinya terombang ambing di kuatnya arus perasaan baru yang menguasai hatinya ini.


Gina yang merasakan ada seseorang yang menatap dirinya, akhirnya menolehkan kepalanya melihat ke samping. Alangkah kagetnya Gina melihat paras Indra yang terdiam dengan ekspresi kaget dan tidak percaya. Gina melihat mata Indra bergetar seperti dawai gitar yang dipetik dan mengeluarkan dentingan nada. Gina melihat kedalaman kedua mata hitam pekat itu menetap dirinya dan kelebatan emosi di mata Indra membuat wajah Gina berubah menjadi merah merona. Gina merasakan panas merambat dari pipi ke telinganya dan turun menghangatkan hatinya.


Perasaan macam apa ini, tanya Gina di dalam hatinya. Tanpa Gina bisa cegah, kedua bola matanya juga bergetar saat tatapan Indra tidak juga lepas darinya.


Di dalam bus yang sekarang sudah longgar tersebut, Gina dan Indra merasakan hangatnya sisi tubuh mereka yang bersinggungan. Hangatnya paha mereka yang menempel bersisihan. Tangan kiri Indra menggenggam tangan kanan Gina.


Gina semakin merasakan hangatnya genggaman Indra di tangannya. Tangan Indra besar dan kuat, tangan nya bisa menggenggam tangan Gina utuh dalam genggamannya. Yang mereka lupa adalah bahwa dalam bus suasana saat itu tidak ada yang mengganggu mereka, dan kedekatan itu membuat dawai dawai hati Gina yang semula damai, sekarang berdenting memainkan lagu lembut. Dan yang memainkan dentingan itu dialah Indra. Laki-laki yang sejak awal sudah mengganggu dirinya.


"Poin... Poin.. Poin..." teriak kondektur kepada sopir. Teriakan kondektur tersebut memutus momen membingungkan diantara Gina dan Indra.


"Tidurlah kalau kamu capek," suara Indra bergetar aneh. Apa ini, kenapa suaraku bergetar? Apakah Gina mendengar getaran suaraku tadi, tanya Indra di dalam hatinya.


"Tidak," sahut suara Gina yang ternyata juga bergetar. Ada apa dengan suaraku? Mengapa lidahku jadi kelu? Gina tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya.


"Jangan membantah, perjalanan kita masih jauh. Sandarkan kepalamu di bahuku, biar tidurmu nyenyak," kata Indra, tangan kanannya menarik kepala Gina untuk bersandar di bahu kirinya.


Karena tidak berani mengeluarkan suara kembali, takut apabila suaranya masih bergetar seperti tadi, Gina hanya menganggukkan kepala dan menurut saja. "Untuk sementara ini, biarlah, aku akan mengikuti apa yang dia bilang. Masih lama untuk mencapai Solo," putus Gina dalam hatinya. Beberapa menit berlalu setelah Gina memutuskan untuk memejamkan matanya, akhirnya Gina terlelap juga terseret dalam dunia mimpi.


Di sisi lain, Indra laki-laki yang dengan spontan menarik kepala Gina ke atas pundaknya tersebut kembali merenungkan apa yang sedang terjadi pada dirinya beberapa saat lalu. Memang benar sejak awal dia berniat melindungi Gina dan merasa selalu ingin berdekatan dengan Gina. Ingin sekali dia menjahili Gina dan mengusik ketenangan gadis ayu itu. Tapi kini, setelah kilasan emosi dan kelebatan perasaan yang menyusup ke dalam hatinya tadi, keinginan tersebut menjadi semakin kuat. Dipalingkan kepalanya melihat Gina yang tertidur di pundaknya. Kepala Gina terangguk-angguk mengikuti gerakan bus yang sedang melaju. Dilepaskannya tangan Gina dan direngkuhnya Gina yang tertidur tersebut ke pelukannya.


"Hehehe, dasar makhluk keras kepala," Indra menjentik hidung Gina. Jari-jari Indra dekat sekali dengan bibir Gina yang merah alami, merekah dengan sempurna tatkala Gina tertidur. Lembut sekali bibirnya, sama rasanya sama lembutnya seperti ciuman ringan di perpustakaan kemarin dulu, ibu jari Indra mengusap bibir bawah Gina yang lembut dan hangat. Jiwa kelelakian Indra semakin bangkit dan Indra ingin sekali memagut bibir merah merekah itu dengan bibirnya sendiri. Di dongakkannya kepala Gina dengan tangan kanannya, ditatapnya wajah ayu yang terpejam itu dengan hati yang bungah karena dirinyalah yang pertama kali merasakan lembutnya bibir itu. Di dekatkannya kepalanya ke wajah Gina.


deg deg.. deg deg... deg deg...


Hati Indra bertalu-talu sangat kencang dan cepat. Saat hidungnya sudah bersentuhan dengan hidung mancung Gina, dan semakin mendekatkan bibirnya ke bibir Gina yang sedikit terbuka itu, tiba-tiba, "Grooook... grooook.. sssshhhh..." Indra tertegun, kemudian tawanya menyembur keluar saat menyadari suara itu adalah suara dengkuran Gina. Dan dengkuran tersebut berulang kembali saat Indra mengembalikan posisi kepala Gina dalam dekapan dadanya.. "Grooook... Grooook...." si empunya suara tidak mengetahui bahwa dirinyalah yang mengeluarkan suara dengkuran tersebut. Indra yang memahami betapa capeknya Gina beberapa hari terakhir, memaklumi hal itu. Di elusnya rambut panjang panjang Gina, dan diciumnya rambut panjang yang harum sampo tersebut. Indrapun mulai ikut memejamkan mata sekedar mengistirahatkan dirinya sekejap.


"Kandang Menjangan.. Kandang Menjangan.. poin. poin. poin..." teriakan kondektur mengagetkan Gina. Segera Gina membuka matanya, anehnya Gina merasakan senderan kepalanya sangat nyaman dan membuat dia tertidur lelap. Astaga, dia tertidur dalam dekapan Indra. Dengan bergegas Gina menegakkan duduknya, membuat Indra yang juga tertidur tadi terbangun.


"Ada apa?" tanya Indra kepada Gina yang tiba-tiba menjauh darinya.


"Sudah hampir sampai, sebaiknya kita bersiap-siap turun," jawab Gina yang sedang merapikan rambut dan bajunya.


Indra mengambil sapu tangan dari kantong celananya, dan mendekatkan tangan ke Gina. "Apa yang kamu lakukan?" protes Gina mengetahui Indra mendekatkan diri kepadanya lagi.


"Mau mengusap ilermu nona judes," jawab Indra dengan tersenyum.


Kaget dan malu, Gina langsung mengelap iler di pojokan bibirnya dengan punggung tangannya. "Nah, sudah," jawab Gina menutupi rasa malunya.


"Sebaiknya kita berdiri bersiap untuk turun," kata Gina sembari berdiri dan keluar dari kursi menuju ke pintu belakang bus. "Pasar Kartasura, kiri Pak," teriak Gina dari belakang. Kondektur bus yang berada di pintu depan segera mengetok-ngetokkan uang koinnya di pintu bus. "Kartasura.. Kartasura.. Kiri, dua orang.." teriak kondektur. Setelah bus menepi, kondektur yang berada di pintu bus tersebut turun dan lari ke pintu belakang, membantu Gina dan Indra turun dari bus kemudian dia naik kembali.


Bus sudah melaju meninggalkan mereka berdua di jalanan depan Pasar Kartasura yang masih ada beberapa pedangan menggelar lapaknya. Gina bergegas menyeberang jalan raya untuk masuk ke dalam pasar. Setelah sampai di depan pasar, langkah Gina menuju lapak seorang pedagang bunga tabur makam di pojok pasar.


"Mbah, beli bunganya limabelas ribu nggih," kata Gina sembari mengeluarkan uang untuk membeli bunganya. "Komplit, nduk?" tanya simbah pedagang.


"Ya Mbah, komplit," sahut Gina lagi dan kemudian menerima uluran keranjang bunga itu serta mengangsurkan uang kepada pedagang tersebut. Setelah dari pasar, Gina melangkah ke jalan samping pasar menunggu angkot datang. Indra dengan tenang mengikuti langkah-langkah santai Gina.


"Mengapa kita masuk kesini?" tanya Indra penasaran karena mereka berhenti di warung makan angkringan di pinggir jalan.


"Mengisi perut dulu. Apa kamu tidak lapar?" jawaban Gina tak acuh sembari duduk di bangku yang di sediakan di depan gerobak angkringan itu. Dengan begitu banyak nasi bungkus, gorengan dan sate-satean yang tersedia di hadapannya.



Selesai makan dan mengisi kembali tenaga, Gina dan Indra melanjutkan perjalanan ke arah barat. Mereka berjalan bersisihan menyusuri pinggiran jalan beraspal tersebut untuk mencapai tempat yang diinginkan.


"Makamnya masih jauh dari sini, nanti kita menunggu angkot hijau untuk bisa sampai di pinggiran makam," jelas Gina kepada Indra yang sedari tadi masih berdiam diri mengikutinya dengan patuh.


"Baik, tenang saja. Aku menikmati perjalanan ini. Belum pernah aku bepergian dengan angkutan umum yang sangat merakyat ini," Indra menjawab dengan tenang. Dia berjalan dengan tangan dimasukkan ke dalam kantong belakang celana jeans nya. Takut tangannya tidak mau menuruti kemauannya untuk menjauh dari Gina. Akhirnya mereka sampai pada titik tunggu angkot yang ingin di naikinya. Beruntunglah, angkot tersebut masih ngetem menunggu penumpang untuk bisa jalan. "Ayo langsung naik saja," ajak Gina. Mereka pun bergegas naik sambil menundukkan badan mencari tempat di dekat pintu angkot.


"Oke Mbak. Sudah agak penuh dengan Mbak dan pacarnya naik ini," kata pak sopir angkot. Tidak mau berdebat dengan sopir angkot, Gina membiarkan saja apa yang dipikirkan sopir angkot tersebut. Sebaliknya, Indra tersenyum mendengar sopir angkot menyebut dia sebagai pacar Gina.


........


Well you done done me and you bet I felt it


I tried to be chill but you're so hot that I melted


I fell right through the cracks


And now I'm trying to get back


Before the cool done run out


I'll be giving it my best-est


And nothing's going to stop me but divine intervention


I reckon it's again my turn


To win some or learn some


But I won't hesitate no more, no more


It cannot wait, I'm yours


Well open up your mind and see like me


Open up your plans and damn you're free


Look into your heart and you'll find love love love love


Listen to the music of the moment people dance and sing


We are just one big family


And it's our God-forsaken right to be loved loved loved loved loved


So I won't hesitate no more, no more


It cannot wait I'm sure


There's no need to complicate


Our time is short


This is our fate, I'm yours


I've been spending way too long checking my tongue in the mirror


And bending over backwards just to try to see it clearer


But my breath fogged up the glass


And so I drew a new face and I laughed


I guess what I been saying is there ain't no better reason


To rid yourself of vanity and just go with the seasons


It's what we aim to do


Our name is our virtue


But I won't hesitate no more, no more


It cannot wait I'm yours


Well open up your mind and see like me


Open up your plans and damn you're free


Look into your heart and you'll find the sky is yours


So please don't please don't please don't


There's no need to complicate


'Cause our time is short


This, oh this, this is our fate, I'm yours


...........


Waah, ternyata selera lagu sopir angkot tersebut mengikuti kesukaan saat ini. Jason Mraz dengan lagunya I'm Yours mengisi ruang dengar penumpang angkot tersebut meninggalkan senyuman tersungging di bibir masing-masing.


"Praci kiri, Pak," Gina mengetok jendela dengan uang koin nya. Diajaknya Indra turun di pintu makam, "Yuk, turun disini."


Berdua menyusuri jalan menuju makam Pracimaloyo di daerah Makamhaji. Menuju perempatan yang membagi makam menjadi empat bagian besar. Gina membelok ke deretan makam yang di sebelah timur, menyusuri jalan disebelah makam-makam lain. Sesampainya di bawah pohon kapuk, di tempat dua makam sederhana, Gina bersimpuh di tengah-tengahnya. Dibersihkannya kedua makam tersebut dari rumput-rumput yang tumbuh di atasnya. Indra pun membantu mencabutinya demi segera bersih makam-makam tersebut. Setelah bersih dari rerumputan, di taburkannya bunga yang tadi dibeli Gina di kedua makam tersebut.


"Pah, Ma, Gina datang menjenguk Papa dan Mama. Gina sudah selesai kok ujiannya. Jadi Papa dan Mama tenang saja, tidak usah khawatir Gina meninggalkan belajar Gina. Gina sudah janji kan kalau Gina akan rajin belajar," ucap Gina sambil mengelus papan nama yang terpasang di atas kedua makam tersebut. "Pah, Mah, Gina tadi pagi dapat kabar kalau Gina dapat beasiswa dari kampus. Semua biaya semester bisa Gina lunasi dan masih ada sisa untuk Gina mengerjakan tugas-tugas," lanjut Gina setelahnya.


"Sepertinya, ini juga berkat bantuan Om Baraka deh Pa," kata Gina menoleh ke makam Papa nya. "Terima kasih Pa, sudah memiliki teman dekat yang akhirnya menjadi penolong Gina di saat Gina mengalami kesusahan" air mata Gina mengalir keluar karena haru dan bahagia. Dirasakannya pundaknya di tepuk dan dielua oleh tangan hangat Indra.


"Oh iya, Om Baraka nitip salam, Om Baraka tidak bisa kesini bersama Gina, tapi mengirinkan pengawal untuk Gina." kata Gina lirih seakan berbisik di telinga Papanya. Dalam bayangannya, Papa dan Mama nya tersenyum lega mengetahui Gina sehat dan baik-baik saja.


"Sudah selesai, Gina?" tanya Indra menutus nostalgia Gina di makam orang tuanya. Gina menoleh ke Indra mendengar pertanyaan tersebut. "Sudah terlalu sore, ayo pulang." ajak Indra


Gina mengangguk membenarkan ucapan Indra."Pa, Ma, Gina kembali dulu ya. Besok-besok Gina kemari lagi menengok Papa dan Mama."


Berdua menyusuri kembali jalanan makam, kali ini kaki Gina mengarah ke jalanan menuju utara. Melewati jalan kampung warga menuju jalan Pabelan untuk menunggu bus yang akan membawanya kembali ke Jogja, kota dimana tempatnya tinggal sekarang. Gina merasakan genggaman tangan Indra menggandeng tangan kanannya.


........