
Besoknya Dara pun mulai melakukan apa yang Sasa sarankan, dia bangun lebih awal dan berolahraga sejenak, kebetulan di rumah mereka ada beberapa alat fitness milik Rendra, dia menggunakan alat itu dibantu oleh Sasa.
Setelah selesai berolahraga, Dara pun mandi lalu mengenakan kaos berwarna pink cerah dan celana jeans panjang. Dia memoles sedikit make up di wajah dan memakai bando mutiara, tak lupa juga dia menyemprotkan parfum beraroma vanilla ke seluruh tubuh.
"Gimana, Sa?" Dara berputar di hadapan Sasa.
"Perfect!" seru Sasa takjub, "Cantik banget, persis seperti Dara sewaktu masih gadis."
Dara pun tertawa senang, wanita itu benar-benar terlihat cantik hari ini.
Sebenarnya wajah Dara memang sudah ayu sejak lahir, tubuhnya juga lumayan bagus dengan kulit yang putih mulus. Tapi sejak menikah, Dara tak lagi memperhatikan penampilannya, dia berpikir Rendra tidak mempermasalahkan hal itu dan pasti menerima dia apa adanya, tapi ternyata Dara salah. Sang suami justru menjadikan itu alasan untuk dia mengabaikan dan menduakan Dara.
"Ya sudah, aku antar kamu ke toko kue, habis itu aku langsung pulang, soalnya ini kan weekend, aku mau ajak anakku jalan-jalan," ujar Sasa.
"Iya, Sa. Sebentar aku ambil tas dulu."
Setelah Dara mengambil tas, kedua wanita itu pun bergegas keluar dari kamar, namun ternyata Rendra sudah pulang. Karena ini akhir pekan, dia tidak ke kantor. Mereka berpapasan di anak tangga, Rendra menatap Dara dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Mas," tegur Sasa.
Rendra hanya tersenyum sekilas tanpa membalas teguran Sasa, dia kembali melirik Dara.
Tapi alih-alih menyapa sang istri, Rendra justru melewatinya begitu saja, dan dia sempat terlena saat menghirup aroma parfum dari tubuh Dara, namun dia tetap bersikap cuek.
Wajah Dara berubah sedih, dia tertunduk dan nyaris menangis.
"Sepertinya usaha kita tidak berhasil, semuanya sia-sia," ucap Dara lirih.
Sasa merangkul pundak sahabatnya itu, "Jangan menyerah! Ini baru awal, kita akan terus berusaha sampai suamimu tertarik lagi padamu."
Dara mengangguk. Keduanya pun melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga, lalu meninggalkan kediaman Rendra.
Sementara itu di dalam kamar, Rendra termenung, dia tak habis pikir kenapa Dara mendadak mulai berdandan lagi seperti dulu?
"Kenapa dia tiba-tiba bisa berubah begitu? Apa karena kata-kataku semalam? Atau dia sudah bertemu Riko dan jatuh cinta pada lelaki itu?" Rendra menebak-nebak.
"Ah, bodoh amat! Aku tidak peduli, pokoknya aku harus berpisah dari dia agar bisa segera menikahi Amel," lanjut Rendra.
Rendra pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar, sebenarnya dia malas pulang ke rumah dan masih ingin menghabiskan waktu di apartemen Amel, tapi kekasihnya itu menyuruhnya untuk pulang sebab orang tua Amel mau datang.
Rendra menghela napas, pikirannya masih dipenuhi bayang-bayang Dara, namun dia berusaha untuk mengabaikan semua itu dan memilih untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu.
***
Mobil Sasa tiba di depan toko kue Mirna.
"Mampir sebentar, Sa. Aku mau titip kue buat anakmu," ucap Dara ketika hendak keluar dari mobil Sasa.
"Eh, tidak usah! Lain kali saja, soalnya aku buru-buru."
"Ya sudah, deh. Terima kasih banyak, ya."
"Iya, sama-sama. Pokoknya kalau kamu butuh aku, segera hubungi, aku pasti datang."
"Kamu memang sahabat terbaikku, sekali lagi terima kasih, ya," balas Dara.
Sasa mengangguk sembari tersenyum.
Setelah Dara keluar dari mobilnya, Sasa pun melesat pergi. Dara melangkah masuk ke dalam toko, Mirna yang melihatnya tercengang.
"Kamu cantik sekali hari ini, tidak biasanya dandan kalau mau ke toko," goda Mirna takjub.
"Biar kelihatan lebih segar saja, Ma."
"Kamu diantar siapa? Kenapa bukan sama Rendra?" tanya Mirna.
"Aku diantar Sasa, Ma. Kebetulan tadi dia ke rumah, jadi sekalian saja," sahut Dara.
"Oh, ya sudah kalau begitu Mama ke belakang dulu."
Mirna kembali ke dapur setelah meletakkan kue di etalase toko, Dara hendak menyusulnya, tapi Riko tiba-tiba masuk ke dalam toko.
"Selamat pagi!" sapa Riko.
Dara sontak berbalik dan terkesiap saat tahu pelanggan itu adalah pria kemarin yang meninggalkan kembaliannya.
"Eh, ini Mas yang kemarin!"
Riko tertegun melihat Dara yang terlihat sangat cantik hari ini.
"Dia cantik sekali!" batin Riko sambil melamun.
"Kenapa kemarin Mas pergi begitu saja?" tanya Dara kemudian, membuat Riko tersentak dari lamunannya.
"Aku buru-buru," dalih Riko.
"Bukan, aku pesan brownies nya lagi," kata Riko.
"Oh, mau pesan lagi?"
Riko mengangguk, "Aku pesan dua."
"Baiklah, tunggu sebentar, Mas."
Dara segera menyiapkan pesanan Riko dengan cekatan, sedangkan pria itu hanya memperhatikannya sembari tersenyum penuh arti.
"Ini brownies nya, Mas." Dara menyodorkan sebuah plastik berisikan dua kotak brownies.
Riko kembali memberikan pecahan seratus ribu.
"Loh, banyak banget, Mas. Kan uang Mas masih ada di sini, jadi bayar sisanya saja lima puluh ribu."
"Tidak apa-apa. Yang kemarin buat kamu saja." Riko meninggalkan uangnya di meja kasir lalu mengambil plastik di hadapannya dan bergegas pergi.
"Loh, jangan begitu, Mas!" Dara tidak terima dan buru-buru hendak mengejar Riko, namun apes, kakinya tersandung meja lalu dia jatuh tersungkur.
Riko sontak berbalik dan berlari menghampiri Dara, "Kamu tidak apa-apa?"
"Aduh, kakiku sakit sekali," Dara merintih sakit.
Mirna yang mendengar ada suara gaduh juga berlari dengan tergopoh-gopoh, dia terkejut melihat Dara sudah duduk di lantai.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Mirna cemas.
"Aku terjatuh gara-gara tersandung meja, Ma," adu Dara.
"Ya ampun, kamu hati-hati, dong."
"Ini salahku, Bu. Tadi dia mengejar ku untuk mengembalikan uangku, padahal aku sudah bilang itu untuknya saja." Riko menjelaskan.
"Maaf, aku tidak bisa menerima ini," sahut Dara, lalu memberikan uang lima puluh ribu yang dia pegang kepada Riko, dia sedikit kesal dan juga malu.
Riko termangu menatap uang itu, karena tak ingin memperpanjang masalah dia pun mengalah dan terpaksa mengambil uangnya kembali.
Dara berusaha bangkit, tapi kaki kirinya terasa sakit sekali. Dia pun kembali terduduk di lantai dan memegangi kaki kirinya.
"Aw, sakit sekali!"
"Sepertinya kaki kamu keseleo ini, harus segera dibawa ke tukang urut." Mirna memeriksa pergelangan kaki kiri Dara.
"Tapi bagaimana caranya aku ke tukang urut, Ma? Berdiri saja rasanya sakit sekali," rengek Dara sambil menahan sakit.
"Biar aku bantu antar kan ke tukang urut, aku tahu dimana tukang urut yang bagus di daerah sini," sela Riko.
"Eh, tidak usah, Mas!" tolak Dara.
"Jangan khawatir, aku bukan orang jahat, kok. Tenang saja!"
"Bukan itu maksudku," sanggah Dara.
"Sebaiknya tukang urut nya saja yang dipanggil ke sini," cetus Mirna menengahi.
"Baiklah, begitu juga boleh." Riko langsung menggendong Dara tanpa permisi, membuat Dara dan Mirna tercengang dengan aksinya.
"Hei, apa yang Mas lakukan? Turunkan aku!" Dara berusaha memberontak.
"Memindahkan kamu ke tempat yang lebih nyaman." Riko lantas mendudukkan Dara di sebuah kursi, lalu menyanggah kaki kiri wanita itu dengan kursi satunya lagi. Dia benar-benar perhatian dan peduli.
"Aku panggil tukang urut nya dulu." Riko bergegas pergi.
Mirna dan Dara mengangguk bersamaan.
"Dia baik banget, ya? Di zaman seperti ini, ternyata masih ada orang yang peduli dengan orang lain, padahal tidak saling kenal," ujar Mirna kagum dengan perhatian dan kepedulian Riko.
"Mungkin dia hanya merasa bersalah saja, Ma. Karena aku terjatuh gara-gara ingin mengejar dia," sambung Dara sambil dia menahan denyut di kakinya.
"Ya sudah, kalau begitu Mama kabari Rendra dulu, biar dia jemput kamu."
"Kalau aku pulang, siapa yang bantu Mama di sini?"
"Mama bisa minta tolong Yanti buat bantu-bantu di toko selama kamu tidak ada."
"Baiklah, Ma. Maaf, aku jadi merepotkan semua orang," sesal Dara.
"Tidak apa-apa, Nak."
Mirna segera menghubungi Rendra, namun tak ada jawaban sama sekali. Wanita itu pun akhirnya mengirimkan pesan pada sang putra dan mengatakan apa yang terjadi pada Dara.
***