Unwanted Wife

Unwanted Wife
Episode 22.



Riko dan Dara tiba di depan rumah Sasa, wanita cantik itu segera turun dari motor Riko.


"Jadi ini rumah baru kamu?"


Dara tergagap dan mendadak gugup, dia kemudian mengangguk dengan ragu, "I-iya, Mas."


"Kenapa kamu pindah?"


"Oh, itu karena ada sedikit masalah. Jadi aku terpaksa pindah ke sini untuk sementara," sahut Dara.


Riko mengernyitkan keningnya, "Sementara?"


"Iya, Mas."


Tin ....


Dara dan Riko terperanjat kaget saat Sasa membunyikan klakson mobilnya, kedua insan itu sontak menoleh ke arah Sasa yang tertawa dibalik kemudi. Sasa lalu membuka kaca jendela mobil dan menyembulkan kepalanya.


"Ngapain berdiri disitu? Kenapa tidak masuk saja?" tanya Sasa.


"Aku baru saja sampai, Sa," sahut Dara.


"Iya, Mbak. Ini juga aku sudah mau pulang." Riko menimpali.


"Kok buru-buru banget? Masuk dulu lah, kita ngobrol-ngobrol di dalam," ajak Sasa sambil melirik Dara yang memelototinya, tapi wanita itu cuek saja.


"Tidak usah, Mbak. Aku pulang saja," ujar Riko, lalu beralih menatap Dara, "Aku pamit!"


Dara mengangguk, "Iya, terima kasih, ya, Mas. Hati-hati."


Riko buru-buru naik dan menyalakan mesin sepeda motornya.


"Aku permisi, Mbak," tegur Riko saat melewati mobil Sasa.


"Iya, Mas. Hati-hati!" balas Sasa.


Dara dan Sasa pun kemudian masuk ke dalam rumah.


Sasa membanting dirinya di atas sofa, sementara Dara berjalan ke dapur dan mengambil air minum.


"Itu kurir Helena Bakery yang waktu itu, kan?" tanya Sasa tiba-tiba.


Dara yang sedang minum hanya berdeham, "Hem."


"Sepertinya dia suka sama kamu, Ra."


"Uhuk ... uhuk ...." Dara langsung terbatuk-batuk.


Sasa mendadak panik, "Kamu kenapa, Ra? Minumnya pelan-pelan, dong!"


"Aku tersedak gara-gara kamu," keluh Dara saat batuknya sudah berkurang.


"Kok gara-gara aku, sih?"


"Barusan kamu ngomong apa?" sungut Dara.


"Oh, yang tadi? Iya, sepertinya dia suka sama kamu, deh." Sasa mengulang kata-katanya.


"Ngaco kamu! Dia tahu aku ini istri orang, mana mungkin dia suka sama aku," bantah Dara.


"Eh, siapa bilang? Sekarang banyak kok lelaki lajang yang doyan sama istri orang, malah banyak yang sudah jadi pebinor."


"Dara, dari cara dia memandang kamu saja, aku bisa melihat ada cinta di dalam matanya. Masa kamu tidak merasakannya, sih?" ujar Sasa.


"Tidak ada! Kamu saja yang salah mengartikan," bantah Dara.


"Terus kalau dia tidak cinta, buat apa coba dia perhatian dan nganterin kamu pulang?" tanya Sasa, selama ini Dara selalu cerita semua tentang Riko padanya.


"Dia cuma mau tahu tempat tinggal aku yang baru, tadinya sih aku menolak diantar pulang, tapi dia memaksa," beber Dara.


"Jadi dia sudah tahu kamu diceraikan oleh suamimu?"


Dara menggeleng, "Tidak, aku tidak ingin cerita padanya."


"Lalu dia tidak bertanya kenapa kamu tinggal di sini?"


"Aku cuma bilang, aku pindah rumah karena ada sedikit masalah dan dia tidak bertanya apa-apa lagi."


"Mama!" Daren tiba-tiba berlari turun dari tangga dan langsung memeluk Sasa, membuat obrolan kedua wanita itu terputus.


"Eh, anak Mama baru selesai mandi, ya?"


Daren mengangguk, "Iya, Ma. Aku sudah wangi, loh."


"Mana, sini coba Mama cium!" Sasa menciumi pipi tembem putra semata wayangnya itu dengan gemas.


Daren tertawa-tawa menahan geli, "Mama sudah! Geli, Ma."


Dara hanya memandangi ibu dan anak itu sembari tersenyum lirih, dia sangat berharap bisa memiliki buah hati bersama Rendra dan merasakan kebahagiaan menjadi Ibu dari anak-anak lelaki itu. Tapi kini harapan itu pupus di tengah jalan, tanpa sadar air matanya jatuh menetes, namun buru-buru dia usap sebelum Sasa melihatnya.


"Sudah, sekarang Mama mau mandi dulu." Sasa berhenti menciumi sang putra.


"Ish, Mama! Bedak aku jadi hilang, deh!" gerutu Daren dengan wajah cemberut.


"Pakai lagi sana!"


Daren langsung berlari kembali ke kamarnya.


Sasa menatap Dara, "Aku ke kamar dulu, ya, Ra."


"Iya, aku juga mau ke kamar."


Kedua wanita itu beranjak dan masuk ke kamar masing-masing.


Di dalam kamar, ponsel Dara berdering, satu pesan masuk dari Riko.


"BESOK PAGI AKU JEMPUT, YA?"


Dara membalas pesan itu.


"TIDAK USAH, MAS. AKU NAIK TAKSI SAJA."


"OKE, BAIKLAH."


Dara mengembuskan napas lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dia kembali terbayang wajah Rendra.


"Sedang apa kamu sekarang, Mas? Aku merindukanmu," ucap Dara lirih, lagi-lagi cairan bening berhasil lolos dari matanya.


***