
Rendra sedang duduk di kursi, sedangkan Amel berada di atas pangkuannya sembari memainkan dasi yang terpasang di leher lelaki itu.
"Sayang, kapan kita bisa menikah?" tanya Amel manja.
"Kamu sabar, ya! Begitu aku resmi bercerai, kita pasti akan secepatnya menikah," sahut Rendra.
"Aku sudah tidak sabar, bagaimana kalau kita nikah siri dulu?"
"Kamu mau nikah siri dulu?" Rendra memastikan.
"Terpaksa, deh! Habis kamu lama banget cerainya!" gerutu Amel dengan wajah cemberut.
"Ya sudah, kalau kamu tidak keberatan, nikah akan nikah siri dulu."
"Serius, Sayang?"
Rendra mengangguk, "Kamu atur saja kapan dan di mana kita akan melaksanakannya! Sekalian nanti bilang kamu mau maharnya apa?"
Amel tertawa senang, "Iya, sayang. Nanti aku pikir dulu mau maharnya apa, sekalian aku cari waktu dan tempat yang cocok."
"Oh iya, besok aku mau ketemu klien di Bandung, kamu mau ikut?"
Amel menggeleng, "Tidak, ah! Besok aku ada janji dengan teman."
"Ya sudah, aku pergi sendiri saja. Lagian lusa juga aku sudah pulang, kok."
Amel lalu memeluk leher Rendra, "Kamu hati-hati, ya. Jangan nakal, loh!"
Rendra mengecup bibir Amel, "Iya, sayang. Kamu jangan takut, aku tidak akan nakal, kok."
Keduanya kemudian berciuman dengan begitu mesra, tak peduli jika mereka sedang berada di kantor.
***
Dara bergegas keluar dari toko Helena Bakery saat pekerjaannya sudah selesai, sementara sejak tadi pagi, dia tak menemukan keberadaan Riko, lelaki itu jarang sekali terlihat ada di toko.
Dara berdiri menunggu taksi di depan toko tempat dia bekerja, di saat kebetulan mobil Rendra lewat di hadapannya.
"Mas Rendra?" gumam Dara saat melihat mobil Pajero sport hitam yang sangat dia kenali itu.
Dari dalam mobil, Rendra juga melirik Dara, dia bisa melihat wajah cantik Dara yang menoleh ke arah mobilnya dan dia sedikit merasa lega sebab wanita itu terlihat baik-baik saja.
Namun Rendra melewati Dara begitu saja, dia sama sekali tak menyapa wanita itu atau bahkan sekedar membunyikan klakson.
Wajah Dara berubah sendu, dia tak menyangka Rendra akan bersikap seolah tak mengenal dirinya.
"Kenapa kau seperti ini, Mas? Apa separah itu diriku sampai kau mencampakkan aku dan tak ingin mengenalku lagi?" batin Dara pilu, air matanya seketika jatuh namun buru-buru dia usap sebelum ada yang melihatnya.
Tak berapa lama sebuah taksi datang dan berhenti di depan Dara, dengan perasaan yang masih bersedih, dia lalu masuk dan meminta pak supir jalan.
***
Malamnya Sasa sedang mengajari Daren mengerjakan tugas sekolahnya, sementara Dara tengah membantu Mbok Narsih menyiapkan makan malam.
Tiba-tiba pintu rumah Sasa diketuk dari luar, membuat perhatian Sasa dan Daren tertuju ke arah suara.
"Siapa yang datang, ya?" Sasa beranjak lalu membukakan pintu.
"Selamat malam."
Sasa terkesiap melihat Riko sudah berdiri di depan rumahnya, kedua tangan pria itu dipenuhi bungkusan.
"Selamat malam," balas Sasa.
"Dara nya ada, Mbak?" tanya Riko sambil tersenyum manis.
"Oh, ada-ada! Kalau begitu silakan masuk! Sebentar aku panggilkan Dara dulu."
Riko mengangguk lalu melangkah masuk dan duduk di samping Daren.
"Hai, anak manis. Kamu sedang apa?" sapa Riko ramah.
"Aku sedang mengerjakan tugas, Om," jawab Daren.
"Ra, dia datang!" seru Sasa.
Dara mengernyitkan keningnya, "Dia siapa?"
"Cowok yang kemarin mengantarkan kamu pulang," sahut Sasa.
Dara tercengang, "Haa? Kamu serius?"
Sasa mengangguk, "Iya! Itu sekarang dia ada di depan."
"Astaga, itu orang nekat banget, sih!"
"Sudah sana temuin!" pinta Sasa.
"Tapi aku sedang membantu Mbok Narsih."
"Biar aku saja yang membantu Mbok Narsih."
Dara menghela napas, "Baiklah, aku ke depan dulu."
Dara meninggalkan dapur dan berjalan ke ruang tamu, dia sungguh terkejut dengan kehadiran Riko.
"Hai, Dara," Riko menyapa Dara dengan senyum mengembang.
"Mas Riko kenapa datang tidak bilang-bilang dulu, sih!" protes Dara.
"Tadi pagi kan aku sudah bilang."
"Iya, tapi aku kan belum menyetujuinya."
"Aku tahu kamu pasti setuju," ujar Riko penuh percaya diri, lalu mengalihkan pembicaraan, "oh iya, suami kamu mana?"
Dara termangu dan mendadak gugup.
"Hem, di-dia sedang keluar, ada urusan sebentar," dalih Dara.
"Oh, sayang sekali. Padahal aku ingin berkenalan dengannya."
Dara hanya bergeming, dia tak membalas ucapan Riko.
"Eh, hampir lupa. Ini aku bawakan makanan." Riko menyodorkan kantung plastik yang dia bawa tadi.
"Banyak banget, Mas?"
"Aku tidak tahu makanan kesukaan kamu apa, jadi aku beli saja itu."
"Kenapa repot-repot, Mas? Aku jadi tidak enak kalau begini," ucap Dara sungkan.
"Tidak apa-apa, aku kan memang mau traktir kamu," sahut Riko.
"Ya sudah, aku bawa ke belakang dulu. Nanti kita makan sama-sama."
Riko mengangguk.
Dara beranjak dan membawa semua bungkusan itu ke dapur.
"Banyak sekali?" Sasa terkejut melihat bungkusan yang Dara bawa.
"Mas Riko yang beli."
Kedua wanita itu pun membongkar semua kantung plastik itu dan lagi-lagi terkesiap melihat isinya.
"Ini semua kan makanan kesukaan kamu, Ra! Ada ayam madu, martabak coklat keju, steak daging saus barbeque, dan kepiting saus Padang juga. Wah, dia bisa tahu semuanya, ya!"
Dara juga tak habis pikir, bukankah tadi Riko bilang tidak tahu makanan kesukaannya tapi justru yang lelaki itu beli semua kesukaan Dara. Apa ini hanya kebetulan?
Namun mendadak Dara teringat pada Rendra, suaminya itu juga tahu semua makanan kesukaannya ini.
***