
Hari berganti malam, Mirna sudah dikebumikan dan para kerabat serta pelayat juga sudah pulang. Tinggallah Sasa dan Amel yang masih setia menemani pasangan suami istri itu.
"Ra, sebaiknya kamu istirahat di kamar. Kamu kelihatan lelah banget," pinta Sasa.
"Iya, Sa." Dengan perlahan Dara bangkit dari duduknya dibantu oleh Sasa yang memegangi nya, sementara Rendra dan Amel hanya menonton saja.
Baru beberapa langkah berjalan, kepala Dara terasa berputar dan pandangannya seketika gelap, dia pun jatuh tak sadarkan diri.
Sasa mendadak panik, "Ra, bangun! Kamu kenapa?"
Rendra yang melihat Data pingsan segera mendekati istrinya itu.
"Mas tolong bawa Dara ke kamar, biar aku ambil minyak angin!"
Tanpa bicara apa pun Rendra menggendong Dara dan membawanya ke kamar.
Amel merasa kesal dan dia memutuskan untuk mengikuti Rendra dan Dara ke kamar, tapi Sasa menahannya.
"Kamu mau ke mana?" tegur Sasa.
"A-aku mau menyusul Pak Rendra dan Bu Dara ke kamar," jawab Amel gugup.
"Tidak usah! Sebaiknya kamu pulang saja," ujar Sasa.
Amel mengangguk lalu bergegas meninggalkan kediaman Rendra dengan wajah masam.
"Berengsek! Berani sekali dia menyuruhku pergi. Belum tahu apa dia kalau aku ini calon istrinya Rendra?" sungut Amel kesal saat berada di luar rumah Rendra.
Di dalam kamar, Rendra membaringkan Dara di atas ranjang. Sejenak dia memandangi wajah pucat dan sembab istrinya itu.
"Ini minyak anginnya, Mas." Sasa tiba-tiba datang mengangetkan Rendra dan memberikan sebotol minyak angin.
Rendra mendekatkan minyak angin itu ke hidung Dara, dengan perlahan kesadaran wanita itu mulai kembali dan dia membuka mata.
"Mas," ucap Dara saat melihat Rendra ada di hadapannya.
"Istirahat lah, aku mau mandi dulu." Rendra langsung beranjak dari sisi Dara dan melenggang masuk ke dalam kamar mandi.
Wajah Dara semakin sendu melihat sikap Rendra yang kembali dingin dan cuek padanya. Sasa sungguh merasa kasihan pada sahabatnya itu.
"Sudah, tidak usah dipikirkan! Sekarang kamu istirahat," pinta Sasa.
"Sa, aku merindukan Mama." Dara kembali menangis.
Sasa langsung memeluk sahabatnya itu, "Ra, ikhlas! Tante Mirna sudah tenang di sisi Tuhan. Kamu jangan berlarut-larut dalam kesedihan, nanti kamu bisa sakit."
"Tapi aku belum bisa ikhlas, Sa."
"Kamu harus bisa! Kalau Tante Mirna bisa lihat kamu sekarang, dia pasti sedih karena kamu seperti ini," ucap Sasa seraya mengusap air matanya.
Dara semakin menangis sesenggukan.
"Dara, kamu yang kuat, ya!" Sasa semakin mengeratkan pelukannya.
Kedua wanita itu menumpahkan kesedihannya sambil berpelukan.
Dari dalam kamar mandi, Rendra yang sengaja menguping pembicaraan mereka juga tak kuasa menahan tangis, dia pun merasa sedih dan kehilangan ibundanya itu.
"Mama, aku sayang Mama. Maafkan aku," bisik Rendra sambil menyeka air matanya.
***
Sasa yang selalu setia menemani Dara, seperti saat ini dia datang untuk menghibur sang sahabat sambil membawakan makanan kesukaan sahabatnya itu.
"Makan dulu, Ra. Ini aku bawakan ayam madu kesukaan kamu." Sasa menyodorkan seporsi nasi beserta ayam madu yang dia beli tadi.
"Aku tidak berselera, Sa," tolak Dara, dia masih berduka.
"Ayolah, Ra! Aku sudah belikan ayam madu kesukaan kamu, aku bela-belain ngantri demi sahabat aku ini," bujuk Sasa.
"Iya, nanti aku makan."
"Sekarang, dong! Jangan nanti!" desak Sasa memaksa.
Dara mengembuskan napas pasrah dan akhirnya menuruti paksaan Sasa itu.
"Baiklah, tapi kamu juga ikut makan, ya?"
"Iya, deh."
Dara dan Sasa pun makan bersama, sesekali Sasa melemparkan candaan untuk menghibur sahabatnya itu.
Sementara itu di kantor, Rendra sedang fokus memeriksa berkas-berkas di hadapannya, akibat beberapa hari tidak masuk kerja, banyak pekerjaan yang terbengkalai.
Amel yang merupakan sekretaris Rendra menemani atasan sekaligus kekasihnya itu, dia duduk di atas meja kerja Rendra sambil memainkan pena.
"Sayang," tegur Amel manja.
"Hem, ada apa?" Rendra bertanya tanpa memandang Amel, dia masih fokus pada berkas di depannya.
"Mama kamu kan sudah meninggal, itu berarti sudah tidak ada penghalang lagi, jadi kapan kamu akan menceraikan istrimu itu?"
Rendra sontak menatap Amel, "Mel, Mamaku baru saja meninggal dan aku masih berduka. Apa tidak bisa membahas masalah ini nanti?"
"Aku kan hanya bertanya, Ren. Kenapa kamu marah?"
"Aku kesal, Mel! Seolah-seolah kamu tidak prihatin dan ikut merasakan duka ku, kamu juga tidak terlihat sedih sama sekali."
Amel terkesiap, dia tak menyangka Rendra memperhatikan sikapnya selama ini.
"Siapa bilang aku tidak ikut merasakan duka mu? Aku juga sedih atas apa yang menimpa Mamamu, tapi aku tidak lebay seperti istrimu itu. Paling juga dia mau cari simpati kamu dan orang-orang."
"Dara bukan lebay, dia seperti itu karena dia memang menyayangi Mamaku, begitu juga sebaliknya. Jadi wajar kalau dia sangat terpukul dan kehilangan," bantah Rendra, dia memang tahu Dara dan Mirna saling menyayangi satu sama lain.
"Oh, jadi sekarang kamu belain dia? Tidak terima kalau dia dikatain? Sanjung saja terus istri murahan mu itu!"
"Amel cukup!" bentak Rendra.
"Kenapa kamu marah? Kamu tidak lihat dia mau-maunya saja dipeluk oleh Riko saat kejadian kebakaran itu? Kalau bukan murahan jadi apa namanya?"
Rendra terdiam, dia bisa mengingat dengan jelas saat Riko memeluk Dara waktu itu. Tapi dia tidak marah, karena memang itu tujuannya, membuat sang istri dekat dengan pria penggoda yang dia utus.
"Sudahlah, Mel. Aku sedang banyak pekerjaan, sebaiknya kamu keluar dari sini!" Rendra tak mau memperpanjang masalah.
Amel yang kesal pun bergegas keluar dari ruangan Rendra dengan wajah masam.
Rendra mengembuskan napas berat, dia berusaha meredam amarah yang sempat terpancing karena ucapan Amel tadi.
***