
Pagi ini Riko menunggu di depan kediaman Rendra, dia sedikit heran sebab tidak melihat Dara.
Riko celingukan, "Biasanya jam segini dia pasti sudah keluar dan menunggu taksi, apa dia tidak bekerja hari ini?"
"Ah, sudahlah! Aku ke toko saja." Riko menghidupkan mesin motornya lalu meninggalkan rumah Rendra.
Tak berapa lama, Riko tiba di Helena Bakery, dia melangkah masuk dengan tidak bersemangat.
"Selamat pagi, Mas Riko," sapa Kiki dan Momo bersamaan.
"Pagi, duo racun," balas Riko.
"Enak saja kita dipanggil duo racun," protes Kiki tak terima.
"Iya nih, Mas Riko!" sambung Momo.
Riko tak menggubris ocehan dua karyawan toko yang paling fenomenal itu, dia membawa langkahnya menuju dapur untuk memastikan apakah seseorang yang dia cari ada atau tidak.
Senyum Riko seketika merekah ketika melihat Dara sedang menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kue, dia pun bergegas menghampiri wanita itu.
"Aku pikir hari ini kamu tidak masuk kerja," ujar Riko.
Dara yang terkejut mendengar suara Riko sontak berbalik menghadap pria itu yang sudah berdiri di belakangnya.
"Eh, Mas Riko!"
Riko terkesiap melihat mata Dara yang sembab, mendadak hatinya diliput keresahan.
"Kamu kenapa?"
Dara memaksakan senyuman sembari menggeleng, "Tidak apa-apa, Mas."
"Lalu kenapa matamu seperti habis menangis?" Riko menunjuk mata Dara.
"Aku cuma kurang tidur saja semalam, Mas," sanggah Dara.
"Apa kamu ada masalah?" tanya Riko penasaran.
"Iya."
"Masalah apa? Cerita padaku! Siapa tahu aku bisa bantu."
Dara kembali tersenyum, "Masalah keluarga, dan maaf aku tidak bisa cerita." Dara tak ingin membuka aib rumah tangganya pada orang lain.
Riko terdiam, dia tak ingin memaksa Dara untuk cerita tapi hatinya mulai menerka-nerka apa yang terjadi.
"Aku rasa sebaiknya kamu izin pulang saja dan istirahat di rumah, kamu terlihat kacau dan pucat hari ini."
"Tidak usah, Mas. Aku tidak apa-apa, kok," tolak Dara.
"Kamu yakin?"
Dara mengangguk, "Iya, Mas."
"Ya sudah, kalau kamu butuh apa-apa, bilang saja padaku!"
"Baik, Mas."
"Aku keluar dulu."
Riko meninggalkan Dara di dapur, lalu masuk ke ruangan karyawan dan duduk di salah satu kursi. Dia masih gelisah memikirkan Dara.
"Aku yakin pasti sudah terjadi sesuatu antara dia dan suaminya," tebak Riko.
Dia kemudian mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Rendra.
"APA KAU SUDAH MENCERAIKAN DARA?"
"IYA, DIA JUGA SUDAH KELUAR DARI RUMAHKU."
"MEMANGNYA KENAPA?"
Riko tak membalas pesan itu lagi, dia mengembuskan napas berat, hatinya merasa iba dan prihatin terhadap Dara.
"Dasar pria berengsek! Kau pasti akan menyesali keputusanmu ini," gerutu Riko.
***
Sorenya Dara tengah bersiap untuk pulang, meskipun sedang sedih dan terluka tapi dia tetap bersemangat menjalani pekerjaannya.
"Yuk, aku antar!" ajak Riko.
"Loh, kan Mas Riko belum boleh pulang?"
Jam pulang Dara memang lebih cepat daripada Riko dan karyawan lain.
"Siapa bilang? Aku bisa pulang kapan pun aku mau," sahut Riko sombong.
"Tapi nanti Mas bisa dimarahi oleh Bu Helena," Dara mengingatkan.
"Dia tidak akan marah, kamu tenang saja!"
Dara bergeming, dia mendadak bingung dengan tingkah Riko.
"Kenapa bengong? Yuk, aku antar pulang!" tegur Riko.
"Eh, tidak usah, Mas. Aku pulang sendiri saja," tolak Dara.
"Kita kan searah, ayolah!" desak Riko, dia sengaja memancing Dara.
"Aku sudah tidak tinggal di sana lagi, Mas."
Riko pura-pura terkejut, "Jadi kamu sudah pindah? Pantas tadi aku jemput, kamu tidak ada."
Dara hanya tersenyum menanggapi perkataan Riko itu.
"Memangnya kamu pindah ke mana?" tanya Riko.
"Di jalan mahoni, Mas," jawab Dara.
"Oh, masih dekat, kok. Ya sudah, mari aku antar! Sekalian biar aku tahu rumah baru kamu."
"Tidak usah, Mas! Aku pulang sendiri saja!"
"Jangan menolak, dong! Entar aku ngambek, loh!" Riko pura-pura merajuk.
"Tapi, Mas ...."
"Sudah, ayolah. Aku cuma mau tahu rumah kamu yang baru!" Tanpa permisi Riko langsung menarik Dara ke parkiran.
"Mas Riko, jangan tarik-tarik!"
Riko berhenti lalu melepaskan tangan Dara, "Habis kamu susah banget diajakin!"
"Iya, deh, iya."
"Nah, dari tadi gitukan enak! Aku jadi tidak perlu capek-capek memaksa dan tarik-tarik kamu."
Keduanya pun melanjutkan langkah menuju sepeda motor Riko yang terparkir di depan toko Helena Bakery.
Dari dalam toko, Helena yang sejak tadi memperhatikan tingkah Riko hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Dia sudah mengetahui semuanya dari Riko, dan mengizinkan pria itu untuk pulang lebih awal demi bisa mengantarkan Dara.
***