
Dara berlari keluar dari ruang perawatan Rendra sambil menangis pilu, kini hatinya benar-benar hancur tak bersisa.
Riko mengejar Dara dan menarik lengan wanita itu, "Dara, tunggu!"
Dara terpaksa berhenti dan tertunduk, dia malu pada Riko karena kejadian tadi, pasti saat ini lelaki itu berpikiran macam-macam.
"Maaf, Mas harus melihat kejadian tadi," ucap Dara lirih.
"Tidak apa-apa."
Dara semakin terisak-isak, dia tak bisa menutupi kepedihan dan kesedihan yang saat ini tengah dia rasakan. Riko sungguh merasa iba melihatnya.
"Sekarang kamu mau ke mana?" tanya Riko.
"Aku mau pulang saja, Mas," jawab Dara sembari menyeka air matanya.
"Baiklah, kalau begitu aku antar."
Dara mengangguk.
"Yuk!" Riko mengajak Dara meninggalkan rumah sakit itu.
Tanpa mereka sadari, Amel yang hendak memanggil dokter memperhatikan mereka dari jauh.
Di sepanjang jalan, Dara tak berhenti menangis, dia tak peduli beberapa orang yang berpapasan dengannya melihat dengan tatapan aneh.
Riko sesekali melirik Dara dari balik kaca spion, hatinya lagi-lagi merasa sakit melihat wanita itu menangis dengan begitu sedih. Namun sebuah ide mendadak muncul di pikirannya.
Riko lantas menepikan sepeda motornya di depan sebuah mini market, Dara buru-buru mengusap air matanya.
"Kenapa berhenti di sini, Mas?" tanya Dara bingung.
"Ada yang mau aku beli, tunggu sebentar di sini!" Riko bergegas turun dan berlari masuk ke dalam mini market tersebut.
Dara bergeming menunggu Riko, meskipun masih merasa sedih, tapi berusaha membendung air matanya.
Tak berapa lama, Riko keluar sambil menenteng sebuah kantung plastik putih, dia mendekati Dara lalu mengeluarkan sebuah es krim rasa coklat.
"Ini untuk kamu."
Dara memandang es krim berbentuk corong itu, "Ice cream?"
"Iya, biasanya anak-anak panti kalau lagi sedih pasti ceria lagi kalau dikasih ini," terang Riko sambil tersenyum manis.
Dara menatap Riko dengan haru, lelaki di hadapannya ini begitu peduli dan perhatian padanya, Riko selalu punya cara untuk menghiburnya.
"Lagian coklat itu dipercaya dapat menenangkan perasaan dan memperbaiki mood yang rusak," lanjut Riko.
Dara menerima es krim itu, "Terima kasih, Mas."
"Kita makan di sana, yuk!" Riko menunjuk bangku panjang di depan mini market.
"Setelah ini baru aku antar kamu pulang," lanjut Riko lagi.
Dara menikmati es krim itu dengan perlahan, dia sudah lebih tenang walaupun masih merasakan kesedihan dan rasa sakit yang teramat sangat.
"Jadi suami kamu selingkuh?" tanya Riko tiba-tiba.
Dara berhenti menjilati es krimnya dan termangu, tapi akhirnya dia menjawab pertanyaan Riko itu.
"Iya, Mas. Dia bahkan sudah menggugat cerai aku," sahut Dara dengan suara bergetar, hatinya semakin terasa sakit kala mengingat hal itu.
"Jadi ini alasan kamu tidak tinggal lagi di rumahnya?" tebak Riko, dia pura-pura bertanya meskipun sudah tahu semuanya.
Dara mengangguk dengan kepala tertunduk.
"Dari awal aku sudah menduga ada yang tidak beres dengan rumah tanggamu."
Dara sontak menatap Riko, "Kenapa Mas Riko bisa menduga seperti itu?"
"Aku beberapa kali masih melihat suamimu keluar dari rumah kalian, sementara kamu bilang kalian tinggal di rumah Sasa," dalih Riko, dia sengaja berbohong pada Dara.
Kepala Dara kembali tertunduk, dia malu sebab ketahuan berdusta, "Maaf, aku sudah membohongi Mas."
"Tidak apa-apa. Itu hak mu untuk menyimpan aib dan masalah keluarga dari orang asing sepertiku."
Dara bergeming dan tak membalas kata-kata Riko.
"Jadi sejak kapan kamu tahu suamimu selingkuh?" Riko memancing Dara, dia penasaran dari mana wanita itu tahu tentang hubungan Rendra dan Amel.
"Ketika dia menggugat cerai aku, dia mengatakan jika dia mencintai wanita lain. Tapi saat itu aku masih berharap dia bohong, sampai tadi aku membaca semua isi pesannya dengan sekretarisnya itu. Ternyata selama ini mereka bermain di belakangku." Dara kembali menangis, membuat beberapa orang yang lewat memperhatikan mereka.
Riko merasa prihatin, dia mengangkat tangannya lalu menghapus air mata di pipi Dara, "Jangan menangis! Air matamu ini terlalu berharga jika kamu buang sia-sia, apalagi karena pria brengsek seperti suamimu itu."
"Aku terluka dan sakit hati, Mas. Aku begitu mencintainya, tapi ini yang dia lakukan padaku," sambung Dara.
"Dara, percayalah! Ini pasti yang terbaik untuk mu, kamu tidak pantas bersama laki-laki seperti dia. Suatu saat Tuhan akan mengirimkan orang yang lebih baik darinya dan kamu pasti akan bahagia," ujar Riko.
Dara tertegun mendengar nasihat dari Riko, pria itu begitu bijaksana.
"Sekarang berhenti menangis! Aku tidak mau orang-orang berpikir jika aku yang membuat wanita secantik kamu bersedih," pinta Riko.
Dara mengusap jejak-jejak air matanya.
"Sekarang kita pulang!"
Dara kembali mengangguk.
Dari seberang jalan sebuah mobil sedan mewah berhenti dan kaca jendelanya terbuka, seorang wanita cantik berpenampilan elegan memperhatikan dua insan itu dari dalam mobil.
"Bukannya itu Riko? Sedang apa dia disitu? Dan siapa wanita yang bersamanya?" Wanita di dalam mobil bertanya-tanya.
Riko dan Dara beranjak dari bangku panjang itu setelah es krim di tangan mereka habis, kemudian bergegas meninggalkan mini market tersebut.
***