Unwanted Wife

Unwanted Wife
Episode 30.



Dara dan Rendra sudah selesai menyantap makan siang mereka, tapi keduanya masih enggan beranjak dari tempat duduknya. Dara masih ingin di sini, menikmati jus jeruk yang mudah-mudahan bisa menyegarkan pikirannya.


"Dara!"


"Iya, Mas?"


"Aku boleh tanya sesuatu?"


"Apa?"


"Sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan suamimu tadi? Kalian bertengkar?" tanya Riko, dia ingin memancing Dara.


Wanita itu terdiam, dia tahu Riko pasti menanyakan hal ini.


Dara menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan raut penuh kesedihannya, "Tidak ada, kami baik-baik saja."


"Tapi kenapa kamu menangis tadi?"


"Aku hanya sedih melihat kondisinya," dalih Dara.


Riko tertegun, ternyata tidak mudah membuat Dara buka mulut.


Riko tertawa kecil, "Aku pikir kalian ada masalah. Maaf kalau aku terlalu ingin tahu."


"Tidak apa-apa, Mas."


"Ya sudah, kita balik, yuk! Siapa tahu suami kamu membutuhkanmu," ajak Riko berpura-pura peduli pada Rendra.


Dara kembali terdiam, hatinya bergetar dan seperti ditusuk ribuan jarum. Membutuhkannya? Dara sadar betul jika bukan dia yang Rendra butuhkan saat ini, melainkan Amel, selingkuhannya itu.


"Dara!" tegur Riko saat melihat Dara melamun.


Dara sontak menatap Riko, "Iya, Mas?"


"Kenapa kamu melamun?"


Dara mendadak gugup, "Oh, tidak. Tidak apa-apa. Yuk, kita balik!"


Dara beranjak dari duduknya dan berjalan tergesa-gesa meninggalkan Riko yang masih terpaku menatapnya dengan sendu.


***


Dara dan Riko pun kembali menemui Rendra yang ternyata sudah dipindahkan ke ruang pemulihan. Sejujurnya Dara ingin menemani suaminya itu, tapi hatinya terlalu sakit tak dianggap seperti tadi, makanya dia sejenak menenangkan diri agar bisa lebih sabar menghadapi Rendra nanti.


Dara membuka pintu ruang perawatan Rendra dengan perlahan, lalu masuk. Di susul oleh Riko yang membuntuti nya sejak tadi.


Rendra yang melihat kedatangan mereka seketika merasa kesal, entah mengapa dia tidak suka dua orang itu ada di sini.


Ini pertama kalinya Rendra dan Riko bertatap muka di depan Dara, keduanya kompak bersikap seolah tak saling kenal.


"Mas, kenalkan ini Mas Riko, rekan kerja aku. Tadi dia yang mengantarkan aku ke sini."


"Salam kenal." Riko pura-pura menyapa Rendra dengan ramah.


Rendra hanya tersenyum sinis tanpa membalas sapaan Riko, kemudian dia menatap Dara yang berdiri di sisi lelaki itu.


"Kalian serasi juga," sindir Rendra.


Dara dan Riko terkesiap mendengar perkataan Rendra itu.


Riko hanya membisu sembari menatap sinis pada Rendra, sejujurnya dia sedikit takut lelaki itu membongkar kerja sama yang sempat mereka sepakati dulu di hadapan Dara.


"Tidak perlu membantah, aku tidak peduli," balas Rendra sembari memalingkan wajahnya.


Hati Dara semakin sakit mendengar ucapan tak acuh lelaki itu.


Tiba-tiba pintu ruang perawatan Rendra terbuka dan satu sosok muncul dengan raut penuh kekhawatiran.


"Sayang, bagaimana kea ...." Suara Amel terputus saat menyadari ada Dara dan Riko di ruangan itu. Wajahnya sontak tegang bercampur kesal saat beradu pandang dengan Dara.


Sedangkan Rendra tersenyum senang melihat kedatangan kekasihnya itu.


Emosi Dara yang sejak tadi berusaha dia tahan mati-matian, kini semakin memuncak saat melihat Amel berdiri di hadapannya. Rasa sakit, kecewa, sedih dan marah membaur menjadi satu, membuat Dara tak bisa mengontrol diri dan sikapnya lagi. Dengan langkah yang lebar dia mendekati Amel lalu menampar wanita itu dengan sekuat tenaga.


Semua orang terkejut dengan aksi Dara itu.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menampar ku?" Amel meraba pipinya yang merah dan perih.


"Dara! Apa-apaan kau ini? Kenapa kau menyakiti Amel?" hardik Rendra, dia tak terima pujaan hatinya diperlakukan seperti itu.


"Kau anggap aku menyakiti Pelakor ini? Lalu bagaimana dengan yang dia lakukan padaku, ha? Apa kau pikir aku tidak sakit?" sungut Dara, dengan cepat cairan bening menggenangi pelupuk matanya, tapi dia tahan agar tidak jatuh.


Rendra, Riko dan juga Amel terkesiap saat menyadari jika Dara sudah mengetahui semuanya.


"Jadi kau sudah tahu yang sebenarnya? Baguslah kalau begitu!" sahut Amel sinis.


Dara tertawa mengejek, "Sepertinya kau bangga bisa merebut milik orang lain, atau lebih tepatnya bekas orang lain. Dasar tidak malu!"


Wajah sinis Amel berubah masam, dia mengepalkan tangannya menahan geram atas ejekan Dara itu, tapi apa yang Dara katakan itu benar, dia memang merebut milik wanita itu.


"Dara hentikan!" pinta Rendra memberi peringatan.


Dara berbalik menatap Rendra yang terbaring lemah. Sementara Riko hanya bergeming tanpa mau ikut campur.


"Aku pikir selera mu tinggi, Mas. Kau menceraikan aku cuma demi pe la cur murahan ini? Apa kau tidak bisa mencari yang lebih bagus dariku?" sindir Dara menohok.


"Cukup, Dara! Jangan menghina Amel lagi! Akh ...," bentak Rendra marah, lalu dia mengerang keras saat rasa sakit tiba-tiba menyerang kepalanya.


"Tanpa aku hina pun, dia sudah cukup terhina dengan perlakuannya sendiri. Dia tak ada bedanya dengan sampah yang busuk!" lanjut Dara yang tak peduli dengan bentakan dan erangan Rendra.


"Diam! Pergi kau dari sini dan jangan pernah datang lagi!" Rendra mengusir Dara sambil memegangi kepalanya.


Dara merasa terluka, tapi sudah kepalang tanggung, mungkin ini saatnya dia pergi dari hidup Rendra untuk selamanya. Sudah cukup dia diperlakukan buruk dan tidak dihargai.


"Tidak perlu mengusir ku, aku juga tidak mau berlama-lama satu ruangan dengan manusia kotor seperti kalian!" Dara bergegas pergi dari ruangan Rendra.


Riko pun langsung mengejar Dara tanpa memedulikan Rendra ataupun Amel.


"Sayang, tolong panggilkan dokter! Kepalaku sakit sekali." Rendra memegangi kepalanya yang semakin berdenyut karena dia marah-marah tadi.


"Iya-iya, sebentar!" Amel buru-buru keluar meninggalkan sang kekasih.


"Sial! Ini semua gara-gara dia!" umpat Rendra kesal.


***