
Dara dan Riko tiba di rumah sakit yang tadi dikatakan polisi, keduanya berjalan tergesa-gesa menuju ruang ICU setelah tadi bertanya di mana keberadaan Rendra.
Hati Dara mencelos saat melihat dari kaca pembatas pria yang masih menjadi suaminya itu tergeletak tak berdaya dengan berbagai alat medis di tubuhnya.
"Mas Rendra," ucap Dara dengan suara bergetar, air matanya jatuh berlinang.
Riko juga merasa cemas melihat Rendra terbaring di dalam sana, meskipun dia tidak terlalu menyukai lelaki itu, tapi dia tetap merasa kasihan.
"Bangun, Mas. Jangan buat aku takut." Dara semakin sesenggukan.
"Dara tenanglah." Riko berusaha menenangkan Dara.
Seorang dokter tiba-tiba datang bersama menghampiri mereka.
"Dengan keluarga Bapak Rendra?" tanya Dokter itu.
Dara dan Riko sontak menoleh ke arah mereka.
"Iya, saya istrinya, Pak. Bagaimana kondisi suami saya?" sahut Dara cepat.
"Suami Ibu mengalami patah tulang kaki dan cedera parah pada kepala, saat ini dia sedang mengalami masa kritis," jawab Dokter itu.
"Ya Tuhan, Mas Rendra." Dara kembali terisak.
"Apa dia akan pulih, Dok?" sela Riko.
"Kita doakan saja, semoga pasien bisa melewati masa kritisnya. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Iya, Dok. Terima kasih."
"Sama-sama." Dokter itu berlalu dari hadapan Dara dan juga Riko.
"Aku takut Mas Riko kenapa-kenapa, Mas."
"Sebaiknya kita berdoa agar dia bisa melewati masa kritisnya," ucap Riko.
"Selamat siang, benar ini Keluarga Bapak Rendra Irawan?"
Dua orang polisi menghampiri Dara dan Riko.
"Selamat siang. Iya, benar, Pak," jawab Riko.
"Kami sudah memeriksa tempat kejadian, korban mengalami kecelakaan tunggal, di duga karena hilang konsentrasi saat mengemudi dengan kecepatan tinggi," terang salah satu polisi.
Riko mengernyit, "Hilang konsentrasi?"
"Pesan dari siapa, Pak?" tanya Dara curiga.
"Sepertinya seseorang yang akan ditemui oleh korban di Bandung, Bu."
Dara bergeming, siapa kira-kira orang yang akan ditemui Rendra di Bandung? Mungkinkah selingkuhannya itu?
"Kalau begitu ini kami kembalikan ponsel, dompet dan barang-barang pribadi korban. Nanti setelah korban sadar, kami akan meminta keterangan darinya," ujar polisi itu sembari menyerahkan barang-barang pribadi Rendra yang mereka temui.
"Iya, terima kasih, Pak," balas Dara.
"Kalau begitu kami permisi dulu, selamat siang."
"Selamat siang, Pak."
Polisi-polisi itu meninggal Dara dan juga Riko.
Dara menyalakan ponsel Rendra, dia mencoba memasukkan kode sandi tanggal pernikahan mereka, sebab setahu Dara, dulu Rendra menggunakan tanggal itu, dan kunci layar ponselnya terbuka. Ternyata Rendra belum menggantinya meskipun pernikahan mereka diambang kehancuran.
Dengan tangan gemetar, Dara mengutak-atik ponsel Rendra, dia membaca pesan yang polisi maksud tadi yang ternyata dari klien Rendra. Dara mengembuskan napas lega, namun sebuah pesan dari Amel tiba-tiba masuk.
"KAMU SUDAH SAMPAI, SAYANG? KENAPA TIDAK MENGABARI AKU?"
Jantung Dara sontak berdebar kencang setelah membaca pesan itu, dia tentu tahu siapa Amel. Dengan perasaan curiga yang mendadak memenuhi hatinya, Dara memeriksa semua pesan Amel dan dia bagaimana ditampar berkali-kali setelah tahu ternyata selama ini Rendra selingkuh dengan sekretarisnya itu.
Tubuh Dara terasa lemas dan tak bertenaga, air matanya jatuh tak tertahankan. Sakit dan marah, itu yang dia rasakan saat ini. Dia merasa dikhianati oleh orang yang dia percaya.
Riko yang sejak tadi memperhatikan tingkah Dara, sigap memegangi lengan wanita itu.
"Kamu baik-baik saja?"
Dara mengangguk sambil menggenggam erat ponsel Rendra, dia tak pernah menduga jika lelaki yang sangat dia cintai itu tega melakukan semua ini. Sedikitpun Dara tak pernah curiga jika Amel adalah duri dalam pernikahannya, dia selalu berpikir positif bahwa hubungan wanita itu dan suaminya hanya sebatas urusan kerja. Tapi ternyata keduanya sudah berbuat terlalu jauh dan bahkan berniat untuk menikah.
"Dara, kamu kenapa? Katakan padaku!" Riko kembali bertanya sebab cemas melihat Dara hanya terdiam membisu dengan air mata berlinang.
Dokter yang tadi kembali lagi bersama seorang perawat dan berlari masuk ke dalam ruang ICU dengan tergesa-gesa, Dara dan Riko sontak panik melihat mereka.
"Ada apa ini?" tanya Dara cemas.
Riko mengalihkan pandangannya ke kaca pembatas dan terkejut melihat pemandangan di dalam.
***