
Dua Minggu sudah kepergian Mirna, semuanya sudah kembali normal, Dara juga sudah bisa ikhlas dan menerima semuanya dengan lapang dada.
Hari ini Helena dan Riko datang mengunjungi Dara, di sana juga ada Sasa yang selalu setia menemani sahabatnya itu.
"Bagaimana kabar kamu?" tanya Helena.
"Saya baik, Bu," jawab Dara.
"Sekali lagi kami turut berdukacita atas apa yang menimpa ibu Mirna."
"Terima kasih, Bu."
"Jadi begini, sebelumnya kami minta maaf jika mungkin kedatangan kami ini sedikit mengganggu dan tidak pantas. Tapi kami butuh bantuan kamu."
Dara mengernyit, "Bantuan apa, Bu?"
"Para pelanggan di toko kami sudah banyak yang protes karena brownies serta kue-kue tradisional yang saya pesan dari kamu dan mendiang mertua kamu tidak ada. Maksud kedatangan kami ke sini ingin mengajak kamu kembali bekerja sama dengan toko kami, dan saya akan memberikan bayaran yang cukup tinggi untuk kamu. Bagaimana?"
"Bagaimana, ya, Bu? Saya masih belum bersemangat untuk kembali beraktivitas," tolak Dara.
Helena merasa kecewa, "Sayang sekali, padahal penjualan brownies dan kue-kue tradisional itu cukup laris di toko kami."
"Dara, coba pikirkan lagi! Ini peluang bagus untuk kamu," sela Riko yang sedari tadi diam menyimak.
Dara bergeming.
"Iya, Ra. Lagipula kalau kamu hanya berdiam diri di rumah seperti ini, yang ada kamu terus berlarut-larut dalam kesedihan. Kamu harus mencari kesibukan di luar dan menghibur diri," sambung Sasa.
Dara berusaha memikirkan saran dari sahabatnya itu. Sasa benar, dia tidak boleh lemah dan menyerah seperti ini. Bagaimana pun juga hidup harus terus berjalan.
Dara akhirnya mengangguk setuju, "Baiklah, saya terima tawaran anda, Bu."
Helena, Riko maupun Sasa merasa lega.
"Kalau begitu kapan kamu akan mulai bekerja di toko kami?" tanya Helena.
"Besok saya akan mulai," jawab Dara.
"Terima kasih, kalau begitu sampai bertemu besok," sahut Helena.
Riko tersenyum samar, dia senang karena ini kesempatan untuk dia mendekati Dara.
***
Besoknya Dara sudah kembali seperti biasa, dia berdandan dengan sangat cantik dan memakai pakaian yang bagus, rambut panjangnya lagi-lagi dia kuncir agar terlihat rapi. Sebenarnya dia sedikit gugup, tapi dia berusaha tenang.
Rendra yang melihat Dara sudah bersiap merasa heran, meskipun tidak peduli tapi dia tetap merasa penasaran.
"Mau ke mana kau?" tanya Rendra.
"Bekerja," jawab Dara singkat, dia memang sengaja tidak mengatakan apa-apa pada Rendra, karena terakhir kali dia minta izin dan mengajak suaminya itu bertukar pikiran, dia justru dimarahi.
Rendra mengerutkan keningnya, "Bekerja di mana?"
"Helena Bakery."
"Sejak kapan kau bekerja di sana?"
Dia melangkah keluar rumah dan berdiri menunggu taksi di depan gerbang. Di saat bersamaan Riko yang mengendarai sepeda motornya lewat di depan Dara dan langsung berhenti.
"Hai, sedang apa?" tanya Riko.
"Menunggu taksi, Mas."
"Kalau begitu bareng aku saja, yuk!"
"Tidak usah, Mas. Aku naik taksi saja," tolak Dara.
"Ayolah, kita kan satu tujuan. Lagian kalau naik taksi, entar terkena macet dan kamu bisa terlambat."
Dara mencoba menimbang-nimbang ucapan Riko, dan pria itu ada benarnya juga.
"Ya sudah, deh."
"Nah, gitu, dong! Sebentar aku ambil helm dulu." Riko bergegas turun dari motornya, lalu membuka bagasi jok dan mengambil sebuah helm yang sudah dia persiapkan, karena Riko memang sengaja ingin menjemput Dara.
"Pakai ini!" Riko menyerahkan helm itu pada Dara.
Dara pun mengenakan helm tersebut.
"Yuk, berangkat!"
Riko dan Dara naik ke atas motor lalu melesat pergi, tanpa mereka sadari Rendra yang berdiri di depan rumah sejak tadi memperhatikan mereka.
"Ternyata dia masih terus berusaha menaklukkan Dara," gumam Rendra.
***
Begitu tiba di depan toko Helena Bakery, Dara langsung turun dari motor Riko dan melepaskan helmnya. Beberapa karyawan toko yang berlalu lalang memperhatikan mereka, bahkan ada bertanya-tanya siapa Dara.
"Ini, Mas. Terima kasih, ya." Dara menyerahkan helm yang dia pakai tadi.
Riko menerima helm tersebut dan menyimpannya kembali, "Sama-sama. Nanti kalau kamu mau, kita bisa barengan lagi. Soalnya setiap hari aku lewat situ, loh."
"Tidak usah, Mas. Aku takut menyusahkan."
"Tidak sama sekali. Ada kamu atau tidak, bensin aku tetap segitu habisnya," kelakar Riko dan memancing tawa Dara.
"Ya sudah. Yuk, masuk! Biar aku antar ke ruangan Bu Helena," ajak Riko.
Keduanya pun melangkah bersama masuk ke dalam toko roti terbesar dan termewah di kota ini, lagi-lagi mereka menjadi perhatian para karyawan lain.
"Ini ruangan Bu Helena, kamu masak saja! Aku mau ke dapur dulu," pinta Riko.
"Baik, Mas. Sekali lagi terima kasih, ya."
Riko tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Dara pun masuk ke dalam ruangan Helena dan Riko melanjutkan langkahnya lalu masuk ke dalam salah satu ruangan.
***