
Pagi-pagi sekali Dara sudah bangun dan bersiap pergi ke toko, tapi dia tetap berdandan dan mengabaikan Rendra seperti sebelumnya.
"Aku pergi dulu, Mas." Dara bergegas pergi meninggalkan Rendra, dia lagi-lagi tak meminta tumpangan pada sang suami.
Rendra hanya bisa terdiam melihat perubahan pada istrinya itu.
"Dia benar-benar berubah, pasti Riko sudah berhasil memikat hatinya dan sebentar lagi dia akan minta cerai," tebak Rendra yakin.
Beberapa saat kemudian, Dara tiba di toko yang masih tutup, tapi pintunya sudah terbuka. Dia bergegas masuk dan langsung menuju dapur, tampak Mirna dan asisten rumah tangganya yang bernama Yanti sedang membuat aneka macam kue tradisional khas Indonesia.
"Wah, sepertinya aku telat," seloroh Dara.
"Eh, tidak kok, Nak. Kamu tidak telat, Mama saja yang kecepatan karena saking bersemangatnya dapat orderan banyak," sahut Mirna.
Dara dan Yanti tertawa menanggapi ucapan Mirna itu.
"Ya sudah, aku mau buat brownies dulu." Dara meletakkan tasnya di meja lalu memakai celemek agar bajunya tidak kotor.
Dengan cekatan dia mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat brownies kukus andalannya, kemudian mencampur semua bahan tersebut ke dalam wadah dan mengaduknya dengan mikser.
Sejak dulu Dara memang sudah memiliki hobi membuat kue, terutama brownies yang merupakan kue kesukaan Rendra. Tapi beberapa bulan belakangan ini suaminya itu tidak lagi mau menyentuh brownies buatannya, dan Dara tidak tahu mengapa.
***
Brownies kukus dan aneka kue tradisional pesanan Helena sudah selesai, Dara dan Mirna sudah mengemas tapi kue-kue itu di dalam kotak. Mereka tinggal menunggu kurir yang Helena janjikan akan datang.
"Ke mana kurirnya? Kok belum datang?" Mirna bertanya-tanya.
"Mungkin jalanan macet, Ma. Kita tunggu saja sebentar lagi," sahut Dara.
Tiba-tiba Riko datang dan langsung menghampiri Dara juga Mirna.
"Selamat pagi, maaf aku telat," sapa Riko.
Dara mengerutkan keningnya sebab merasa bingung, begitu juga dengan Mirna.
"Mas ini ...." Dara menjeda ucapannya sambil menunjuk Riko.
"Iya, aku Riko, kurir Helena Bakery," sambung Riko cepat, dia mengerti kebingungan Dara.
Dara maupun Mirna terkejut mendengar penuturan Riko itu.
"Wah, kebetulan sekali! Aku kaget saat tahu Mas ini kurirnya!" seru Dara.
"Aku juga kaget saat tahu akan mengambil pesanan ke sini," balas Riko tak mau kalah.
"Itulah namanya takdir," sela Mirna.
"Jangan-jangan kami berjodoh," ujar Riko tanpa basa-basi.
Dara dan Mirna tercengang.
"Jodoh apanya? Ini menantu Ibu, jodohnya ya anak Ibu, bukan kamu," protes Mirna tak terima.
"Oh, sudah nikah, ya? Maaf-maaf, aku tidak tahu," sambung Riko pura-pura tidak tahu.
"Ma, Mas ini kan cuma bercanda," sela Dara.
"Iya, Bu. Aku cuma bercanda." Riko membenarkan ucapan Dara, kemudian dia mengalihkan pembicaraan, "kalau begitu mana yang harus aku bawa?"
"Yang ini, Mas." Dara menunjuk beberapa kotak yang berisi kue.
"Biar aku bantu bawakan."
"Eh, tidak usah! Aku bisa sendiri, kok," tolak Riko.
"Tidak apa-apa, biar cepat!" balas Dara yang kemudian mengangkat beberapa kotak lagi.
Dara dan Riko melangkah keluar toko, tanpa Dara sadari Riko tersenyum penuh arti.
Riko membuka bagasi mobil yang dia kendarai, hari ini dia tidak membawa sepeda motor seperti biasanya.
"Letak di sini saja, Mbak .... siapa namanya?"
"Dara. Tapi jangan panggil Mbak, panggil nama saja," jawab Dara.
"Baiklah, Dara manis ku," seloroh Riko dan Dara hanya tertawa menanggapinya.
Setelah semua kotak tersusun rapi di bagasi, Riko pun beralih menatap Dara dan mengulurkan tangannya.
"Sudah selesai!" seru Riko.
"Ini kwitansinya, Mas." Dara menyodorkan selembar kertas.
Riko mengambil kertas kwitansi itu dan memperhatikannya dengan saksama.
"Baiklah, aku akan serahkan ini ke Tan ... maksudnya Ibu Helena, biar nanti dia yang membayar semuanya," tutur Riko.
"Baiklah."
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu."
"Iya, hati-hati, Mas."
Riko buru-buru masuk ke dalam mobil dan melesat pergi meninggalkan halaman toko kue Mirna.
Di dalam mobil Riko kembali tersenyum penuh arti.
"Kita akan semakin dekat setelah ini dan aku pastikan kau akan berpisah dari suamimu itu," gumam Riko sinis.
Melihat mobil yang dikendarai Riko sudah menjauh, Dara pun masuk ke dalam toko.
"Sekarang kamu istirahat saja, Mama mau beres-beres di dapur," pinta Mirna.
"Aku bantu Mama saja.
"Memangnya kamu tidak lelah sudah membuat kue sebanyak itu?" tanya Mirna.
Dara menggeleng, "Tidak, Ma. Mama tenang saja."
"Kamu ini memang wanita yang kuat, Mama sangat menyayangimu." Mirna memeluk Dara dengan penuh kasih sayang.
Sejak awal Mirna memang sangat menyukai dan menyayangi Dara, wanita paruh baya itu bahkan sudah menganggap Dara seperti anak kandungnya, bahkan dia lebih sering membela sang menantu daripada putranya sendiri. Hal itulah yang membuat Rendra berat menceraikan Dara, karena Mirna tidak akan terima begitu saja.
"Aku juga sangat menyayangi Mama." Dara membalas pelukan Mirna, entah mengapa tiba-tiba dia merasa sedih saat memeluk mertuanya itu, tanpa sadar air mata Dara jatuh menetes, tapi buru-buru dia usap sebelum sang mertua melihatnya.
Dara yang yatim piatu juga sangat menyayangi Mirna, dia sudah menganggap Mirna pengganti ibunya yang telah tiada.
***