Unwanted Wife

Unwanted Wife
Episode 37.



Rendra sudah pulang ke rumah, beberapa hari ini Amel yang menjaga dan mengurusnya, sebab Rendra yang kakinya patah hanya bisa terduduk tak berdaya di atas kursi roda. Dia benar-benar seperti orang yang tak berguna.


"Sayang, apa tidak sebaiknya kamu menyewa perawat saja?" cetus Amel, sejujurnya dia kewalahan mengurusi Rendra seorang diri.


"Untuk apa?" tanya Rendra.


"Ya untuk menjaga dan merawat kamu lah!"


"Kan sudah ada kamu, sayang."


Amel berjongkok di hadapan Rendra, "Honey, aku kan tidak bisa menjaga kamu dua puluh empat jam, aku harus pulang dan juga bekerja."


"Kalau begitu kamu tinggal di sini saja, dan kamu bisa ambil cuti," usul Rendra.


"Tidak bisa begitu, dong!"


"Kenapa tidak bisa? Itu perusahaan milik aku, dan kamu sekretaris aku, jadi kamu bisa masuk kapan saja kamu mau."


"Iya, sayang. Tapi aku tetap tidak bisa tinggal di sini. Kamu kan tahu orang tua aku sering datang tiba-tiba, entar kalau mereka tahu aku tinggal dengan kamu di sini, mereka pasti marah. Kita kan belum resmi menikah," dalih Amel mencoba memberi pengertian kepada Rendra.


"Kalau begitu besok kita akan menikah siri dulu, nanti setelah aku bercerai, kita baru resmikan pernikahan kita."


Amel tersenyum, "Nanti saja, sayang. Jangan terburu-buru! Fokus pada kesembuhan kamu dulu."


"Tapi aku ingin kamu di sini, Mel. Lagipula bukankah waktu itu kamu ingin kita menikah siri dulu, kenapa sekarang kamu menolak? Apa karena keadaan ku seperti ini?"


"Sayang, kok kamu bicaranya begitu? Aku maunya kamu sembuh dan pulih dulu, baru kita menikah. Aku ingin kamu berdiri gagah di samping aku."


"Tapi kalau menunggu aku sembuh, pasti lama," keluh Rendra.


"Makanya kamu harus semangat dan berusaha keras untuk cepat sembuh! Demi aku," ujar Amel.


Rendra mendesah pasrah, "Baiklah kalau itu mau mu, aku akan sewa perawat. Tapi kamu harus datang setiap hari!"


Amel tersenyum, "Iya, sayang. Kamu tenang saja."


***


Hari ini adalah sidang putusan perceraian Dara dan Rendra. Sejak awal persidangan, Rendra tidak pernah hadir sama sekali, hanya Dara yang selalu datang ditemani oleh Sasa.


Air mata Dara jatuh menetes saat hakim mengetukkan palunya, pertanda berakhir sudah rumah tangganya dengan Rendra. Kini dia resmi menjadi seorang janda.


Dara beranjak dari kursi dengan lesu, Sasa langsung menghampiri dan memeluk sahabatnya itu.


"Kamu yang sabar dan ikhlas, ya! Percayalah, Tuhan sudah menyiapkan yang terbaik untukmu," ucap Sasa sembari mengusap punggung belakang sang sahabat.


Dara mengangguk di dalam pelukan Sasa, hatinya hancur dan sedih, dia tak pernah menyangka jika rumah tangganya bersama Rendra akan berakhir menyakitkan seperti ini.


Lagi-lagi Dara hanya mengangguk sambil mengusap air matanya dengan tissue.


Kedua wanita itu berjalan meninggalkan gedung pengadilan agama tersebut.


Mereka tak menyadari jika Riko memperhatikan mereka dari kejauhan, dia tahu hari ini jadwal sidang perceraian Dara dan diam-diam ia hadir di sana.


"Akhirnya kamu pisah juga dari laki-laki berengsek itu," ujar Riko lega.


Di dalam mobil, Dara hanya melamun, menatap nanar keluar jendela. Sesekali air matanya jatuh menetes tapi buru-buru dia usap.


Sasa prihatin dengan sahabatnya itu, dia juga merasa sedih dengan apa yang terjadi.


"Kamu baik-baik saja, Ra?" tanya Sasa memecah keheningan.


"Iya, aku baik-baik saja, kok," sahut Dara.


"Setelah ini apa rencana mu?"


"Sepertinya aku akan menyewa rumah di dekat toko, dan memulai kehidupan baru," jawab Dara.


"Loh, kamu mau pindah? Kenapa tidak tinggal di rumah aku saja?" cecar Sasa.


"Aku sudah terlalu lama tinggal di rumah kamu, aku tidak enak, Sa. Aku tidak mau terus-terusan menyusahkan mu."


"Aku tidak pernah merasa disusahkan, aku justru senang kamu tinggal di rumahku," sanggah Sasa.


"Iya, aku tahu. Tapi tetap saja aku tidak ingin terus-terusan menjadi benalu, Sa."


"Ya ampun, Dara! Kenapa bicaranya seperti itu? Kamu bukan benalu, rumahku juga rumahmu. Kamu boleh tinggal sampai kapanpun."


Dara mencoba tersenyum, "Keputusanku sudah bulat, Sa. Aku ingin mandiri dan menata kembali masa depanku."


Sasa menghela napas, "Ya sudahlah, kalau memang itu yang kamu inginkan, aku pasti dukung. Yang penting kamu bahagia, Ra."


"Tapi kapanpun kamu butuh aku atau ingin kembali tinggal denganku, datang saja! Pintu rumahku selalu terbuka untukmu," lanjut Sasa.


Dara menatap Sasa dengan haru, "Terima kasih, Sa."


Sasa tersenyum, "Sama-sama."


Mereka sudah bersahabat sejak lama, Sasa sangat menyayangi Dara, begitu pun sebaliknya. Mereka akan saling menolong jika salah satu dalam kesulitan.


***