
Sasa mengajak Dara, Daren dan Mbok Narsih makan di sebuah restoran di salah satu mall. Dia memesan banyak makanan, membuat Dara bingung melihatnya.
"Sa, kenapa banyak sekali?" tanya Dara.
Sasa hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Dara.
"Mama, aku sudah boleh makan?" Daren heboh melihat banyak makanan terhidang di atas meja, apalagi ada beberapa makanan kesukaannya.
"Belum, kita masih menunggu satu orang lagi," jawab Sasa.
Dara mengernyitkan keningnya, "Siapa?"
"Ada, deh!" sahut Sasa.
"Ish, Sasa! Kenapa main rahasia-rahasiaan segala, sih?" protes Dara dengan wajah masam.
Sasa tertawa, tapi mendadak heboh saat seseorang yang dia tunggu menampakkan batang hidungnya.
"Itu dia datang!" seru Sasa.
"Om Riko!" pekik Daren girang saat melihat Riko.
Dara terkesiap dan langsung menoleh ke belakang.
Riko tersenyum sembari melangkah menuju meja mereka, "Sorry, aku telat."
"Tidak apa-apa, kami juga baru mulai. Kalau begitu silakan duduk!" Sasa menunjuk kursi kosong di samping Dara.
Rupanya diam-diam Sasa menghubungi Riko dan mengundangnya untuk ikut makan malam bersama mereka.
Riko duduk di kursi itu, lalu menyapa Dara, "Hai, Dara."
"Hai, Mas," balas Dara sambil memaksakan senyuman, sejujurnya dia kesal bercampur kaget sebab Sasa ternyata juga mengundang Riko tanpa sepengetahuannya.
"Karena sudah ngumpul semua, sekarang mari kita makan!" pinta Sasa.
Mereka pun mulai menyantap hidangan di atas meja, dan seperti sebelumnya, Daren pun berceloteh macam-macam pada Riko.
"Besok Om jadikan ke rumah aku?" tanya Daren dengan mulut yang penuh.
"Jadi, dong! Besok kamu mau Om bawakan apa?"
"Hem, apa, ya?" Daren pun berpikir apa yang ingin dia minta.
"Mas, tidak usah bawa apa-apa! Nanti merepotkan," potong Sasa.
"Tidak apa-apa, tidak merepotkan sama sekali," sanggah Riko.
Dara hanya bergeming, dia tak berselera untuk makan ataupun ikut dalam obrolan Sasa dan Riko.
"Hei, boy! Kamu mau apa?" tanya Riko lagi saat melihat Daren terdiam.
"Aku mau ice cream saja, Om. Rasa coklat, ya?"
"Ok, siap, komandan!" Riko meletakkan telapak tangan di pelipis seperti memberi hormat lalu tertawa.
"Asyik!" Daren memekik senang.
"Sudah, sekarang kamu habiskan makanannya!" titah Sasa pada sang putra.
Riko lalu memutar kepalanya menatap Dara yang sejak tadi diam membisu, "Kamu kenapa diam saja?"
Dara sontak mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Riko, "Tidak apa-apa, Mas."
Dara sontak memelototi Sasa, "Apaan, sih, Sa?"
Riko mengerutkan keningnya, "Malu kenapa?"
"Tidak usah dengarkan Sasa! Dia kalau bicara suka asal!" ucap Dara cepat, wajahnya berubah masam.
Sasa terkekeh geli melihat Dara cemberut.
Riko dan Mbok Narsih pun ikut tergelak.
Mereka pun melanjutkan makan malam sambil sesekali mengobrol santai dan mendengarkan celotehan Daren.
Dara yang awalnya merasa kesal dan canggung karena Sasa diam-diam mengundang Riko, perlahan mulai santai dan bisa tertawa saat lelaki itu mengeluarkan lelucon konyolnya. Riko memang paling bisa menghibur orang lain.
***
Helena yang baru selesai makan malam dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita berpenampilan elegan yang menerobos masuk ke rumahnya.
"Erika? Tumben sekali kamu datang ke sini?" tanya Helena pada wanita bernama Erika itu.
"Aku mau bertemu Riko, Tante!"
"Kenapa tiba-tiba kamu ingin bertemu dia? Rindu?"
"Apa harus ada alasan jika ingin bertemu adik sendiri?" Erika balik bertanya.
Helena duduk di sofa dan menyilang kan kakinya, "Tidak, sih! Tapi aneh saja! Setelah sekian lama, kenapa baru sekarang kamu ingin bertemu dia? Ke mana saja kamu selama ini?"
"Tante kan tahu selama ini aku berada di New York, dan aku baru pulang kemarin. Bukan karena aku tidak peduli pada Riko!" sungut Erika.
Helena tersenyum sinis, "Tidak bisa bertemu langsung, paling tidak kamu hubungi dia, tanya kabarnya. Kamu dan papamu sama saja!"
Erika menarik napas lalu mengembuskan nya dengan kasar, "Aku pernah coba menghubungi dia, aku bujuk dia untuk pulang. Tapi dia menolak dan memblokir nomorku, Tante."
"Jelaslah Riko tidak mau. Selama Pelakor itu masih tinggal di rumah papa kamu, dia tidak akan menginjakkan kakinya di rumah itu," terang Helena sedikit emosi.
"Tante, orang yang Tante sebut Pelakor itu sudah menikah dengan Papa, sekarang dia istri sah Papa. Mau tidak mau, aku dan Riko harus menerimanya, bukan?"
"Siapa bilang?" Suara Riko tiba-tiba terdengar menyela.
Helena dan Erika yang terkejut sontak menoleh ke arah Riko yang sudah berdiri di ambang pintu rumah tantenya itu, ternyata dia sudah pulang dan mendengar percakapan dua wanita tersebut.
Erika terkesiap, "Riko?"
"Kalau Kakak bisa menerima Pelakor itu sebagai gantinya Mama, aku tidak. Sampai mati pun aku tidak akan terima!" lanjut Riko dengan sorot mata penuh kemarahan.
"Riko, jangan seperti ini! Tidak ada yang bisa menggantikan Mama, tapi kita juga tidak bisa melarang Papa menikah lagi," ujar Erika.
"Tetap saja aku tidak terima! Lebih Kakak pergi dan jangan ganggu aku lagi!"
"Mau sampai kapan kamu terus bermusuhan dengan Papa? Kamu satu-satunya putra Papa, kamu yang akan menggantikannya," protes Erika.
"Kalau begitu suruh Pelakor itu melahirkan anak laki-laki untuk Papa dan berikan semua harta Papa pada anaknya, dia pasti senang," sungut Riko.
"Itu tidak akan terjadi, karena saat ini Mama Nita sedang sakit parah, dia mengidap kanker serviks stadium empat. Makanya Kakak pulang dari New York," beber Erika dengan wajah sendu.
Riko termangu, dia tak tahu harus bahagia atau justru merasa iba pada wanita yang begitu dia benci selama ini.
Mungkinkah ini adalah karma atas apa yang wanita itu lakukan beberapa tahun lalu?
***