
Dara sudah bersiap dan bergegas keluar dari rumah Sasa, meskipun dia masih dirundung kesedihan, tapi dia tak boleh patah semangat, dia tetap harus melanjutkan hidupnya dan menata masa depan. Dan kehadiran seseorang di depan gerbang Sasa membuat senyum manis Dara merekah pagi ini.
"Mas Riko? Kenapa ada di sini?" Dara membuka gerbang dan mendekati Riko.
"Mau jemput kamu lah, emangnya mau ngapain lagi?"
"Kan aku sudah bilang tidak usah jemput, biar aku naik taksi saja."
"Iya, tadinya aku tidak ada niat jemput kamu, tapi entah mengapa sepeda motor aku mengarah ke sini," keluh Riko pura-pura bingung.
Dara tertawa, "Ada-ada saja, bilang saja kalau Mas itu keras kepala."
"Memangnya ada kepala yang tidak keras? Setahu aku semua kepala manusia keras, deh. Kalau lembek, bisa-bisa penyok sana penyok sini, dong," seloroh Riko.
"Sudah, ah! Capek bicara sama Mas, yang ada entar aku telat ke toko." Dara melengos.
"Kalau begitu let's go! Kita harus buru-buru ke toko, jangan sampai Dara manisku telat," ledek Riko yang buru-buru naik ke atas motornya.
Dara geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol Riko, lelaki itu memang selalu berhasil menghiburnya.
Setelah memakai helm, Dara pun ikut naik ke atas motor Riko.
"Sudah?" tanya Riko.
"Sudah, Mas," sahut Dara.
"Pegangan yang kuat, ya! Aku mau ngebut, nih." Riko lagi-lagi bercanda.
"Jangan ngebut, Mas! Pelan-pelan saja, aku takut!" pinta Dara.
"Baiklah, tuan putri." Riko melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Hembusan angin pagi yang sejuk menerpa lembut wajah Dara, sesekali Riko melirik wanita itu dari balik kaca spion.
Dan saat di persimpangan lampu merah, tak sengaja Rendra melihat mereka, namun baik Dara maupun Riko tak menyadari keberadaan laki-laki itu.
"Bukannya itu Dara dan Riko?" gumam Rendra.
***
Dara dan Riko tiba di parkiran toko Helena Bakery, keduanya turun dari motor dan membuka helm.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Riko.
Riko hanya mengangguk.
"Oh iya, hari ini aku gajian. Aku mau ajak kamu makan malam, kamu bisa, kan?" ujar Riko.
"Maaf, Mas. Aku tidak bisa," tolak Dara.
"Kenapa?"
Dara sempat terdiam dan bingung memberikan alasan apa, tapi tiba-tiba dia mendapat ide, "Mas kan tahu kalau aku ini istri orang, tidak enak jika pergi dengan laki-laki lain. Nanti bisa menimbulkan fitnah."
Riko terdiam, dia tak menyangka Dara akan memakai alasan itu untuk menolaknya. Namun dia harus berpura-pura tidak tahu jika Rendra dan Dara sudah pisah rumah.
"Sekali lagi maaf, ya, Mas?"
Riko tersenyum, "Tidak apa-apa, aku mengerti, kok. Tapi kalau aku datang ke rumah kamu bawa makanan, bolehkan? Suami kamu pasti kan juga ada di rumah, sekalian kami bisa berkenalan."
Dara terkesiap, dia tentu tak ingin Riko tahu yang sebenarnya.
"Sebaiknya tidak usah, Mas. Aku takut nanti suamiku berpikiran yang macam-macam," dalih Dara.
"Aneh, masa datang ke rumah mau kenalan malah dicurigai macam-macam. Sementara hampir setiap hari aku jemput kamu, dia tidak cemburu atau berpikiran yang aneh-aneh?" Riko sengaja memancing Dara.
Dara tergagap, dia bingung harus menjawab apalagi.
"Ayolah, Dara. Boleh, ya? Anggap saja traktiran ini sebagai rasa terima kasih aku karena kamu sudah memberikan makanan di saat aku kelaparan tempo hari."
"Tapi aku ikhlas melakukannya, Mas."
"Aku tahu kamu ikhlas, dan aku juga ikhlas ingin mentraktir kamu juga suami kamu. Niat baik orang lain tidak boleh ditolak, loh."
"Nanti aku pikirkan lagi, Mas. Aku minta izin suamiku dulu."
"Iya, deh."
"Kalau begitu, masuk, yuk!" Dara buru-buru berjalan mendahului Riko.
Riko memandangi kepergian Dara sembari menyeringai, "Kamu tidak akan bisa menutupi semua ini dariku, Dara. Cepat atau lambat kamu pasti akan menyerah dan mengatakan yang sebenarnya."
Dia lalu bergegas menyusul Dara masuk ke dalam toko.
***