Unwanted Wife

Unwanted Wife
Episode 35.



Hari Minggu ini begitu cerah, sejak pagi Daren sudah mandi dan duduk manis di teras rumahnya, dia sudah tidak sabar menunggu kedatangan Riko.


"Sayang, masuk, yuk!" ajak Sasa.


"Tidak mau! Aku mau nunggu Om Riko!"


Sasa mengusap rambut putranya itu, "Nunggunya kan bisa di dalam."


"Aku mau nunggu di sini saja, Ma."


Sasa menghela napas, dia harus ekstra sabar membujuk putra semata wayangnya itu.


"Kenapa Om Riko lama banget, sih? Apa jangan-jangan dia lupa?" celoteh Daren yang mulai cemas.


"Mungkin Om Riko lagi ada urusan, sayang."


"Kalau gitu Mama telepon, dong! Suruh Om Riko cepat datang, aku sudah tidak sabar ingin bermain dengannya," rengek Daren.


"Iya, nanti Mama telepon. Tapi kamu masuk dulu, ya?"


Sasa sebenarnya memang ingin menghubungi Riko dan memastikan lelaki itu jadi datang apa tidak, tapi dia merasa sungkan.


"Tidak! Aku nunggu di sini saja!" Daren melipat kedua tangannya di depan dada dan wajahnya cemberut.


"Ada apa?" Dara keluar setelah mendengar suara Daren.


"Sejak tadi dia duduk di sini menunggu Riko, dia tidak mau masuk," adu Sasa.


Dara pun mendekati Daren dan berjongkok di depan bocah itu, "Daren ganteng, kita nunggu Om Riko nya di dalam saja, yuk! Sekalian kamu bantu Tante buat brownies coklat untuk Om Riko, mau, ya?"


Daren memalingkan wajahnya, pertanda dia tidak setuju.


"Anak pintar, memangnya kamu tidak ingin memberikan sesuatu untuk Om Riko? Om Riko itu suka brownies coklat, loh. Dia pasti senang kalau kamu membuatkan brownies untuk dia," bujuk Dara.


Daren langsung memandang Dara, "Tante serius? Om Riko memang benar-benar suka brownies?"


Dara mengangguk, "Iya. Dulu Om Riko sering beli brownies di toko Tante, belinya banyak lagi."


"Kalau begitu ayo kita buat brownies untuk Om Riko!" seru Daren girang.


"Yuk!" Dara menarik lengan Daren.


Keduanya berjalan ke dapur sambil bergandengan tangan. Sasa tersenyum sambil geleng-geleng kepala, dia heran karena putranya itu terlalu terobsesi dengan Riko.


Di dapur Daren membantu Dara membuat adonan brownies, walaupun banyak tepung dan coklat yang berserakan dimana-mana karena putra Sasa itu memainkannya.


Sementara Sasa sendiri hanya bisa mendesah pasrah saat melihat dapur yang sedikit berantakan karena ulah sang putra, tapi itu lebih baik daripada harus menyaksikan bocah itu duduk berjam-jam di teras dengan wajah masam.


Terdengar suara ketukan pintu, Mbok Narsih tergopoh-gopoh melangkah menuju pintu dan segera membukanya.


Tak berapa lama wanita separuh tua itu balik lagi bersama Riko yang akhirnya datang.


"Selamat siang semua," sapa Riko.


"Selamat siang," balas Dara dan Sasa bersamaan.


"Om Riko!" teriak Daren girang saat melihat seseorang yang dia tunggu-tunggu akhirnya datang juga.


"Hai, jagoan! Ini Om bawa ice cream buat kamu!" Riko mengangkat kantung plastik yang dia bawa.


"Yeee, asyik!" Daren langsung berlari ke arah Riko.


"Sayang, hati-hati! Nanti kamu jatuh," tegur Sasa.


"Sama-sama!" Riko mengelus kepala Daren.


"Terima kasih, ya, Mas. Jadi ngerepotin!" ujar Sasa.


"Tidak, santai saja!" balas Riko sembari tersenyum manis.


"Kalau begitu yuk cuci tangan dulu, lalu makan ice cream nya di taman belakang!" pinta Sasa pada Daren, dia sengaja mencari alasan untuk meninggalkan Dara dan Riko di dapur.


"Iya, Ma."


"Kenapa tidak di sini saja makannya, Sa?" protes Dara.


"Di taman belakang saja." Sasa tersenyum penuh arti, lalu menarik Daren pergi dari dapur.


Riko melangkah mendekati Dara dan duduk di hadapan wanita itu, "Lagi buat apa? Brownies?"


Dara mengangguk, "Iya, buat ngemil."


"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Riko.


"Tidak ada, Mas. Sudah hampir selesai, kok!"


"Yaa, jadinya aku ngapain, dong?" sesal Riko.


"Mas ke sini kan mau main dengan Daren, sejak tadi pagi dia nungguin Mas di teras, ini baru saja mau masuk setelah aku bujuk."


"Oh iya? Kenapa tidak telepon aku? Jadi aku bisa datang lebih awal."


"Aku sungkan, takut mengganggu," sahut Dara sambil menuangkan adonan brownies ke dalam loyang berbentuk kotak.


"Kenapa harus sungkan? Kita ini kan teman. Lagipula kalau kamu yang minta, kapanpun dan di mana pun, aku pasti datang. Pokoknya dua puluh empat jam selalu siaga, deh!"


"Mas bercanda!"


"Kok bercanda, sih? Aku serius! Kapan pun kamu butuh aku dan minta aku datang, aku pasti akan muncul kayak angin," imbuh Riko.


Dara hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala, dia hanya menanggapi ucapan Riko itu sebagai candaan.


Riko menatap wajah Dara, wajah ayu nan teduh yang disia-siakan oleh Rendra. Sejenak dia termangu, seiring dengan gelanyar aneh yang tiba-tiba menjalar di dada dan perutnya.


"Om Riko! Ayo kita main!" pekik Daren yang sudah berdiri di ambang pintu dapur bersama Sasa, sontak membuat lamunan Riko buyar.


"Eh, iya-iya. Sebentar!" sahut Riko gugup, lalu beralih memandang Dara, "Aku temani Daren main dulu, ya?"


Dara mengangguk dan tersenyum.


Riko pun beranjak dari duduknya, kemudian mengikuti Daren ke taman belakang.


Sasa melangkah mendekati Dara, dan menggoda sahabatnya itu, "Fix, Riko itu benar-benar cinta sama kamu!"


Dara terkesiap, "Apaan, sih? Datang-datang langsung ngomongin cinta."


"Kamu tidak lihat tatapannya tadi? Penuh arti banget." Sasa berbicara dengan penuh drama.


"Ngaco, ah!" Dara malas meladeni Sasa.


"Ini serius, Ra!"


Dara tak menggubris ocehan Sasa, dia sibuk membereskan meja dan dapur yang berantakan karena ulah Daren tadi, dibantu oleh Mbok Narsih.


***