Unwanted Wife

Unwanted Wife
Episode 38.



Dara sudah pindah ke kontrakan sederhana yang berada tak jauh dari toko roti tempatnya bekerja, meski tak sebesar dan sebagus rumah Sasa ataupun Rendra, tapi paling tidak tempat ini bisa melindunginya dari panas dan hujan. Bicara tentang Rendra, sudah dua bulan Dara bercerai dari lelaki itu. Mereka sudah tidak lagi berkomunikasi, bahkan Dara pun tak tahu bagaimana kabar mantan suaminya itu sekarang.


Selama dua bulan ini, Dara berusaha mati-matian untuk melupakan Rendra dan semua yang telah terjadi. Dia harus membuka lembaran baru, memperbaiki hidupnya, dan menata kembali masa depannya. Dara tak ingin terus-terusan terpuruk di dalam lubang kesedihan dan keputusasaan, dia harus hidup dengan bahagia.


Untungnya Riko dan Sasa selalu ada untuknya, dua orang itu sudah seperti keluarga baginya. Bahkan hubungan Dara dan Riko pun semakin dekat, sampai-sampai mereka digosipkan pacaran oleh karyawan Helena Bakery yang lain. Namun baik Riko maupun Dara hanya menanggapi rumor itu dengan candaan.


Dara meregangkan otot-ototnya dan berusaha mengumpulkan sukmanya yang sempat melayang memasuki alam mimpi, tidurnya cukup nyenyak semalam dan karena hari ini libur, jadi dia bisa bangun lebih siang.


Telepon genggamnya berdering, dengan malas Dara meraba meja nakas dan mengambil benda pipih itu.


Mas Riko calling ....


"Halo, Mas," sapa Dara dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Kamu baru bangun?"


"Hem."


"Aku sudah menunggu di depan kontrakan kamu ini."


Dara sontak membelalakkan matanya, "Apa? Mas sudah di depan kontrakan aku? Mau ngapain? Kita kan sedang libur."


Memang sehari-harinya Riko selalu menjemput Dara setiap pagi dan mengajak wanita itu pergi ke toko bareng, tapi masalahnya hari ini mereka cuti, jadi mau apa Riko ke rumahnya?


"Aku cuma mau ajak kamu sarapan bareng."


Sarapan? Tumben!


"Ya sudah, tunggu sebentar!" Dara mematikan teleponnya lalu segera bangkit dan buru-buru membukakan pintu untuk Riko.


Riko tersenyum saat melihat Dara berdiri di ambang pintu, "Selamat pagi, Dara."


"Pagi, Mas," balas Dara.


"Aku sudah ganggu tidur kamu, ya?"


Dara menggeleng, "Tidak, kok. Aku memang sudah bangun sebelum Mas telepon tadi."


"Oh, aku kirain kamu masih tidur tadi."


"Ya sudah, masuk deh!" pinta Dara, dia pun berbalik dan bergegas ke dapur.


"Aku bawakan nasi uduk buat kamu," terang Riko sembari meletakkan bungkusan yang dia bawa di atas meja makan sederhana milik Dara lalu menjatuhkan pantatnya di kursi.


"Kenapa repot-repot segala, sih, Mas?" Dara kembali dengan membawa dua buah piring dan sendok.


"Tidak repot sama sekali, kok."


"Mas Riko kenapa tidak bilang dulu kalau mau datang, kan aku bisa bangun lebih pagi dan mandi, tidak muka bantal kayak gini!" gerutu Dara.


"Aku mau buat kejutan," jawab Riko, lalu menatap Dara lekat lekat, "tapi walaupun baru bangun tidur dan belum mandi, kamu tetap cantik, ya?"


Dara tersipu, "Pagi-pagi sudah gombal!"


Riko tertawa, dia sangat suka melihat wajah malu-malu Dara, wanita itu terlihat sangat menggemaskan meskipun bukan ABG lagi.


"Oh, iya. Hari ini kamu ada acara tidak?" tanya Riko kemudian.


Dara menggeleng, "Tidak ada, memangnya kenapa?"


"Aku mau ajak kamu jalan-jalan," sahut Riko.


"Oh, sekarang aku baru ngerti! Mas itu ke sini karena mau ajak aku jalan-jalan, bukan cuma mau sarapan doang, kan?" tebak Dara.


Riko mengulum senyum, niatnya ketahuan.


Dara tersenyum samar sambil geleng-geleng kepala.


"Jadi kamu mau atau tidak?" Riko memastikan.


"Emang mau ke mana, sih?" tanya Dara penasaran.


"Ke suatu tempat, nanti kamu juga tahu!"


"Idih, main rahasia-rahasiaan segala!"


"Sudah buruan habiskan sarapan kamu, terus siap-siap!" pinta Riko.


"Kan aku belum bilang mau," bantah Dara.


Riko sontak cemberut, "Ya sudahlah kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa."


Dara pun terkekeh melihat wajah masam lelaki itu.


"Iya-iya, aku cuma bercanda. Jangan cemberut gitu, dong! Jelek tahu!"


Senyum Riko langsung merekah, dia melanjutkan makannya dengan perasaan berbunga-bunga, hingga tak bisa berhenti tersenyum. Padahal tadi dia hanya pura-pura merajuk saja.


"Sok manis banget, sih! Makan sambil senyum-senyum begitu," ledek Dara.


"Aku kan memang manis," sahut Riko percaya diri.


Dara mencibir, "Manis apaan?"


"Kamu tidak percaya kalau aku manis? Ya sudah, nih jilat!" seloroh Riko sembari menyodorkan tangannya ke hadapan Dara.


"Iih, ogah! Kalau itu sih yang ada asin, bukan manis!" balas Dara tak mau kalah.


"Ya sudah, kalau begitu jilat yang bagian lain juga boleh," lanjut Riko lagi sambil menunjuk bibirnya yang sengaja dia monyongin.


"Ish, Mas Riko! Sudah ah, cepat habiskan makanannya," bentak Dara sebal, dia malu sendiri karena ulah rekan kerjanya itu.


Riko tertawa, dia puas sekali jika bisa menggoda Dara dan membuat wanita itu kesal.


***


Rendra melempar telepon genggamnya ke atas ranjang dengan kesal, sudah puluhan kali dia menghubungi Amel, tapi tidak dijawab sama sekali. Bahkan tak ada satu pun pesan yang Rendra kirimkan dibaca oleh wanita itu.


"Kamu ke mana, sih? Kenapa seperti hilang ditelan bumi," gerutu Rendra jengkel.


Sudah seminggu Amel tak pernah lagi datang menemui Rendra, wanita itu juga tak ada kabar sama sekali. Dan yang parahnya lagi, Amel sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya beberapa hari yang lalu tanpa persetujuan dari Rendra yang notabene atasannya.


Rendra tak mengerti kenapa wanita yang dia cintai itu tiba-tiba mengabaikannya seperti ini? Dia merasa tak melakukan kesalahan apa pun, hubungan mereka juga baik-baik saja sebelumnya meskipun saat ini Rendra masih belum pulih.


"Aku tidak bisa diam saja, aku harus mencarinya dan meminta penjelasan." Rendra menarik tongkat elbow yang dia letakkan di dekat ranjang, lalu dengan perlahan menggerakkan kedua kakinya turun menginjak lantai, ada sedikit rasa ngilu dan denyut di kakinya yang patah, tapi dia abaikan.


Dengan tertatih dan pincang, Rendra melangkah menggunakan tongkatnya. Sudah hampir empat bulan dia tak pernah keluar, bekerja pun dari rumah, bahkan meeting harus dia adakan secara online. Segala yang dia butuhkan sudah disiapkan oleh perawat dan asisten rumah tangga yang memang sengaja Amel pekerjakan untuk merawat dan membantu lelaki itu.


"Pak Rendra mau ke mana?" tanya seorang pria berpakaian serba putih saat melihat Rendra berjalan mendekati pintu keluar. Dia adalah Dika, perawat Rendra.


"Aku mau ke luar sebentar," jawab Rendra tanpa menghentikan langkahnya.


"Mau saya temani, Pak?" Dika lekas mengejar Rendra.


"Tidak usah! Aku bisa sendiri!" tolak Rendra yang langsung masuk ke dalam mobil dan meminta supirnya melaju.


Dika mengembuskan napas melihat mobil Rendra bergerak menjauh.


***