Unwanted Wife

Unwanted Wife
Episode 25.



Dara kembali ke ruang tamu dengan membawa segelas coklat hangat dan martabak coklat keju yang tadi Riko bawa, dia tertegun saat melihat Riko sedang bermain bersama Daren, lelaki itu terlihat sangat ramah dan sepertinya menyukai anak kecil.


"Ini, Mas. Silakan." Dara meletakkan coklat hangat dan martabak tersebut di depan Riko.


Riko sontak menatapnya dan tersenyum, "Terima kasih."


"Tante, Om ini keren, deh! Dia banyak ide permainan, loh," adu Daren heboh.


"Oh, iya?" sahut Dara berpura-pura antusias.


"Iya, Tante. Entar hari Minggu, Om ini mau datang lagi dan ajak aku bermain."


Dara sontak memberikan tatapan peringatan pada Riko, "Mas!"


"Kenapa? Aku hanya mengajaknya bermain, kok!" bisik Riko yang mengerti arti tatapan Dara itu.


"Memangnya mau main apa, sayang?" sela Sasa yang datang dan ikut bergabung.


Dara terkesiap karena Sasa tiba-tiba muncul dan bertanya seperti itu.


"Banyak, Ma. Pokoknya nanti aku dan Om Riko mau main sepuasnya," sambung Daren penuh semangat.


"Eh, kamu sudah kenalan sama Om ini?" tanya Sasa saat mendengar sang putra menyebut nama Riko.


"Sudah, dong! Bahkan kami sepakat untuk berteman," jawab Daren, lalu beralih memandang Riko, "iya kan, Om?"


Riko mengangguk, "Iya, benar sekali! Tapi kamu minta izin dulu sama Mama kamu, boleh tidak Om datang?"


Rupanya saat Dara ke dapur tadi, Riko mendekati Daren dan mengambil hati bocah itu dengan bercerita tentang permainan seru yang sering dimainkan anak-anak panti, dia juga berjanji akan mengajak bocah tersebut memainkannya weekend nanti. Riko memang paling jago membuat anak-anak menyukainya dalam sekejap.


Daren memandang Sasa dengan tatapan memohon, "Bolehkan, Ma?"


"Boleh, kok."


Dara tercengang sebab Sasa dengan mudahnya mengizinkan Daren bermain dengan Riko. Itu sama saja seperti dia mengizinkan lelaki itu datang lagi ke rumah ini.


"Asyik!" Daren berteriak girang.


"Eh, tapi tugas kamu sudah selesai belum?" Sasa memeriksa buku Daren.


"Sudah, Ma. Tadi Om Riko yang bantu aku mengerjakannya."


"Baiklah, sekarang simpan barang-barang kamu, biar besok tidak ketinggalan," pinta Sasa.


"Iya, Ma." Daren bergegas memasukkan buku-buku dan pensilnya ke dalam tas lalu beranjak ke kamar.


Sasa kemudian menatap Riko, "Terima kasih sudah membantu Daren mengerjakan tugasnya."


"Sama-sama, Mbak," balas Riko.


"Jangan panggil Mbak! Aku sahabatnya Dara dan kita seumuran, panggil saja Sasa."


"Iya, Mbak ... eh, maksudnya Sasa."


"Kalau begitu aku tinggal dulu, ya." Sasa kembali beranjak dari duduknya tapi Dara langsung protes.


"Mau ke mana, Sa?"


"Sudah, santai saja!" Sasa bergegas pergi meninggalkan Dara dan Riko.


"Sebenarnya ini rumah siapa, sih?" tanya Riko tiba-tiba.


Dara tersentak dan sontak gugup, "Hem, ini rumah Sasa."


"Jadi kamu dan suami kamu tinggal di sini? Sampai kapan? Terus suaminya Sasa mana?" cecar Riko.


"Ish, Mas Riko sudah kayak wartawan saja, deh! Banyak banget pertanyaannya," sungut Dara.


"Aku kan cuma ingin tahu saja!" dalih Riko.


"Jadi orang jangan kepo, deh!"


"Lalu harus jadi apa baru boleh kepo?" seloroh Riko.


"Mas Riko!"


Riko sontak tertawa, dia memang sengaja ingin menggoda Dara.


"Aku suruh pulang nih!" ancam Dara.


Tawa Riko seketika hilang, "Jangan, dong! Masa aku mau diusir, sih!"


"Makanya jangan nyebelin!" Dara pura-pura marah demi mengalihkan pembicaraan agar Riko tidak bertanya macam-macam lagi tentang suaminya.


"Iya-iya, aku cuma bercanda. Habis kamu tambah cantik kalau lagi marah," goda Riko lagi.


Dara mengulum senyum dengan wajah merona, "Gombal!"


"Biarin gombal, daripada gembel?"


"Ya sudah jadi gembel saja sana!"


"Kalau aku jadi gembel, aku akan tidur di depan rumah kamu setiap hari," ujar Riko.


"Aku siram air, terus aku usir." Dara pun meladeni candaan Riko.


"Aku bakal datang lagi."


"Aku usir lagi!" imbuh Dara tak mau kalah.


"Aku akan tetap datang lagi sampai kamu bosan dan lelah untuk mengusir ku."


"Dasar keras kepala!" umpat Dara, diam memalingkan wajahnya yang cemberut.


"Biarin!" Riko menatap Dara dengan penuh arti.


Di saat bersamaan Daren berlari ke arah mereka dengan girang.


"Om Riko dan Tante Dara dipanggil Mama, diajak makan malam," ucap Daren.


"Wah, kebetulan sekali aku belum makan malam." Riko langsung beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Daren, "yuk, kita makan!"


Riko dan Daren bergandengan tangan dan melangkah ke dapur, mereka terlihat sangat akrab.


Dara terperangah melihat watak Riko yang terlalu percaya diri dan tidak malu-malu itu, padahal dia baru berkenalan dengan Sasa dan Daren, ini juga pertama kalinya dia datang ke rumah ini. Tapi sikapnya seolah-olah seperti sudah mengenal mereka sejak lama.


***