
Suasana makan malam di rumah Sasa sangat meriah, celotehan Daren terus saja terdengar meskipun Sasa sudah berulang kali memperingatkan putranya itu untuk berhenti bicara dan makan, tapi Daren masih ingin bercerita pada Riko yang selalu menanggapinya dengan antusias.
Dalam sekejap Riko dan Daren menjadi akrab bagai sudah kenal lama.
Merekapun akhirnya selesai makan malam dan Sasa meminta Daren masuk ke kamar karena dia ingin mengobrol dengan Riko dan Dara.
"Sekarang kamu ke kamar dan sikap gigi, lalu istirahat. Besok kan harus bangun pagi dan ke sekolah," pinta Sasa pada sang putra.
"Tapi aku masih ingin bercerita dengan Om Riko, Ma," rengek Daren.
"Dari tadi kan kamu sudah bercerita dengan Om Riko, sekarang giliran Mama yang ngobrol dengan dia."
"Iya, deh." Daren tertunduk dengan wajah masam.
"Sekarang pamit dulu dengan Om Riko!" titah Sasa.
Daren mendekati Riko, "Om, aku bobok dulu, ya."
"Iya, jagoan. Mimpi indah, ya!" sahut Riko sembari mengusap kepala Daren.
"Sampai jumpa di hari Minggu, Om."
Riko tersenyum, "Yoi, Bro."
Daren pun berlalu pergi meninggalkan Riko, Dara dan Sasa dengan wajah cemberut. Dia masih ingin bermain dan bercerita dengan Riko, tapi tak berani membantah perintah sang mama.
"Kamu sepertinya menyukai anak kecil, ya?" tanya Sasa memulai pembicaraan.
"Iya, mereka lucu," jawab Riko.
"Kamu pasti punya adik kecil, ya? Soalnya kamu tahu banyak tentang dunia anak-anak?"
Riko menggeleng, "Tidak, aku anak paling kecil. Tapi aku punya banyak anak asuh di panti asuhan Harapan Kasih dan aku tahu dari mereka."
"Oh iya? Wah, keren! Jarang-jarang loh ada cowok masih muda dan peduli dengan anak-anak panti."
Riko tersenyum sebelum bicara, "Kalau bukan kita siapa lagi yang mau peduli?"
Dara hanya bergeming menyimak obrolan Sasa dan Riko, sejujurnya dia merasa tidak nyaman sebab Riko berlama-lama di sini.
"Kamu sudah menikah?" tanya Sasa lagi.
"Belum," jawab Riko.
"Kalau pacar pasti punya, kan?" Sasa memastikan.
"Tidak punya," sahut Riko mantap.
Sasa semakin menjadi, "Masa, sih? Kamu pasti bohong!"
Riko tertawa, "Serius, aku memang tidak punya pacar!"
"Cewek yang kamu suka, pasti ada, dong!" tebak Sasa sambil melirik Dara, membuat sahabatnya itu memberikan tatapan peringatan.
Riko terdiam dan sontak memandang ke arah Dara yang juga sedang menatapnya, membuat wanita itu mendadak gugup. Sasa yang memperhatikan mereka tersenyum samar.
Dara buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain demi menghindari tatapan Riko.
"Ini sudah terlalu malam, apa tidak sebaiknya Mas Riko pulang saja? Tidak enak kalau Mas lama-lama di sini," ujar Dara yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
Sasa dan Riko terkesiap sebab Dara secara tidak langsung mengusir Riko.
"Tidak apa-apa! Dara benar, sebaiknya aku pulang. Terima kasih buat jamuan makan malamnya," sela Riko yang mengerti maksud Dara.
"Sama-sama," balas Sasa.
"Aku pamit."
Sasa mengangguk sembari tersenyum.
Riko beranjak dan melangkah menuju pintu keluar, Dara pun menyusulnya.
"Maaf, ya, Mas. Aku tidak bermaksud mengusir Mas Riko, aku hanya merasa tidak enak pada Sasa."
"Iya, kamu santai saja. Oh iya, suami kamu kapan pulang?"
Dara tergagap, "Hem, mungkin sebentar lagi, Mas."
Riko hanya manggut-manggut.
"Ya sudah, aku pulang dulu."
"Iya, terima kasih untuk traktirannya."
Riko tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia lalu memakai helm kemudian naik ke atas motor.
"Hati-hati, Mas," ucap Dara.
Riko memandang Dara dan kembali mengangguk, dia pun akhirnya melesat pergi meninggalkan rumah Sasa.
Dara mengembuskan napas lega karena Riko sudah pergi, dia pun masuk ke dalam rumah dan terkejut sebab Sasa masih duduk ditempatnya tadi.
"Dia sepertinya lelaki yang baik dan menyenangkan, apa kamu tidak ada niat membuka hatimu untuknya?"
Dara terkesiap mendengar pertanyaan Sasa, "Kamu ini bicara apa, sih? Aku belum bercerai dari suamiku, aku masih istri orang. Lagipula aku masih mencintai Mas Rendra."
"Ya ampun, Dara! Suami kayak Rendra itu cocoknya dibuang saja ke laut, biar dimakan ikan hiu sekalian! Lagian ada yang lebih bagus, ngapain masih mencintai yang buruk," cibir Sasa.
"Sa, perasaan itu tidak bisa diatur dan dipaksakan! Lagi pula seburuk-buruknya Mas Rendra, dia masih suami aku sampai putusan pengadilan nanti. Bagaimana pun aku harus tetap menghargai pernikahan ini sampai kami benar-benar bercerai."
"Tapi dia saja mengkhianati pernikahan kalian, Ra!"
"Dan aku tidak ingin seperti dia, Sa."
"Baiklah, terserah kamu saja! Aku hanya ingin kamu bangkit dan melupakan laki-laki berengsek itu."
"Aku tahu niat kamu baik ingin menjodohkan dengan Mas Riko, tapi tidak untuk sekarang, Sa! Ini terlalu cepat dan aku masih trauma, lagipula aku juga tidak tahu dia seperti apa, aku takut kecewa lagi," ujar Dara.
Sasa jadi merasa tidak enak, "Aku minta maaf, Ra. Aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusan pribadimu."
Dara tersenyum, "Tidak apa-apa, aku tahu kamu melakukan semua ini karena kamu peduli padaku. Terima kasih, ya, Sa."
Sasa mengangguk lalu memeluk Dara, "Aku hanya ingin kamu bahagia."
Dara membalas pelukan Sasa sembari menyeka sudut matanya yang basah, dia merasa sedih sekaligus terharu.
"Ya udah, sekarang kita tidur, aku ngantuk."
Sasa mengangguk dan melepaskan pelukannya. Kedua wanita itu pun beranjak dan masuk ke kamar masing-masing.
***