
Rendra tengah mengendarai mobilnya menuju Bandung, dia akan menemui klien di kota kembang itu. Karena ini adalah hari Sabtu, jalanan pun sedikit lengang dan mobil Rendra melaju dengan kecepatan tinggi.
Sebenarnya Rendra ingin Amel ikut, tapi sekretaris sekaligus kekasihnya itu menolak dan Rendra tak mau memaksa.
Rendra masih fokus mengemudi, dan menambah kecepatan mobilnya. Tiba-tiba ponsel Rendra berbunyi, dia berusaha mengambilnya dari dalam saku celana, namun sebelum sempat menjawab, telepon itu terputus. Tak lama kemudian sebuah pesan chat masuk, ternyata dari kliennya yang di Bandung dan Rendra sibuk membaca pesan itu.
Tapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, karena kehilangan konsentrasi saat mengemudi, mobil Rendra pun oleng lalu menabrak pembatas jalan tol hingga terguling beberapa kali dan ringsek.
Rendra terluka cukup parah di bagian kepala dan kaki, dia masih sempat sadar dan melihat bayangan Mirna berdiri di dekat mobilnya.
"Mama ...." ucap Rendra lemah, kemudian dia tak sadarkan diri.
***
Dara sedang mengeluarkan brownies kukus yang dia buat dari dalam loyang dengan hati-hati dan meletakkannya di piring.
"Hem, aku paling suka kalau Mbak Dara baru mengeluarkan brownies dari kukusan, aromanya bikin lapar," celoteh Momo yang sejak tadi berdiri di samping Dara.
"Masa, sih?" ujar Dara.
"Iya, Mbak. Aroma coklatnya itu buat susah tidur, habis kepikiran melulu," seloroh Momo penuh drama.
Dara terkekeh, "Kamu ini bisa saja."
"Serius, Mbak!"
"Bukan brownies saja yang bikin susah tidur, orangnya juga," sela Riko tiba-tiba.
Dara dan Momo sontak berbalik memandang Riko yang berdiri di belakang mereka.
"Mas Riko," gumam Dara.
"Cie ... cie, ada yang gombal, nih," ledek Momo.
"Hust, berisik! Sudah sana kerja! Ngapain dekat-dekat makanan melulu?"
"Yee, aku kan lagi membantu Mbak Dara," sahut Momo.
Dara kembali melanjutkan pekerjaannya sambil geleng-geleng kepala mendengar ocehan Riko dan Momo.
"Bantu apa? Paling kamu nungguin kue-kue reject, iya kan?" tuduh Riko.
"Tidak, kok! Siapa yang nungguin kue reject!" sanggah Momo.
"Nih, ambil!" Dara memberikan bekas potongan tepi brownies pada Momo.
"Buat aku, Mbak?" Momo memastikan.
Dara mengangguk.
"Asyik! Dapat bekas potongan pun jadi, deh." Momo langsung melahap brownies itu.
"Itu kan benar apa yang aku bilang! Sok-sokan tidak mau ngaku lagi!" gerutu Riko.
Momo hanya menjulurkan lidahnya kepada Riko lalu bergegas pergi.
Dara tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat karyawan Helena Bakery berbadan gemuk itu.
"Dasar tong sampah! Apa saja mau!" ejek Riko.
"Eh, tidak boleh gitu!" Dara menegur Riko.
"Habis aku heran lihat dia, apa dia tidak pernah merasa kenyang?"
"Mungkin dia lapar, Mas."
Dara langsung melotot marah, "Mas Riko!"
"Iya-iya, maaf."
Dara membereskan loyang kotor dan meletakkannya di pencucian piring.
"Ra, kamu tidak makan siang?" tanya Riko.
"Sebentar lagi, Mas," jawab Dara.
"Makan bareng, yuk?"
"Aku makan bareng Momo dan Kiki, Mas."
Ponsel Dara berdering, dia bergegas mengeluarkannya dari saku celana dan terkesiap saat melihat ID si penelepon.
"Mas Rendra?" ucap Dara pelan namun masih bisa terdengar oleh Riko.
"Mau apa dia menelepon Dara?" batin Riko yang mendadak resah dan penasaran.
"Halo, Mas?" sapa Dara gugup.
"Selamat siang, kami dari pihak kepolisian. Benar ini istrinya Bapak Rendra Irawan?"
Jantung Dara seketika berdetak kencang, pikiran-pikiran kotor mulai menghantuinya.
"Selamat siang. Iya, benar, Pak."
"Kami ingin mengabarkan jika suami Ibu mengalami kecelakaan tunggal di tol menuju Bandung, dan kini sedang ditangani di rumah sakit Bina Kasih dalam keadaan kritis."
Dara terperangah, dia terkejut setengah mati, "Ya Tuhan! Mas Rendra!"
Bagai tersambar petir rasanya mendengar kabar itu, tubuh Dara seketika gemetaran dan nyaris limbung, untung Riko yang melihatnya sigap menangkap wanita itu agar tidak jatuh.
"Dara tenanglah! Sekarang kamu duduk dulu!" Riko membantu Dara duduk.
Air mata Dara langsung jatuh berderai, dia sungguh panik dan cemas.
"Ada apa?" tanya Riko.
"Suami aku kecelakaan dan kritis," sahut Dara sambil menangis terisak-isak.
Sama halnya dengan Dara, Riko pun merasa terkejut mendengar kabar buruk itu.
Dara tiba-tiba beranjak dan hendak pergi, tapi Riko menahannya.
"Kamu mau ke mana?"
"Aku harus lihat dia, Mas."
"Baiklah, aku antar kamu, ya?"
Dara mengangguk, saat ini bukan waktu yang tepat untuk menolak tawaran Riko seperti biasanya.
Dara mengambil tasnya di ruang karyawan.
"Aku mau minta izin dulu dengan Bu Helena," imbuh Dara.
"Sudah, tidak usah! Nanti aku yang akan telepon dia, sekarang kita pergi saja!"
Lagi-lagi Dara menuruti perintah Riko, keduanya bergegas pergi dari Helena Bakery, karyawan lain pun bertanya-tanya apa yang terjadi.
***