
Dara dan Riko mendekati kaca pembatas ruangan, keduanya terkejut saat melihat Rendra sudah membuka matanya dan tengah ditangani oleh tim medis.
"Dia sudah sadar," ucap Dara pelan. Hatinya merasa lega walaupun dia masih menyimpan amarah dan rasa sakit yang teramat sangat.
Riko bergeming, wajahnya datar. Tak ada ekspresi sedih ataupun senang.
Tak lama kemudian dokter tadi keluar dari ruang ICU dan menghampiri Dara serta Riko.
"Pasien sudah melewati masa kritisnya dan kondisinya mulai stabil," terang dokter itu.
Dara mengembuskan napas lega, "Syukurlah."
"Ini merupakan keajaiban, suami Ibu bisa melewati masa kritisnya dalam waktu singkat. Dia benar-benar berjuang untuk hidup."
Dara mencoba tersenyum.
"Sebentar lagi kami akan memindahkan nya ke ruang pemulihan," lanjut dokter itu.
"Kalau begitu, boleh kami masuk sekarang?" tanya Dara.
"Boleh, tapi satu orang saja karena kami ingin tetap menjaga kenyamanan dan ketenangan pasien."
Dara menatap Riko yang berdiri di sampingnya.
"Kamu masuk saja, aku tunggu di sini," ujar Riko.
Dara mengangguk, "Baiklah, Mas."
Setelah memakai baju khusus dan mencuci tangan, Dara pun masuk ke ruang ICU.
"Mas," tegur Dara pelan sambil menitikkan air mata.
Dara tak bisa menyembunyikan kesedihannya tapi dia berusaha menahan diri untuk tidak menanyakan perihal perselingkuhan sang suami sekarang.
"Dara?" ucap Rendra lemah dan sedikit terkejut, wajahnya pucat dan kepalanya diperban.
"Bagaimana keadaan, Mas?"
"Buruk," jawab Rendra.
Dara terdiam, dia seolah kehabisan kata-kata untuk bicara pada Rendra, entah mengapa suasana terasa begitu dingin dan canggung.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Rendra tiba-tiba.
"Tadi polisi menghubungi ku, dan aku langsung ke sini," jawab Dara.
Rendra tak membalas perkataan Dara, bukan wanita itu yang dia harapkan datang, tapi Amel. Dia mengalihkan pandangannya ke pintu, berharap seseorang masuk dari sana.
"Apa kau sudah menghubungi sekretaris ku?" tanya Rendra.
Jantung Dara seakan mencelos, emosinya seketika naik saat mendengar Rendra menyebut wanita itu, namun dia berusaha mengendalikan diri, sebab ini bukan waktu dan tempat yang tepat untuk meluapkan amarahnya.
"Dara, aku bertanya kepadamu!"
"Belum, Mas," jawab Dara ketus, hatinya terasa pedih karena sadar tak diharapkan.
Rendra mengembuskan napas berat. Dia kesal kenapa polisi harus menghubungi Dara, bukan Amel.
"Oh iya, Mas. Tadi polisi mengembalikan ponsel, dompet dan barang-barang kamu yang mereka temukan." Dara mengalihkan situasi, berusaha tegar dan bersikap biasa saja.
Rendra kembali memandang Dara dengan tatapan dingin, tatapan yang sama sekali tak menyiratkan adanya cinta dan kerinduan lagi untuknya. Sungguh itu menyakitkan untuk Dara.
"Letak di meja itu," pinta Rendra.
Dara meletakkan barang-barang Rendra di atas meja nakas.
"Hem."
Dara bergegas keluar sambil menangis, dia tidak sanggup lagi menahan gemuruh di dalam dadanya, terlalu sakit diperlakukan seperti tadi. Dia ada di sisi Rendra tapi lelaki itu justru mengharapkan wanita lain.
Riko yang melihat Dara keluar dari ruang ICU sambil menangis langsung mendekati wanita itu, "Ada apa? Kenapa kamu menangis seperti ini?"
Dara menggeleng dan buru-buru mengusap air matanya, dia terlalu malu untuk mengumbar semuanya pada Riko.
"Aku mau ke toilet dulu." Dara segera pergi, menghindari Riko yang masih menunggu jawabannya.
Riko mengembuskan napas berat melihat kepergian Dara, dia tahu pasti terjadi sesuatu di dalam, Rendra pasti sudah melukai perasaan Dara hingga wanita itu menangis dengan begitu pilu.
"Kasihan dia," gumam Riko dengan wajah yang sendu.
Sementara itu di ruang ICU, Rendra berusaha meraih ponselnya dengan susah payah lalu mencoba menghubungi Amel dan mengabari apa yang menimpanya kepada sang kekasih. Saat ini dia ingin Amel datang dan merawatnya.
***
Dengan gontai, Dara melangkah keluar dari toilet. Wajah dan anak rambutnya basah, tadi dia mencuci muka setelah puas menangis dan menumpahkan kesedihan hatinya di dalam sana.
"Kamu lama sekali, hampir saja aku menerobos masuk," keluh Riko yang berdiri menyandar di depan toilet.
Dara terkesiap melihat keberadaan Riko, dia tak menyangka lelaki itu akan menunggunya di sini.
"Mas Riko, kenapa ada di sini?" tanya Dara.
"Aku khawatir padamu, kamu ke toilet sambil menangis seperti itu, aku takut terjadi sesuatu makanya aku susul dan menunggumu di sini," dalih Riko.
Dara tertegun sebab Riko begitu peduli dan perhatian padanya, andai saja Rendra juga seperti Riko, tapi kenyataannya mereka sangat bertolak belakang.
Dara tertunduk menyesal, "Maaf, aku sudah membuat Mas Riko cemas."
"Tidak apa-apa. Ya sudah, yuk!"
"Aku mau membeli minum dulu, Mas."
"Kalau begitu biar aku belikan."
"Tidak usah, biar aku saja! Sekalian aku ingin cari angin di luar," tolak Dara.
"Kamu tidak mau menemani suamimu?" tanya Riko dengan tatapan menyelidik.
"Nanti saja."
Riko semakin yakin jika terjadi sesuatu dengan Dara dan Rendra tadi.
"Bagaimana kalau kita sekalian makan? Soalnya aku sudah lapar," cetus Riko, dia sengaja mencari-cari alasan agar Dara tidak perlu buru-buru kembali ke dalam.
"Tapi aku tidak lapar, Mas," tolak Dara.
"Kamu mau buat aku cemas lagi?"
Dara menggeleng.
"Kalau begitu ayo makan! Aku tidak mau kamu sakit gara-gara telat makan," desak Riko.
Dara menghela napas panjang, "Baiklah."
Riko menyunggingkan senyuman.
Keduanya pun berjalan beriringan menuju kantin rumah sakit tersebut. Riko tak ingin Dara bersedih lagi, entah mengapa dia merasa sakit setiap kali melihat wanita itu menangis.
***