
Helena memperkenalkan Dara pada semua karyawannya, dan mereka akhirnya tahu jika orang yang membuat brownies super enak itu adalah wanita yang sedang berdiri di hadapan mereka saat ini.
"Ternyata benar kata Mas Riko, yang buat orangnya cantik banget," celetuk salah satu karyawan wanita bernama Kiki.
"Iya, sudah cantik, jago buat kue lagi," sambung karyawan lain yang biasa dipanggil Momo.
Dara yang mendengar itu hanya tersenyum, sedangkan saat ini Riko tidak terlihat batang hidungnya. Entah ke mana pria tampan yang selalu mengenakan jaket denim itu.
"Baiklah, kamu sudah bisa mulai. Sekarang kamu yang menguasai kitchen, kalau ada perlu apa-apa, bilang saja!" pinta Helena sembari tersenyum.
"Baik, Bu."
"Kalau begitu selamat bekerja."
Dara mengangguk sembari tersenyum manis, "Iya, Bu. Terima kasih."
Helena pun melenggang meninggalkan Dara dan para karyawannya yang lain. Beberapa dari mereka juga kembali ke tempat masing-masing, tinggallah Kiki dan Momo.
"Mbak Dara, kenalin aku Kiki." Kiki mengulurkan tangannya.
Dara menjabat tangan Kiki, "Hai, Kiki."
"Kalau aku Monica, tapi biasanya dipanggil Momo," sela karyawan bertubuh gendut yang bernama Momo itu.
"Halo Momo, kamu bukan vocalis band itu, kan?" seloroh Dara.
"Bukanlah, Mbak! Momo mana bisa nyanyi, dia bisanya cuma makan," ledek Kiki.
Momo sontak memukul pundak Kiki, "Enak saja! Selain makan, aku juga bisa mengerjakan hal lain, kok. Seperti tidur, ngemil dan melayani pelanggan."
"Yee, cuma yang terakhir baru ada gunanya!" sindir Kiki, disambut gelak tawa Momo.
Dara pun ikut tertawa melihat tingkah dua rekan kerjanya itu.
"Ya sudah, mari bekerja! Entar dimarahi Bu Helena," ajak Kiki.
Ketiganya pun bergegas berpencar dan melakukan tugas masing-masing.
Hari ini adalah hari pertama Dara bekerja di Helena Bakery, tapi rasanya dia sudah sangat betah karena sikap ramah Kiki dan Momo juga karyawan lain. Ditambah lagi Helena serta Riko yang juga sangat baik terhadapnya. Mungkin Sasa benar, dia harus melakukan kegiatan di luar rumah agar terhibur dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
***
Malam ini, Amel dan Rendra sedang makan malam bersama di sebuah restoran.
"Sayang, ini sudah hampir sebulan tapi sepertinya tidak ada perkembangan apa-apa. Riko masih belum bisa menaklukkan istrimu itu," keluh Amel dengan wajah masam.
"Kamu kan tahu ada musibah yang menimpa Mamaku dan selama lebih kurang dua Minggu Dara tidak berinteraksi dengan Riko, jadi mungkin sebaiknya kita beri tambahan waktu Riko menjalankan tugasnya."
"Kayaknya tidak perlu, deh. Menurutku, kita batalkan saja kerja sama dengan Riko dan kamu langsung ceraikan saja istrimu itu. Kan tidak ada penghalang lagi sekarang," bantah Amel.
"Tapi, Mel ...."
"Kenapa? Kamu belum rela berpisah dari istrimu itu?" potong Amel cepat sebelum Rendra sempat melanjutkan kata-katanya.
"Bukan begitu, tapi aku bingung mengatakan alasan aku menceraikannya," sanggah Rendra.
"Bilang saja kalau dia itu tidak becus menjadi istri dan kamu tidak mencintai dia lagi, bila perlu katakan jika kamu itu mencintai wanita lain. Dia pasti akan mau bercerai darimu."
Rendra terdiam memikirkan saran dari Amel itu.
Amel memegang tangan Rendra dan menggenggamnya erat, "Sayang, aku itu sudah tidak sabar ingin menikah dengan kamu. Aku lelah selalu jadi yang kedua, aku ingin menjadi satu-satunya wanita yang akan menemani hidup kamu. Jadi aku mohon, ngertiin perasaan aku."
Rendra menatap mata Amel yang berkaca-kaca, seketika hatinya merasa kasihan pada kekasihnya itu.
"Baiklah, aku akan membatalkan kerja sama kita pada Riko dan menceraikan Dara secepatnya," ujar Rendra kemudian.
Dara sontak tersenyum senang, "Serius, sayang?"
Rendra mengangguk.
"Terima kasih, ya, sayang. Aku senang banget!"
"Kalau begitu sekarang aku akan hubungi Riko dan membatalkan kerja sama kita." Dara langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, tapi Rendra menahannya.
"Tidak usah!"
Amel mengerutkan keningnya, "Kenapa?"
"Biar aku saja yang bicara padanya nanti."
"Tidak apa-apa, biar aku saja. Dia pasti meminta bayaran padamu, jadi sebaiknya biar aku saja yang bicara padanya," imbuh Amel.
"Iya, aku tahu. Makanya biar aku yang bicara langsung padanya, kamu tenang saja!"
Amel menghela napas pasrah, "Baiklah."
***
Rendra menghubungi Riko dan mengajak lelaki itu untuk bertemu di salah satu klub malam.
"Mengapa kau memanggilku ke sini?" tanya Riko yang duduk di samping Rendra.
"Ada yang ingin aku bicarakan, ini tentang Dara," jawab Rendra.
Riko memutar posisi duduknya menghadap Rendra dan menatap pria itu penuh rasa penasaran.
"Ini sudah hampir sebulan, tapi sepertinya kau masih belum berhasil menaklukkan dia. Jadi aku memutuskan untuk menghentikan kerja sama kita," lanjut Rendra.
"Tapi kau kan tahu selama dua Minggu aku dan dia tidak bertemu, jadi waktuku berkurang untuk mendekati dia," protes Riko.
"Iya, aku tahu dan aku tidak menyalahkan mu. Aku juga akan tetap membayar mu sesuai kesepakatan kita."
"Lalu apa kau tidak jadi berpisah darinya?"
"Aku akan tetap menceraikan dia setelah ini, aku juga akan jujur padanya tentang Amel," sahut Rendra tak berperasaan.
Riko terkesiap, dia tak menyangka Rendra akan melakukan semua ini.
"Apa kau juga akan mengatakan jika mengutusku untuk menggodanya?" Riko memastikan.
Rendra menggeleng, "Tidak."
Riko mengembuskan napas lega.
"Jadi kapan kau akan menceraikan dia?" tanya Riko ingin tahu.
"Secepatnya."
"Apa setelah ini kami masih bisa berteman? Soalnya sekarang dia rekan kerjaku di Helena Bakery."
"Itu terserah dengan kalian, aku tidak peduli," balas Rendra.
Riko bergeming dan tersenyum samar.
"Kalau begitu kirim nomor rekening mu sekarang, aku akan mentransfer uangnya," pinta Rendra.
"Tidak usah!" tolak Riko.
Rendra sontak menatap Riko dengan alis mata yang menaut, "Kenapa?"
"Aku tidak butuh uang mu! Simpan saja untuk kekasihmu yang tercinta itu, agar kau tetap bisa berada di sisinya," ujar Riko sombong, dia beranjak dari duduknya.
Rendra pun ikut berdiri dan menatap tajam Riko, "Apa maksudmu?"
Riko tersenyum sinis, "Nanti kau juga akan tahu. Aku permisi."
Riko melenggang pergi meninggalkan Rendra yang kebingungan dan sedikit kesal dengan sikapnya.
***