Unwanted Wife

Unwanted Wife
Episode 32.



Amel duduk di samping Rendra yang sudah lebih tenang karena dokter telah menyuntikkan obat pereda nyeri padanya.


"Pipi kamu masih sakit?" tanya Rendra sambil mengelus lembut pipi Amel yang merah bekas tamparan Dara tadi.


"Masih, sayang. Istri kamu kasar banget, sih! Kalau tidak mikir bakal jadi ribut, aku balas dia," gerutu Amel.


"Maaf, ya. Gara-gara aku, kamu jadi korban," sesal Rendra, tanpa dia sadari jika Dara lah korban yang sesungguhnya.


"Iya, sayang. Eh, tapi sekarang istri kamu kelihatan cantik, ya? Dia sudah berdandan lagi seperti dulu, kamu tidak nyesal menceraikan dia?" Amel sengaja memancing Rendra.


"Kamu ini bicara apa, sayang? Mau dia berubah jadi secantik apa pun, cinta aku itu sudah buat kamu," sahut Rendra.


Amel tersenyum bangga seraya mengelus kepala Rendra.


"Oh iya, sayang. Bukannya kamu sudah memutuskan kesepakatan dengan Riko? Tapi kenapa dia masih bersama istri kamu?"


"Sekarang mereka kan rekan kerja, jadi wajar saja mereka bersama. Lagipula waktu itu Riko bilang dia akan tetap berteman dengan Dara meski aku membatalkan kesepakatan itu," jawab Rendra.


"Tapi aku rasa ada yang aneh, deh!"


"Aneh apanya?" Rendra menanggapi ucapan Amel dengan malas sebab dia mulai mengantuk karena efek obat pereda nyeri tersebut.


"Rekan kerja memang harus sedekat itu? Kayaknya Riko benar-benar suka dengan istri kamu," ujar Amel.


Rendra terkesiap dan tertegun.


"Tadi aku tidak sengaja melihat mereka, Riko sangat peduli dan perhatian pada istri kamu. Selama aku mengenal Riko, dia hanya bertingkah seperti itu pada wanita yang dia sukai. Ya, walaupun setelah mendapatkan wanita itu, dia akan mencampakkannya," terang Amel.


"Makanya Riko bilang dia masih ingin berteman dengan istri kamu, tapi sebenarnya dia ingin mendekatinya," sambung Amel memprovokasi.


Rendra terdiam, dia teringat ketika melihat Riko membonceng Dara waktu itu. Mereka memang tampak begitu dekat.


"Sayang, kamu kok diam saja?" tegur Amel sebab melihat Rendra melamun.


Rendra tersentak, "Eh, iya sudah biarkan saja! Itu urusan mereka, aku tidak peduli."


"Kamu benar-benar tidak peduli?" Amel sengaja memancing Rendra.


"Iya, aku tidak peduli lagi apa pun yang Dara lakukan, aku cuma peduli sama kamu. Jadi sekarang berhenti membahas mereka!"


Amel tersenyum puas karena dia sudah membuat Rendra benar-benar berpaling dari Dara.


Rendra menggenggam tangan Amel, "Sayang, aku ngantuk mau tidur. Kamu temani aku di sini, ya?"


"Iya, sayang."


Rendra pun menutup mata, sebenarnya ucapan Amel tadi sedikit mengganggu pikirannya, tapi dia berusaha untuk tidak peduli dan mengabaikannya.


***


Dara tiba di rumah Sasa, sedangkan Riko sudah pulang. Dara mengadukan apa yang terjadi pada sahabatnya itu, dia lagi-lagi menangis dengan begitu pilu.


Dara tak membalas ucapan Sasa, dia hanya terisak-isak di pangkuan sang sahabat.


Sasa kemudian mengelus rambut Dara dengan penuh kasih sayang, dia sungguh merasa iba dan prihatin pada nasib sahabatnya itu.


"Kamu yang sabar, ya. Percaya deh, ini pasti yang terbaik untukmu. Kamu itu terlalu baik untuk laki-laki brengsek seperti Rendra."


"Tapi rasanya sakit sekali, Sa," keluh Dara lirih.


"Iya, aku tahu. Tapi kamu harus kuat, tidak boleh lemah. Kamu harus tunjukkan kalau kamu bisa hidup lebih baik tanpa si berengsek itu, kamu harus bangkit!"


"Apa aku bisa?"


"Harus bisa! Kamu itu wanita yang kuat, kamu pasti bisa melewati semua ini dan menemukan kebahagiaan mu. Percayalah, semua akan indah pada waktunya, dan Tuhan pasti sudah mempersiapkan seseorang yang jauh lebih baik dari si brengsek itu," sahut Sasa.


Dara bergeming lalu mengusap air matanya.


"Sekarang kamu berhenti menangis, terus mandi. Aku mau ajak kamu, Daren dan Mbok Narsih makan di luar," pinta Sasa.


"Aku sedang tidak berselera, aku di rumah saja, ya?"


"Eh, tidak bisa! Kamu juga harus ikut!"


Dengan perlahan Dara mengangkat kepalanya dari pangkuan Sasa, wajah cantiknya basah dan terlihat berantakan.


"Sudah, buruan!" desak Sasa.


"Tapi aku malas, Sa," rengek Dara.


"Jangan begitu, dong! Kamu harus semangat dan ceria lagi, kamu tidak boleh sedih terus! Atau kamu mau ajak Riko sekalian?"


"Ngapain ngajak dia?"


"Biar seru! Dia kan paling bisa bikin suasana meriah," sahut Sasa.


"Malas, ah! Dia juga kan pasti lelah, mau istirahat."


"Cie, sudah mulai peduli nih?" ledek Sasa.


"Apaan, sih, Sasa?" sungut Dara.


Sasa tertawa melihat wajah masam Dara.


"Sudah mandi sana, terus dandan yang cantik!"


"Iya-iya." Dara bangkit dan berjalan malas ke kamarnya.


Sasa mengembuskan napas lega, dia sengaja ingin menghibur Dara agar sahabatnya itu berhenti bersedih. Tapi mengajak Riko sepertinya ide yang bagus.


***