Unwanted Wife

Unwanted Wife
Episode 34.



Riko duduk termenung di kamar yang sudah hampir tiga tahun ini dia tempati, sejak memutuskan keluar dari rumah sang ayah.


Erika telah pergi tapi perkataan kakaknya itu masih terngiang-ngiang di telinganya, dia tak pernah menduga wanita yang dia anggap sebagai penyebab kematian sang ibunda kini sedang sekarat.


Helena masuk dan duduk di samping Riko, "Kamu masih memikirkan ucapan Erika tadi?"


Riko mengangguk.


"Apa sekarang kamu ingin pulang?" tanya Helena.


"Tidak, Tante. Kecuali dia sudah tiada, dan itu pun kalau Papa memintaku untuk pulang," jawab Riko.


"Kalau papamu tidak memintamu untuk pulang, kamu bisa tetap tinggal di sini bersama Tante, selamanya."


Riko memandang wajah Helena, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu sangat mirip dengan sang ibu yang begitu dia rindukan, "Terima kasih Tante sudah mau menampungku dan mengizinkan aku tinggal di sini. Tante sudah banyak banget membantu aku selama ini."


Helena menggenggam tangan Riko, "Kamu itu keponakan Tante, anak dari kakak Tante. Mana mungkin Tante tidak membantu kamu saat kamu kesulitan."


Riko merasa terharu, selama hampir tiga tahun ini, Helena sudah cukup banyak menolongnya dalam segala hal. Saat dia jatuh dan terpuruk, wanita itu lah yang mengangkatnya naik serta membuat dia kembali ke jalan yang benar.


"Sekali lagi terima kasih, ya, Tante. Aku sayang Tante."


"Tante juga sayang banget sama kamu," balas Helena dengan mata berkaca-kaca, dia sudah menganggap Riko seperti putranya sendiri.


"Oh iya, bagaimana keadaan suaminya Dara? Apa kecelakaannya parah?" Helena tiba-tiba bertanya.


"Lumayan parah, Tan. Kakinya patah dan ada cedera yang cukup serius di kepala," terang Riko.


"Kasihan sekali. Dara pasti sedih."


"Iya, tapi ada hal yang membuat Dara lebih sedih lagi."


Helena mengernyitkan keningnya, "Apa?"


Riko mengembuskan napas, "Dara sudah mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sekretarisnya itu."


Helena terkesiap.


"Jadi dia sudah tahu?"


Riko mengangguk, dari awal dia sudah menceritakan semuanya pada Helena, makanya tantenya itu bersedia membantunya untuk mendekati Dara agar bisa memisahkan wanita tersebut dari Rendra.


"Dara bahkan sudah digugat cerai oleh suaminya," ujar Riko.


"Astaga, Kasihan sekali Dara. Dia pasti terluka dan sedih."


Helena menatap Riko dengan curiga, "Jangan-jangan kamu benar-benar suka dengan Dara, ya?"


Riko tersenyum menanggapi tuduhan Helena itu.


"Tante sudah menduganya! Kamu pasti jatuh hati pada Dara, bukan cuma pura-pura lagi."


"Awalnya aku cuma berniat mendekati dia karena ingin memisahkan dia dari suami berengsek nya itu. Tapi begitu dekat dengannya, aku mulai merasa ada yang tidak beres dengan hatiku. Aku sadar, kalau aku telah jatuh cinta padanya," ucap Riko.


Helena tertawa.


Riko mengerutkan keningnya, "Kenapa Tante tertawa?"


"Kamu itu benar-benar playboy, gampang banget jatuh cinta."


"Tapi ini beda, Tante."


"Bedanya?"


"Biasanya aku hanya sekedar suka pada wanita cantik, setelah mendapatkannya, aku akan merasa puas lalu bosan. Tapi kali ini ada perasaan yang lebih dari itu, aku selalu ingin di dekatnya dan takut kehilangan dia. Aku rasa ini yang namanya cinta sejati," terang Riko.


"Uluh-uluh, keponakan Tante ini sudah ngerti tentang cinta sejati," ledek Helena sambil mencubit gemas pipi Riko.


Riko pun tergelak, Tantenya itu selalu saja memperlakukan dirinya seperti anak kecil.


"Tapi kamu tidak keberatan dengan statusnya nanti? Dia bukan lagi gadis, loh." Helena mengingatkan.


"Aku tidak peduli, Tan. Di mataku, mau janda atau gadis, itu sama saja!"


Helena tersenyum, dia tahu Riko seorang pria yang sangat baik dan bijaksana.


"Jadi apa kamu akan menyatakan perasaanmu kepadanya?" tanya Helena lagi.


"Pastilah, tapi tidak sekarang. Biar dia menyelesaikan perceraiannya dulu dan move on dari mantan suaminya. Karena aku tidak mau hanya dijadikan pelarian saja."


"Iya, beri dia waktu untuk menyembuhkan luka dan rasa sakitnya, dia pasti trauma. Jadi kalau bisa sekarang kamu dan dia temanan saja dulu, sekalian mengenal karakter masing-masing, sampai dia melupakan masa lalunya," usul Helena.


"Itu yang sedang aku lakukan sekarang, Tan. Aku ingin menjadi teman yang selalu ada untuknya, aku ingin dia merasa nyaman bersamaku sampai cinta untukku tumbuh di hatinya."


"Good! Tante dukung kamu! Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan bilang ke Tante." Helena menepuk pundak Riko, dan lelaki itu hanya tersenyum.


***