Unwanted Wife

Unwanted Wife
Episode 36.



Riko sedang bermain bola dengan Daren di taman belakang, Dara menghampiri mereka dengan membawa dua gelas jus mangga dan sepiring brownies coklat buatannya.


Riko yang melihat Dara langsung menyudahi permainannya dengan Daren.


"Kita istirahat dulu, Om lelah!" Riko ngos-ngosan, keringat sudah membanjiri tubuhnya.


"Yaaa, tapi aku masih mau main," keluh Daren yang masih bersemangat seolah tak kehabisan tenaga.


"Tante Dara bawa jus dan camilan, kita ngemil dulu!" usul Riko sembari menunjuk ke arah Dara.


"Iya, deh. Tapi nanti kita main lagi, ya, Om?"


"Siap, bos!"


Riko dan Daren pun berlari menghampiri Dara.


"Wah, brownies nya sudah jadi!" seru Daren.


"Cuci tangan dulu, sayang!" pinta Dara lembut saat Daren hendak mengambil sepotong brownies.


"Iya, Tante." Daren urung mengambil brownies tersebut dan beranjak masuk ke dalam.


Dara beralih memandang Riko yang duduk di hadapannya, "Mas juga, cuci tangan dulu sana!"


Wajah Riko berubah masam, "Kok nyuruhnya gitu? Kenapa tidak pakai sayang juga kayak Daren tadi?"


Dara sontak melotot.


Riko tertawa, "Iya-iya, aku cuma bercanda!"


Dia kemudian bangkit dan menyusul Daren.


Tak lama kemudian Riko dan Daren muncul bersamaan, keduanya pun menikmati brownies dan jus mangga sambil bercengkrama dan bersenda gurau.


"Tadi aku juga bantuin Tante Dara buat brownies ini, loh," beber Daren bangga.


"Oh iya, pantas rasa brownies nya enak banget!" ujar Riko sembari melirik Dara.


"Brownies Tante Dara memang enak, Om. Aku suka banget!" sahut Daren antusias.


"Om juga suka banget sama Tante Dara!"


Dara terkesiap dengan mata membulat sempurna.


"Maksud Om sama brownies nya," ralat Riko cepat karena sadar Dara kini sedang menatapnya.


Daren tertawa, "Om lucu, bicaranya bisa salah gitu."


Riko pun ikut tertawa seraya melirik Dara, "Iya, Om salah bicara."


Dara mengembuskan napas, dia sempat kaget mendengar ucapan Riko tadi, untung laki-laki itu meralatnya sebelum Dara berpikiran macam-macam.


"Ya sudah, aku ke dalam dulu." Dara hendak pergi, tapi Riko menahan lengannya.


"Di sini saja!"


"Ada apa, Mas?"


"Kamu tidak ingin ikut bermain bersama kami?" tanya Riko.


"Aku mau membantu Sasa dan Mbok Narsih memasak makan siang," dalih Dara.


"Kan sudah ada mereka yang menyiapkan makan siang, jadi kamu temani kami bermain saja."


"Iya, Tante. Main bareng kami saja! Seru, loh!" sela Daren bersemangat.


"Tapi Tante tidak bisa main bola, sayang." Sasa mengusap kepala Daren.


"Kalau begitu kita main yang lain saja!" cetus Riko.


Dara mengernyit, "Main apa?"


"Gimana kalau main kucing dan tikus saja, Om?" usul Daren.


"Oh iya! Boleh juga itu!" sahut Riko antusias.


"Kalau begitu aku minta kain untuk penutup mata dulu sama Mama." Daren berlari masuk.


Riko geleng-geleng kepala memandang kepergian Daren, "Dia selalu bersemangat untuk bermain."


Dara mengangguk, "Iya, Mas. Dia kesepian di rumah, jadi senang banget kalau ada yang ajak bermain."


Tak berapa lama, Daren kembali lagi bersama Sasa, dia membawa sebuah sapu tangan.


"Kata Daren, kalian mau bermain kucing dan tikus? Aku ikut, dong!" ujar Sasa.


"Boleh! Semakin ramai yang ikut, akan semakin seru!" balas Riko.


"Kalau begitu sekarang kita hompimpa dulu!" ajak Sasa.


Mereka pun melakukan hompimpa dan Dara yang kalah.


"Tante Dara yang jadi kucing!" seru Daren heboh.


"Tutup dulu matanya." Riko meraih sapu tangan yang dipegang Daren, lalu mendekati Dara dan menutup mata wanita itu.


Jarak mereka yang sangat dekat membuat Dara merasa canggung dan gugup.


"Sudah! Sekarang kamu tangkap kami!" Riko bergerak menjauh dari Dara, Daren juga ikut berlari dengan girang, begitu pun dengan Sasa.


Dara mulai melangkah perlahan dengan hati-hati, dia mengangkat kedua tangannya dan mencoba meraba sesuatu.


"Tante, aku di sini!" teriak Daren.


Dara berjalan ke arah suara Daren, dan bocah itu segera berpindah tempat.


"Ra, ke sini!" pekik Sasa, lalu tertawa.


Lagi-lagi Dara berusaha berjalan ke arah suara Sasa, namun gagal menangkap sahabatnya itu.


Sudah lima belas menit Dara berputar dan mencari ketiga orang itu, tapi tak ada satu pun yang berhasil dia tangkap.


"Kalian di mana, sih?" Dara mulai lelah.


Dia terus melangkah dan kali ini ke arah Riko, bukannya menghindari, lelaki itu malah membiarkan Dara menangkapnya.


"Dapat!" Dara meraba dada Riko lalu naik ke wajahnya.


Riko hanya bergeming menatap Dara. Sedangkan Sasa serta Daren terkekeh-kekeh.


"Mas Riko, ya?" tebak Dara.


Karena merasa penasaran, Dara pun membuka penutup matanya.


"Kan benar!"


"Ya, aku tertangkap." Riko pura-pura sedih.


"Om Riko jaga!" teriak Daren riang.


"Sekarang giliran Mas Riko yang jadi kucing!" Dara melepaskan sapu tangan dari kepalanya lalu memakaikannya ke Riko, dia sampai berjinjit karena kalah tinggi.


"Aku bakal tangkap kamu," ucap Riko, hembusan napasnya menerpa wajah Dara.


Dara pun menjauhi Riko lalu berlari, "Coba saja kalau bisa!"


"Awas kamu, ya!" Riko mulai berjalan sambil mencari-cari.


Suasana cukup meriah, gelak tawa Daren dan semua orang memenuhi halaman belakang rumah Sasa, dan sejenak Dara bisa melupakan kesedihannya.


***