
Dengan terpincang-pincang Rendra melangkah menggunakan tongkat elbow nya menuju apartemen Amel, begitu tiba di depan pintu, dia langsung menekan tombol beberapa angka yang merupakan kode sandi untuk membuka pintu.
Rendra mendorong pintu itu terbuka, tapi suasana di apartemen kekasihnya itu sunyi dan tidak terlihat siapa pun di sana. Rendra masuk dengan perlahan, tapi dia terkesiap saat melihat sebuah jas hitam di atas sofa dan sepasang sepatu pantofel pria tergeletak tak beraturan di lantai.
Perasaan Rendra mulai tak enak, dadanya seketika bergemuruh hebat saat kecurigaan mulai menghampiri.
Rendra membawa langkahnya menuju kamar tidur yang tertutup rapat, semakin mendekati pintu samar-samar dia mendengar suara seseorang yang membuat jantungnya kian berdebar kencang. Dengan hati-hati Rendra merapatkan telinganya di daun pintu bermaksud menguping.
"Ah, sayang."
Begitu jelas Rendra mendengar suara Amel yang sangat dia hapal, membuat emosinya naik sampai ke ubun-ubun. Tanpa pikir panjang, Rendra langsung memutar handle dan membuka pintu tersebut. Matanya sontak terbelalak melihat sang kekasih sedang mendesah nikmat di bawah kungkungan seorang pria yang tak dia kenal. Hatinya sungguh sakit menyaksikan semua itu.
"Amel!" hardik Rendra marah.
Amel dan lelaki itu juga tak kalah kagetnya melihat kemunculan Rendra, dengan cepat laki-laki itu turun dari tubuh Amel dan bergerak menjauh.
Amel juga buru-buru menarik selimut menutupi tubuhnya yang tak dilapisi sehelai benang pun.
"Rendra?" gumam Amel.
"Jadi ini yang kau lakukan di belakang ku? Setelah semua yang aku lakukan dan berikan untukmu!" bentak Rendra murka, dia tak menyangka wanita yang dia cintai itu tega berselingkuh seperti ini.
Amel tak bisa menjawab karena sudah tertangkap basah.
"Kau tega mengabaikan aku dan melakukan semua ini di saat aku membutuhkanmu! Apa salahku?"
"Aku jenuh karena selama hampir empat bulan ini kau tidak bisa apa-apa, sementara aku butuh seseorang yang bisa memuaskan aku dan menemaniku ke mana-mana," sahut Amel.
"Dasar ******! Sekarang juga keluar dari apartemen ini dan pergi dari hidupku!" pinta Rendra kalut, apartemen ini dia yang beli, jadi dia tidak sudi membiarkan Amel menempatinya lagi.
"Baiklah, aku juga sudah muak dengan pria cacat seperti kau! Tidak berguna!" balas Amel kesal.
Darah Rendra semakin mendidih mendengar hinaan Amel itu, dia mengepalkan tangannya dengan kuat demi menahan geram. Ingin rasanya dia membunuh dua makhluk tak tahu malu di hadapannya itu. Dengan perasaan yang terluka, Rendra pun berbalik dan meninggalkan apartemen tersebut.
Kalau saja keadaannya tidak seperti ini, Rendra pasti sudah menghajar pria itu. Tapi dia sadar diri, jangankan berkelahi, berjalan saja dia harus dibantu tongkat. Benar kata Amel, dia cacat dan tak berguna. Miris sekali.
***
Diperjalanan, Riko menepikan sepeda motornya di depan sebuah mini market.
"Kamu mau ngapain?" tanya Dara.
"Ada yang mau aku beli sebentar," sahut Riko.
Kedua orang itu pun masuk ke dalam mini market, Riko membeli banyak sekali makanan.
Dara semakin bingung melihat tingkah lelaki itu, "Memangnya kita mau ke mana, sih? Kenapa Mas Riko beli makanan sebanyak ini?"
Riko tak menjawab, dia hanya tersenyum kemudian membawa barang-barang yang dia ambil ke kasir. Setelah membayar barang belanjaannya, Riko pun mengajak Dara keluar dari mini market tersebut.
"Kamu bisa tidak pegang semua belanjaan ini?" Riko menunjuk dua kantung plastik yang berisi makanan.
Dara mengangguk, "Bisa, Mas."
Riko pun menyerahkan dua kantung plastik tersebut pada Dara, mereka lalu naik ke atas motor dan meninggalkan mini market tersebut.
"Kamu tidak kesulitan, kan?" Riko memastikan.
"Tidak, kok! Mas Riko tenang saja!" sahut Dara yang sebenarnya sedikit kerepotan memegang dua kantung plastik besar itu.
Saat di persimpangan, lampu merah menyala, Riko berhenti tepat di samping sebuah mobil sedan hitam yang tak lain adalah milik Rendra. Karena kecelakaan waktu itu, mobil lama Rendra hancur, jadi dia terpaksa membeli mobil baru dan baik Riko maupun Dara tak mengetahuinya.
"Ternyata mereka masih berhubungan," gumam Rendra, lalu melirik dua kantung plastik yang Dara pegang di pangkuannya, "apa mereka sudah menikah?"
Rendra berpikir jika Dara sedang berbelanja kebutuhan rumah tangga bersama Riko.
Lampu pun berubah warna menjadi hijau, sepeda motor Riko melaju meninggalkan mobil Rendra yang juga bergerak maju dengan perlahan. Tatapan mata Rendra tak lepas dari dua orang yang berada di depan mobilnya tersebut, sudah hampir empat bulan ini dia tidak melihat Dara, terakhir kali saat di rumah sakit tempo hari. Ternyata mantan istrinya itu tak banyak berubah, hanya wajahnya saja yang terlihat lebih berseri dan ceria dari sebelumnya.
Rendra kembali mengembuskan napas, tak bisa dipungkiri ada sedikit rasa penyesalan di hatinya karena telah menyakiti Dara demi hawa nafsu dan keegoisannya. Mungkinkah ini karma dari Tuhan atas apa yang sudah dia lakukan pada mantan istrinya itu?
***
Riko rupanya mengajak Dara ke panti asuhan, dia ingin mengenalkan wanita itu pada penghuni panti.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Dara bingung saat motor Riko memasuki halaman yang cukup luas dan rimbun.
"Aku mau ajak kamu berkenalan dengan anak-anak asuh aku," jawab Riko, dia memarkirkan sepeda motornya di depan panti, "yuk, turun!"
Riko dan Dara pun turun dari motor, seorang anak perempuan langsung berlari ke arah mereka dan memeluk kaki Riko.
"Kak Riko!" seru bocah perempuan berponi bernama Mimi.
"Hai, my lovely!" Riko langsung mengangkat Mimi dan menggendongnya, "kamu apa kabar hari ini?"
"Baik, Kak," jawab Mimi lalu beralih memandang Dara yang berdiri di samping Riko, "ini siapa? Pacar, Kak Riko?"
Dara dan Riko sontak saling pandang, lagi-lagi mereka dianggap sepasang kekasih.
"Mimi, kenapa Kak Riko dan temannya tidak diajak masuk?" Bu Ani berjalan keluar dengan tergopoh-gopoh.
Riko menurunkan Mimi dari gendongannya lalu mengajak Dara mendekati Bu Ani.
"Bu, kenali, ini Dara," terang Riko.
Dara mengulurkan tangannya, "Dara, Bu."
Bu Ani menjabat tangan Dara sambil tersenyum, "Panggil saja Bu Ani."
Dara pun ikut tersenyum.
Bu Ani lalu beralih menatap Riko dengan curiga, "Neng cantik ini pacar kamu?"
Dara tercenung dan langsung menatap Riko, tapi pria itu malah tertawa.
"Ditanya kok ketawa!" protes Bu Ani.
"Aku dan Dara cuma teman, kok, Bu. Iya, kan, Ra?" Riko menoleh ke arah Dara untuk meminta persetujuan.
Dara pun mengangguk dengan sedikit canggung.
"Oh, jadi cuma teman? Padahal kalian terlihat serasi, loh. Kenapa tidak pacaran saja?"
Riko dan Dara kembali saling pandang, namun Dara langsung menunduk malu.
"Doakan saja, Bu," sahut Riko kemudian, Dara sontak menengadah menatapnya, tapi dia pura-pura tidak tahu.
"Iya, Ibu doakan. Kalau begitu sekarang kita masuk!"
Mereka semua masuk ke dalam panti dan langsung di sambut anak-anak yang lain, Riko pun membagikan makanan yang dia bawa tadi dengan adil dan Dara terus saja memperhatikan pria itu.
***