Unwanted Wife

Unwanted Wife
Episode 10.



Keesokan harinya, seorang wanita paruh baya berpenampilan modis melangkah masuk ke toko kue Mirna.


"Selamat siang, mau pesan apa?" tanya Mirna ramah.


"Saya tidak mau memesan apa-apa, saya hanya ingin bertemu dengan pemilik toko kue ini."


"Oh, saya pemilik toko ini. Kalau boleh tahu ada apa, ya?"


"Bisa kita bicara sebentar, Bu?"


Mirna mengangguk, "Iya, boleh. Kalau begitu silakan duduk!"


Wanita paruh baya itu duduk di salah satu kursi, disusul oleh Mirna yang juga duduk dihadapannya.


"Sebelumnya perkenalkan, saya Helena, pemilik toko roti Helena Bakery." Wanita bernama Helena itu mengulurkan tangannya.


Mirna menjabat uluran tangan Helena, "Saya Mirna, Bu."


"Jadi begini Bu Mirna, kemarin saya sudah mencicipi kue brownies dari toko ini, dan saya tertarik untuk menjalin kerja sama dengan toko Ibu," ungkap Helena.


Mirna mengernyit, "Kerja sama gimana, ya, Bu?"


"Setiap hari Bu Mirna harus mengirimkan kue brownies buatan Ibu ke toko saya! Bagaimana? Bisa, Bu?"


"Aduh, maaf sebelumnya. Kue brownies itu bukan saya yang buat, itu buatan menantu saya. Jadi saya harus tanya persetujuan dia dulu, dan kebetulan hari ini dia sedang cuti."


"Oh begitu? Jadi kapan saya akan mendapatkan jawabannya?" tanya Helena.


"Besok bagaimana? Saya bicarakan dengan menantu saya dulu."


Helena mengangguk, "Baiklah, saya tunggu jawaban Ibu. Saya berharap kita bisa bekerja sama."


"Iya, Bu."


"Ini kartu nama saya, silakan hubungi saya di nomor ini dan saya akan datang lagi untuk membicarakan detailnya." Helena menyodorkan sebuah kartu kepada Mirna.


"Baik, Bu. Nanti saya hubungi jika sudah mendapatkan keputusan dari menantu saya."


Helena tersenyum kemudian beranjak dari duduknya, "Kalau begitu saya permisi dulu, selamat siang."


"Selamat siang, Bu," balas Mirna.


Helena melenggang pergi meninggalkan toko kue sederhana milik Mirna itu, namun begitu sampai di luar, Helena menghubungi seseorang.


"Sudah Tante laksanakan, kita tinggal menunggu jawaban mereka," ujar Helena.


***


Dengan hati-hati Dara mendekati Rendra yang sedang fokus menatap layar laptopnya, dia sudah mendengar semuanya dari Mirna dan bermaksud meminta pendapat kepada suaminya itu tentang tawaran Helena.


"Hem, Mas. Aku mau bicara sebentar," ujar Dara sedikit takut.


"Apa?" tanya Rendra dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Kata Ibu tadi pemilik Helena Bakery datang dan menawarkan kerja sama pada kami, dia ingin aku membuatkan brownies setiap hari untuk toko roti miliknya. Aku ingin meminta pendapat Mas, kira-kira aku terima atau tidak, ya?"


"Terserah kau, itu bukan urusanku!" jawab Rendra ketus.


"Tapi Mas kan suami aku, jadi aku ingin Mas ...."


"Cukup, Dara!" potong Rendra, "aku sedang banyak pekerjaan, jadi jangan membuat aku pusing dengan hal-hal tidak penting seperti ini!"


Dara sontak terdiam dengan air mata berlinang, dia hanya ingin bertukar pikiran dengan suaminya itu, tapi justru dia dibentak dan dimarahi seperti ini.


"Sebaiknya kau tidur sana! Jangan menggangguku!"


Tanpa bicara sepatah kata pun, Dara beranjak dari duduknya dan berbaring di ranjang. Rendra hanya melirik istrinya itu, lalu kembali fokus pada laptopnya. Tak ada sedikitpun rasa bersalah di hatinya karena sudah bersikap kasar tadi.


Dara berbaring dengan posisi membelakangi Rendra, dia menangis, hatinya sakit setiap kali diperlakukan seperti ini, tapi dia tak bisa membenci suaminya itu, rasa cintanya terlalu besar sehingga membuat dia menjadi bodoh dan naif.


Tak berapa lama ponsel Rendra berdering, pria itu segera menjawabnya dengan nada bicara yang sangat lembut.


"Halo, Mel."


Rendra pun bangkit dan bergegas keluar dari kamar, sebab dia tak ingin Dara mendengar pembicaraannya dengan Amel.


Dara semakin sesenggukan, suaminya itu bisa berbicara dengan sangat lembut kepada orang lain, tapi selalu saja kasar dan dingin terhadapnya. Apa separah itu kah dirinya sampai selalu membuat suaminya marah?


Sepertinya apa yang dikatakan Sasa itu memang benar, dia harus berubah, dia harus menjadi Dara dengan versi yang lebih baik. Dia tak ingin terus diperlakukan seperti ini, dia tak mau kehilangan lelaki yang begitu dia cintai.


"Aku akan berubah, aku akan merebut hatimu lagi, Mas," gumam Dara sembari mengusap air matanya.


Dara pun memejamkan matanya meskipun dia tak merasakan kantuk sama sekali, sesekali air matanya masih jatuh menetes hingga membasahi bantalnya.


Sementara itu di luar kamar, Rendra sedang mengobrol mesra dengan Amel. Keduanya saling merayu dan bersenda gurau. Sikap Rendra sangat jauh berbeda, dia memperlakukan Amel dengan lembut dan baik, berbanding terbalik dengan perlakuannya pada sang istri.


***