UNWANTED BRIDE

UNWANTED BRIDE
Ch.61



Di dalam rumah, Nazila tak henti-hentinya berdecak kagum dengan pengaturan rumah itu. Walaupun barang-barangnya belum komplit sepenuhnya, tapi untuk perabot yang penting semuanya sudah tersedia.


"Ini kamar kita," ucap Noran setibanya di sebuah kamar yang bagian dalamnya didominasi warna biru muda dan putih. Terdapat sebuah kasur kingsize, lemari hias, lemari pakaian lima pintu, dan sebuah box bayi di dalamnya. Yang membuatnya berkaca-kaca adalah dekorasi di dalamnya. Ada sebuah tulisan ucapan selamat datang tergantung di dinding dihiasi balon warna-warni dan tebaran kelopak bunga berwarna merah dan putih di atas kasur serta sepasang balon berbentuk hati. Sungguh apa yang dilihatnya itu membuat Nazila terharu. Mungkinkah ini memang sudah saatnya ia merasakan kebahagiaannya?


"Selamat datang, sayang," bisik Noran yang entah sejak kapan telah berada di belakang Nazila dan memeluknya erat membuat jantung Nazila berdegup begitu kencang. Dapat Nazila rasakan, Noran lun demikian. Jantung keduanya bagaikan sedang berdisko ria.


"Mas yang siapin semua ini?"


"Siapa lagi emangnya?" Noran berdecak lalu mengecup pipi Nazila yang bersemu merah. "Nggak mungkin kan Noval," imbuh Noran seraya terkekeh. "Walaupun bukan tangan mas langsung yang ngerjain, tapi tetap mas kan yang siapinnya kan konsepnya mas yang buat. Soalnya ini kan untuk istri tercinta."


Lantas Nazila membalik tubuhnya menghadap Noran.


"Mas, mas tahu nggak pas awal kita menikah, aku sempat berpikir kalau aku ini adalah pengantin yang tak diinginkan. The unwanted bride. Aku saat itu merasa hancur banget apalagi saat mas nggak percaya aku dan malah nuduh aku yang sengaja menjebak mas. Sumpah, aku nggak pernah kayak gitu. Aku malah nggak pernah punya niatan sama sekali buat nikah. Bagi aku menikah itu musibah. Aku takut berakhir seperti ibu," ujar Nazila yang untuk pertama kalinya mencoba terbuka.


"Aku juga sempat takut hamil. Aku takut nasib anak kita berakhir sama seperti diriku. Aku ... aku benar-benar takut. Mas tahu, saat pertengkaran terakhir kita sebenarnya aku ingin memberitahukan tentang kehamilanku. Besar harapanku setelah mas tahu, kita bisa memulai segalanya dari awal tapi ... "


"Maafkan, mas. Maafkan ... maafkan mas, La. Mas tahu, mas salah. Mas bodoh dengan percaya begitu saja pada orang-orang yang berniat jahat dengan kita tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu. Maafin mas, sayang. Mas janji, itu adalah terakhir kalinya mas bersikap bodoh seperti itu. Maafkan mas, sayang. Maaf ... " potong Noran yang kini telah terisak sambil memeluk Nazila.


Noran sadar, kesalahannya begitu besar. Bahkan karena kebodohannya, Nazila sampai harus menjalani kehamilannya seorang diri tanpa dirinya maupun keluarganya. Bahkan sebelum itu, ia juga tidak mendampingi Nazila saat ibunya meninggal.


"Saat itu aku benar-benar terpuruk. Belum selesai masalah satu, datang lagi masalah yang lebih besar. Ibu meninggal membuatku makin terpuruk. Aku kehilangan topangan. Aku ... hancur. Lalu mas menghilang. Di saat aku terpuruk, ada yang mengirimkan foto mas sedang ... " Nazila makin terisak saat mengingat foto Noran sedang berada di atas tubuh Sarah. Hal itu yang membuatnya makin terpuruk dan berpikir untuk pergi. Belum lagi teror-teror yang terus-terusan datang membuatnya menyerah untuk bertahan.


"Sayang, kamu percaya aku kan? Aku yakin, kau pergi karena teror dari Sarah dan foto itu. Untuk foto itu, itu nggak benar sayang. Aku nggak pernah macam-macam sama dia. Justru mas selalu mual setiap berdekatan dengan dia. Mas sampai bolak balik rumah sakit untuk periksa, tapi nggak ada gejala penyakit apa-apa. Sampai mas tahu dari chat Karin kalau kamu sedang hamil. Barulah mas sadar, mungkin itu pengaruh kehamilanmu. Sepertinya si baby nggak mau ayahnya berdekatan dengan orang wanita lain. Jadi mas selalu mual dan berakhir muntah-muntah saat berdekatan dengan Sarah," terang Noran jujur.


"Lalu foto itu?"


Di foto terakhir yang dikirimkan oleh seseorang tanpa nama itu, ada foto Noran yang sedang berada di atas tubuh Sarah. Walaupun masih berpakaian lengkap, tapi Nazila yang sedang terpuruk, pasti akan berpikiran negatif melihatnya.


"Malam itu mas ingin mengajak Sarah makan malam sesuai janji mas sebab selama di Bali mas selalu sibuk. Mas sebenarnya nggak berniat mengajak Sarah kesana tapi dia maksa. Nah, malam itu pas mas mau jemput Sarah di kamarnya ternyata Sarah sedang sakit. Pas mas mau bantu dia bangun, entah gimana caranya tiba-tiba mas terjatuh dan hampir menimpa tubuh Sarah. Tapi sumpah, mas nggak ngelakuin apa-apa. Mas justru langsung mual dan berlari ke kamar mandi setelahnya. Tiba-tiba aja mas ikutan sakit. Jadi mas sengaja meminta bantuan pihak hotel menelpon dokter untuk merawat Sarah. Sedangkan mas, merawat diri sendiri di kamar hotel. Setelah sembuh, mas segera menyelesaikan pekerjaan mas terus cepat-cepat pulang. Setibanya mas di apartemen, semua ruangan gelap gulita. Mas pikir kamu udah tidur sampai keesokan harinya mama datang dan marahin mas karena nggak menemani kamu di saat ibu meninggal. Padahal mas belum pernah satu kali pun bertemu. Sampai akhirnya bi Arum juga datang dan marahin mas. Di saat itu juga mas baru tahu kalau kamu pergi. Mas sampai cari kamu kemana pun tapi nggak ketemu. Mas sampai hampir gila karena merindukanmu, sayang. Mas hampir putus asa, tapi syukurlah kita akhirnya bertemu kembali. Mas nggak bisa bayangin gimana nasib mas kalau kamu pergi dan nggak ketemu lagi. Makasih banyak ya, sayang karena udah mau kembali. I love you, love you so much," ucap Noran di hadapan Nazila.


Mata Nazila sampai berkaca-kaca mendengarkan setiap penuturan Noran yang sarat akan penyesalan dan kesungguhan. Dalam hati, ia pun bersyukur kembali dipertemukan dengan Noran. Nazila juga amat sangat mencintai laki-laki itu.


"La," panggil Noran sambil memangkas jarak dengan Nazila yang tadi sempat renggang.


"I-ya ... " sahut Nazila gugup saat wajahnya ditatap Noran intens.


"Kamu ... kamu juga mencintai mas kan!" tanya Noran harap-harap cemas.


Nazila terdiam sambil menundukkan wajahnya. Ditanya seperti itu membuat jantungnya berdegup kencang.


"La ... " panggil Noran lagi.


"Aku ... aku ... "


"Aku apa, hm?" tangan Noran kini telah beralih merengkuh pinggang Nazila hingga dada mereka saling bertubrukan. Diangkatnya dagu Nazila agar mata mereka saling bersirobok.


"Jawab aku, La!" ucap Noran lirih dengan sorot mata mendamba. Hangat nafas Noran menerpa wajah Nazila hingga nafasnya rasanya tercekat.


"La ... " panggil Noran lagi saat Nazila justru terdiam sambil memandangi wajahnya.


"Aku ... aku nggak ... " tiba-tiba nafas Noran tercekat saat mendengar dua kata itu, tapi ia mencoba menahan diri dengan menanti kelanjutan ucapan istrinya. "Aku nggak ... menyangkal kalau aku juga mencintai mas Noran," jawabnya gugup.


Sontak saja mata Noran berbinar cerah. Ia pun langsung memeluk tubuh Nazila, tapi tidak begitu erat sebab ia sadar luka di perut Nazila belum sepenuhnya pulih.


"Sejak kapan?" tanya Noran yang penasaran sejak kapan istrinya menaruh hati padanya.


"Sejak ... kurang lebih 4 tahun yang lalu," ungkap Nazila jujur membuat Noran membulatkan matanya.


"Selama itu? Bagaimana bisa?"


"Ya Allah, udah selama itu kenapa kamu nggak pernah bilang?"


"Emang penting? Mas, aku itu sadar diri. Siapalah aku hingga bisa berdampingan orang seperti mas Noran. Menyatakan cinta sama atasan? Bisa-bisa aku diketawain seluruh karyawan terus dicap karyawan nggak tahu diri. Mas itu atasan aku di kantor. Apa ada kesempatan untuk aku dekat dengan mas, nggak ada. Aku juga ngerasa nggak pantas karena aku hanyalah seorang bawahan," aku Nazila.


Noran pun menyadari apa yang disampaikan Nazila memang ada benarnya.


"Ngomong-ngomong kau ternyata sungguh pandai menyembunyikan perasaanmu. Bahkan saat menjadi sekretarisku saja kau bisa tetap bersikap profesional malah cenderung dingin dan tertutup."


"Itu karena aku terlalu takut untuk jatuh cinta."


"Tapi sekarang nggak lagi kan!"


"Masih takut."


"Kenapa? Please, buang jauh-jauh rasa ketakutanmu. Mas sungguh-sungguh ingin selalu bersama denganmu. Hanya kamu. Kamu mau kan menghabiskan sisa hidupmu bersama mas?" ucap Noran sungguh-sungguh.


Melihat kesungguhan Noran, Nazila pun akhirnya mengangguk seraya tersenyum manis.


Noran yang mendapati istrinya mau menerimanya sepenuh hati lantas berseru riang. Ia pun semakin mengikis jarak dan menyatukan bibir mereka dengan sebuah ciuman hangat dan nyaman.


"Ekhem ... "


Tiba-tiba terdengar suara Diana berdeham membuat keduanya harus segera melepaskan pertautan bibir mereka.


Wajah Nazila sontak saja memerah karena terpergok sang mertua sedang berciuman walaupun itu dengan suaminya sendiri.


"Noval nangis, kayaknya haus. Asi kamu udah mulai lancar kan!"


"Belum benar-benar lancar, ma. Masih keluar sedikit-sedikit."


"Nggak papa, pancing aja terus, lama-lama juga keluarnya banyak. Untuk sementara, terpaksa kita bantu dengan sufor, semoga asi mu segera lancar ya, La."


"Iya, ma."


"Tenang aja, nanti mas yang bantu pancing biar keluarnya makin deras," bisik Noran di telinga Nazila setelah Noval berada di pangkuan Nazila.


"Hah, emang mas bisa?" tanya Nazila polos.


"Bisa dong! Mas pancing entar malam aja ya!" bisiknya sambil menyeringai yang hanya diangguki oleh Nazila sebab otaknya belum bisa mencerna rencana tersembunyi Noran.


...***...


Berbanding terbalik dengan keluarga kecil Noran yang dianugerahi kebahagiaan karena bersatunya keluarga kecil mereka setelah hampir tercerai berai, maka keluarga Sarah kini tengah dirundung duka karena kepergian Sarah yang tiba-tiba.


Setelah mengetahui fakta kematian seseorang yang dianggapnya ibu kandungnya serta perbuatan buruknya pada Noran dan Nazila, Sarah jadi terpuruk. Ia jadi sering mabuk-mabukan. Feri juga tiba-tiba menghilang. Sarah benar-benar kehilangan arah. Ia tak mempedulikan lagi semua hal. Untuk melampiaskan kekecewaannya, Sarah pun memilih mabuk-mabukan berharap dengan mabuk ia bisa melupakan segala kenyataan yang rasanya begitu mencekik.


Hingga suatu hari, ada seseorang yang memberinya pil lucknut dan membuatnya jadi ketagihan. Merasa dengan memakai pil lucknut itu bisa membuat bebannya terasa ringan juga membuatnya bisa melupakan segala permasalahan yang ada, ia pun mengkonsumsinya semaunya hingga akhirnya ia pun meregang nyawa akibat overdosis. Kedua orangtuanya begitu menyesali perbuatan mereka. Seandainya mereka tidak membohongi Sarah, mungkin putri mereka masih akan berada di sini.


"Semoga kau tenang di alam sana," ujar Noran saat ikut mengantar kepergian Sarah ke peristirahatan terakhirnya.


...THE END ...


...💖💖💖...


Alhamdulillah, akhirnya end juga nih! Lanjut [NOT] Beautiful Wedding *ya kak! Kevin dan Yuni serta Karin dan Rizky bakal nyempil di sana. 😁


...HAPPY READING 🥰🥰🥰*...