
Sementara itu, di luar ruangan serba putih itu, tampak seorang pria menangis tergugu. Bahunya bergetar, naik turun, tak menyangka akibat perbuatannya membuat mendiang istrinya dan Nazila begitu menderita.
"Rum, sebelum pergi dulu, Marni bilang Nur meminta sejumlah uang sebagai kompensasi agar aku boleh menikahinya, apa itu benar?"
"Mana ada," cetus Bi Arum cepat dengan mata melotot tajam. "Yang ada di Marni tuh lemparin uang sekoper biar Nur kasi izin kamu nikahin dia tapi Nur nolak. Terus kamu tahu, apa yang dia lakukan supaya bisa dapat izin? Kenapa Nur bersedia tanda tangan surat cerai?" Laki-laki itu menggeleng cepat, ia memang tak tahu.
Ia memang menjalin hubungan dengan Sumarni di belakang Nur, istrinya. Tapi itu karena Sumarni begitu royal padanya. Sumarni selalu bisa menyenangkannya dengan harta yang ia miliki membuatnya terjebak hubungan terlarang dengan sahabat temannya sendiri. Tapi pria bernama Laksono itu tidak pernah berpikir untuk menikah dengan Sumarni hingga tiba-tiba Sumarni mengatakan kalau ia telah mengandung anaknya. Sumarni memintanya memilih, antara dirinya atau Nur dan Nazila, karena tak ingin kehilangan kesempatan menjadi orang kaya, ia lebih memilih Sumarni. Belum sempat ia menceraikan Nur, tiba-tiba Sumarni mengatakan kalau Nur sudah menggugat cerai dirinya dengan minta kompensasi sejumlah uang yang tidak sedikit. Laksono merasa harga dirinya tercabik saat mendengar hal itu. Oleh sebab itu, semenjak hari itu juga ia tidak pernah menemui apalagi mempedulikan Nur dan Nazila. Ia benar-benar melupakannya hingga beberapa tahun ini ia kembali dihantui rasa bersalah. Terutama setelah apa yang menimpa rumah tangganya.
Anaknya, ditinggal selingkuh oleh sang suami di saat hamil. Karena depresi, Neli keguguran lalu terkena gangguan kejiwaan. Sumarni yang tak kuasa melihat keadaan anaknya lantas mengalami serangan jantung dan stroke yang mengakibatkan kelumpuhan. Satu persatu masalah datang menghampiri hingga sumber keuangan mereka pun satu persatu gulung tikar.
"Nur bersedia menandatangani surat cerai kalian karena perempuan bi*nal itu mengatakan kalau ia telah hamil. Dan bila Nur tidak segera menandatangani surat cerai itu, maka ia tak segan-segan akan menyakiti Ila, kau pikir apa yang bisa ia lakukan selain merelakanmu? Tidak ada. Seorang ibu tentu tidak akan sanggup melihat anaknya disakiti. Akhirnya ia pun merelakanmu. Percuma saja bertahan, sedangkan kau saja sudah tidak mempedulikan mereka lagi," tukas Bi Arum menceritakan mengapa saudaranya itu sampai rela melepaskan suaminya.
"Selepas perceraian itu, kau benar-benar melepaskan tanggung jawabmu sebagai seorang ayah. Aku tak menyangka kau sejahat itu. Akibat dirimu, Nur jadi depresi. Ila kehilangan masa kecilnya karena harus sekolah sembari merawat ibunya. Karena kelakuanmu, Ila sampai bertekad tak ingin menikah seumur hidupnya. Namun takdir berkata lain, ia harus terjebak dalam pernikahan pahit ini. Yang ditakutkannya pun terjadi. Menjadi istri yang tak dicintai dan harus berjuang menghadapi kehamilan seorang diri. Ditambah penyakit yang datang tepat di saat ia tengah mengandung. Kau bisa bayangkan, betapa menderitanya hidup Ila selama ini? Lalu dimana kau selama ini? Kau sibuk dengan keluarga busukmu itu tanpa berpikir bagaimana nasib anakmu. Kalian memang manusia-manusia terkutuk yang tidak mempunyai hati," desis bi Arum penuh kebencian membuat Laksono makin terpuruk dalam penyesalan yang mendalam.
Ia tahu, kata maaf pun takkan pernah cukup untuk menebus segala kesalahannya. Kini dirinya seorang diri di dunia ini. Neli meninggal karena kecelakaan saat berlarian di tengah jalan. Disusul Sumarni yang terpuruk dalam penyesalan karena telah menyakiti sahabatnya sendiri dengan merebut suaminya. Saat nafasnya telah berada di ujung lidah, ia baru terpikir, mungkin ini karmanya karena telah merusak rumah tangga sahabatnya juga membuat seorang anak menjadi seperti seorang anak yatim karena ayahnya yang telah ia ambil. Namun sayang, kesempatan untuk meminta maaf itu telah habis hingga akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya dalam kubangan penyesalan. Lalu kini, Laksono makin terpuruk saat tahu bagaimana kehidupan mantan istrinya juga anaknya selama ini.
Lalu pantaskah ia mendapatkan maaf dari Nazila?
Mungkinkah ia memiliki kesempatan itu?
...***...
Semenjak selesai operasi, Noran tak beranjak sedikit pun dari sisi Nazila. Ia selalu setia menggenggam erat tangan Nazila dengan sesekali mengecupnya berharap perlakuannya dapat Nazila rasakan hingga membuatnya ingin berjuang dan bertahan hidup. Noran hanya
"Noran, ada seseorang yang bersedia mendonorkan ginjalnya dan setelah diperiksa dokter, mereka memiliki kecocokan. Mungkin beberapa jam ke depan operasi bisa segera dilakukan," tukas Kevin dengan mata berbinar saat baru saja masuk ke kamar rawat Nazila.
"Be-benarkah?" tanya Noran yang ikut sumringah.
"Benar. Semoga operasinya nanti berjalan lancar," sahut Kevin yang tak kalah antusias.
"Siapa? Siapa yang bersedia menjadi pendonor? Apa kita mengenalnya?"
Kevin mengedikkan bahunya seraya mendudukkan bokongnya di sofa yang ada di ruangan itu.
"Aku juga nggak tahu. Orang itu meminta dokter merahasiakan identitasnya," pungkas Kevin yang justru membuat Noran jadi penasaran.
...***...