UNWANTED BRIDE

UNWANTED BRIDE
Ch.48



"Da-darah," seru Noran dengan mata membelalak saat merasa ada sesuatu yang hangat mengalir mengenai kalinya.


Jantung Noran makin berpacu, mengapa perjalanan terasa begitu lama?


'Ya Tuhan, tolong selamatkan istri dan calon anakku. Selamatkanlah mereka berdua. Aku mohon!' lirih Noran dalam hatinya.


Kondisi Nazila makin melemah, bahkan matanya sudah benar-benar tertutup. Deri nafasnya pun kian pelan membuat Noran makin kacau.


"Pak Danu, apa bisa dipercepat lagi? Kondisi Nazila sudah makin mengkhawatirkan," ujar Noran lemah dengan wajah kalut.


Dokter Rizky sampai memutar tubuhnya untuk memeriksa denyut nadi Nazila.


"Kau benar, kondisinya makin lemah dan harus cepat ditangani. Ini bisa sangat membahayakan kalau tidak segera ditangani," tukas dokter Rizky.


Pak Danu pun makin mempercepat mobil yang ia kendarai menuju rumah sakit yang diberitahukan Noran sebelumnya. Ya, Kevin telah menginstruksikan Noran membawa Nazila ke rumah sakit Cinta Medika, rumah sakit terbaik di negara itu.


Bersyukur jalanan tidak begitu padat, jadi mereka tidak kesulitan membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.


"Kita akan segera sampai, tuan," tukas pak Danu yang sudah bisa melihat gedung rumah sakit itu dari posisi mereka.


Noran pun segera mengirim pesan pada Kevin kalau mereka sudah akan sampai.


Setibanya di rumah sakit, dengan tergesa Noran turun dari dalam mobil dibantu dokter Rizky yang membukakan pintu untuknya. Ia turun dengan Nazila yang berada dalam gendongannya. Hatinya berdenyut-denyut nyeri melihat Nazila yang sudah terkulai dengan darah yang tak henti merembes yang tampaknya juga telah bercampur dengan air ketuban.


Dari jauh tampak Kevin dan Karin berlarian mendekati Noran diikuti beberapa suster dan dokter sambil mendorong brankar.


Noran duduk menunggu dengan telapak tangan menutupi seluruh wajahnya. Bahunya bergetar lalu terdengar lah isak tangis memilukan dari bibirnya. Hati siapa yang sanggup saat melihat orang yang tercinta sedang dalam keadaan terpuruk. Terlebih itu seorang istri yang tengah mengandung buah hatinya.


Serasa ada bongkahan besar yang menindih hati dan jiwanya. Berbulan-bulan mereka terpisah dalam keadaan Nazila yang tengah hamil, bahkan ia belum pernah melakukan sesuatu yang dapat membuat istrinya itu bahagia pun melakukan sesuatu yang berarti untuk calon buah hatinya. Noran bukan hanya merasa bersalah, ia juga merasa sangat berdosa karena telah menyia-nyiakan istri sebaik Nazila. Seharusnya sejak awal, ia berpikir dan menyadari kalau pertemuan serta pernikahan dirinya dan Nazila merupakan ketentuan Allah SWT. Allah SWT telah menakdirkannya untuk menjadi suami dari Nazila, tapi mengapa ia baru sadar di saat yang seperti ini.


Seharusnya ia menjalani pernikahannya dengan baik. Seharusnya ia tidak menyia-nyiakan istrinya itu. Seharusnya ia berpikir, mungkin ini yang terbaik untuknya. Seharusnya ia berpikir, mungkin Nazila merupakan jodohnya yang sesungguhnya. Seharusnya ... seharusnya ... entah berapa banyak lagi kata seharusnya yang harus ia lontarkan sebagai perwujudan rasa sesal yang kian membuncah dan menggerogoti seluruh jantung dan jiwanya.


"La, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku yang telah menyia-nyiakanmu. Maafkan aku yang tidak mendampingimu di saat-saat sulitmu. Maafkan aku, maafkan aku, aku begitu bodoh yang tidak bisa menghargai istri sebaik kamu, maafkan aku La, maafkan aku yang bodoh ini. Aku mohon bertahanlah, aku mohon ... " isak Noran lirih membuat Karin yang matanya sejak tadi memerah tak mampu menahan Isak tangisnya lagi. Pertahanannya runtuh, seiring bulir bening yang menerobos keluar dari netranya hingga berjatuhan ke lantai.


Tak terkecuali Kevin yang sedang berdiri dan dokter Rizky yang baru saja menyusul setelah menginformasikan riwayat medis Nazila selama hamil.


Kevin lantas duduk di samping Noran dan menepuk pundaknya pelan seraya menguatkan.


"Ila perempuan yang kuat, ia pasti bisa bertahan. Kamu harus kuat. Bagaimana kamu bisa menguatkannya kalau kamu rapuh seperti ini. Aku tahu, ini berat untukmu dan aku tidak menyalahkanmu atas segala yang terjadi dalam rumah tangga kalian. Aku maklum, kalian dua orang berbeda yang sebelumnya hanya saling mengenal dalam konteks rekan kerja. Kalian terpaksa menikah karena jebakan orang tak bertanggung jawab membuat hubungan kalian jadi buruk tapi itu bukan dijadikan alasan untukmu terpuruk. Kau harus kuat, untukmu, untuk Ila, dan juga untuk anak kalian. Kuatlah Noran," tukas Kevin memberikan nasihat penyemangat.


"Benar kak, kau harus kuat. Bagaimana kak Noran bisa menguatkan sahabatku kalau kakak lemah kayak gini. Kakak harus kuat dan terus berdoa. Kita semua menyayangi Ila, aku yakin doa tulus kita akan didengarkan Allah," imbuh Karin yang juga sudah duduk di sebelah kiri Noran. Lebih tepatnya berada di tengah-tengah antara Noran dan dokter Rizky.


...***...


Selamat siang kakak2 semua. Semoga selalu sehat dan yang berpuasa dilancarkan puasannya. Semangat ... 💪💪💪


...Happy reading 🥰🙏💪...