
"Bagaimana? Apa ada perkembangan?" tanya Kevin yang berkunjung ditemani Yuni. Tampak Yuni pun sedih melihat keadaan Nazila yang tak kunjung ada perubahan.
Beberapa hari ini Kevin tidak datang ke rumah sakit sebab ia sedang sibuk membantu persiapan pernikahan kakaknya, Damar. Karena hari ini ia cukup senggang, ia pun menyempatkan diri berkunjung berharap Nazila mengalami kemajuan, tapi ternyata semuanya masih sama saja.
Noran menggeleng lemah, ia nyaris putus asa tapi karena rasa cintanya yang kian menjadi, ia pun berusaha tuk bertahan apalagi ada Noval, putra mereka yang masih membutuhkan kasih sayang darinya. Ya, sementara ini Noran memberi nama putranya Noval untuk mempermudah memanggilnya. Untuk nama panjangnya akan ia pikirkan nanti setelah Nazila bangun.
Kevin mendesah lirih, andai bisa, ia ingin sekali membantu menyembuhkan Nazila, tapi apalah dayanya. Mereka hanya manusia biasa, hanya bisa berdoa dan berusaha, sedangkan hasil akhirnya ada di tangan yang maha kuasa.
"Apakah sebegitu tidak maunya dia memaafkan aku sehingga dia memilih tidur panjang seperti ini? Aku rela dia tidak memaafkanku asalkan dia sadarkan diri, tapi ... "
"Jangan berkata seperti itu! Kau tahu, Ila itu adalah gadis yang sangat baik. Ia tidak pernah mendendam. Aku yakin, dia tidak pernah marah apalagi membencimu. Ia pasti telah memaafkanmu. Aku yakin, Ila tidur panjang untuk memulihkan dirinya yang sedang begitu kelelahan. Kau sudah tahu bukan bagaimana perjalanan hidupnya selama ini?" ujar Kevin dan Noran mengangguk. "Kita berdoa saja, pasti Ila akan segera sadarkan diri," imbuh Kevin lagi.
Saat tengah berbincang berdua, tiba-tiba Yuni yang sedang duduk di samping brankar Nazila berseru panik. Sontak keduanya langsung berdiri melihat keadaan Nazila yang ternyata kembali kejang-kejang membuat jantung Noran kian berdebar hebat.
"Kak Kevin, kak Noran, mbak Ila ... " serunya dengan suara bergetar panik.
"La, Nazila, ya Allah, La, kamu kenapa?" serunya dengan ekor mata yang mulai basah.
Noran pun segera menekan tombol darurat di bagian kanan atas brankar. Tak lama kemudian dokter pun datang disertai beberapa perawat. Kevin dan Yuni keluar dari ruangan itu, kecuali Noran. Ia ingin terus bersama Nazila. Ia tak ingin meninggalkan Nazila barang sedetikpun.
"Tekanan darahnya melonjak dramatis, ini bisa berbahaya bila tidak segera ditangani," ujar salah seorang dokter.
Noran yang tidak paham perihal dunia medis hanya bisa berdoa semoga Nazila bisa diselamatkan.
Nazila masih terlihat kejang-kejang dengan nafas yang kian berat. Hati Noran berada hancur berkeping-keping melihat perjuangan Nazila untuk bertahan hidup.
Waktu terus bergulir dengan cepat, tapi para dokter masih kesulitan menangani Nazila. Namun tiba-tiba monitor pasien menunjukkan garis lurus disertai bunyi yang begitu nyaring. Noran memang tidak memahami dunia medis, tapi ia tahu arti bunyi nyaring dan juga garis lurus yang terpampang di layar monitor pasien. Jantungnya sontak mencelos, akankah ini akhir dari perjuangan Nazila?
"La, Ila, aku mohon bertahanlah, kalau bukan demi aku, demi anak kita. Dia butuh kamu, La. Noval butuh kamu, ibunya. Aku mohon, La!" pekik Noran berusaha mendekat tapi dihalangi para perawat sebab khawatir mengganggu pekerjaan dokter.
Belum mau menyerah, dokter pun segera menempelkan alat pacu jantung atau defibrilator di dada Nazila. Berharap alat tersebut dapat menstimulasi kinerja jantung agar kembali berdetak normal.
"Maafkan kami tuan, kami ... "
Noran mengangkat sebelah tangannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak ingin mendengar kata-kata itu. Ia tidak ingin mendengar apapun selain kabar Nazila telah baik-baik saja. Tidak, ia yakin istrinya akan baik-baik saja.
Lalu Noran pun berjalan ke sisi Nazila dan meminta suster yang hendak melepaskan alat bantu kehidupan di tubuh Nazila menjauh. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada bayi mungil yang sejak beberapa saat lalu berada di dalam dekapannya. Beruntung saat ia hendak kembali ke rumah menjemput Noval, ternyata ibunya juga baru tiba dengan Noval yang berada di stroller. Tak mau membuang waktu, ia mengambil putranya dari dalam stroller dan membawanya ke kamar Nazila. Ia berharap dengan keberadaan Noval, Nazila akan sadarkan diri.
"La, bangun La, lihat, ini anak kita, putra kita. Dia ada di sini, sayang. Noval ada di sini menunggumu. Ayo La, bangunlah!" desis Noran lirih namun tak ada perubahan pada istrinya. Di layar pasien masih menunjukkan garis lurus.
Noran pun menyingkap selimut yang sempat di pakaikan suster lalu membaringkan Noval dengan posisi menelungkup di atas dada Nazila. Dalam hitungan detik, tangis Noval pecah. Ia seakan tahu kalau ibunya sedang tidak baik-baik saja saat ini. Ia seakan tahu kalau ibunya hendak pergi meninggalkannya. Tangisnya kian nyaring membuat siapapun yang mendengarnya merasa pilu. Tangisannya kian kencang mengiris kalbu.
Noran yang melihat dan mendengar putranya menangis pun ikut terisak pedih. Bahkan dokter, suster, Diana, Kevin, dan Yuni yang melihat hal tersebut pun ikut meneteskan air matanya.
Noran lantas merengkuh keduanya sambil menciumi Noval dan Nazila secara bergantian.
"La, aku tahu, kamu mendengar kata-kataku kan! Aku tahu, kamu pasti mendengar tangisan putra kita kan! Kami membutuhkanmu, La, kami tak ingin kehilanganmu, La. Bahkan aku belum sempat membahagiakanmu, La. Aku ingin sekali menunjukkan betapa aku mencintaimu. Pun putra kita, dia membutuhkanmu. Dia ingin merasakan besarnya kasih sayangmu. Sebulan, La, sudah satu bulan usianya tapi ia belum pernah merasakan hangatnya pelukan dan kasih sayangmu. Ia juga belum satu kali pun mencicipi asimu. Jangan seperti ini, La! Kami mohon, jangan tinggalkan kami. Kami mohon," raung Noran dengan air mata yang tumpah ruah.
"Mbak Ila, bangun mbak! Kami mohon!" lirih Yuni yang tak mampu membendung air matanya.
Kevin lantas menarik pundak Yuni dan memeluknya erat. Mereka saling menumpahkan tangisan dalam pelukan itu. Diana pun yang tadi datang bersama baby sitter untuk menjaga Noval pun ikut terisak pilu. Ruangan serba putih itu kini dipenuhi jerit tangis memilukan.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dengan kencang lalu muncul dua orang dengan mata memerah. Tangis yang sejak tadi mereka tahan akhirnya tumpah ruah saat melihat sosok Nazila yang terkapar tak berdaya dengan layar monitor menunjukkan garis lurus.
Karin dan Bi Arum yang baru saja datang meraung kian menjadi-jadi. Mereka tak menyangka Nazila akan pergi dengan cara seperti ini. Mengapa dunia seakan tak adil padanya? Padahal ia selama ini belum pernah benar-benar merasakan kebahagiaan apalagi perasaan dicintai. Bukan maksud mereka menentang takdir, tapi bolehkah mereka memohon kesempatan kedua untuk Nazila agar dapat merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan selama ini?
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...