UNWANTED BRIDE

UNWANTED BRIDE
Ch.58



'Sayang, aku dan Noval menunggumu. Aku mohon bangunlah. Kau tidak mau bukan anak kita memanggil perempuan lain sebagai ibunya? Kalau tidak mau, segeralah bangun. I'm still here waiting for you,'


'Bu, anun Bu, anun! Bu, angan igalin Opal!'


'Sayang, bangun sayang! Aku mohon bangunlah, aku merindukanmu.'


'Opal ayang ibu.'


'La, aku mencintaimu.'


'Bu, Opal mau cucu.'


'La, aku merindukanmu.'


'Bu, ata yayah alau ibu ndak anun-anun yayah au cali ibu balu, Opal ndak mau, bu'


Tiiit ... tiiit .. tiiit ...


Tiba-tiba bedside monitor yang berada tepat di samping brankar pasien berbunyi nyaring dengan sinyal HR membentuk garis zig-zag.


"Dok, lihat ke bedside monitor!" ucap salah seorang perawat yang ikut membantu sang dokter di ruangan itu.


Dokter yang menangani Nazila pun segera menoleh dan mengembangkan senyum lega apalagi saat melihat kelopak mata Nazila yang terlihat bergerak. Lantas dokter meminta perawat yang menemaninya memanggil Noran agar segera mendampingi Nazila. Dokter itu berharap Nazila segera membuka mata dengan suaminya yang menjadi orang pertama dilihatnya.


Pintu ruangan terbuka. Dari dalamnya keluar seorang perawat membuat Noran dan yang lainnya segera berdiri menghampirinya.


"Tuan, Alhamdulillah jantung istri Anda telah kembali berdetak. Dokter meminta Anda segera masuk ke dalam," ujar perawat itu menyampaikan pesan sang dokter.


Dengan mata berbinar penuh harap, Noran masuk ke dalam ruangan dengan baby Noval yang masih berada di dalam gendongannya.


"La," panggil Noran saat telah berdiri di samping Nazila. Lalu ia membaringkan baby Noval tepat di samping kiri Nazila agar tidak menggangu selang infus yang menancap di pergelangan tangan kanannya.


Noran menatap lekat wajah Nazila yang pucat. Tampak jelas dari kelopak mata yang tertutup itu ada pergerakan bola mata Nazila. Nazila seakan kesulitan untuk membuka matanya.


"Tuan, terus ajak istri Anda bicara! Sepertinya ia masih gamang untuk membuka matanya," tukas dokter.


Lantas Noran menggenggam erat telapak tangan Nazila dan mendekatkan wajahnya ke istrinya itu.


"La, ini aku, Noran, suamimu. Dan ini, anak kita. Ayo sayang, buka matamu! Jangan ragu, jangan takut! Ayo, sayang ... "


Perlahan-lahan, kelopak mata itu terbuka. Tiba-tiba Nazila merapatkan lagi kelopak mata itu membuat Noran kembali panik.


"Silau," ucap Nazila lirih membuat Noran membulatkan matanya dan tersenyum lebar


"Alhamdulillah, ya Allah, La ... kamu ... kamu telah sadar. Kamu benar-benar udah sadar, sayang," seru Noran dengan jantung seakan meletup-letup karena perasaan bahagia yang membuncah.


Setelah penglihatannya jelas, menatap lekat wajah Noran yang terlihat lebih kurus dan berantakan dari biasanya.


"Mas," panggil Nazila.


"Hmmm ... ada apa? Kamu butuh sesuatu?" tanya Noran penasaran. "Atau kamu haus? Mau minum?" tawar Noran yang dijawab Nazila dengan anggukan.


Noran pun bergegas menuangkan air putih dari teko ke dalam gelas, kemudian meletakkan sedotan ke dalamnya lalu diulurkannya sedotan itu ke mulut Nazila. Belum sempat Nazila meminum air itu, Noran menoleh ke arah dokter.


"Boleh kan dok?" Ia hampir saja lupa bertanya. Bukankah kadang kala ada pasien yang dilarang minum saat sadarkan diri.


Dokter itu mengangguk, barulah Noran memberikan air minum itu. Setelah selesai, Noran mengembalikan gelas itu ke atas nakas dan kembali fokus ke arah Nazila.


"La, makasih ya! Makasih banget. Aku ... aku seneng banget. Sumpah, aku beneran seneng banget kamu udah sadarkan diri. Lihat, anak kita pun tersenyum bahagia lihat ibunya udah kembali," ujar Noran dengan mata berkaca-kaca sambil memandangi wajah Nazila dan Noval bergantian.


"Di ... dia ... anak kita, tuan?" ucap Nazila terbata-bata dengan mata yang mulai memanas.


Noran mengangguk, beberapa detik kemudian ia mengerutkan keningnya.


"Tuan? I'm not your boss, La! I'm your husband. Aku suamimu. Ingat itu," desis Noran tajam kemudian terkekeh sendiri karena sadar kalau mereka memang belum terbiasa berinteraksi layaknya suami istri. Disekanya sudut matanya yang basah karena air matanya yang jatuh. "Please, jangan panggil tuan lagi. Aku ingin menjadi suami kamu sesungguhnya, La," imbuh Noran


"Tapi ... "


"Ssst ... "


"Bayi kita tampan," ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca. Ia bahagia karena telah berhasil melahirkan putranya ke dunia. Tiba-tiba ia mengerutkan keningnya saat mengingat kata-kata Noran tadi. "Tu ... eh maksudnya m-mas No-ran ... apa maksudnya tadi sadarkan diri?"


"Iya La, kamu tahu, kamu udah buat semua orang panik. Kamu ... kamu mengalami koma selama satu bulan setelah operasi."


"Operasi?"


"Ya, kamu melahirkan secara Caesar. Selang tak sampai 2x24 jam kemudian, kamu melanjutkan operasi transplantasi ginjal. Kami pikir setelah operasi selesai, kamu akan segera bangun dan sembuh seperti sedia kala, tapi ... ternyata kamu nggak bangun-bangun. 34 hari, tepat 34 hari kamu tidak sadarkan diri. 34 hari kamu memejamkan mata hingga membuatku hampir putus asa. 34 hari juga baby kita kehilangan ibunya," tutur Noran.


Mendengar penuturan begitu panjang itu sontak saja membuat Nazila mengerutkan kening. Tak sadarkan diri selama 34 hari?


"Aku mohon La, aku mohon jangan pergi lagi. Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi. Aku nggak sanggup, La. Cukup beberapa bulan ini kau pergi. Cukup 34 hari ini kau tidak sadarkan diri. Jangan lagi! Aku nggak akan sanggup kalau harus kehilangan dirimu lagi. Aku ... aku sangat menyayangimu, La. Aku ... aku sungguh mencintaimu," lirih Noran sambil menggenggam erat tangan Nazila dan mengecupinya lembut.


Nazila terdiam mencerna setiap penuturan Noran. Tiba-tiba ia mengingat sesuatu. Sesuatu yang didengarnya saat matanya masih terpejam.


"Benarkah? Bukannya kalau aku nggak bangun-bangun mas mau cari ibu baru untuk anak kita?" tutur Nazila dengan mata yang masih terlihat sayu.


Deg ...