UNWANTED BRIDE

UNWANTED BRIDE
Ch.46



Setelah mendapatkan informasi mengenai seseorang yang mirip dengan istrinya, Noran pun segera meminta sopir keluarganya untuk mengantarkan dirinya ke alamat yang dituju. Butuh waktu kurang lebih 3 jam untuk menuju alamat itu. Selama perjalanan, Noran tidak bisa memejamkan matanya walau sejenak. Hati dan pikirannya saat ini hanya terpaku pada satu nama dan wajah, yaitu Nazila. Rasa rindu kian membuncah seiring debar jantung yang kian bergemuruh. Rasa ingin bertemu kian menggebu-gebu, benaknya sampai membayangkan bagaimana rupa Nazila saat ini. Pasti makin cantik apalagi dengan perut membuncit karena sedang mengandung buah hati mereka.


Sepanjang perjalanan, Noran tersenyum ceria sambil menatap jalanan yang mereka lalui. Ternyata tempat itu cukup terpencil bahkan fasilitas umum pun terlihat masih minim. Jalanan yang rusak dan banyak bolong membuat perjalanan jadi sedikit melambat. Noran hanya bisa mendesah lelah, mengapa perjalanan ini terasa sangat lama. Padahal hanya 3 jam, tapi karena infrastruktur yang buruk membuat perjalanan jadi terasa panjang dan melelahkan.


Hingga tibalah mereka di sebuah desa kecil yang cukup terpencil. Tidak ada yang khas di desa itu. Rumah-rumahnya didominasi dari kayu. Jalanan banyak yang belum dicor. Hanya jalan utama saja yang tampak sedikit lebih baik dibanding jalanan sekitarnya. Rumah-rumah di sana juga sedikit berjarak, tidak sepadat di tengah kota.


Hingga sampailah Noran di sebuah rumah terbuat dari papan yang dicat warna kuning. Di sekelilingnya dikelilingi pagar yang juga dari kayu dan dapat Noran lihat ada sebuah motor tua di halaman rumah itu. Segera saja Noran turun dari mobil yang disambut bawahannya yang telah menunggu di tempat yang tak begitu jauh.


"Ini tempatnya?" tanya Noran dengan pandangan lurus ke arah rumah minimalis itu.


"Iya tuan, perempuan itu sangat mirip dengan istri tuan. Tapi saat kami menanyakan namanya, dia menyebutkan Nayla bukan Nazila. Karena itu untuk memastikan saya meminta tuan kemari. Kan bisa saja istri tuan memakai nama lain agar jejaknya tidak ditemukan," tukas bawahan Noran. Noran pun mengangguk.


Namun harapan tak sesuai ekspektasi. Gadis yang ditemuinya memang memiliki kemiripan dengan Nazila, tapi dia bukan Nazila. Dia bukan istrinya. Noran mendesah kasar, perjalanannya berakhir sia-sia. Orang yang dicarinya tak ada.


Kesalahannya juga tidak bisa memberikan ciri yang lebih spesifik karena ia hanya memiliki foto yang diambil dari rekaman CCTV. Jadi wajah Nazila tidak terlihat begitu jelas. Sebenarnya bawahannya telah mengirimkan foto perempuan yang dikatakan mirip Nazila itu tapi karena jarak pengambilan gambar yang cukup jauh membuatnya tidak begitu jelas. Namun, karena melihat kemiripan antara gadis itu dan istrinya, ia tanpa berpikir dua kali langsung menuju lokasi.


"Maafkan saya, tuan." Ucap bawahannya dengan wajah menunduk. Ia merasa malu. Padahal tuannya sudah jauh-jauh datang, tapi dia justru memberikan informasi yang salah.


"Sudahlah, itu bukan salahmu," ucap Noran tak mau menyalahkan sebab dalam hal ini ada kesalahan dirinya juga.


"Teruskan pencarian. Kalau begitu, saya pulang dulu," ucap Noran lalu ia menaikkan kaca jendela dan meminta sopirnya segera melajukan mobilnya kembali ke kota.


"Ada apa pak Danu?" tanya Noran. Tidak mungkin kan sopirnya itu berhenti mendadak bila tidak ada sesuatu.


"Itu tuan, ada seorang perempuan yang menghadang mobil kita," ucap Pak Danu seraya menunjuk ke arah depan. Tampak seorang gadis yang menghadang mobilnya. Lalu gadis itu berpindah ke samping sambil mengetuk-ngetuk kaca jendelanya dengan wajah panik. Noran pun segera meminta pak Danu menurunkan kaca jendela agar bisa mendengar apa yang ingin disampaikan gadis itu.


"Ada ap ..."


"Pak, tolong kami pak, tolong antar kakak saya ke rumah sakit pak. Dia ingin melahirkan tapi fasilitas kesehatan di sini tidak memadai karena kondisinya yang sedang buruk. Tolong kami pak, tolong antar kakak saya ke rumah sakit kota. Kami sudah meminta pihak Puskesmas meminjamkan mobil ambulans mereka tetapi ternyata mobil ambulans mereka sedang rusak jadi tidak bisa digunakan," tukas gadis itu dengan wajah memelas. Gadis itu bahkan sampai mengatupkan telapak tangannya seraya memohon membuat Noran tak tega.


"Bagaimana tuan?" tanya Pak Danu.


"Tak apa, kasihan dia," ujar Noran pada pak Danu.


"Bagaimana pak?" tanya gadis itu tak sabaran.


"Ya sudah, ayo bawa kakakmu masuk ke dalam mobil! Kami akan mengantarkannya ke rumah sakit terdekat," tukas Noran membuat gadis itu menghela napas lega.


"Makasih pak, makasih. Kalau begitu saya bilang dulu sama mbok dan dokter Rizky," ujarnya seraya berlarian menuju ke dalam rumah.


...***...