
"Jadi kamu beneran masih SMA?" tanya Kevin. Saat ini ia tengah duduk bertiga dengan mbok Yem dan Yuni sambil menyantap pesanannya.
"Iya kak, tapi nggak lama lagi kelulusan kan akhir bulan tadi aku udah ujian."
"Emang rencana kamu setelah lulus mau ngapain?"
"Ngapain yah?" ujar Yuni lebih ke diri sendiri. "Mau kuliah, duitnya nggak ada. Palingan aku mau langsung cari kerja aja kak."
"Kerja? Kerja apa?"
"Apa aja, yang penting halal. Lagian kasihan si mbok kalau masih harus kerja di perkebunan tetangga. Sudah waktunya si mbok istirahat. Giliran aku yang memenuhi kebutuhan si mbok," ujar Yuni sambil tersenyum lebar.
"Kalau kamu pingin kuliah, lanjut aja nduk. Si mbok masih kuat kok kerja buat nyekolahin kamu," sahut Mbok Yem.
"Ih kuat dari mana? Si mbok aja udah encok sana-sini, mana tega Yuni ngerepotin mbok lagi. Udah saatnya mbok nikmatin masa tua mbok dan Yuni yang kerja."
"Iya nduk, tapi di desa kerja apa sih? Jangan bilang kamu mau ikutan kerja di perkebunan sawit?" terka Mbok Yem.
"Emang apa salahnya mbok? Kan yang penting halal."
"Iya, mbok tahu, tapi kerja di perkebunan sawit itu capek banget lho. Belum lagi gajinya nggak seberapa, mbok nggak akan merasa sangat bersalah sama orang tua kamu nduk kalau kamu kerja kayak gitu," tutur Mbok Yem dengan mata berkaca-kaca.
Kevin tertegun di tempatnya melihat sikap Yuni yang begitu menyayangi neneknya.
"Gimana kalau kamu kerja di tempat kakak kerja, mau?" tawar Kevin.
"Emang kakak kerja dimana?" tanya Yuni penasaran.
"Kakak kerja di Angkasa Mall."
"Wah, hebat! Mall itu kan gede banget. Temen sekolah aku sering cerita, kalau mereka ke kota pasti mampir ke Angkasa Mall dulu. Jalan-jalan, makan, nongkrong, main, ih kakak enak banget bisa kerja di sana. Bisa tiap hari ngemall dong," ujar Yuni antusias dengan mata berbinar-binar.
"Jadi gimana? Mau?" tanya Kevin lagi.
"Emang bisa, kak? Aku kan cuma tamatan SMA. Terus emang kakak bisa masukkin aku kerja di sana? Aku kerja sebagai apa? Oh, jangan-jangan aku kerja jadi cleaning servis ya kan pendidikan aku cuma SMA," cerocos Yuni membuat Kevin terkekeh.
Plakkk ...
"Punya mulut kok nggak direm, nyerocos udah kayak kereta listrik," sergah mbok Yem setelah menggeplak pundak Yuni.
Yuni yang kesal diomelin Mbok Yem lantas bersungut-sungut, "Remnya blong, mbok jadinya nggak bisa berhenti nyerocos," tandas Yuni sambil mencebikkan bibirnya.
"Udah, nggak usah banyak mikir, jawab dulu mau nggak nya. Kakak nggak akan nawarin kalau nggak bisa kan! Dan satu lagi, kakak nggak akan menempatkan kamu jadi cleaning servis. Jadi gimana? Kamu mau kerja di sini?" tukas Kevin membuat Yuni kembali mengalihkan perhatiannya pada Kevin.
"Tapi apa?" potong Kevin cepat.
"Kalau aku kerja di kota, gimana dengan mbok? Aku nggak mungkin kan pulang pergi desa ke kota terus balik lagi." Yuni menyampaikan kegelisahannya.
"Itu bisa diatur. Kalau kamu emang berminat, kamu bisa tinggal di mess khusus karyawan yang merantau. Jadi kamu bisa ajak mbok Yem, gimana mbok? Mbok mau kan?" tawar Kevin.
Mbok Yem gamang, ia sebenarnya enggan meninggalkan kampung halamannya. Tapi ... ia juga tidak mungkin menghancurkan mimpi-mimpi indah cucu satu-satunya itu. Dengan tinggal di desa, ia yakin Yuni takkan bisa berkembang. Masa depannya akan terpasung.
Mempertimbangkan masa depan sang cucu satu-satunya, akhirnya dengan berat hati Mbok Yem menyetujui saran Kevin. Toh jarang-jarang ada kesempatan seperti ini. Apalagi Kevin dengan baik hatinya menawarkan pekerjaan itu secara langsung. Bukan rahasia umum mencari pekerjaan di kota itu tidaklah gampang. Sarjana aja banyak yang nganggur, apalagi hanya lulusan SMA di kampung.
"Apapun keputusan kamu, mbok ngikut aja, nduk. Masa depan kamu masih panjang. Kapan lagi bisa mendapatkan tawaran pekerjaan tanpa harus bersusah payah membuat surat lamaran kerja, ya kan nak Kevin," ujar mbok Yem sembari tersenyum lebar, memamerkan giginya yang sudah banyak tanggal karena faktor usia.
Kevin mengangguk antusias sambil menunggu jawaban Yuni.
Mendengar dukungan sang nenek, tentu saja Yuni girang bukan kepalang. Ia pun langsung memeluk mbok Yem untuk menunjukkan rasa terima kasih juga bahagianya.
"Oke, kalau gitu bisa kakak minta nomor hp kamu, biar kakak udah hubungi lain kali."
Yuni pun segera mengeluarkan ponsel jadulnya. Kevin sampai melongo melihat ponsel itu. Seingatnya ponsel itu keluaran belasan tahun yang lalu sebab saat mamanya baru bercerai dengan papa Adam, mamanya juga menggunakan ponsel seperti itu. Bentuknya kecil dan hanya memiliki penyimpanan 500Mb saja. Bayangkan, bisa menyimpan apa ponsel dengan memori sekecil itu? Bahkan ia ragu ponsel itu bisa digunakan untuk WhatsApp.
Dengan malu-malu, Yuni membuka layar ponselnya untuk mencatat nomor ponsel Kevin. Bagaimana tak malu, saat mengeluarkan ponselnya, saat itu juga Kevin mengeluarkan ponsel yang menurutnya sangat keren. Bahkan layarnya saja bisa dilipat tanpa merusaknya.
"Yuni aja deh kak yang catat nomor kakak," ujarnya.
Bukannya menyebutkan nomor ponselnya, Kevin justru meraih ponsel Yuni dan mencatat nomornya sendiri di sana. Setelah itu, ia menekan ikon panggilan ke nomornya sendiri, tapi setelah ikon itu ia pencet, ia tiba-tiba tergelak sendiri.
'Maaf, pulsa Anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini. Silahkan lakukan pengisian ulang!'
Wajah Yuni memerah karena malu. Ia pun menunduk untuk menutupi rasa malunya.
'*Haish, p*oteklah potek, mau ditaruh mana mukaku ini? Udah hp super jadul, nggak ada pulsanya juga. Malu-maluin aja lu, Yun!' Rutuk Yuni dalam hati.
...***...
Noran masih betah terduduk sambil menggenggam erat tangan Nazila. Sudah beberapa jam berlalu, tapi tak ada tanda-tanda Nazila akan sadarkan diri. Rasa takut juga was-was terus menghantuinya. Ia takut, sangat takut.
Saat Noran berdiri hendak menuju ke kamar mandi, tiba-tiba tubuh Nazila mengejang membuat Noran seketika panik. Ia pun segera memencet tombol darurat, tak lama kemudian seorang dokter dan dua orang perawat masuk.
Sang dokter meminta Noran keluar, tapi Noran kekeh ingin mendampingi Nazila. Ia takut, ia khawatir, bagaimana bila tiba-tiba Nazila pergi meninggalkan dirinya saat ia tidak sedang berada di sisinya. Tidak, ia tidak mau hal itu sampai terjadi. Ia harus berada di sisi Nazila. Bagaimana pun, ia takkan pernah meninggalkan Nazila. Ia akan selalu mendampinginya. Bagi Noran, setiap detik kebersamaan antara dirinya dan Nazila begitu berharga dan sangat berarti. Melihat kegigihan Noran, akhirnya mereka pun mempersilahkan Noran untuk terus mendampingi Nazila.
...***...