UNWANTED BRIDE

UNWANTED BRIDE
Ch.52



2 jam telah berlalu, tapi lampu tanda operasi sedang berlangsung masih menyala. Semenjak kepergian Nazila, Noran memang seakan kehilangan semangat hidupnya. Bahkan untuk memejamkan mata saja ia kesulitan. Apalagi saat melihat perjuangan Nazila di meja operasi. Perasaan kalut, takut, cemas, was-was, khawatir bercampur aduk menjadi satu. Di pikirannya hanya ada satu nama, Nazila.


Noran memejamkan matanya dengan menopang kepalanya menggunakan kedua telapak tangan terkepal yang bertumpu di atas pahanya. Tiada yang tahu, betapa besar beban dan tekanan yang Noran rasakan saat ini. Seandainya rasa penyesalan itu menggerogoti fisiknya, mungkin kini tubuhnya telah habis tak bersisa akibat penyesalan yang kian menggunung.


Di tempat itu hanya ada Noran sendirian. Semua orang telah kembali sebab mereka ada urusan masing-masing yang tidak bisa ditinggal. Noran lantas berdiri dan berjalan gontai menuju sebuah ruangan. Dari balik dinding kaca, dipandanginya bayi mungilnya yang tengah terlelap. Bayi mungil yang belum diberikan nama itu tampak begitu menggemaskan. Satu sudut hati Noran menghangat saat melihat sang bayi mungil tersenyum dengan mata terpejam. Entah apa yang sedang dimimpikan bayi kecilnya itu. Mungkinkah di dalam mimpi ia tengah bertemu dengan ibunya?


Noran mengulurkan tangannya mengusap dinding kaca transparan itu seolah sedang mengusap bayi mungilnya. Air matanya menetes, membayangkan bagaimana nasibnya bila Nazila pergi dari hidup mereka.


Noran menggelengkan kepalanya, tidak, itu tidak boleh terjadi. Ia pasti akan makin menyesal seumur hidup. Atau ia mungkin akan turut menyusul karena ia takkan sanggup bertahan bila Nazila pergi dari sisinya.


"Ya Allah, hamba mohon berikanlah kesembuhan pada istriku. Izinkanlah ia kembali sehat seperti sedia kala. Izinkan kami berkumpul selayaknya keluarga bahagia. Berikanlah aku kesempatan menebus segala khilaf dan salahku. Izinkanlah aku memberikan kebahagiaan yang belum pernah Nazila rasakan. Ya Allah, hamba tahu Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, hamba mohon kabulkan doa hamba-Mu yang hina ini. Aku mohon, ya Allah," lirih Noran dalam hati, memohon tak henti-henti pada sang Khalik. Ia yakin tidak ada yang tidak mungkin bila Allah sudah berkehendak. Ia yakin, doa dan harapannya akan terkabul selagi ia mau berdoa dan berusaha. Sisanya, ia serahkan kepada Sang Maha Pencipta. Ia yakin, apapun yang digariskan-Nya merupakan yang terbaik bagi semua.


...***...


Detik berganti menit, menit berganti jam, entah sudah berapa lama Noran menunggu, tapi lampu di atas ruang operasi belum juga padam. Bahkan Karin dan Kevin telah kembali datang untuk mengetahui keadaan Nazila.


"Bagaimana kak? Apa operasinya belum selesai juga?" tanya Karin dengan nafas ngos-ngosan karena mereka yang datang kesana dengan tergesa.


Noran menggeleng lalu menghembuskan nafas panjang.


Kevin melirik jarum jam di pergelangan tangannya


"Sudah 2 jam lebih, tapi belum selesai juga," tukasnya sambil menghela nafas berat.


"Operasi emang gitu, Vin. Nggak bisa diprediksi sebab apa saja bisa terjadi selama masa itu. Mereka juga harus bekerja dengan penuh ketelitian, soalnya nyawa yang sedang dipertaruhkan di sana. Salah-salah bisa berakibat fatal," tukas Karin menyela sekaligus menjelaskan. Apalagi ia kini juga merupakan dokter di rumah sakit itu, tentu ia tahu prosedur seorang dokter dan cara kerjanya.


"Maaf tuan, bagaimana keadaan Ila? Apa ... "


"Belum," sahut Noran singkat.


Entah mengapa ia tidak suka melihat kedatangan dokter Rizky. Seharusnya ia sadar, berkat dokter Rizky keadaan Nazila tidak semakin memburuk begitu pula kandungannya. Tapi bukankah tugas seorang dokter memang seperti itu? Lagipula Nazila membayar untuk mendapatkan pelayan dan perawatan itu, bukan. Tapi memang cara dokter Rizky memperhatikan Nazila berbeda dengan dokter lainnya. Sebagai seorang suami, ia khawatir dokter itu memiliki perasaan berbeda pada istrinya. Bukan hanya itu, ia khawatir Nazila pun memiliki perasaan pada dokter Rizky apalagi dokter Rizky telah merawatnya selama masa kehamilan beberapa bulan ini.


Noran merasa cemburu, sedangkan ia baru sebentar saja membersamai istrinya itu. Hanya 3 bulan, ya hanya 3 bulan mereka bersama, sedangkan di desa itu, Nazila sudah tinggal di sana selama 4 bulan. Artinya, sudah 4 bulan juga mereka saling mengenal dan sering berjumpa.


Mendengar jawaban bernada ketidaksukaan dari Noran membuat dokter Rizky menghela nafas. Ia sadar, mungkin perhatian dirinya pada Nazila membuat Noran tidak nyaman.


"Hai, kamu dokter yang menangani Ila di desa ya? Kenalin, aku Karin, sahabat kepompongnya Ila," ujar Karin seraya tersenyum manis yang disambut dokter Rizky dengan senyum tak kalah manis.


"Ah, hai! Kenalin, aku Rizky. Iya, aku bertugas di puskesmas di desa tempat Ila tinggal," jawabnya ramah. "Kamu dokter juga?" tanya dokter Rizky tiba-tiba.


"Eh, kok tahu?" tanya Karin bingung sebab ia hanya mengenakan pakaian santai. Tidak ada sebuah benda pun yang menunjukkan dirinya seorang dokter.


"Oh itu, kemarin malam pas kamu liat Ila, kamu masih pakai snelli kalau kamu lupa," ujar dokter Rizky mengingatkan.


"Ah, iya! Aku lupa. Maklumlah, terlalu banyak hal yang terjadi bikin otak jadi sedikit gimana gitu," ujar Karin seraya terkekeh. "Oh ya, itu ... siapa?" tanya Karin pada 2 orang perempuan beda generasi yang berdiri di belakang dokter Rizky.


"Ah iya, sampai lupa, kenalin, ini mbok Yem dan ini cucunya, Yuni. Selama ini Ila tinggal di rumah mereka. Mereka sangat mengkhawatirkan Ila karena itu mereka minta ikut kemari," ujar dokter Rizky.


Lalu dokter Rizky pun mengenalkan mbok Yem dan Yuni pada Noran, Kevin, dan Karin.


"Mbok, makasih banyak ya mbok udah jagain istri saya selama beberapa bulan ini. Saya bersyukur Nazila bertemu orang-orang baik seperti mbok dan dek Yuni. Saya benar-benar merasa berhutang budi pada kalian. Dan untuk dek Yuni, kakak ucapkan terima kasih banyak udah jadi perantara kakak bertemu lagi dengan istri kakak. Kakak kesana sebenarnya memang untuk mencari istri kakak tapi ternyata orang yang dikira istri kakak itu bukanlah Nazila. Eh saat mau pulang justru kakak ketemu kamu. Seandainya kamu nggak menyetop mobil kakak mungkin kakak nggak akan pernah bertemu istri kakak lagi, sekali lagi kakak ucapkan terima kasih sudah menjaga istri kakak selama ini dan sudah mempertemukan kami," ujar Noran tulus pada mbok Yem dan Yuni.


"Ih kak Noran nggak usah segitunya deh, aku itu udah menganggap kak Ila itu kayak kakak kandungku sendiri. Apalagi aku enggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain mbok Yem. Karena itu aku bahagia banget bisa kenal Kak Ila. Dan untuk mempertemukan, itu bukan Yuni yang melakukan, tapi kuasa Allah. Kalau Allah nggak berkehendak kakak bertemu dengan kak Ila, mungkin sampai sekarang kakak nggak bakalan pernah bertemu lagi. Selain itu, mungkin karena Kak Ila memang jodoh kakak yang sebenarnya, jadi kakak kembali dipertemukan dengan Kak Ila. Yang Yuni harap sekarang ini Kak Ila bisa segera sembuh dan bisa berkumpul kembali menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah," ucap Yuni tak kalah tulus.


"Iya nak, apa kata Yuni benar. Mbok juga udah anggap Ila seperti putri mbok sendiri. Semoga Ila bisa segera sembuh ya nak. Mbok juga ingin sekali melihat nak Ila bahagia. Selama tinggal di desa, Ila selalu terlihat sedih dan sering murung. Mungkin dia sebenarnya merindukan kamu. Mbok harap, kalau memang di antara kalian ada masalah, semua bisa segera diselesaikan baik-baik. Supaya kalian bisa berkumpul layaknya keluarga lainnya," sahut Mbok Yem yang diiyakan oleh Noran. Ya, itu juga harapannya. Semoga dengan semakin banyaknya orang yang mendoakan Nazila maka semakin besar juga kesempatan Nazila untuk sembuh dan berkumpul kembali bersama dirinya dan putra mereka.


Sementara itu, kata-kata bijak yang keluar dari bibir Yuni tadi membuat Kevin kagum. Padahal Yuni terlihat masih sangat belia tapi ia cukup dewasa dalam bersikap dan bertutur bahasa. Tiba-tiba saja jantung Kevin berdebar kencang membuatnya bingung ada apa dengan jantungnya.


'Aku nggak mungkin mendadak jantungan hanya karena gadis kecil itu kan?'


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...