UNWANTED BRIDE

UNWANTED BRIDE
Ch.53



Lampu tanda operasi telah dimatikan setelah kurang lebih 3 jam menyala. Melihat hal tersebut sontak semua orang yang menunggu kabar hasil operasi Nazila pun lantas berdiri. Dengan wajah harap-harap cemas, mereka segera berdiri di depan ruang operasi, menunggu dokter yang bertugas mengoperasi Nazila keluar.


"Bagaimana dok operasinya? Semuanya berjalan lancar kan?" tanya Noran cepat saat melihat dokter itu keluar dari balik pintu. Dokter yang berperawakan tinggi dengan kulit cukup eksotis itu menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan kemudian menarik ujung bibirnya membentuk simpul senyum.


Melihat hal tersebut, seperti ada angin segar yang menerpa jiwa raga Noran. Dalam hati ia berdoa, semoga kabar baiklah yang akan ia terima.


"Syukurlah, operasi berjalan lancar walaupun tadi di pertengahan jalan ada sedikit trouble karena tekanan darah pasien tiba-tiba turun drastis. Tapi sekarang semua sudah berhasil ditangani," ucap dokter itu sambil tersenyum. Namun, perlahan senyum itu surut membuat Noran dan yang lainnya tiba-tiba cemas. "Operasi memang berhasil, tapi ... kita masih harus sering memantau apalagi pasien belum sadarkan diri. Bila pasien telah sadar, baru kami akan mulai mengobservasi untuk memastikan tidak adanya efek atau komplikasi yang terjadi. Semoga semuanya berjalan lancar sesuai harapan ya Pak, Bu," imbuh dokter itu yang diaamiinkan Noran, Kevin, Karin, dan uang lainnya.


Tak lama kemudian, Nazila pun dipindahkan ke ruangan rawat. Noran masuk terlebih dahulu ke ruangan Nazila. Dihampirinya istrinya yang masih saja terpejam dengan selang-selang penunjang kehidupan di tubuhnya. Digenggamnya erat telapak tangan yang Nazila lalu dikecupnya dengan penuh kasih.


"Sayang, terima kasih. Terima kasih karena kau mau bertahan dan berjuang. Aku harap kau segera sembuh sayang. Aku berjanji, akan mengganti semua waktu kebersamaan kita yang terlewat dengan seumur hidupku. Aku sudah tidak sabar membina rumah tangga yang sesungguhnya denganmu dan oaaaaanak kita. Oh ya, aku belum memberi nama pada baby boy kita. Aku ingin kau sendiri yang memberikannya nama. Baby boy kita adalah bukti perjuanganmu selama beberapa bulan ini. Tanpa kegigihanmu dalam memperjuangkannya, aku nggak tahu apa yang akan terjadi. Kau memang the real wonder woman. Aku mencintaimu, La. Sangat," bisik Noran.


Lalu Noran mendekatkan wajahnya pada wajah Nazila dan mengecup singkat bibir pucat Nazila yang terasa dingin. Merasa belum cukup, disapukannya bibirnya di atas bibir Nazila dengan lembut agar bibir Nazila terasa hangat. Harapnya, kecupannya itu dapat menghantarkan isi hatinya pada istrinya yang belum sadarkan diri itu.


Setelah itu, Noran mempersilahkan Kevin dan Karin masuk bergantian dengan yang lainnya. Mereka turut senang operasi itu berjalan dengan lancar. Tapi mereka belum benar-benar lega sebelum Nazila sadarkan diri dan benar-benar pulih dari sakitnya.


"Mbok Yem, Yuni, mau ikutan ngopi atau nyemil di cafetaria? Kalian pasti sudah lapar dan lelah karena perjalanan dari desa ke sini cukup menguras tenaga," tawar Kevin pada mbok Yem dan Yuni.


"Ah, kami nggak capek kok nak, justru yang lebih capek itu dokter Rizky. Dia yang nyetir sampai sini," sahut mbok Yem.


"Ya udah, dokter Rizky ikut kita aja, gimana? Tenang aja, pak bos yang traktir, ya nggak Vin?" ujar Karin sambil memainkan alisnya.


Kevin terkekeh, "Masalah kecil itu, gimana mbok, Yun, dok, kalian mau?" ajak Kevin.


"Emm ... boleh juga. Yuk, mbok, Yun," ajak dokter Rizky yang diiyakan mbok Yem dan Yuni.


"Kak, kamu mau ikut atau pesan sesuatu?" tanya Karin.


Noran menggelengkan kepalanya lalu ia mengucapkan terima kasih. Ia merasa sudah cukup merepotkan orang-orang itu.


"Ya udah, lalu gitu kami ke cafetaria dulu. Kalau ada apa-apa, tolong segera hubungi kami ya!" ujar Karin lagi yang diangguki Noran seraya tersenyum.


...***...


"Ih ya dok, dokter itu dokter spesialis atau apa?" tanya Karin. Saat ini mereka telah berada di cafetaria rumah sakit. Karena di setiap meja hanya disediakan 4 buah kursi, jadi Kevin duduk dengan Yuni dan mbok Yem. Sedangkan Karin duduk dengan dokter Rizky.


"Aku dokter umum, kalau kamu?" tanya dokter Rizky balik.


"Wah, kamu pasti suka anak kecil!"


Karin mengangguk cepat, "Suka banget. Karena itu aku konsen ke sana. Aku suka melihat tawa anak-anak dan aku sedih kalau ada anak-anak yang sakit apalagi kalau mereka sampai nggak bisa berobat karena faktor biaya. Karena itu, selain bekerja di rumah sakit, aku juga buka klinik pengobatan khusus anak-anak kurang mampu. Kalau dokter udah nggak tugas di desa lagi, bisa nih gabung ke klinik aku."


"Aku juga suka anak kecil. Apalagi aku anak tunggal. Orang tua aku juga tinggal. Jadi aku nggak punya saudara. Mama semenjak melahirkan aku udah nggak bisa hamil lagi. Jadi aku benar-benar kesepian karena nggak punya saudara."


"Wah, kita kembalikan dong!" ujar Karin seraya terkekeh.


"Kebalikan? Maksudnya?"


"Aku punya banyak saudara. Kevin itu saudara kembar aku. Aku punya kakak satu dan adik kembar 3, banyak kan," ujar Karin tergelak.


"Wow, pasti menyenangkan banyak saudara! Kalian punya gen kembar, hebat," ujar dokter Rizky.


"Hm ... seneng banget. Apalagi kami cukup dekat dengan saudara-saudara kami. Mama dan papa bener-bener mengajarkan kami agar saling menyayangi sesama saudara. Oh ya, mama aku juga kembar. Tapi mama tahunya saat udah ada anak 3 soalnya sejak masih bayi mama sama om Lian terpisah."


"Sepertinya cerita hidupmu cukup menarik, nggak monoton kayak aku. Aku jadi penasaran sama cerita orang tuamu," sahut dokter Rizky antusias. Ya, dia cukup antusias apalagi mengobrol dengan Karin cukup menyenangkan.


"Ck ... kalau cerita tentang orang tuaku tuh panjang banget, lebih panjang dari sungai terpanjang di Indonesia, juga jalan tol terpanjang di Indonesia, masih mau dengerin?" seloroh Karin membuat dokter Rizky terkekeh.


"Sepanjang itu?"


"Hmmm ... malah mungkin lebih panjang lagi."


"Emang nggak bisa dipersingkat lagi?"


"Udah kayak sinopsis aja," sahut Karin sambil menahan tawa. "Yayaya, tapi cerita tentang apa dulu nih? Soalnya pengalaman hidup mana aku itu seperti kata aku tadi, panjang pake banget. Oh ya, aku cerita tentang kenapa mama sama saudara kembarnya, om Lian bisa terpisah aja ya!"


Dokter Rizky pun terkekeh mendengar kata-kata Karin lalu ia mengangguk, menyetujui ucapan Karin.


Karin pun mulai bercerita bagaimana mamanya diculik oleh orang terdekat mereka sendiri saat masih kecil dan membuangnya hingga ditemukan oleh pengurus panti asuhan. Lalu mamanya dipertemukan kembali setelah dewasa saat sang mama dalam pertemuan bisnis tanpa menjelaskan siapa sebenarnya mama dan saudara kembar mamanya itu. Bila ia ceritakan, bisa-bisa dokter Rizky terkejut sama seperti beberapa temannya dahulu saat mengetahui kalau ia merupakan anak pemilik Anggrek Fashion dan Angkasa Trade Center atau yang lebih sering disebut Angkasa Mall. (fyi bagi yang belum baca : Anggi ada di cerita Pesona Mantan Istri yang Disakiti)


...***...


...^^^Happy reading 🥰🥰🥰^^^...