UNWANTED BRIDE

UNWANTED BRIDE
CH.36



"Dimana Nazila katakan?" bentak bi Arum murka membuat Noran bingung bukan kepalang.


"Maaf, bi. Saya baru pulang tadi malam. Jadi saya tidak tahu, saat saya pulang rumah dalam keadaan sepi. Saya pikir dia sudah tidur," jawab Noran jujur. Ia memang mengira Nazila sudah tidur. Ia juga tidak berani memanggilnya sebab hubungan mereka akhir-akhir ini sangatlah buruk terutama setelah pertengkaran mereka terakhir kali.


"Kau memang benar-benar suami tak bertanggung jawab. Menyesal saya tidak menghalangi pernikahan kalian. Toh kau hanya memperlakukan Nazila sebagai istri di atas kertas, benar bukan!" ucap Bi Arum dengan penuh emosi membuat nafas Noran tercekat. Ya, dia akui selama ini ia menganggap Nazila hanya sebagai istri di atas kertas. Ia tak pernah benar-benar menghargai sebagai seorang istri.


"Maaf bi, bisa saja Nazila pergi bekerja. Kalau begitu, saya coba cari tahu dulu," ucap Noran seraya memohon waktu untuk mencari tahu. Lalu ia menghubungi Jay dan meminta tolong dirinya mencari tahu keberadaan Nazila di Angkasa Mall. Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya Jay menghubungi Noran. Dan berita yang disampaikan Noran cukup membuatnya terkejut bagaikan disambar petir.


"Maaf tuan, saya sudah mencari tahu ke Angkasa Mall, ternyata sudah seminggu lebih Nazila tidak bekerja. Bukan hanya itu, dua hari yang lalu juga Nazila sudah menyerahkan surat pengunduran diri. Tidak ada yang tahu keberadaan Nazila setelahnya sebab di sana sama seperti di sini, Nazila selalu menjaga jarak dengan semua rekannya jadi ia tidak memiliki teman sama sekali," ucap Jay memberitahukan hasil pencariannya.


"Kevin ... apakah kau sudah mencoba menanyakannya?" tanya Noran lagi.


Jay tampak ragu ingin membuka mulut, tapi ia pun tak mungkin berdiam diri saja.


"Maaf tuan, ternyata tuan Kevin juga tidak tahu. Bahkan saya mendapat bogem mentah beliau saat menanyakan keberadaan Nazila yang sudah menghilang beberapa hari ini," ujar Jay. Sebenarnya ia tidak bermaksud melaporkan hal ini tapi tak mungkin pula ia menutupi. Walaupun tidak terlalu kuat, namun pukulan Kevin sedikit memberikan memar di pipinya dan pasti Noran dapat melihatnya saat ke kantor.


Noran tertegun di tempatnya. Matanya menatap ibu dan ni Arum dengan sorot mata kebingungan.


"Bagaimana? Apa Nazila ada di kantornya?" tanya Diana tak sabar menantikan penjelasan Noran.


Noran menggeleng lesu lalu menundukkan wajahnya.


Mendengar hal tersebut, Diana terduduk lemas di samping bi Arum yang sudah menangis tersedu. Ia menyesal mengapa beberapa hari ini ia tidak mengunjungi Nazila. Seandainya ia tidak pergi ke luar kota, mungkin Nazila masih ada di sini. Ia paham kenapa Nazila sampai memilih untuk pergi, sebab Noran tak pernah memperlakukannya seperti seorang istri. Apalagi Nazila baru saja merasakan kehilangan ibunya, pasti ia merasa sangat terpuruk saat itu hingga ia lebih memilih pergi tanpa memberitahu siapapun.


"Mengapa kamu tega sekali, nak dengan Ila? Dia itu hanyalah gadis malang yang harus menanggung beban hidup yang tidak sedikit. Di usia dimana anak-anak lain sibuk bermanja-manja dengan orang tua dan bersenang-senang bersama teman-temannya, Nazila harus mengurus ibunya yang depresi karena ditinggal suaminya mendua dengan sahabatnya sendiri. Ayahnya pergi begitu saja padahal Nazila saat itu masih sangat kecil. Dia belum mengerti apa-apa. Ia hanya bisa ikut menangis saat melihat sang ibu menangis dan berakhir depresi. Bahkan Nazila sampai kelaparan berhari-hari karena ibunya yang terlalu terpuruk dengan hidupnya. Untung saat itu aku datang berkunjung dan menemukan Nazila yang sudah terguling lemas tak berdaya sambil menatap ibunya yang sudah termangu dengan tatapan kosong. Sejak saat itulah aku membantu mengurus dan membesarkan Nazila. Hingga ia mulai paham segalanya, ia bertekad takkan pernah menikah. Ia trauma dengan apa yang telah menimpa ibunya. Ia takut hal itu akan kembali terjadi padanya dan ternyata ketakutannya benar, apa yang ditakutkannya benar. Ternyata suaminya masih berhubungan dengan perempuan lain." Bi Arum bercerita sambil tertawa miris. Ia tak menyangka, jalan hidup keponakannya hampir sama dengan kakaknya yang merupakan ibu Nazila sendiri. Entah karma apa yang sedang ditanggung Nazila padahal ia sangat tahu, Nazila merupakan gadis baik-baik. Pun ibunya, tapi kenapa ia harus mengalami hal sedemikian menyakitkan.


Noran memaku di tempatnya dengan kepala tertunduk dalam. Ia mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir bibi Nazila. Ia cukup terkejut saat mendengar kisah hidup Nazila yang tak pernah ia ketahui. Bukan ia tak mengetahui, tapi memang selama ini ia tak pernah tergerak untuk mencari tahu. Bukan hanya tentang Nazila sebenarnya, bahkan tentang Sarah pun ia banyak tak tahu pun masa lalunya.


Noran tak tahu, akibat perbuatan ayahnya yang mendua mengakibatkan luka mendalam baik pada ibunya pun Nazila. Tapi dirinya justru menambahkan cuka dan garam ke luka yang pasti masih basah tersebut. Bahkan Nazila pun berniat tidak menikah seumur hidupnya karena tak ingin mengalami hal yang serupa. Tapi dirinya ... justru membuat Nazila mengalami hal yang tak jauh berbeda dengan sang ibu. Noran mengutuk dirinya sendiri yang tak pernah peka terhadap sekitar. Ia mengutuk dirinya sendiri karena sudah berlaku kejam pada Nazila. Bahkan di saat titik terendahnya pun Noran tak ada di sisinya. Betapa ia suami yang jahat dan kejam serta tidak berperasaan. Seharusnya ia mencoba menerima pernikahan itu dengan hati yang ikhlas. Seharusnya ia menyadari mungkin Nazila memang jodoh yang ditakdirkan Allah untuknya. Bukankah segala sesuatu ada hikmahnya. Tapi ketidakpekaannya membuat semuanya kacau balau. Ia tak tahu dimana kini Nazila berada. Mungkinkah ia memiliki kesempatan untuk memperbaiki?


"Asal kau tahu, Nazila tak pernah sekalipun menceritakan apa yang ia alami. Justru aku sendiri yang melihatmu bersama seorang gadis sambil bergandengan mesra masuk ke sebuah restoran. Sungguh nasib Nazila sangat miris harus menikah dengan lelaki seperti dirimu. Padahal saat ini seharusnya menjadi momen yang paling membahagiakan pada pasangan suami istri, tapi kini Nazila terpaksa harus melaluinya seorang diri. Aku hanya berharap, dimana pun mereka berada, mereka selalu dalam lindungan Allah SWT," tukas Bi Arum sambil tersenyum pedih. Ia lantas segera berdiri, hendak pergi dari sana.


'Mereka? Apa maksudnya?' gumam Noran tanpa sadar.


"Rum, apa maksud perkataanmu tadi?" tanya Diana yang kini ikut berdiri.


Noran pun mendekat untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang sama.


Bi Arum tersenyum sinis, "Kalian cari tahu sendiri." pungkasnya kemudian ia segera pergi dari sana meninggalkan kedua orang yang sedang dalam kebingungan.


...***...