UNWANTED BRIDE

UNWANTED BRIDE
Ch.41



"Kamu nggak apa-apa, sayang?" tanya seorang pria pada wanita yang terbaring di atas brankar rumah sakit.


"Menurutmu?" tanya perempuan itu balik sambil terkekeh.


"Ayolah, sayang! Aku serius. Jangan bercanda!" tandas pria itu membuat perempuan itu segera bangkit untuk duduk di tepi brankar.


"Aku baik-baik aja, sayang. Nggak usah khawatir. Luka ku nggak seberapa kok."


"Cuma seberapa apa? Kepala, pundak, kaki, ... "


"Hanya kepala, sayang. Lukaku hanya di kepala. Selebihnya hanya ... yah kau tahulah. Aku hanya ingin membuat Noran berhenti mencari perempuan sialan itu. Aku senang, dia kini telah benar-benar pergi. Rencana kita berhasil besar, sayang." Ujar Sarah dengan bahagianya.


"Yah, kau benar. Kau memang ahli strategi yang handal. Dari rencana mendekati, memberi obat perangsang, menjauhkan keduanya, kau memang luar biasa. Bodohnya Noran sampai sekarang tidak menyadarinya." timpal pria itu. "Tapi sejujurnya aku merasa kasihan dengan perempuan itu. Kau tahu, ia baru saja kehilangan ibunya, lalu kini ... " Laki-laki itu menggelengkan kepalanya merasa iba.


"Jangan salahkan aku! Salahkah dirinya sendiri mengapa 3 tahun yang lalu ia harus mendonorkan salah satu ginjalnya pada baji*ngan itu. Seandainya tidak, pasti baji*ngan itu sudah mati. Seharusnya dia yang mati, bukan ibuku. Tapi dia malah enak-enakan punya umur yang panjang, sedangkan ibuku ... " ucapnya dengan suara bergetar menahan segala emosi di dadanya. "Kalau bukan karena kecelakaan yang diperbuatnya, ibu pasti masih hidup. Aku benci mereka berdua. Kenapa harus ibuku yang mati, bukan dirinya," pekik Sarah menahan emosi.


Noran yang belum lama kembali lagi, tersentak saat mengetahui fakta mengejutkan tersebut. Awalnya ia terkejut ternyata semua awal mula permasalahan antara dirinya dan Nazila merupakan perbuatan Sarah, tapi kenapa? Kenapa Sarah sampai tega berbuat sejauh itu apalagi ia dengan mudahnya mengacaukan hari pernikahannya sendiri. Apa alasannya?


Hingga ia sampai di sebuah fakta mengejutkan lainnya. Ternyata orang yang sudah mendonorkan ginjalnya untuk dirinya adalah Nazila, istrinya sendiri. Ia jadi teringat, 3 tahun yang lalu seorang dokter mengatakan kalau Sarah lah yang mendonorkan ginjalnya. Lalu ia memintanya merahasiakan itu, artinya selama ini ia telah dibohongi Sarah. Sarah telah menipunya sedemikian rupa. Ia yang percaya saja tidak pernah menduga kalau perempuan yang sempat menempati hatinya itu ternyata tak lebih dari seekor serigala berbulu domba. Dengan memasang wajah bak malaikat ia datang pada Noran dan menemani hari-harinya. Tanpa ia sadari kalau itu hanyalah sebuah kebohongan. Sarah telah menipunya mentah-mentah.


Kini ia mulai menyadari, mengapa ibunya bersikap begitu baik pada Nazila apalagi sampai begitu khawatir saat Nazila tercebur di dalam kolam, pasti karena ibunya merasa berhutang budi pada Nazila. Ia juga teringat 3 tahun yang lalu, Nazila yang awalnya karyawan biasa tiba-tiba diminta ibunya menjadi sekretarisnya setelah ia sembuh. Mengapa ia baru menyadari semua itu? Betapa besar salah dan dosanya selama ini pada Nazila.


Lalu ada satu fakta lagi yang membuat Noran makin terkejut, ternyata Sarah melakukan hal itu karena dendam. Ya dendam karena ibunya meninggal saat ia mengalami kecelakaan.


Ya, Noran masih mengingat jelas kronologis kecelakaan itu. Saat itu, mobilnya melaju tidak begitu kencang. Tapi tiba-tiba saja di sebuah belokan, datang sebuah mobil dari arah yang berlawanan dengan kecepatan sangat tinggi. Noran yang melihat itu berusaha membanting stir untuk menghindari kecelakaan itu, tapi nahas, mobil itu terlebih dahulu menabrak mobil Noran sehingga kecelakaan pun tak dapat dielakkan lagi.


Tapi kenapa dirinya yang disalahkan Sarah?


Kemudian satu lagi, Sarah mengatakan ibunya lah yang meninggal saat kecelakaan itu?


Bukankah Gina adalah ibunya?


Noran memejamkan matanya sejenak untuk mengontrol emosi yang terlanjur tersulut. Namun, ia tak mungkin menumpahkan kemarahannya saat ini. Ia harus segera meluruskan kesalahpahaman ini. Tentu untuk melakukan itu, ia harus memiliki bukti yang kuat untuk membungkam mulut Sarah agar tidak seenaknya mempermainkan kehidupan orang lain. Apalagi ia juga sampai melibatkan orang lain yang tidak bersalah. Nazila hanya membantunya dengan mendonorkan salah satu ginjalnya, tapi ternyata kebaikan itu berbuah petaka. Sarah justru membuat kehidupan Nazila hancur hanya karena obsesi balas dendam tak jelasnya itu. Tak dapat ia bayangkan, betapa besar luka hati Nazila yang sebenarnya. Difitnah, dibully, dicemooh, kehilangan kehormatan, dipaksa menikah dengan perjanjian perceraian, kehilangan ibunya, diteror, dan entah bagaimana caranya untuk menebus segala rasa sakit yang ia torehkan baik secara sadar maupun tidak. Yang pasti, ia berharap bisa segera menemukan keberadaan Nazila.


"La, ku mohon kembalilah! Maafkan semua perbuatan burukku padamu, La." Gumam Noran lirih dengan mata berkaca-kaca.


"Nak Noran, kenapa berdiri di sini?" tanya Gina dengan wajah sedikit memucat. Noran tersentak lalu membalik badannya menghadap Gina yang telah berdiri di belakangnya.


"Ah, Tante! Aku barusan saja kembali untuk mengambil ponselku yang tertinggal, Tan. Ini baru aja mau masuk," kilah Noran beralasan. Gina pun mengangguk mempersilahkan.


Sementara itu, di dalam ruangan serba putih, tampak Sarah dan Feri sedang mematung dengan wajah yang sedikit memucat karena terkejut. Terang saja mereka khawatir dan was-was kalau apa yang mereka bicarakan barusan didengar Noran. Kalau itu benar, bisa-bisa semua rencana mereka jadi kacau.


"Eh, sayang, kok kamu kembali lagi?" tanya Sarah gelagapan.


"Eh, hai Noran, apa kabar?" tukas Feri yang juga sudah gugup bukan kepalang.


"Eh, loe Fer! Kok loe ada di sini? Udah lama?" tanya Noran mengabaikan pertanyaan Sarah. Lalu ia menghampiri nakas dan mengambil ponselnya yang terkapar di atas sana. Noran menoleh ke arah Sarah seraya mengangkat ponselnya sebagai jawaban.


"Ah, aku belum lama kok! Tadi aku mau jenguk temen yang dirawat di rumah sakit ini juga, eh taunya dia udah pulang duluan. Pas mau pulang, gue nggak sengaja lihat Sarah dari celah pintu yang agak terbuka jadi gue mampir deh! Ya kan, Sar?" Jelas Feri lalu ia menoleh ke arah Sarah untuk membenarkan perkataannya.


"I-iya, Feri benar," sahut Sarah seraya terkekeh.


Noran mengangkat alisnya sebelah lalu terkekeh seolah percaya pada perkataan kedua sejoli itu. Padahal dalam hatinya ia mencibir kedua orang itu yang begitu pandai bersandiwara bahkan sampai 3 tahun ini.


Amarah dalam hatinya kian menggelegak saat membayangkan betapa menderitanya Nazila akibat ulah mereka juga kebodohannya yang mudah sekali tepedaya. Bahkan ia sampai menuduh Nazila macam-macam karena provokasi dan fitnah kedua orang itu. Entah terbuat dari apa hati kedua orang itu sehingga dengan begitu teganya mempermainkan kehidupan orang lain atas alasan dendam yang salah sasaran.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...