
Satu bulan telah berlalu semenjak hari dimana Noran mengetahui fakta perbuatan buruk yang telah Sarah dan Feri lakukan. Bahkan ia pun terkejut mengenai fakta kalau ternyata mereka sebenarnya sepasang kekasih. Mereka telah menjalin hubungan cukup lama. Noran hanya bisa tertawa getir saat menyadari ternyata selama ini dirinya telah dipermainkan oleh sahabat dan kekasihnya sendiri.
Semenjak mengetahui fakta itu, Noran juga terus mencari bukti-bukti untuk membuktikan kalau ia tidak bersalah sama sekali atas kematian ibu Sarah. Selain itu, ia juga terus meminta bantuan orang-orang yang sengaja disewanya untuk mencari keberadaan Nazila.
"Bagaimana? Kau sudah mengecek semua penerbangan atau apapun itu?" tanya Noran pada orang yang disewanya.
"Maaf tuan, kami belum menemukan informasi apapun. Kami bahkan telah mendatangi semua bandara di provinsi ini dan menurut hasil pencarian di pusat informasi tidak ada satu pun penumpang yang bernama Nazila yang pergi dari provinsi ini baik untuk penerbangan lokal maupun mancanegara." Tukas orang itu membuat Noran mengerang frustasi.
Tak lama kemudian, masuk orang lain yang juga merupakan orang suruhannya.
"Tuan, saya mendapatkan informasi penting. Tadi saya mampir ke pangkalan ojek di persimpangan jalan di ujung sana, ada salah satu tukang ojek yang mengenali istri Anda. Sebulan yang lalu nyonya naik ojeknya menuju terminal bus, tapi sayangnya dia tidak tahu ke mana arah tujuannya. Selain itu, sebelum ia mengantarkan nyonya, ada seorang bapak-bapak dan ibu-ibu yang menghampirinya dan meminta maaf, sepertinya pria itu ayah dari nyonya. Tapi nyonya tidak mau memaafkan mereka, kemudian nyonya pergi begitu saja tanpa mempedulikan orang-orang itu," imbuh orang itu lagi.
Noran mendengarkan semua informasi itu dengan seksama. Artinya, Nazila pergi melalui jalur darat. Tapi kemana?
"Coba cek rekaman CCTV di sekitar sana pada tanggal tersebut. Lakukan apapun yang kalian bisa. Aku harap kalian bergerak lebih cepat agar dapat menemukan keberadaan istriku secepatnya." tukas Noran yang diangguki patuh oleh orang tersebut.
...***...
"Hai, sayang! Akhirnya kau menghubungiku kembali. Kau kemana saja, hm? Kenapa kau tidak menghubungi ku sama sekali satu bulan ini? Bahkan panggilan ku juga selalu kau abaikan." Rajuk Sarah sambil mencebikkan bibirnya.
Noran hanya menatap Sarah datar tanpa mau merespon apalagi membujuk seperti yang sering ia lakukan dulu.
"Sayang? Kenapa kamu hanya diam? Kamu marah sama aku?" cecar Sarah heran melihat perubahan Noran yang kian menjadi. Padahal ia telah berhasil menyingkirkan Nazila, tapi mengapa Noran justru kian menjauh darinya.
"Tidak usah banyak bicara. Kita tunggu saja tamu lainnya, setelah itu kita selesaikan semua!" tegas Noran membuat Sarah mengerutkan keningnya.
"Tamu lainnya? Siapa? Mengapa kau mengundang orang lain? Memangnya kau ada rencana apa?" tanya Sarah penasaran.
"Kita tunggu saja, sebentar lagi pasti mereka tiba."
"Mama, papa, kenapa kalian kemari?" tanya Sarah saat kedua orang tuanya masuk ke ruangan itu.
"Mama dan papa juga tidak tahu. Noran menghubungi kami dan meminta segera datang kemari."
Mata Sarah pun berbinar cerah, ia pikir pasti Noran memiliki kejutan spesial untuknya. Apalagi ini sudah beberapa bulan berlalu semenjak pernikahan itu, ia pikir Noran akan menepati janjinya dan menikahinya.
'Jangan-jangan Noran ingin ... Ah, aku sudah tak sabar lagi.' monolog Sarah dalam hati.
"Wah, sepertinya nak Noran sengaja mengundang kita untuk merencanakan pernikahan kalian yang sempat tertunda, benar kan nak Noran!" Gina mengungkapkan pemikirannya sendiri membuat Noran tersenyum sinis. Lalu tak lama kemudian, masuklah seseorang yang juga ditunggu Noran.
"No ... Eh, Tante, om, Sa ... rah, kalian ada di sini juga," ujar Feri kikuk. Ia bingung mengapa ia tiba-tiba diundang kemari, sedangkan saat ini Noran sedang memiliki tamu lain.
"Silahkan duduk, Fer! Ada hal penting yang ingin aku sampaikan pada kalian, terutama kau ... Sarah." Tunjuk Noran pada Sarah membuat mata Sarah membulat, bagaimana bisa Noran bicara seperti itu padanya. Tidak ada lagi kata-kata lembut dan penuh kasih sayang. Yang ada hanya sifat ketus membuatnya merasa kehilangan sosok Noran yang selalu ada untuknya.
"Ada apa ini? Mengapa kau mengumpulkan kami di sini? Dan apa yang ingin kau sampaikan?" cek server cecar Feri.
Kemudian Noran bangkit dari tempat duduknya lalu mengambil sebuah map coklat dari atas meja kerjanya. Dibantingnya map coklat itu ke atas meja tepat di depan wajah Sarah membuatnya tersentak kaget.
"Apa ini?" tanya Sarah penasaran.
"Buka saja!" titahnya membuat tangan Sarah bergerak cepat mengambil map itu. Baik ayah dan ibu Sarah juga Feri hanya memperhatikan dalam diam. Menantikan jawaban atas teka-teki yang dibuat Noran.
Mata Sarah membelalak tak percaya saat ia membalik lembar demi lembar kertas yang ada di dalam map coklat tersebut. Hingga sampailah ia pada sebuah flashdisk, kemudian tanpa minta izin ia memasukkan flashdisk itu ke laptop Noran yang ada di meja kerjanya. Tubuh Sarah lemas seketika. Matanya hanya bisa menatap nanar pada sepasang suami istri yang juga memandangnya penuh arti.
"Ternyata ... ternyata kalianlah pembunuh sebenarnya. Katakan ... katakan mengapa kalian tega membunuh ibuku? Katakan!" teriak Sarah murka membuat suami istri itu terhenyak tak berdaya ternyata rahasia mereka akhirnya terkuak juga.
...***...