
Setelah melalui pergolakan batin, akhirnya Noran bersedia menandatangani surat pernyataan operasi. Tak lama setelah itu, Nazila segera dipindahkan ke ruangan operasi. Berat, sebenarnya Noran merasa berat melepas Nazila masuk ke ruang operasi. Tapi mendengar permintaan Nazila untuk pertama kalinya, membuatnya tak berdaya. Ia harus segera mengambil keputusan dengan harapan keduanya dapat diselamatkan.
1 jam telah berlalu, tapi lampu operasi masih menyala dari atas pintu masuk ruangan tertutup itu. Baik Noran, Karin, Kevin, bi Arum, dan semua yang berada di sana menunggu dengan perasaan was-was. Tak ada yang tak tegang. Tak ada yang tak khawatir, semua memasang raut wajah penuh ketakutan. Dalam hati mereka tak henti-hentinya berdoa, semoga bayi dan ibu itu bisa diselamatkan walaupun kemungkinan itu hanya sekecil buah zarah. Bukankah kemungkinan itu akan selalu ada bagi setiap orang yang mau berusaha dan berdoa? Apa yang tidak mungkin di dunia ini bila Allah sudah menghendaki. Tinggal kita sebagai manusia bagaimana menyikapinya. Berpasrah atau berdoa dan berusaha pada Sang Maha Pencipta.
Tap tap tap ....
Terdengar langkah kaki gontai membuat bi Arum yang sejak tadi tertunduk lantas mengangkat kepalanya hingga tiba-tiba matanya bersirobok dengan sepasang mata milik seseorang yang sangat dibencinya.
Mata bi Arum seketika membeliak marah. Amarah, kebencian, kekecewaan bercampur aduk menjadi satu membuat jantung bi Arum rasa terbakar saat melihat sosok itu.
"A-Arum, itu benar kau kan!" ujar pria itu terbata membuat mang Giman yang duduk di samping bi Arum ikut mengangkat wajahnya. Tangan mang Giman pun sontak mengepal erat.
"Ternyata kau masih hidup. Ku pikir kau sudah mati bersama wanita murahan itu," desis bi Arum sarkas sambil memindai penampilan laki-laki itu dari atas ke bawah, sangat berantakan cibir bi Arum dalam hati.
Namun, dari nada bicaranya dapat diketahui betapa besar kebencian bi Arum pada laki-laki itu. Laki-laki yang telah membuat saudara satu-satunya hidup dalam kepahitan dan berakhir nelangsa. Pun dengan keponakannya yang kini sedang berjuang antara hidup dan mati.
"Rum, aku tahu aku salah, aku mohon maafkan aku. Pertemukan aku dengan Ila, Rum. Bagaimanapun dia anakku. Hanya dia kini anakku satu-satunya," ujar lelaki itu memelas.
Bi Arum terkekeh, "Anakmu? Anakmu yang mana? Anak yang kau telantarkan? Anak yang kau sia-siakan? Atau anak yang tak pernah kau pedulikan?"
Mendengar kata-kata tersebut, Noran yang sejak tadi ikut menyimak lantas berdiri. Diperhatikannya laki-laki itu dengan seksama, dengan melihat sepintas saja ia bisa mengetahui siapa laki-laki itu. Laki-laki yang sudah membuat kehidupan istri dan ibu mertuanya hancur. Ingin rasanya menghajar laki-laki yang berstatus sebagai ayah mertuanya itu, tapi ia sadar diri, ia pun tak lebih baik dari laki-laki itu.
"Rum, aku serius, Ila dimana? Tolong pertemukan aku dengan dia," ucap laki-laki itu terus memohon. "Rum, aku hanya ingin bertemu putriku, apa salahnya? Aku ingin meminta maaf. Aku menyesal karena menjadi ayah yang tak peduli pada anaknya. Aku menyesal karena telah menduakan Nur. Aku telah menerima hukumannya, Rum. Aku menyesal. Aku bersalah," ujar pria itu tergugu di tempatnya. Tapi bi Arum tak peduli. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah keadaan keponakannya satu-satunya.
Tak lama kemudian pintu ruang operasi terbuka, tampak seorang dokter keluar. Dengan panik semua orang mendekat ke arah sang dokter berharap mendapatkan kabar baik.
Dokter tersebut menghela nafas berat. Dari tatapan matanya, semua bisa menebak apa yang ingin disampaikan dokter itu. Tapi mereka berharap ada secercah harapan untuk Nazila dan anaknya. Semoga keduanya berhasil selamat tanpa ada kurang apapun.
"Alhamdulillah, putra Anda telah lahir dengan selamat. Namun, karena ia lahir dalam keadaan prematur dan keadaan kurang baik, kondisi fisiknya sangat lemah. Jadi dia harus masuk ke dalam ruang NICU sampai kondisinya stabil," ujar dokter itu menerangkan perihal keadaan bayi Nazila terlebih dahulu. Dokter itu terdiam sejenak, kemudian melanjutkan ucapannya. "Namun, untuk ibu Nazila, keadaannya tidak baik-baik saja. Ia baru saja mengalami pendarahan yang hebat. Kondisi ginjal yang buruk ditambah pendarahan hebat membuat kondisinya makin buruk. Kita masih bisa menyelamatkannya bila berhasil mendapatkan pendonor ginjal dalam 2x24 jam ke depan," imbuh dokter itu menjelaskan membuat nafas Noran kian tercekat.
Entah harus bahagia atau bersedih, namun nyatanya ia tak kuasa menahan sesak di dadanya. Ia harus apa. Ia harus bagaimana. Ia tak tak mungkin mendonorkan ginjalnya, sedangkan dirinya saja mendapatkan donor dari Nazila.
Mendengar perkataan dokter tersebut, sontak saja laki-laki tadi tersentak dengan mata membulat tak percaya. Ia benar-benar tak menyangka pertemuannya dengan bi Arum memberikan berita tak terduga. Lantas ia menoleh ke arah Noran yang ternyata merupakan suami dari Nazila yang kini tampak begitu berantakan.
"Bisa saya melihat istri saya, dok?" tanya Noran lirih. Setelah memperoleh izin, ia pun masuk ke dalam ruangan serba putih dimana Nazila sedang terlelap dengan selang infus dan transfusi darah yang terpasang di pergelangan tangan kanan dan kirinya.
"La, Nazila sayang, mengapa kita harus menyadari perasaan kita di saat seperti ini? Mengapa tidak sejak awal? Seandainya aku tahu kalau aku pun sudah mencintaimu, pasti hal ini takkan terjadi. Sayang, aku merindukan mu, sungguh. Setiap hari aku selalu mencari keberadaanmu. Aku tak pernah putus asa untuk menemukanmu. Dan akhirnya aku menemukanmu," ucap Noran dengan mata sendunya. "Seperti lagu ya!" ujarnya terkekeh sumbang.
Noran pun menyanyikan sepenggal lirik lagu Naff itu sambil berurai air mata. Seperti lagu yang baru saja disenandungkannya, ia berharap bisa mencintai Nazila hingga ujung usianya.
"Aku mohon sayang, bertahanlah. Aku mohon, aku akan mencari pendonor yang cocok untukmu. Aku tak mau kehilangan kamu, La. Aku ingin membahagiakanmu. Aku mohon, jangan pernah pergi dari sisiku karena aku takkan pernah mampu kehilangan dirimu. Begitu pula anak kita. Putra kita. Anak kita membutuhkanmu. Apa kau tidak ingin melihatnya? Aku mohon sayang, bertahanlah, demi aku dan anak kita. Aku mencintaimu, La. Sangat mencintaimu," ucap Noran lirih yang tak henti-hentinya meneteskan air mata.
...***...
...**Update dari malam, direvisi pagi buat lebih panjang tapi belum terbit jg. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜...
...Happy reading 🥰🥰🥰**...