UNWANTED BRIDE

UNWANTED BRIDE
Ch.45



Beberapa purnama telah berganti, namun keberadaan Nazila belum juga ditemukan oleh Noran. Ia bingung bercampur frustasi, tidak tahu lagi harus berbuat apa agar bisa menemukan keberadaan Nazila.


Sedangkan di sebuah desa kecil, tampak wajah Nazila terlihat lebih pucat dari wanita hamil lainnya. Ia tidak bisa banyak beraktivitas sebab ia tidak boleh cepat lelah. Kondisi fisiknya sangatlah lemah. Menurut dokter Rizky, keadaan ginjalnya sangat tidak baik. Kinerjanya mulai menurun. Apalagi Nazila hanya memiliki satu ginjal dan dalam keadaan hamil, tentu hal itu membuat kinerja ginjal Nazila bekerja lebih ekstra.


Dokter Rizky sudah menyarankan Nazila agar melakukan pengobatan ke rumah sakit besar di kota. Ia bahkan bersedia memberikan rekomendasi dokter terbaik tapi Nazila menolaknya mentah-mentah. Entah mengapa, kembali ke kota merupakan alternatif terakhir baginya. Selagi mampu menahan, ia akan menahan segala rasa sakit itu. Toh dirinya telah terbiasa menahan sakit sebelumnya. Namun, bila biasanya ia menahan sakit di benaknya, kali ini ia menahan sakit di fisiknya terutama bagian perut.


"Bagaimana kabar ayahmu ya, nak? Maaf kalau ibu terpaksa menjauhkan kalian dari ayah kalian. Itu bukan maksud ibu. Ibu ... hanya ingin hidup damai dan tenang. Ibu ... ingin melepaskan ayah kalian dari beban yang selama ini mencengkram hidupnya. Ayah mencintai perempuan lain dan ibu nggak mau terus-terusan jadi penghalang diantara mereka." Gumam Nazila sambil mengusap perutnya. Ekor matanya kini telah basah oleh bulir-bulir bening.


Makin lama bulir itu makin deras hingga membasahi pipi. Nazila terisak memeluk perutnya yang cukup besar. Namun, di usia kehamilannya yang ketujuh bukan, ukurannya jauh lebih kecil dari ukuran perut wanita hamil biasanya. Menurut dokter Rizky itu faktor beban pikiran dan pola makan yang buruk.


Ya, semenjak kepergiannya dari apartemen milik Noran, ia seperti kehilangan semangat hidup. Begitu pula napsu makannya sangat buruk. Ia kehilangan selera makannya. Mbok Yem dan Yuni sudah mencoba memasakkan apa saja berharap Nazila berselera makan, tapi tetap saja, Nazila seperti benar-benar kehilangan napsu makannya. Tidak seperti saat berada di apartemen, ia justru bisa memakan apa saja dengan lahap.


"Apa kabarmu tuan? Ah, pasti kalian sedang berbahagia sekarang! Mungkin saja kalian telah menikah dan nona Sarah tengah mengandung buah hati kalian. Maafkan aku karena aku pergi tanpa memberitahukan keberadaan anakmu. Semoga tuan bisa berbahagia setelah kepergianku ini." Lirih Nazila sambil memejamkan matanya.


Bila kalian bertanya apakah Nazila sebenarnya mencintai Noran, maka jawabannya adalah iya.


Bahkan sejak lama, sebelum kehadiran Sarah di sisi Noran.


Namun Nazila selalu menepis dan menyangkal perasaan itu. Baginya, perasaan cinta hanya akan membelenggu hidup dan jiwanya. Ia tak mau berakhir seperti sang ibu karena itu ia menyangkal mati-matian perasaan yang ia pendam. Lagipula, siapakah dirinya? Ia bagaikan serpihan debu yang tak berarti.


Noran merupakan sosok pemimpin yang baik dan ramah. Perusahaan yang dipegangnya saat ini merupakan kerja kerasnya sendiri tanpa campur tangan orang tuanya. Walaupun tidak begitu besar, namun ia berhasil merintis perusahaan itu hingga namanya kian besar dan mulai diakui oleh masyarakat. Dari sanalah, muncul kekaguman Nazila pada Noran. Namun ia berhasil menutup rapat semua rasa itu. Ia sadar diri, siapalah dirinya. Karena itu, saat di rumah sakit, ketika tahu Noran sedang membutuhkan donor ginjal, tanpa banyak berpikir, ia bersedia mendonorkan salah satu ginjalnya dengan syarat tidak ada yang boleh menceritakan perihal siapa yang mendonorkan ginjal kepada Noran pada siapapun termasuk Noran sendiri. Diana pun menyetujuinya. Sebagai balas budi, Diana menawarkan membiayai pengobatan ibu Nazila. Awalnya Nazila hendak menolak, tapi karena kondisi kesehatan ibu Nazila yang menurun, akhirnya Nazila pun bersedia.


Nazila tidak pernah sekalipun berharap bisa menjadi pasangan Noran. Bahkan saat dirinya telah menyandang status sebagai istri pun Nazila tidak pernah berharap lebih. Namun kini, ada bagian dari diri Noran yang hidup di dalam dirinya. Kadang ia bersyukur karena ada bagian dari Noran yang dimilikinya, tapi kadangkala ia pun bersedih membayangkan nasib anaknya yang kelak tak jauh berbeda dari dirinya. Hati ibu mana yang tak hancur saat membayangkan anaknya akan tumbuh tanpa figur seorang ayah. Bahkan anaknya takkan mengenali ayahnya sama sekali. Sudah dapat ia bayangkan bagaimana kelak anaknya akan mendapatkan ejekan, fitnahan, cemoohan karena tidak memiliki seorang ayah, sama seperti yang pernah ia alami dulu. Dalam hati, Nazila hanya bisa berdoa semoga nasib anaknya kelak lebih baik dari dirinya.


...***...


"Kirimkan lokasinya sekarang lalu bersiap;" Titahnya dengan suara serak.


Noran yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit pun segera mencabut selang infus yang menancap di pergelangan tangannya. Lalu ia berganti pakaian, tak peduli kondisi fisiknya yang belum stabil pasca demam tinggi dan penyakit asam lambung yang dideritanya beberapa hari yang lalu. Yang dalam pikirannya saat ini hanyalah menemukan istrinya, Nazila.


"Noran, kau mau kemana?" teriak Diana saat melihat Noran telah berganti pakaian. Karena infus yang dicabut dengan asal, tampak darah berceceran di atas lantai rumah sakit. Tapi Noran tak peduli sama sekali.


"Menurut orang suruhanku, mereka berhasil menemukan jejak Nazila, ma. Aku harus menemuinya sebelum ia kembali menghilang. Doakan aku, ma, semoga aku berhasil membawa menantu mama kembali!" Ucap Noran dengan senyum sendunya.


"Tapi Noran ... "


"Aku tidak apa-apa, ma." tandas Noran memotong perkataan Diana.


Diana mengehela nafas lelah, "Ya sudah, tapi mama minta kamu diantar dengan sopir jadi selama perjalanan kamu bisa beristirahat. Kamu mengerti?"


"Iya, ma. Terima kasih."


"Pergilah dan hati-hati. Segera bawa menantu mama kembali!" pungkas Diana yang diangguki Noran seraya tersenyum. Kemudian, ia pun bergegas pergi dari rumah sakit itu. Dalam hati ia berdoa, semoga perempuan itu memang benar istrinya, Nazila.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...